(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Persiapan


__ADS_3

...Sebelum makan, baca doa....


...Maka sebelum baca, tap jempolnya✌👍🙆...


...$...


...$...


...$...


Setelah menemui kedua orang tua Feza yang memang sudah lama akrab dengannya, Rama pun menyusul Feza di kliniknya. "Setiap hari biasanya ada berapa pasien?" tanya Rama dengan berlipat tangan di depan dada sambil berdiri di seberang meja Feza.


"Kadang gak ada sama sekali, kadang cuman 2, kadang 4. Macem-macemlah" jawab Feza.


"Gimana tadi ketemu mama papa?" tanya Feza yang ingin tahu kapan tepatnya dirinya akan lamaran sama Rama.


"Tadi aku udah minta restu buat nikahin kamu, terus mereka senang dan setuju. Apalagi saat aku bilang kalo aku ga mau lama-lama, maunya dipercepat aja. Akhirnya mereka bilang lamarannya minggu depan aja, habis sholat jum'at. Kalo urusan tempat, katanya mau serahin ke kita berdua. Mau dihotel atau disini. Kalo menurut kamu gimana?". Rama pun duduk diseberang meja sambil menunggu keputusan Feza.


"Terserah kamu aja. Tapi aku request gak usah terlalu banyak ngundang tamu, terus juga sederhana aja gak usah muluk-muluk yang penting lancar sesuai rencana" ungkap Feza menyampaikan keinginannya.


"Ya udah, kalo gitu acaranya di hotel milik keluarga aku aja. Tapi, urusan pakaian gimana? Kamu punya usul?" tanya Rama.


Duh Za, lo beneran mau nikah ternyata. Benak Feza masih tak menyangka.


"Aku pakek kebaya modern aja, kamu bisa pakek batik menyesuaikan warna kebaya aku. Terus mama aku sama mama kamu nanti aku urus barengan aja gimana-gimananya. Buat papa kamu papa aku ya udah gampang, tinggal nyesuain pakaian mama. Soalnya yang aga ribet tuh yang cewe. Kalo cowo gampang" ucap Feza yang memang sudah paham tentang mengatur kostum untuk acara lamaran karena dulu ia sempat membantu sepupunya menyiapkan acara lamaran sampai pernikahannya.


"Kamu sibuk ga? Kita ke tempat percetakan yuk" ajak Rama untuk pergi lagi.


"Kamu beneran gak mau balik kerumah sakit lagi?" tolak Feza dengan halus.


"Gak, ngapain? Dokter kandungan yang lain juga banyak. Udah ayo kamu ikut aku, aku mau ajak kamu ke tempat percetakan buat bikin undangan pernikahan kita" bujuk Rama memaksa Feza untuk berdiri dan ikut pergi bersamanya.


"Tapi pengen disini aja, Ma. Apa gak bisa besok-besok aja bikin undangannya?"


"Udah keburu mepet waktunya" sangkal Rama.


"Ya kamu sih ngajak nikahnya keburu-buru gini. Coba santai, nikmatin momen, selow, kan enak"


"Alah udah buruan, niat baik gak boleh ditunda-tunda"

__ADS_1


Akhirnya Rama dan Feza pergi lagi menuju ke tempat cetak undangan. Disana mereka disambut baik oleh si pemilik tempat percetakan.


"Mau bikin undangan pernikahan ya?" tanya mas-masnya.


"Iya mas, diruangan mana?" tanya Rama.


"Hm? Gak ada ruangan mas, duduk sini aja" sahut mas-masnya lagi.


Feza mencubit lengan Rama, "Mana ada ruangan khusus tempat bikin undangan pernikahan, ada-ada aja"


"Aku kira ada tempat khususnya" jawab Rama.


"Baik mas, mbak, mau desain undangan yang kaya gimana?" tanya masnya yang kini sudah duduk di mejanya menghadap komputer.


"Emmm, bentar mas ya saya searching dulu" ujar Feza yang merasa bodoh. Kenapa gak dari tadi aku searching. Kan dijalan tadi bisa, huft.


Sedangkan Rama lanjut berbincang dengan laki-laki pemilik percetakan itu.


"Biasanya bikin undangan tuh selesainya berapa lama mas?" tanya Rama.


"Ya tergantung mas, kalo banyak ya lama. Tapi tergantung bentuk juga. Kalo minta yang bentuknya agak unik nah itu selain mahal juga lama. Soalnya kan perlu di potong lagi kertas undangannya terus beda kertas juga beda harga" laki-laki itu pun menunjukkan beberapa hasil undangan yang pernah ia cetak kepada Rama.


"Yang mas pegang itu 32.000 harganya, terus yang itu 19.000, nah yang paling murah ini nih, 11.700. Kertasnya tipis, terus juga desainnya masih model lama, rata-rata udah gak ada lagi yang bikin undangan kaya gini mas" sambung laki-laki itu menjelaskan.


"Em, bagus juga. Tapi ini udah ada juga yang aku save. Coba kamu liat" Feza menyerahkan ponselnya pada Rama agar Rama melihat 3 desain undangan yang ia anggap cukup bagus.


"Ini bagus Za" puji Rama pada satu desain yang menurutnya paling bagus.


"Ya udah buat kaya yang di hp aku aja ya"


"Iya"


Akhirnya mereka sepakat membuat undangan dengan desain persis seperti yang sudah Feza capture dari instagramnya. Desainnya sederhana dengan warna yang tidak mencolok. Juga kata mas percetakan tadi bahwa harganya lumayan karena harus menggunakan kertas yang lebih tebal dan juga Rama yang meminta nama dirinya dan Feza ditulis dengan huruf timbul. (Otor gak bisa sebutin harga disini, sorry banget. Ga enak guys soalnya nyebut-nyebut nominal hehe✌)


-


Sepulang dari percetakan, keduanya juga langsung mampir ke sebuah butik yang menjual gaun-gaun pengantin dengan harga selangit. Awalnya Feza menolak di ajak Rama masuk ketempat itu, karena Feza meresa dirinya yang sudah kotor ini tidak layak untuk di perlakukan bak seorang putri oleh Rama.


Namun, Rama tetap saja memaksa. Mau tidak mau Feza akhirnya turun dari mobil dan masuk ke butik ini.

__ADS_1


Penjaga pintu butik ini pun menyambut mereka dengan sopan bahkan sampai mengantarkan mereka ke dalam menuju tempat dimana rak-rak gaun yang didominasi warna putih dan panjangnya sampai menyentuh lantai.


"Mbak mau cari yang seperti apa? Disini kita punya banyak desain. Ada yang tanpa lengan, ada yang mengekspos punggung, yang semi tertutup juga ada" ucap pelayan itu sambil terus mengikuti kemanapun Feza berjalan.


"Saya mau yang tertutup aja deh mbak, soalnya terbuka-terbuka begini saya rada gak nyaman" ujar Feza lalu mencari dengan matanya dimana keberadaan Rama.


Huft, gue pusing dia malah enak-enakan buka majalah.


Pelayan pun datang menghampiri Feza dengan membawa 2 gaun yang bentuknya hampir-hampir mirip dengan yang sudah ia lihat.


"Ini mbak, memang payetnya sama kaya yang mbak pegang tadi tapi ini modelan yang tertutupnya" pelayang itu pun mulai menunjukkan bagian yang di maksudnya tertutup. Antara lain bagian punggung yang di jahit full lalu bagian dada tidak terlalu rendah.


Tadinya Feza kira, gaun tertutup tuh kaya yang layak di pake sama pengguna hijab, tapi ternyata tidak juga. Tertutup disini, artinya tidak terlalu terbuka. Tapi kalau pengguna hijab mau menggunakannya, ada banyak tambalan yang perlu di tambahkan. Dan Feza baru ingat, memang tadi pelayannya bilang semi tertutup, bukan yang benar-benar tertutup.


Setelah berpindah tempat menuju rak-rak gaun semi tertutup, Feza semakin dibuat pusing karena ternyata model bajunya cukup banyak dan bagus-bagus.


"Mbak, tolong panggilin mas-mas yang duduk itu kesini" ujar Feza meminta tolong pada pelayan sambil memijit keningnya.


"Iya mbak" Pelayan pun berlalu untuk memanggil Rama.


"Kenapa Za?" tanya Rama.


"Kamu pilihin aja yang mana yang cocok buat aku. Sumpah kepala aku pusing banget liatnya, gak ada yang jelek" tutur Feza menampilkan wajah frustasinya.


"Hmmmm" Rama pun memeriksa satu persatu gaun. Ia berulang kali mencocokkan gaun ke tubuh Feza lalu menggantungkan kembali ke raknya.


"Pusing kan kamu" ujar Feza yang yakin Rama merasakan hal yang serupa.


"Nggak, masih kuat" jawab Rama masih dengan kegiatannya memilih gaun.


"Nah, ini bagus" Dengan senyum terkembang Rama menyerahkan gaun yang ia pilih ke hadapan Feza. "Sana kamu coba, sekalian aku mau cari jas yang pas buat aku" Rama lalu pergi menuju rak kemeja dan jas yang juga tersedia di butik itu.


Setelah mereka sepakat, akhirnya jas dan gaun yang Rama pilih tadi mereka beli. Keduanya pun lalu kembali pulang menuju rumah orang tua Feza untuk mengantarkan Feza pulang.


Semenjak Feza buka klinik, ia memang tidak pernah lagi tinggal di apartemen. Kini wanita itu memilih tinggal dirumah orang tuanya karena berdampingan dengan klinik yang baru ia buka.


...$...


...$...

__ADS_1


...$...


Jangan lupa bagi Otor vote dan kopinya ya, yang merk luwak wait kopi juga boleh😄


__ADS_2