(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Terbongkar


__ADS_3

"Oh iya, semua pesan kamu udah saya baca" sebut Sherly dengan gaya yang menyebalkan.


Tak ada niat dirinya membalas pesan Rama. Lalu ponselnya ia matikan dan disembunyikan dibawah bantal. "Gak ada gunanya dia bilang kalo udah baca semua pesan gue. Malah lebih baik gak usah dibaca" kesal Sherly yang berbicara sambil menatap langit kamarnya.


-


Keesokan harinya


Sherly yang telah sampai ke sekolah pun langsung mencari keberadaan Jovan di kantin. Setelah bertemu Jovan, dirinya langsung menceritakan kegalauannya yang terluka akan sikap Rama termasuk kabar pertunangan dokter itu.


"Udahlah, dia yang jauh dimata ngapain ditangisin. Mending sama gue aja, depan mata. Dan gak mungkin nyakitin lo karena gue takut sama abang lo" ungkap Jovan sepenuh hati tapi hanya disambut kekehan oleh Sherly.


"Males ah cerita sama lo" Sherly pun kembali ke kelas meninggalkan Jovan karena sebentar lagi kegiatan belajar-mengajar akan segera dimulai.


Sore harinya, lagi-lagi Jovan mengadukan apa yang ia ketahui pada Dinda. Sebab Nanda belum pulang kerja.


"Kak, Sherly tadi curhat. Katanya dia sedih si dokter itu mau tunangan. Kayanya Sherly emang beneran suka deh kak sama pak dokter itu. Buktinya aku lihat mata Sherly tadi kaya kurang tidur kak, pasti karena galau mikirin dokter itu" ujar Jovan bercerita.


"Iya, kakak tahu dia emang beneran suka sama Rama. Walaupun dia gak cerita. Tapi Sherly tuh anak yang kuat dan gak mungkin ambil tindakan yang berbahaya buat dirinya" kata Dinda sembari tetap dengan kegiatan memasaknya.


"Kak, nasib aku gimana? Kakak gak ada gitu sebut-sebut nama aku kalo lagi ketemu Sherly?" tanya Jovan.


"Yah, lupa banget kakak mau sebut-sebut nama kamu. Soalnya tiap ketemu yang ada malah debat terus sama abangnya. Kamu kan tahu bang Nanda kaya gimana? Meskipun lebih tua tapi nyebelin banget" jawab Dinda.


"Ehem, jadi aku nyebelin?" tegur Nanda yang ternyata sudah pulang.


"Waduh, gue gak ikut-ikutan deh" Lalu Jovan langsung kabur meninggalkan suami istri itu.


"Beneran aku nyebelin?" tanya Nanda lagi sambil menoel pinggang Dinda alhasil membuat Dinda kegelian dan tak bisa melanjutkan kegiatan memasaknya.

__ADS_1


"Iya, tapi ke Sherly. Kan emang faktanya gitu" ucap Dinda sembari menghindar dari gelitikan suaminya. "Udah yank, ampun ampun" sambungnya.


"Kalo ke kamu?" tanya Nanda lagi.


"Romantis, baik, kadang cuek, tapi tetap perhatian, pokonya aku padamu" puji Dinda sembari mengalungkan tangannya pada leher Nanda.


"Mbak Dinda" tiba-tiba suara bibi terdengar. Dinda langsung melepaskan tangannya dari leher Nanda dan sedikit memberi jarak.


Setelah bibi sampai ke hadapan Dinda, "Eh, Bapak udah pulang ternyata" Nanda pun hanya mengangguk sembari tersenyum pada ARTnya setianya itu.


"Mbak, Pak, semua kerjaan saya udah selesai. Boleh gak kalo saya pulang cepat hari ini? Keluarga saya dari kampung ada yang mau datang, kemungkinan nyampe sore ini Pak, Mbak" tutur Bibi dengan tak enak hati karena semenjak Nanda dan Dinda menikah dirinya memang terlalu sering meminta izin.


"Boleh, bibi boleh pulang kok" ucap Dinda memberi izin.


"Makasih ya Mbak, Pak" ucapnya dengan sedikit membungkuk lalu berbalik badan. Namun belum sempat melangkahkan kakinya, Nanda memberi interupsi.


"Bi"


"Sudah berapa kali si Bi saya bilangin. Kalo manggil saya jangan Pak lagi. Masa istri saya di panggil mbak lah saya dipanggil Pak. Saya setua itu ya?" Mendengar protesan suaminya pada Bibi, Dinda tak mau ambil pusing. Ia kembali melanjutkan potong-potong sayuran untuk makan malamnya nanti.


"Hehe, maaf Pak. Eh Mas. Udah kebiasaan dulu manggilnya Pak" ujar Bibi.


"Ya udah gakpapa, sekarang Bibi boleh pulang" titah Nanda. Dan bibi pun pamit pulang sekali lagi.


"Masak apa aja sayang hari ini?" tanya Nanda dengan menaik turunkan tangannya di pinggul Dinda dari belakang.


"Sekarang lagi bikin capcay sayang. Kalo tadi udah masak cumi saos padang sama ikan goreng biasa" jawab Dinda yang kini telah hapal semua resep makanan. Sebab biasanya dirinya selalu melihat resep di yutub setiap kali ingin memasak.


"Wah, mantep nih. Aku ke kamar dulu ya sayang" Nanda pun mencium istrinya sekilas lalu pergi ke kamar.

__ADS_1


Dinda pun terus saja melanjutkan aktifitas memasaknya. Lalu tiba-tiba Nanda kembali ke dapur dengan langkah tegas.


"Sayang, ini?" Nanda menunjukkan sebuah benda pada Dinda, wajahnya berbinar menatap sang istri.


Nanda yang tadinya ke kamar hendak meletakkan sebuah flashdisk di nakas, namun ia juga menemukan sebuah alat pengecek kehamilan. Yang nyatanya alat itu sudah lama disana, bahkan Dinda pun sudah lupa saat dirinya kembali kerumah itu lupa untuk membuangnya.


Dinda membeku sepersekian detik. Ada rasa menyesal kenapa sempat terlupa dengan alat itu.


"Jawab aku" tegas Nanda tak sabaran.


"Memang awalnya aku mau kasih tau itu sama kamu, tapi belum sempat kamu tahu aku udah keguguran Yank". Dan Dindapun menceritakan semuanya pada Nanda. Tak ada lagi yang ia tutup-tutupi dari Nanda.


Nanda menahan emosinya sekuat tenaga. Lagi-lagi kelakuan Feza membuat batas kesabarannya habis. Namun Dinda terus-menerus mencoba membujuk suaminya untuk tak berbuat apa-apa pada Feza. Karena Dinda sangat takut jika harus berurusan lagi dengan Feza.


"Yank, ada hal yang bisa di maklumi dengan mudah. Tapi ada juga yang gak bisa dimaklumi gitu aja. Kamu jangan terlalu baik sama orang. Aku gak suka sama sikap kamu yang langsung maafin gitu aja. Anak kita yank, ini menyangkut anak kita. Semakin gampang kamu luluh semakin mudah dia injak-injak kamu lagi. Apapun alasannya, kaya yang kamu bilang tadi kalo dia pernah mendapat pelecehan waktu di kirim ke pelosok sama bapaknya, mungkin saja dia bohong sama kamu, karena dia tahu kamu gampang iba dan dia manfaatin itu biar kelakuannya dimaafkan. Aku gak bisa kalo kamu minta aku buat gak kasih pelajaran sama dia" marah Nanda.


"Terus kalo Feza balas perbuatan kamu? Aku yakin pasti Feza bakal lebih nekat lagi" ungkap Dinda dengan nada bergetar.


Nanda pun akhirnya patuh pada Dinda. Ia menyetujui perkataan Dinda untuk tak memberi pelajaran pada Feza.


Namun tetap saja Nanda bersedih karena telah kehilangan anak. Terlebih kesedihannya saat ini terbilang sangat terlambat, karena dirinya yang terlambat tahu.


"Maaf sayang, aku gak bisa jaga anak kita dengan baik" ucap Dinda menangis.


"Gakpapa sayang. Ini bukan salah kamu, nanti juga pasti di kasih lagi sama Tuhan" Nanda mencoba menguatkan dirinya dan istrinya. Nanda memeluk erat Dinda agar tak menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian yang telah terjadi beberapa waktu lalu.


●●●


Jangan lupa like dan komen ya guis...

__ADS_1


Kasih vote dan hadiahnya juga doong, pleassssseeee


__ADS_2