
Dinda pun berdiri menyambut kedatangan Nanda yang baru pulang setelah mengantarkan Sherly sekolah. Nanda pun ikut duduk di teras. Mereka duduk berdampingan.
"Aku mau tanya, kenapa kamu tiba-tiba punya ide buat kesini pagi-pagi buta? Emangnya kamu ga kerepotan sendiri?" tanya Nanda sambil merangkul pundak Dinda. Ia sangat senang bahwa Dinda mau melakukan hal apa saja untuk membahagiakannya. Nanda pun bukan type orang yang menilai sesuatu dari materi, harus mahal atau harus sesuatu yang besar. Tapi hal kecil saja, apapun itu kalau dari orang yang ia sayangi pasti akan membuatnya sangat bahagia.
"Nanti, sebelum aku jawab aku mau ke dalam dulu. Kamu tunggu disini ya" perintah Dinda dengan menunjuk pada kursi yang Nanda tempati sebelum ia masuk ke dalam rumah Nanda.
Tak lama Dinda kembali ke teras dengan membawa sepiring potongan buah yang tadi ia potong-potong. Dinda meletakkan itu di meja yang berada di hadapan Nanda.
"Aku kasihan lihat wajah kamu lesu waktu aku nolak tawaran kamu buat jalan semalam. Jadi sebagai bentuk biar kita impas, sama-sama senang. Ya udah deh, aku berniat mau kasih kamu kejutan bikinin sarapan di rumah kamu. Terus sekalian mau pamer, kalo sekarang aku udah jago masak. Meskipun baru masak nasi goreng sama sambal-sambalan aja" ungkap Dinda yang di sambut senyum hangat oleh Nanda karena ia sangat menghargai perjuangan Dinda yang rela belajar masak demi bisa membuatkan makanan untuknya.
"Rendang aku ga bisa, awas aja kalo kamu minta di buatin rendang" tegur Dinda sebelum terlanjur Nanda mengungkapkan permintaannya.
"Yee, mana ada aku minta di buatin rendang sama kamu. Kasihan dong pacar aku, rendang kan bikinnya butuh waktu yang lama. Nanti tangan kamu potel kaya tangan Barbie" ucap Nanda sambil bercanda dan lanjut ngunyah potongan buah.
"Kamu hari ini niatnya mau ngapain aja?" tanya Dinda sambil ikut nyemilin potongan buah.
"Rencananya sih tadi mau ngerecokin kantor kamu. Biar kamu kerjanya ga konsen terus di usir dari kantor karena pacar kamu yang berulah ini" ujar Nanda sambil tertawa karena membayangkan tingkah konyolnya kalau sampai beneran melakukan hal itu.
__ADS_1
"Rese' banget sih" cubit Dinda di bahu Nanda.
"Padahal kalo kamu bilang Yang, temenin jalan sekarang juga. Cuss, pasti dengan senang hati aku bakal tinggalin pekerjaan aku demi kamu" balas Dinda untuk membuat Nanda terbang ke awan.
"Yakin, begitu? Awas aja kalo besok-besok di jam kerja aku bilang gitu terus kamu beralasan sibuk apalah-apalah. Bener ya?" todong Nanda biar Dinda menepati ucapannya.
"Hahaha, ya ngga lah. Aku masih butuh kerja. Nanti beneran aku tinggalin kerjaan aku eh terus pas balik ke kantor, di tegur temen. Lo ngapain balik sini lagi. Kan udah di pecat. Aku bisa apa sayang huaaa" acting Dinda dengan berpura-pura nangis.
"Hahaha... Jadi ART di rumah aku aja. Biar kamu tetap punya semangat hidup, kan bisa lihat aku handukan tiap habis mandi" goda Nanda dengan senyum jahilnya.
"Di gaji ga tuh? Nanti aku iya-iya aja eh ternyata upah kerjanya cuma liatin kamu handukan" elak Dinda dengan ekspresi kesalnya.
"Kalo gitu handukan aja kamu 24 jam dirumah ini. Aku ikhlas kerja ga di gaji" ujar Dinda tersenyum menyeringai.
Lalu keduanya pun tertawa sambil saling dorong pundak masing-masing. Semenjak pacaran sama Nanda, Dinda jadi ikut-ikutan kebiasaan Nanda. Yaitu suka sekali mendorong-dorong Dinda kalo terlalu gemas.
Hari sudah menunjukkan pukul 10. Dan matahari dengan sangat terik menyinari bumi. Jemuran siapapun pasti akan cepat kering dengan bantuannya.
__ADS_1
Dinda berencana pulang sebentar untuk mandi lagi. Karena setelah masak-masak dan dengan panas terik begini tentu membuat badannya menjadi mudah berkeringat. Ditambah lagi rumah Nanda ini banyak kacanya, jadi matahari benar-benar mampu membuat Dinda mandi keringat.
"Sayang, aku pamit ya mau pulang. Mau mandi, gerah ni" ujarnya yang menunjukkan punggungnya yang basah sampai menembus pakaiannya.
"Mandi sini aja. Nanti aku pilihin baju Sherly yang cocok buat kamu" tawar Nanda biar Dinda tidak perlu bolak-balik karena Nanda mengkhawatirkan keselamatan Dinda. Dan lagipula mereka akan pergi jalan-jalan untuk mengisi waktu luang selagi Nanda masih free.
"Ya udah, pilihin sekarang bajunya. Biar enak, kalo ga nemu yang cocok aku bisa pulang. Kalo udah keburu mandi kan ga mungkin pakek baju ini lagi" pintanya sambil mengangkat kerah kemeja polosnya dengan raut wajah memelas.
"Ayo, ikut aku. Biar kamu pilih sendiri aja mana yang cocok". Nanda pun menarik tangan Dinda untuk ikut dengannya menuju kamar Sherly. Kemudian Nanda membukakan lemari pakaian Sherly agar Dinda bisa pilih sendiri yang sesuai dengan gayanya.
Beberapa menit, Dinda sudah menemukan 1 kaos dan rok selutut yang menurutnya pas untuk ia pakai. Kemudian, Dinda meminta Nanda untuk mengirim pesan pada Sherly buat minta izin Dinda pinjam pakaiannya. Karena Dinda pun tadi lupa buat minta izin Sherly. Dan juga, Dinda tak memiliki kontak Sherly.
Setelah Nanda mengirim pesan pada Sherly, Dinda pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai mandi, Dinda keluar dari kamar mandi dengan tampilan sudah memakai pakaian Sherly yang ia pinjam. Namun untuk berdandan, mau tidak mau tetap ke kamar Sherly untuk memoleskan sedikit kosmetik yang ia selalu bawa di dalam sling bag-nya.
Selama menunggu Dinda bersiap-siap, Nanda hanya menghabiskan waktunya dengan menonton berita di televisi. Nanda tak perlu bersiap-siap karena dari tadi ia sudah memakai kaos polo warna hitam dan celana jeans panjang dengan warna senada dengan kaosnya. Serta tambahan jam tangan dan sepatu kets yang menunjang tampilannya jadi terlihat makin keren.
Kini Nanda dan Dinda sudah dalam perjalanan menuju ke sebuah mall terdekat dari rumah Nanda. Mereka menggunakan mobil Nanda karena Nanda yang merasa sungkan sebagai laki-laki jika mereka jalan menggunakan kendaraan milik Dinda. Lagipula tadi kan udah, pakek mobil Dindanya.
__ADS_1
Saat sampai di dalam mall, mata Dinda langsung mendadak segar karena sudah lumayan lama ia tak berkunjung ke mall kalau bukan karena alat kecantikannya yang sudah habis. Ia mengajak Nanda memutari mall untuk mencari sesuatu yang kira-kira bisa di beli buat Sherly. Karena Dinda perlu memperlakukan calon adik iparnya itu dengan baik. Jangan cuma hati abangnya aja yang di ambil.