
Pak Ratmo dan istrinya hanya bisa tersenyum melihat gelagat 2 orang asing yang bertandang kerumahnya ini. "Saya bukan dukun, Mas. Kebetulan aja saya punya kemampuan mengobati orang yang terkena gangguan jin atau yang lainnya. Jadi, maksud dan tujuan Mbak sama Mas ini kesini buat apa?" tanya Pak Ratmo lalu menyesap teh hangat buatan anaknya.
"Maaf Pak, kami berdua sempat mengira kalau bapak seorang dukun ternyata bukan. Jadi begini, teman saya ada yang tidur gak sadar-sadar Pak. Awalnya dia tidur sambil ngelantur, badannya juga panas. Tapi paginya panasnya udah turun. Cuman dia tetap gak sadar-sadar. Nah, dari Mbak Dwi yang bekerja di puskesmas itulah saya dapat info kalo Bapak katanya sering ngobatin orang yang bernasib sama kayak teman saya. Maka dari itu, kami kesini untuk meminta pertolongan bapak. Dan juga, kemarin malam kami di ganggu kuntilanak di puskesmas pak" ungkap Feza menyampaikan maksud kedatangannya.
"Baiklah, mari antarkan saya pada teman Mbak itu". Mereka pun segera bergegas ke puskesmas.
Sepanjang jalan, Feza lagi-lagi merasa ada yang mengawasi mereka. Ia melihat ke kiri kanan dan belakang tapi tak menemukan apa-apa. Hingga bulu kuduknya meremang karena merinding.
"Kita fokus lihat kedepan saja. Saya tahu ini pasti ulah makhluk itu" ujar Pak Ratmo.
Feza pun tak lagi menggubris segala gangguan dari makhluk tak kasat mata itu. Ia berjalan rapat dengan Nanda untuk menghilangkan rasa takutnya.
Sampailah mereka ke puskesmas. Pak Ratmo juga diperkenalkan pada Pak Prima yang menemani Rama di puskesmas.
"Selimutnya tolong dibuka dulu ya, dan juga saya minta segelas air" titah Pak Ratmo.
Nanda membuka selimut Rama, sedangkan Feza mengambilkan segelas air yang diminta Pak Ratmo. Malam itu, Rama di bacakan yasiin dan ayat kursi oleh Pak Ratmo. Sepanjang Pak Ratmo membaca lantunan ayat suci itu, jendela ruang rawat Rama tiba-tiba terbuka dan tertutup dengan kencang.
Nanda, Pak Prima, dan Feza ikut berdoa dalam hati. Mereka ketakutan saat hantu perempuan itu datang lagi berdiri tepat diluar jendela menempelkan wajahnya dikaca.
Pak Ratmo seakan tak peduli dengan geraman yang perempuan itu keluarkan. Ia sengaja mengacau proses penyembuhan Rama. Pak Ratmo terus saja lancar membaca kedua surah tersebut. Hingga akhirnya Rama menunjukkan pergerakan. Tangannya bergerak, lalu disusul dengan matanya yang terbuka. Saat itulah Pak Ratmo memintanya untuk segera meminum air yang sudah ia bacakan tadi.
"Alhamdulillah, akhirnya Rama sadar juga" ucap Feza senang tapi tetap berdiri di tempatnya semula, yaitu di apit Pak Prima dan Nanda.
"Saya keluar dulu, akan saya kembalikan makhluk itu pada asalnya" Pak Ratmo lalu keluar. Sedangkan Nanda dan Pak Prima membuka jendela kamar karena melihat di kaca sudah tak ada lagi wajah hantu itu.
__ADS_1
Feza menghampiri Rama, "Tidur gak bangun-bangun. Lo ngapain sih sampe diganggu setan" ucap Feza yang gengsi bilang rindu akhirnya malah kalimat itu yang keluar.
"Minta makan" jawab Rama pelan.
Opps, iya juga ya. Nih orang udah seharian lebih gak makan. Giliran sadar malah gue omelin.
"Maaf maaf, bentar gue ambilin" Feza pun mengambilkan sepiring nasi dan lauk yang ia masak tadi siang. Karena Rama masih lemah, ia pun berinisiatif untuk menyuapi Rama makan. Dan Rama pun tak memprotes hal itu. Ia makan dengan lahap.
"Emang gue tidur udah berapa lama?" tanya Rama.
"2 hari" ucap Feza lalu air matanya menitik. Ia masih teringat bagaimana tubuh Rama terbaring lemah. Setiap kali ia ajak bicara tak pernah ada responnya. Feza selalu ungkapkan bahwa ia sangat menyayangi Rama, kalimat yang tak pernah ia sebut saat Rama baik-baik saja.
"Jangan nangis, gue kan udah sadar". Rama mengusap air mata Feza dan membelai lembut puncak kepalanya.
"Jangan gini lagi ya, Ma. Gue berasa ditinggal mati tau nggak" rengeknya pada Rama.
"Mungkin karena lo kepalang sakit hati sama Maudy, terus lo bener-bener galau sampe ngedown banget. Akhirnya makhluk halus jadi gampang gangguin lo. Karena kondisi fisik lo yang melemah" ucap Feza yakin.
"Yahh, gue jadi inget lagi" Rama menundukkan kepalanya. Teringat lagi akan pesan-pesan yang Maudy kirim padanya beberapa waktu lalu. Andai saja Maudy tahu keadaannya saat ini, akankah dia bersedia kembali pada Rama?
Feza hanya mengamati Rama. Ia bingung harus bagaimana menghiburnya. Lalu ia tersadar bahwa dari tadi kok tidak ada suara Nanda dan Pak Prima. Oh, ternyata mereka sudah keluar sambil menonton pertunjukan Pak Ratmo yang seperti sedang adu mekanik dengan hantu itu. Feza pun kembali duduk disamping Rama.
"Gue udah gak peduli sama tujuan awal kita kesini. Lebih baik kita pulang aja, gue takut diantara kita mengalami yang lebih buruk dari ini" ucap Feza yang sangat mencemaskan keadaan mereka berempat di desa itu.
"Nggak Za. Gue mau kita tetap lanjutin niat awal kita kesini. Gue udah ikhlas ditinggal Maudy, biarin aja cewek egois itu nikah sama orang lain. Jodoh gak akan kemana" ucap Rama menatap dalam pada manik mata Feza.
__ADS_1
"Gue udah menerima hubungan gue kandas ditengah jalan, masa kita malah mundur. Kan jadinya rugi 2 kali" kata Rama lagi membujuk Feza agar tidak putus asa.
Feza pun mengangguk, tapi dirinya tak yakin bahwa laki-laki kepar@t itu masih ada di desa ini. Sebab, saat ia melihat Feza di warung Bu Heni waktu itu, pria itu kabur ketakutan.
"Wah, hebat banget Pak bisa ngelawan makhluk itu. Dulu belajar dimana?" puji Nanda saat mereka kembali bersama Pak Ratmo menuju ruangan Rama.
"Saya dulu pernah mondok, Mas. Terus karena memang dari sananya punya kelebihan bisa melihat makhluk halus, akhirnya sama Pak Kiai disana saya diajarin buat meruqyah, menetralisir gangguan makhluk halus, dan sebagainyalah" ungkap Pak Ratmo.
"Terus yang dirumah Bapak tadi, anak kecil itu cucunya bapak?" tanya Nanda.
"Iya, namanya Windu. Kalo yang buatin teh itu Ratih anak saya, ibunya Windu" ungkap Pak Ratmo lagi.
"Ooohh" ujar Nanda, sedangkan Pak Prima hanya menyimak percakapan mereka.
"Bapaknya Windu udah meninggal Pak?" tanya Nanda lagi.
"Iya, bapaknya dulu tentara. Meninggal waktu dikirim tugas ke Papua" ujar Pak Ratmo sembari menerima segelas minuman dari Feza.
"Oohh"
"Pak, kalau boleh tau. Rama kenapa ya Pak kok bisa sampe diganggu makhluk tadi?" tanya Feza yang menjeda pertanyaan Nanda yang akan kembali menanyakan perihal anak Pak Ratmo itu.
"Kalian pernah ribut-ribut di pohon besar yang kalo dari sini letaknya sebelum masjid?" tanya balik Pak Ratmo.
"Ahhh" Rama mendesah pelan. Seolah dirinya sudah tau apa yang menjadi penyebab makhluk itu mengganggunya.
__ADS_1
"Sepertinya Mas Rama sudah tahu. Makhluk itu memang sudah lama jadi penunggu pohon itu. Dia merasa terusik sama kelakuan Mas Rama. Terus juga dia merasa punya nasib yang sama. Saya gak tahu maksudnya nasib disini nasib yang bagaimana, mungkin Mas Rama saja yang tahu" ucap Pak Ratmo sambil memandang lekat pada Rama.
Setelah berbincang dengan mereka, Pak Ratmo pun pamit pulang. Niatnya, Pak Prima dan Nanda ingin mengantarkan Pak Ratmo pulang. Namun, hal itu di tolak oleh Pak Ratmo karena dirinya sudah biasa berjalan sendirian di desa ini. Dan juga, makhluk halus yang tadi tak akan mengganggu perjalanannya lagi.