(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Baru Tahu


__ADS_3

Selamat membaca... Jangan lupa likenya yaa👍


...*...


...**...


...***...


Disuatu pagi, Nanda kembali sakit perut akibat masuk angin. Tapi karena Dinda sedang menggunakan kamar mandi di kamarnya, akhirnya Nanda berlari menuju kamar mandi belakang.


Sebelum Nanda masuk ke kamar mandi, ia sempat melihat Bibi sedang menjemur pakaian melalui pintu belakang yang terbuka lebar. Saat sudah mengatur posisi, Nanda baru sadar.


Oh pasti yang tadi tanaman yang di beli Dinda waktu itu, ucap Nanda dalam hatinya. Ia hanya melihat sekilas dan tak begitu jelas, cuman keliatan berjejer pot bunga di dekat jemuran pakaian.


Saat panggilan alamnya sudah selesai, Nanda pun keluar dari wc dan tak lupa menutup pintu wc. Saat menutup pintu, matanya melihat ke arah belakang rumah. Melihat tanaman baru Dinda secara lebih jelas.


Saat dirinya akan berbalik menuju kamar, mata Nanda terbelalak. Dan ia pun berniat ingin memastikan sekali lagi tapi dengan lebih dekat.


Terburu-buru Nanda menyarungkan sendalnya, lalu berjalan menuju arah jemuran pakaian. Saat langkahnya semakin dekat...


Plak


Plak


Plak


Suara langkah kaki Nanda yang sangat cepat. Ia menyingkap sehelai baju milik Dinda agar tak menghalangi jalannya menuju sesuatu yang menarik perhatiannya sejak tadi.


Lalu kemudian...


"Astaghfirullah" pekiknya.


"Yank... Yank... Cepetan kesini" teriak Nanda dengan sangat histeris.


Bibi yang tadinya sedang enak-enakan menyiapkan sarapan, mendengar kegaduhan suara Nanda. Segera berlari menghampiri Nanda.


"Mas Nanda, kenapa?" tanya Bibi.


"Cepet Bi panggil istri saya" titah Nanda tak sabaran.


Dengan tergesa-gesa, Bibi berlari masuk kedalam rumah untuk memanggil Dinda.


Tak lama kemudian, datanglah Dinda bersama bibi ke halaman belakang. "Kamu kenapa sih Yank? Pagi-pagi udah bikin bibi kocar-kacir" kesal Dinda pada suaminya.


"Ini" tunjuk Nanda pada 5 bunga baru Dinda itu.


"Kamu dapat darimana ini?" tanyanya.

__ADS_1


"Enak aja dapat, aku beli" sanggah Dinda tak terima.


"Ini yang kamu beli 15 juta itu?" tanya Nanda lagi.


"Yank, to the point aja deh" pinta Dinda gusar.


"Ini ganja!" ucap Nanda dengan raut marah.


Kenapa bisa ada ganja dirumahnya? Ditaruh di dalam pot lagi. Tak habis pikir ada ganja yang di perlakukan seperti bunga begitu. Di beli pula dengan istrinya.


"Bisa-bisanya dirumah polisi ada ganja, ditanam lagi" kesal Nanda.


Dinda dan Bibi merapat, keduanya takut melihat Nanda yang sedang emosi seperti saat ini. Keduanya hanya mampu tertunduk diam, takut salah kalau bicara.


"Kamu dapat darimana ini, Yank?" tanya Nanda tegas.


"Dari... Dari tempat jual bunga yang waktu itu aku datangin. Deket rumah papa" jawab Dinda dengan pelan. Ia takut dimarahi Nanda.


"Suara kamu kenapa pelan begitu?" tanya Nanda.


"Aku salah, aku takut kamu marah. Apalagi kamu tadi ngomongnya nada tinggi semua" jawab Dinda masih dengan tertunduk. Lalu tangannya mengusap air mata yang menetes. Melihat itu, Nanda jadi merasa bersalah.


Nanda pun memeluk istrinya dan meminta bibi untuk kembali kedalam. "Maaf ya, aku gak marah. Aku cuma masih gak nyangka aja ada ganja dirumah aku. Kamu tau kan suami kamu ini siapa?" ucap Nanda sambil mengusap pundak Dinda yang masih erat dalam dekapannya.


"Polisi" jawab Dinda sambil tersedu-sedu.


Dinda hanya menggerakkan kepalanya mengangguk.


Nanda kemudian mengurai pelukannya. Ia memegang kedua pundak Dinda.


"Yank, aku bakal laporin ini ke kantor. Tapi kamu janji ya untuk kooperatif" minta Nanda pada istrinya.


"Iya, aku janji. Tapi aku gak mau masuk penjara Yank" Akhirnya pecah lagi tangis Dinda.


"Haha, gak sayang. Kamu kan gak salah, tapi maksud aku kalo aku tanya-tanya kamu tuh sigap buat kasih tau. Gitu lho" Nanda mengusap kepala istrinya. Perempuan cengeng yang kini tengah mengandung anaknya dan sangat ia sayangi.


"Baru aja kemaren malam kita niat mau tobat, eh sekarang udah ditegor sama Tuhan, hiks" ucap Dinda.


"Udah ah jangan nangis lagi, nanti habis lho air matanya. Yuk masuk" Nanda dan Dinda pun masuk ke dalam rumah.


Nanda langsung menghubungi orang kantor untuk memberitahu apa yang terjadi pagi ini. Lalu tak lupa juga memberi alamat keberadaan tempat jual bunga tersebut kepada rekan kepolisian untuk segera diusut. Dan juga, Nanda meminta mereka datang untuk menjemput barang bukti dirumahnya.


"Lho, kok barang bukti tiba-tiba udah dirumah, Ndan?" tanya Pak Agus.


"Nanti saja saya ceritain". Lalu panggilan telepon pun berakhir.


*

__ADS_1


"Aku masih gak nyangka lho ada orang seberani itu jual bibit ganja dengan terang-terangan" ucap Nanda pada istrinya. Keduanya kini tengah sarapan di kamar.


"Gak tau" jawab Dinda acuh.


"Disana penjual atau pegawainya ada berapa orang yank setau kamu?" tanya Nanda lalu menyendokkan nasi goreng ke mulutnya.


"Yank, aku nih lagi males ngomong" rengek Dinda.


"Hm, kan? Ini yang aku maksud kooperatif tadi -"


"Yank! Aku lagi gak mau ngomong. Bibir aku capek" ucap Dinda memotong kalimat suaminya.


Nanda pun hanya mengangguk, tidak lagi meneruskan pertanyaan-pertanyaan yang ingin sekali ia ajukan pada istrinya itu. Tapi karena kondisi Dinda sedang hamil, ia tak mau menekan istrinya terlalu keras. Apalagi kalau sampai membuat Dinda stres.


Setelah sarapan, Nanda pun merapikan lagi pakaiannya sembari menunggu kedatangan anggota kepolisian. Nanda duduk di samping Dinda yang tengah memainkan ponsel, lalu tangan Nanda mengelus perut Dinda.


Sesekali tangannya naik sampai ke dada istrinya, sengaja untuk menggoda Dinda karena terlalu serius dengan ponsel. Lalu dilakukannya lagi dan lagi sampai Dinda emosi.


"Yank! Perut ya perut, dada ya dada" ucap Dinda membuat Nanda tertawa ngakak. Dinda lalu menanggalkan ponselnya di atas meja.


"Sekarang aku lagi kooperatif nih, kamu mau nanya-nanya apa?" tanya Dinda.


"Tapi aku yang lagi gak mau nanya-nanya" jawab Nanda.


"Huft" Dinda memonyongkan bibirnya cemberut. Tapi Nanda sigap menyambar cepat bibir itu dengan bibirnya.


Dinda pun reflek mendorong tubuh Nanda. "Yank, nanti diliat bibi" ucap Dinda celingukan. Nanda yang gemas pun mencubit pipi istrinya yang semakin berisi semenjak berbadan dua.


Tak berapa lama, anggota kepolisian yang datang menggunakan mobil kantor pun sampai. Mereka datang berempat antara lain ada Pak Agus, Awan, Rizal, dan Sebastian. Nanda langsung membuka pintu menyambut kedatangan rekan kerjanya. Dinda juga sudah siap menyambut kedatangan para teman suaminya dengan tampilan sopan dan riasan sederhana.


"Mau duduk dulu atau langsung ke intinya?" tanya Nanda.


"Langsung ke intinya saja komandan" jawab Pak Agus.


Mereka pun berjalan menuju halaman belakang namun lewat samping rumah. Saat sampai di jejeran pot bunga, mereka pun tampak terkejut. Tapi setelah itu mereka tertawa.


"Komandan nampaknya disuruh berhenti jadi polisi, buar jadi petani ganja saja" gurau Sebastian.


Rekannya yang lain semakin tertawa. "Udah cepat bawa ini ke mobil. Saya juga kaget kenapa ini bisa disini. Ternyata yang bawa orang dalam" balas Nanda bergurau menyebut istrinya orang dalam.


...*...


...**...


...***...


Buat yang kemaren nanya "emang bunga apa sih thor yang di beli Dinda?" Kini terjawab sudah kan guys? Atau kalo kalian lupa, baca lagi deh di bab sebelum ini, ada kok nama bunganya disebutin sama babang penjual hehehe... Cluenya disitu.

__ADS_1


Oh iya, jangan lupa like dan komen ygy💋👍⤵⤵


__ADS_2