
"Yank, nanti aku main tempat mama lagi ya sekalian makan siang disana" ucap Dinda saat keduanya tengah menikmati sarapan pagi mereka bersama. Entah kenapa Dinda merasa dirinya ingin sekali bertemu mamanya hari itu. Padahal baru kemaren dirinya dan Nanda berkunjung ke sana. Dan baru sehari sudah rindu lagi.
"Iya sayang, pulangnya mau aku jemput?" tanya Nanda.
"Ga perlu, kan aku bawa mobil sendiri" tolak Dinda.
"Ya kan pulangnya bisa iring-iringan" Nanda kukuh ingin menjemput istrinya dirumah mertua.
"Terserah kamu aja" ucap Dinda akhirnya.
Setelah sarapan pagi bersama hari itu, keduanya pun bersiap-siap untuk pergi bekerja. Dinda mencium punggung tangan Nanda saat keduanya sudah berdiri di depan teras. Setelah mobil Nanda sudah berlalu pergi, Dinda pun menyusul untuk berangkat kerja yang selalu bertepatan dengan keluarnya skuter antik milik Jovan dari garasi rumahnya.
"Pagi kakak" sapa Jovan yang seperti ibu-ibu yang menawarkan dagangannya dipasar.
"Pagi juga Jovan" balas Dinda lalu masuk ke mobilnya. Eits bukan Dinda sombong yaa, tapi mereka sudah terbiasa ngobrol sambil jalan.
Jovan dengan skuternya akan berjalan disisi mobil Dinda. Pemuda itu memang sangat akrab dengan Dinda, bahkan ia berani mengaku pada Dinda bahwa dirinya naksir Sherly tapi masih takut untuk mendekati sang adik ipar Dinda itu karena Nanda pasti akan menjaga adiknya dengan sangat hati-hati sebelum sempat Jovan mengakui perasaannya.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama dan padat, Dinda pun akhirnya sampai juga di perusahaannya. Namun, lagi-lagi dirinya merasa cepat-cepat ingin kerumah mamanya. Belum sempat duduk di kursi kebesarannya, Dinda pun langsung pergi lagi meninggalkan kantor menuju kediaman orang tuanya.
Sesampainya disana, ia melihat sang papa sedang bermain bersama dua ekor kucing kesayangannya di halaman luas depan rumah mereka. Dinda pun turun langsung menanyakan keberadaan sang mama.
"Pagi pa. Assalamu'alaikum" sapa Dinda menghampiri papanya.
"Wa'alaikumsalam, kamu gak ke kerja?" tanya Papa sambil mengulurkan tangannya hendak bersalaman dengan Dinda.
"Nanti pa, habis dari sini aja. Mama ada di dalam kan pa?" tanya Dinda.
"Ada, cari aja di dalam" Dinda pun langsung pergi meninggalkan papanya yang masih ingin berbicara dengannya.
"Kenapa sama anak itu, main pergi-pergi aja" gumam papa lalu kembali berjongkok untuk membelai dua anabul yang berkeliling di kakinya.
__ADS_1
-
"Maaa..." teriak Dinda saat melihat di ruang TV tidak ada mamanya.
"Kenapa Din? Lho? Kamu gak kerja?" pertanyaan mama sama seperti pertanyaan papa sebelumnya.
Dinda mengabaikan pertanyaan mamanya, ia langsung menghambur ke dalam dekapan mamanya. Sang mama pun yang terkejut dengan sikap Dinda yang tak seperti biasanya pun mulai curiga dengan kehidupan rumah tangga anaknya.
"Kamu ada masalah sama Nanda?" tanya mama tanpa berniat ikut campur, hanya saja ingin memberi saran yang tepat untuk kelancaran rumah tangga anaknya.
"Nggak ma" ucap Dinda masih sambil mendekap erat mamanya.
"Terus kenapa kamu begini?" tanya mama heran.
"Ma, aku gak tahu pokonya pengen begini aja. Jangan dilepas ya ma" ucap Dinda.
"Kamu yakin kamu gak kenapa-napa?" tanya mama masih keheranan.
"Yakin dong ma, emangnya gak boleh?" rengek Dinda.
"Aku juga bingung, tapi aku mau" ucap Dinda dengan tanpa melepas barang sekejap pelukannya.
"Mama jadi punya firasat" ujar mama sambil tersenyum.
"Firasat apa ma?" tanya Dinda.
Mama memegang bahu Dinda dan menjauhkan sedikit dari tubuhnya.
"Jangan-jangan kamu hamil, Din" ucap Mama tersenyum lebar.
"Jangan gitu ma, nanti malah gak seperti yang mama duga. Aku gak mau lho bikin Nanda kecewa, apalagi dia kepingin banget punya baby" ucap Dinda hampir menangis. Tiba-tiba saja dirinya merasa sangat terharu membahas perihal momongan.
__ADS_1
"Tuh kan, makin yakin Mama"
Mama pun langsung pergi ke dapur meminta sang sopir untuk pergi ke apotek dan membelikan beberapa alat pengecek kehamilan untuk Dinda coba nanti. Lalu sang sopir pun segera pergi setelah menerima uang dari Mama Dinda.
"Ma, peluk lagi" rengek Dinda.
"Ya ampun Din, mama sampe gak bisa ngapa-ngapain. Itu tanaman depan aja belom mama siram" gemas mamanya dengan tingkah laku sang putri yang sedang ingin bermanja dengannya.
"Minta papa aja yang siram"
Mama hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan Dinda barusan. Karena suaminya itu paling anti kalau disuruh menyiram atau merawat tanaman. Sedangkan Bi hanum saat ini sedang berada di belakang, tepatnya di dapur sedang sarapan bersama pekerja yang lain.
-
Setelah kepulangan sang sopir dari apotek, Dinda buru-buru diminta mamanya untuk mencoba semua jenis testpack yang sudah di beli itu. Ia sudah sangat yakin bahwa putrinya sedang berbadan dua meski belum melihat testpacknya.
"Ma, nih" Dinda menyerahkan testpack itu pada mamanya. Karena dirinya saat ini hanya ingin bergelayut manja di lengan sang mama yang kini tak mengeluh akan kelakuan Dinda karena pikirannya hanya pada cucu yang beberapa bulan lagi akan hadir di kehidupannya. Ya, Dinda hamil.
"Dindaaa, selamat yaaa... Mama seneng banget akhirnya mau punya cucu. Panggil papa panggil papa" mama pun langsung menuju halaman depan untuk mengabarkan berita baik ini pada sang suami.
"Apa? Alhamdulillah" begitulah pekik papa yang Dinda dengar dari dalam rumah.
Orang tua Dinda pun langsung mengerumuninya. Mereka sangat bersyukur anaknya itu bisa dengan cepat memberikan mereka cucu. Karena tak sedikit diluaran sana anak dari teman papa atau teman mama yang sampai harus menggelontorkan uang dengan jumlah besar hanya demi mendapatkan momongan karena sudah menunggu terlalu lama dan tak kunjung di beri kepercayaan.
Alhamdulillahnya Tuhan maha baik, dengan cepat memberi kepercayaannya pada Dinda dan Nanda untuk segera memiliki anak. Tentu saja Nanda akan sangat bahagia karena impiannya kini sudah terwujud. Ada janin yang mereka tunggu-tunggu di dalam rahim Dinda.
Setelah tahu bahwa dirinya sedang berbadan dua, Dinda mendadak tak semanja sebelumnya. Malah kini betapa tak sabarnya untuk segera berjumpa dengan suami demi memberitahu bahwa mereka akan segera menjadi orang tua.
Dinda pun tak jadi ke kantor, akhirnya ia memutuskan untuk pulang kerumah saja setelah makan siang dirumah orang tuanya. Dirinya juga berpesan pada kedua orang tuanya untuk merahasiakan ini dari Nanda, karena ia ingin dirinyalah yang memberitahukan langsung pada suaminya itu, penasaran juga akan reaksi Nanda seperti apa.
Dinda juga akan memberikan sambutan yang berbeda untuk menyambut kepulangan suaminya hari ini. Harus yang spesial, pokoknya.
__ADS_1
-
Sampai dirumahnya, Dinda pun mulai menyiapkan bahan-bahan masakan. Ia akan memasak sesuatu yang spesial. Selain itu, ia juga sudah menyiapkan lilin di meja makan agar makan malam mereka nanti tak bisa terlupa dalam memori mereka berdua. Dan sebuah testpack yang diletakkan dalam kotak berpita sudah Dinda simpan dalam laci nakas di kamar mereka sebagai kejutannya.