
Sesampainya di rumah Dinda, 2 nasi padang di serahkan ke meja makan. Entah untuk siapa nasi padang itu, karena siapa saja boleh makan.
Termasuk Bi Hanum dan para pekerja lainnya. Setelah meletakkan 2 bungkus nasi padang di meja makan, Dinda menuju laci penyimpanan alat makan.
Dinda mengambil 2 pasang sendok garpu dan 2 piring. Lalu bergegas ke teras rumah, karena ia akan makan nasi padang di sana bersama Ariel sambil menikmati langit malam versi komplek perumahan.
"Nih" ucap Dinda menyerahkan sepasang sendok garpu lengkap dengan piringnya kepada Ariel.
"Uhuy, di traktir Neng Dinda nih bos. Gimana ya rasanya" goda Ariel sambil membuka bungkusan nasi padang miliknya.
"Duit halal tu, ada manis-manisnya hahaha" sahut Dinda tertawa sendirian.
"Yah, ga seru. Duit haram lebih sedaaap" cetus Ariel yang tersenyum mengolok-olok Dinda.
"Wah, harus ngepet malam ini kita" balas Dinda yang mulai siap menyendok makanan ke mulutnya.
"Eh, tunggu" ucap Ariel menghentikan kegiatan Dinda.
"Apa?" tanya Dinda.
"Jadi, kita makan dulu? Apa ngepet dulu?" tanya Ariel yang seketika tertawa ngakak karena akibat perbuatannya itu muka Dinda langsung merah padam.
"Bodo amat, aku lapar. Jangan mancing emosi" gerutu Dinda lalu makan dengan lahap.
Sesaat mereka makan, tiba-tiba saja lampu padam. Dinda dan Ariel yang berada di teras seketika melihat ke sekeliling rumah tetangga mereka. Ternyata memang padam semua lampunya.
"Wah, lagi enak-enak makan pake acara mati lampu segala" omel Ariel yang memang phobia sekali sama yang namanya gelap. Tapi kalo gelap-gelapan sama lawan jenis dan di tempat tertutup pula, mungkin beda cerita kali yaa, hihihi.
"Ngomel doang bisanya, kamu tunggu di sini. Aku cari lilin" tukas Dinda. Lalu meninggalkan Ariel beserta makanan yang masih mereka santap di teras.
"Ma, mesin yang buat lampu itu mana? Kok ga di nyalain?" tanya Dinda saat ia bertemu dengan sang mama yang berada di ruang tengah sambil nyalain sebatang lilin.
"Rusak, Din. Semua rumah pada mati ya?
"Iya ma, rumahnya pak Robert yang ga pernah mati lampu siang malam aja malam ini mati juga" sungut Dinda sambil ikut nyalain 2 batang lilin untuk ia bawa ke teras. "Dinda ke depan dulu ya ma, kasihan anaknya Om Setyo pasti udah ketakutan nungguin Dinda di depan". Dinda pun kembali ke tempatnya semula.
"Busyet neng, nyamuk udah pada naik berat badan kamu baru nongol". Plak. Tepuk Ariel pada siku kirinya yang lagi jadi santapan nyamuk.
__ADS_1
"Haha, ampun sayangku cintaku. Nih aku datang dengan 2 buah lilin. Taraaa... kuy lanjut makan lagi" bujuk Dinda biar Ariel tida mengkesal.
"Kuy, seru juga nih. Berasa lagi camping terus makan di tengah hutan". Yeaay, bujukan Dinda berhasil. Si Ariel ga ngedumel lagi.
Dinda dan Ariel menikmati makan malam super lezat mereka dengan begitu serius, meski sesekali rebutan daun singkong di tengah-tengah aktivitas makan mereka tapi yang menang selalu Dinda. Yup, selain wanita selalu benar, mereka juga selalu menang gaes.
Kini mereka berdua tengah kekenyangan. Duduk bersisian sambil wajah mereka menghadap ke langit.
"Sayang, selamat ulang tahun ya. Makasih traktirannya. Besok-besok, lagi ya hehe. Aku berdo'a semoga kuliah kamu cepet selesai, kita cepet nikah, kamu panjang umur, sehat selalu, selalu dalam lindungannya, dan semoga apapun yang kamu do'akan Allah kabulkan. Terus, apa lagi ya... pokonya kamu jangan berubah, tetap jadi Dinda yang nyebelin, Dinda yang pipinya bulet. Udah" kata Ariel tanpa mengalihkan pandangannya menatap langit. Hanya tangannya saja yang sedang menyatu di sela-sela jemari Dinda.
"Amiiiin... Terima kasih babang Ariel, semoga semua do'a-do'a baiknya di kabulkan dan kembali kebabang Ariel. Tapi ada 1 yang aku ga terima. Maksudnya apa bilang pipi aku bulet".
Plak, Dinda menepuk tangan Ariel yang bergerak hendak mencubit pipinya.
"Jangan cubit-cubit. Ini juga gara-gara kamu makanya jadi bulet" gemas Dinda sambil membalas mencubit pipi Ariel biar ikut mbulet.
"Hahaha tapi aku suka sama pipi kamu. Enak buat di ci'um" goda Ariel. Akhirnya mereka berdua main cubit-cubitan pipi.
"Di larang ci'um anak di bawah umur" ledek Dinda.
"Kamu ih, rese' banget. Udah di kasih makan, masih rese' aja" kesal Dinda yang melepas kedua tangannya dari pipi Ariel.
"Sayang, ayo. Main cubit-cubitan lagi" ajak Ariel yang mengarahkan kembali tangan Dinda ke pipinya.
"Ayo, tapi biar seru kita main merah-merahan kuy. Yang paling merah harus traktir makan sama tiket nonton minggu depan" ucap Dinda memberi ide.
"Kuy, siapa takut. Aku pemanasan dulu" ucap Ariel sambil menampar-nampar pipinya.
"Buruan ih, lama deh" kata Dinda ga sabaran.
"Kuy, mulai". Ariel memberi interupsi.
Mereka berdua pun saling jewer pipi. Beberapa kali terdengar teriakan kecil dari keduanya. Dan 2 menit berjalan, keduanya sudah saling melonggarkan capitan pedas tangan masing-masing.
"Kamu merah banget" ucap Ariel.
"Ih, kamu kali yang merah banget" balas Dinda yang menarik wajah Ariel sedikit lebih mendekat ke lilin biar lebih keliatan. "Tuh kan, kamu merah banget, udahlah. Siap-siapin aja dollar ya buat mingdep" pungkas Dinda sambil senyum manis ke depan wajah Ariel.
__ADS_1
"Yee, standar merah orang kan beda-beda. Bagi aku, kamu yang merah" elak Ariel ga mau kalah.
Pipi udah sakit, masa mau ngalah lagi, pikirnya.
"Yee, kamu yang merah. Sini nempel sama aku, kita liat pake kamera. Biar nampak perbedaannya" bujuk Dinda. Ariel pun nurut saja.
"Hehe, gelap" ucap Dinda tertawa renyah.
"Udah ya, kita sepakatin aja kamu yang merah" pungkas Ariel pengen banget menang sambil menjulurkan tangan untuk "deal".
"Oke, kita sepakatin aja kamu yang merah". Ulang Dinda atas ucapan Ariel barusan, yang membuat Ariel menarik kembali tangannya sebelum di jabat oleh Dinda.
"Ishh, mana bisa gitu. Sayang, kamu kan udah sering banget menang, sekali-kali lah kasih aku kesempatan. Toh ini bukan perkara menang atau kalah kok, ini hanya perkara merah atau ngga. Kamu yah, yang merah. Merah sama menang kan sama-sama M. Merah berarti menang" tukas Ariel yang tak gentar mencoba untuk bernegosiasi biar bisa menang.
"Oke, aku menang" kata Dinda mencelos begitu saja.
"Jangan gitu ngomongnya. Gini, aku merah. Begitu" pungkas Ariel lalu mencolek hidung Dinda karena gemas.
"Kamu kalah, barusan kamu ngaku kalo kamu yang merah. Hayoo, masih mau menipu-nipu aku?" kata Dinda dengan senyuman devilnya.
"Niat hati memberi contoh, malah terjebak sendiri" gumam Ariel di samping telinga Dinda.
Dinda pun tertawa ngakak karena Ariel tak mampu mengelabuinya. Justru masuk dalam jebakannya sendiri.
Cewe mah gitu. Main yang begini-gini mah ahlinya. Lain lagi kalo hati yang di mainin. Itu kelemahannya.
ššššš
Hello epribadeeh, Author mau ngucapin makasih banyak yaa buat yang rela menghabiskan waktunya untuk baca novel ini. Bahkan kalian tak segan-segan meninggalkan komentar yang bikin Author jadi semangat nulis hehe...
Allaview...
Btw, sejauh ini gimana ? serukah ? atau membosankan kah ?
Up 3 hari lagi yaa, berarti tanggal 11...
Jangan lupa sholat ya gaessss...!!!
__ADS_1