(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Si Paling Ngebet Nikah


__ADS_3

Jangan lupa pencet tombol likenya ya guys, kasih komen bebas deh. Mau komen apa aja bakal aku baca dengan senang hati heuheheu👍


...$...


...$...


...$...


Satu hari, dua hari, bahkan berhari-hari Rama merasa resah menunggu jawaban dari Feza yang belum juga ia terima.


Ini Feza beneran mikirin jawabannya atau malah lupa mikir?


Rama makin terlihat gusar saat Feza justru memamerkan fotonya yang sedang berbelanja bersama Dinda di status whatsapp.


"Gue datengin ajalah" Rama pun melepaskan snelinya dan keluar ruangan tanpa memberitahukan kepergiannya pada Pak Ali.


Dari background foto Feza, Rama tahu mall mana yang akan ia datangi untuk menghampiri Feza dan Dinda.


Setelah sampai di parkiran mall, Rama menghubungi Feza namun panggilan Rama tampaknya sengaja Feza abaikan. Mengetahui hal itu, Rama tentu saja tak kehabisan akal. Ia menghubungi Dinda dan berkata bahwa dirinya juga sedang berada di mall tersebut. Akhirnya Rama pun diberitahu Dinda bahwa saat ini mereka sedang makan di restoran seafood lantai 2.


Rama turun dari mobilnya lalu beranjak naik menuju lantai 2. Sampai di depan pintu masuk restoran Rama langsung mencari-cari keberadaan wanita yang digadang-gadang akan menjadi istrinya itu.


Hap, kamu tertangkap! Rama tersenyum tipis saat matanya menemukan sosok yang ia cari-cari sejak tadi.


"Hai Din, Za" sapa Rama santai saat sudah mendekati meja dua wanita itu.


"Hai" balas Dinda ramah.


"Lo mau pesen apa Ma?" tanya Dinda karena pelayan sedang mencatat menu yang hendak mereka pesan.


"Samain aja kaya punya Feza" jawab Rama sambil melirik Feza yang masih berpura-pura sibuk dengan ponselnya. Sepertinya Feza tahu kalau Rama hendak menagih jawaban dari tawarannya minggu lalu.


"Za, gue telpon kok gak diangkat?" tanya Rama yang duduk berhadapan dengannya.


"Sorry tadi mode silent. Lo gak kerumah sakit emangnya?" tanya Feza yang menghindari Rama untuk membicarakan perihal tawaran kemarin. Apalagi saat ini lagi ada Dinda diantara mereka yang masih belum Feza ceritakan tentang ajakan menikah dari Rama.


"Males, hari ini gue mau kumpul bareng kalian aja" sahut Rama.


"Yee, kita aja habis makan mau bubaran. Feza balik ke klinik, gue ke kantor Nanda" sahut Dinda cepat.

__ADS_1


"Ya udah, gue ikut ke klinik Feza aja. Boleh kan Za?" tanya Rama.


"Hm" sahut Feza yang tahu betul dengan tujuan Rama saat ini. Sekalipun Feza bilang gak boleh, pasti Rama tetap akan membuntutinya kemanapun sampai tujuannya tercapai.


Saat makanan sudah tersaji di hadapan mereka, mereka pun makan bersama-sama sambil berbincang hal yang seru-seru. Dinda beberapa kali tertawa mendengar cerita Rama, sedangkan Feza hanya terkekeh pelan itupun tidak sepenuhnya dari hati. Ia hanya menghargai Rama yang sudah mau bercerita saja.


Sehabis makan, Dinda pamit lebih dulu karena sudah diteror dengan panggilan video call dari sang suami. Setelah Dinda pergi, kini tinggallah Feza dan Rama di meja itu.


Hening


Beberapa saat keduanya masih terpaku dengan pikiran dan kegugupan masing-masing. Seperti dua orang asing yang tak saling kenal berada satu meja.


"Za, gue gak bisa menunggu lebih lama. Gue butuh jawaban itu sekarang" Rama akhirnya membuka suara setelah menunggu sekian menit namun tampaknya Feza tak menemukan kata-kata untuk menghilangkan kecanggungan diantara mereka. Sebagai lelaki, Rama perlu bersikap gentle demi terlihat meyakinkan untuk menjadi seorang suami.


"A ... aku ... Aku mau" jawab Feza setengah tak percaya dirinya telah mengatakan hal yang barusan ia ucapkan.


"Yakin?" tanya Rama yang berusaha meyakinkan diri apakah telinganya tak salah dengar.


"I ... Iya" jawab Feza dengan tertunduk.


Apa salahnya mencoba dulu, lagipula aku tak mungkin akan jatuh cinta pada seorang pria. Wanita kotor seperti aku mana berani jatuh cinta. Maaf Rama, aku terkesan menjadikanmu pelampiasan.


"Tapi Ma, kita gak akan terburu-buru nikah 'kan?" tanya Feza khawatir.


"Kenapa? Bukannya kamu juga sudah siap menikah?" tanya Rama.


"I iya, tapi maksud aku apa kita gak bangun chemistry dulu. Kaya pacaran gitu. Biar habis nikah gak canggung-canggung amat" ucap Feza.


"Setidaknya kita pacaran aja dulu 3 bulan, gak usah lama-lama" terang Feza lagi.


"Gak Za, aku butuh sosok istri mulai saat ini juga" tegas Rama. Ia tak berniat memaksa Feza, tapi kan kenyataannya Feza juga sudah menerima tawarannya.


"Baiklah, kapan kita akan menikah?" tanya Feza yang kini sudah pasrah mengikuti kehendak Rama.


"Bulan depan. Aku akan menemui orang tua kamu secepatnya agar lamaran kita bisa cepat terlaksana" ucap Rama yang kini jiwa-jiwa direkturnya sudah mulai mendominasi. Laki-laki itu berkata dengan tegas seolah tak menerima penolakan dan bisa mengatur semua sesuka hatinya.


"Baiklah. Ya udah kalo gak ada lagi yang mau di omongin, kita cabut yuk" ajak Feza karena sudah cukup lama duduk di restoran itu.


"Yuk" Rama berdiri lebih dulu lalu mengulurkan tangannya pada Feza. Sedangkan Feza yang sedang memasukkan ponselnya ke dalam tas merasa keheranan.

__ADS_1


"Apa?" tanya Feza. Dikiranya Rama sedang meminta sesuatu.


"Masa ga ngerti? Kita perlu latihan dari sekarang, kamu sendiri 'kan yang bilang mau bangun chemistry sama aku?" Rama menggamit tangan Feza lalu mengajaknya pergi dari sana.


"Ke kasir dulu" ucap Feza mengingatkannya bahwa mereka belum membayar makanannya.


"Tunggu sini" Rama pun bergegas ke kasir untuk membayar semua makanannya termasuk punya Dinda tadi.


"Udah. Ayo ke klinik, aku anterin" ucap Rama yang hendak menggamit tangan Feza untuk ia gandeng.


Aneh sekali rasanya, tapi aku harus berusaha menumbuhkan rasa cinta untuk Feza.


Feza menuruti dan menerima semua perlakuan Rama dengan baik. Memang ada perbedaan kepribadian antara Rama sebagai sahabat dengan Rama yang saat ini sebagai pacar. Yah, sebut saja pacar karena belum lamaran.


Rama sebagai sahabat, sikapnya terkesan lebih emosian dan suka nyablak tapi seru. Sedangkan Rama yang saat ini sudah resmi menjadi pacar Feza terkesan posesif, buktinya tangan Feza tak boleh lepas dari genggamannya dan juga sangat protektif.


"Za, kamu belum kasih tau aku. Papa mama kapan ada dirumah?"


Buset, beneran ngebet nikah nih orang.


"Mama papa ada kok dirumah, gak kemana-mana" kata Feza.


"Ya udah, nanti aku sekalian aja minta restu ke mereka. Terus kalo bisa nanti malam udah aku bawa orang tau aku buat ngelamar kamu"


"Ma, ini beneran mau secepat itu? Kita fitting baju sekarang aja belum tentu bisa selesai bulan depan. 4 hari lagi kan udah masuk bulan depan, ya ampun kasih nafas dulu dong Ma. Kasian mereka ngejahit buru-buru" ucap Feza yang mulai jengah dengan kemauan Rama untuk menikah terburu-buru.


"Kamu tenang aja, serahin semua sama aku. Aku bisa handle semuanya. Kamu lupa kalo aku udah jadi direktur?" tanyanya dengan sombong.


Huft begini ternyata sikapnya kalo udah jadi pacar.


Sesampainya di klinik Feza yang masih satu pagar dengan rumah pribadi orang tuanya, Rama pun turun dan meminta izin pada Feza untuk masuk kerumahnya bertemu kedua calon mertua. Feza mengizinkannya dengan mengangguk pasrah lalu berjalan masuk ke dalam kliniknya yang sudah ada dua pasien yang menunggunya.


...$...


...$...


...$...


Hai hai hai, ampun ya guys aku baru update sekarang. Harusnya kemaren, tapi karena ga punya kuota akhirnya baru hari ini kesampean updatenya hehe. Ngenes yaa, ya memang gitu nasib penulis minim pembaca😭

__ADS_1


Kasihani akulah guys, kasih vote kasih hadiah, demi menyambung hidup😭😭 Sekalian buat nambah-nambahin modal nikah babang Rama sama mbak Feza ya guys ya


__ADS_2