
Dinda dan Nanda kini tengah menikmati makam malam bersama. Mereka menyantap masakan Dinda yang ala kadarnya karena hanya ada tumisan dan telor dadar. Makanan simpel dan cepat saji.
Dinda yang lelah karena seharian melakukan pekerjaan rumah hanya mampu masak itu saja untuk malam ini. Dan beruntungnya Nanda tak banyak protes, dengan lahap ia menyantap makanan yang di masak oleh istrinya.
Selesai makan, keduanya pun ngobrol santai tanpa beranjak meninggalkan meja makan.
"Sayang, malam minggu nih. Kemana kita?" tanya Nanda.
"Ga usah kemana-mana deh Yank, aku cape banget hari ini. Pengen rebahan aja" ucap Dinda sambil merenggangkan otot-otot lehernya ke kiri dan kanan.
"Ini piringnya jangan di cuci, biar aku aja. Kamu ke kamar gih, istirahat" titah Nanda.
"Aku masih kekenyangan, nanti aja rebahannya"
Nanda hanya mengangguk, lalu ia berdiri mengambil alat makan yang sudah mereka pakai lalu membawanya ke tempat cuci piring.
"Yank gak usah, biar aku aja" Dinda memegang tangan Nanda agar tak melanjutkan niatnya mencuci piring.
"Seharian ini kamu terus yang kerja. Emangnya salah kalo aku yang cuci?" Nanda tak mampu di cegah, ia malah mambiarkan saja Dinda berdiri menatap dari sampingnya.
Celentang celenteng
"Yank, sana sana". Usir Dinda yang jadi pengen naik darah karena Nanda mencuci piring pakek otot.
"Kenapa? Dikit lagi nih" ucap Nanda.
"Kamu tuh cuci piring apa ngamuk sih? Baru kali ini aku denger orang cuci piring ribut banget" celoteh Dinda yang hanya di tanggapi senyum oleh Nanda.
"Yang penting kan bersih"
Selesai mencuci piring, Nanda langsung masuk ke kamar mandi yang berada di dekat dapur. Disana ia menyikat gigi. Hal ini merupakan salah satu kebiasaan Nanda yang baru Dinda ketahui setelah menjadi istri. Setiap habis makan yang berat-berat, Nanda akan selalu menyikat giginya. Pikir Dinda, inilah alasan mengapa nafas bangun tidur suaminya gak bau naga.
-
__ADS_1
Pukul 21.00, Nanda mendapatkan telepon dari rekan kerjanya. Setelah menerima panggilan tersebut, Nanda duduk dan membaca lembaran-lembaran kertas tebal di meja kerjanya yang berada di dalam kamar mereka. Sehingga Dinda yang kini tengah berbaring di tempat tidur sambil berselucur di dunia maya, tetap bisa memperhatikan kegiatan suaminya.
Beberapa kali Nanda mengerutkan kening dan memijit kepalanya. Hal itu pun di perhatikan oleh Dinda.
"Sayang"
"Sayang" Dinda memanggil Nanda beberapa kali. Namun panggilannya seperti tak di dengar oleh suaminya. Dinda pun menghentikan kegiatannya bermain ponsel lalu menghampiri suaminya.
"Sayang, kamu kenapa?" Dinda menyentuh lembut pundak suaminya. Nandapun terkejut karena ia lupa bahwa kini ia sudah memiliki istri. Dan tentu keresahannya ini juga pasti di ketahui istrinya.
"Aku gak papa sayang. Kamu istirahat aja, kan hari ini kamu udah beresin rumah. Kamu tidur aja duluan" Nanda menepuk pelan tangan Dinda yang masih melekat di pundaknya.
"Aku ga mungkin bisa tidur kalo lihat kamu kaya gini. Ada apa sih Yank?" Dinda masih berusaha membujuk suaminya agar bisa terbuka padanya.
"Beneran, aku gak papa. Kalo kamu terganggu sama aku, aku keluar aja ya. Kamu istirahat gih" Nanda masih enggan untuk bercerita.
Ia mendorong pelan pundak Dinda sampai ke kasur. Lalu ia pun menyelimuti Dinda, mencium hangat kening Dinda. Walau Dinda sendiri merasa tidak ada kehangatan dalam perlakuan suaminya itu. Ada apa ini? Kamu berubah.
Nanda pun keluar kamar membawa lembaran kertas yang ia baca tadi bersama kacamata baca miliknya. Nanda duduk di kursi teras depan rumahnya. Ia sangat kalut memikirkan permasalahan yang harus ia hadapi. Entahlah apa permasalahannya, yang jelas ia sendiri tak berniat untuk terbuka pada istrinya.
Tak mau berpikiran yang macam-macam, Dinda pun membuang selimutnya dengan sembarang. Lalu ia merapikan sedikit pakaian dan rambutnya. Ia menyusul keluar kamar lalu mencari dimana keberadaan suaminya. Dengan langkah yang perlahan tapi pasti dan dalam suasana yang remang-remang. Dinda berjalan menyusuri tiap bagian rumah. Akhirnya Dinda menemukan suaminya yang lagi-lagi tengah memijit keningnya. Dan, di jari tangan Nanda ada rokok yang menyala. Dinda kaget, selama mengenal Nanda tak pernah sekalipun ia melihat Nanda merokok. Benar-benar sesuatu yang mengejutkan Dinda.
Kamu seperti orang asing yang baru aku kenal.
Dinda tak berani menghampiri, ia hanya menatap dari arah pintu. Malam-malam begini, angin tentu terasa sangat dingin menerpa tubuh. Dinda tahu suaminya pasti kedinginan, namun rasa dingin itu tak ia hiraukan.
Lama memandang, tentu Dinda jengah juga. Ia pun memberanikan dirinya mendekati suaminya.
"Kamu kedalam aja, disini dingin. Bentar lagi juga mau hujan" hanya kata-kata itu yang mampu Dinda ucapkan.
"Tapi aku nyaman disini" Nanda menghisap rokoknya kembali.
"Kenapa kamu jadi gini. Aku jadi ngerasa belum kenal baik tentang kamu sama sekali" Dinda melihat ke arah rokok yang ada di tangan Nanda.
__ADS_1
"Aku memang bukan perokok, tapi kalo lagi kacau banget aku bisa tiba-tiba jadi perokok. Maaf kalo dalam beberapa hari jadi istri aku kamu udah aku buat terkejut" Nanda berkata tanpa melihat kearah Dinda. Tatapannya lurus pada kertas yang sedari tadi ia baca.
"Nih" Nanda dengan mudahnya menyerahkan kertas tebal itu pada Dinda. Padahal sejak dalam kamar tadi, ia seperti menyembunyikan sesuatu termasuk kertas itu.
"Astaghfirullahal'adzim" pekik Dinda dengan kesal setelah membaca yang tertulis dalam lembaran kertas tebal itu.
Dinda tak menyangka suaminya akan berbuat demikian padanya. Air matanya mengalir deras. Nanda yang kasihan pun mencampakkan batang rokoknya lalu memeluk Dinda.
"Selamat ulang tahun. Pasti kamu sendiri lupa 'kan?" tanya Nanda yang tangannya usil merem@s pantat Dinda.
"Huaaaaa" Dinda nangis makin kencang. Dengan terburu-buru Nanda mengajaknya masuk. Takut tetangga mereka terbangun karena mendengar suara tangis perempuan dari rumah pengantin baru itu.
"Hiks hiks" Dinda masih menangis. Beberapa kali ia mencoba menetralkan nafasnya agar tidak sesak namun sangking terharunya ia kembali menangis dengan kencang. Ia terharu dengan kejutan dari suaminya tapi suaminya tidak mengerti. Nanda terus-menerus memintanya berhenti menangis sedangkan Dinda kalau belum puas nangisnya susah berhenti. Dan Dinda tidak bisa menangis dengan cara yang dewasa, maksudnya yang nangisnya anggun, santun, tidak merusak gendang telinga orang lain.
"Cup cup cup. Udah sayang ya jangan sedih lagi. Kamu nangisnya udahan dong" pinta Nanda dengan sangat hati-hati agar Dinda tak menangis sambil mengomeli dirinya.
"Kamu tuh. Aku huaaa.... (Tarik nafas, glek) Aku kan belum puas nangisnya (Tarik nafas, glek) tapi udah disuruh-suruh berhenti. Aku gak bisa huaaaa" Nanda memeluk Dinda. Saat ini ia tak mau berdebat dengan istrinya yang kini katanya tengah terharu, tapi nangisnya udah kaya orang disiksa.
Mereka pun berpelukan sampai tangis Dinda reda. Setelahnya, Nanda memberikan kecupan-kecupan singkat di kening, di kedua mata Dinda, hidungnya, dagunya, lalu bersemayam lama di b!birnya.
Dinda yang mendapat perlakuan tersebut tentu tersenyum senang dalam hatinya. Ia tak menyangka suaminya jago acting. Tapi sumpah, ia benar-benar tak mau kalau sampai Nanda berubah seperti karakternya yang tadi. Dingin, acuh, dan sangat misterius.
C!uman mereka pun terlepas, Nanda rasanya ingin tertawa ngakak mengingat kelakuan Dinda yang menangis kencang seperti bocah. Tapi tawa itu ia tahan, takut istrinya tersinggung apalagi moodnya saat menangis tadi selalu mengomeli Nanda.
"Aku bete sama kamu. Kamu di kasih ide sama siapa sih sampe ngerjain aku segitunya. Pakek acara ngerokok segala lagi" Tuh kan, bener, masih lanjut ngomel.
Jelas saja Dinda bete, suaminya itu menjadi pria yang sama tapi dengan karakter yang berbeda. Apalagi Dinda sempat takut dan tercengang dengan rokok yang Nanda hisap. Dinda bagai menikah dengan orang yang bukan Nanda.
Apalagi kertas tebal yang suaminya itu baca, isinya udah kayak dokumen penting yang berisikan mantra santet, sampai harus ia sembunyikan dari Dinda.
Yang ternyata kertas tebal itu isinya cuma tulisan "Happy Birthday, Dindaku".
●●●
__ADS_1
Jangan lupa kasih vote, like, dan komennya yah...
Terima kasih:)