
Pagi itu, Dinda hanya menyiapkan roti tawar beserta selainya. Dinda tak masak apapun karena sedari tadi pikirannya sudah kalut. Bahkan menghilangkan niatnya untuk membuat nasi goreng.
"Ayo sarapan, kok kamu malah diam aja" ajak Nanda yang lagi-lagi di buat heran dengan sikap aneh istrinya.
"Maaf ya, aku lagi gak enak badan. Pagi ini sarapannya cuma roti aja". Dinda pun mengoleskan selai pada roti yang akan ia berikan pada Nanda.
"Sikap kamu aneh dari semalam. Ada apa?" tanya Nanda yang akhirnya pengen tahu juga.
"Emmm, itu. Kamu udah buka whatsapp belom?" tanya Dinda.
"Belom, kenapa emang?" tanya Nanda lagi.
"Aku juga gak tahu. Mending kamu cek aja sendiri" jawab Dinda lugas. Dindapun menyantap sarapannya dengan santai tanpa melihat Nanda. Sedangkan di depannya Nanda sedang membuka ponsel mengikuti arahan istrinya yang tiba-tiba bahas whatsapp.
Kening Nanda berkerut. Dinda pun hanya menatap tajam sekilas. Kini keduanya sarapan sambil saling diam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Aku gak ken-..."
"Gak kenal tapi pernah ketemu" Dinda memotong ucapan Nanda. Kali ini Nanda membuka kancing bajunya paling atas. Entah apa maksudnya, yang jelas ia bahkan sampai membetulkan posisi duduknya.
"Iya, pernah ketemu. Tapi itu dulu bahkan jauh sebelum kita kenal" Nanda berbicara sambil melihat jam. Lalu ia menaikkan lagi pandangannya menatap sang istri yang terlihat muak padanya.
"Berarti kenal dong" pungkas Dinda.
"Iya, tapi dulu"
"Kalo udah kenal tuh gak ada istilah gak kenal" Dinda mulai emosi karena penjelasan suaminya sangat tidak masuk dalam logikanya.
"Yank, kita sama-sama mau kerja. Kenapa malah ribut?" Nanda mencoba mencairkan emosi Dinda tapi nyatanya malah memancing keributan.
__ADS_1
"Ya udah sana, kerja aja. Sekalian mau ketemuan kan?" Dinda berdiri lalu masuk ke kamar untuk mengambil tas kerjanya lalu langsung keluar menuju garasi mobilnya.
"Yank, kenapa masalah kaya gini di besar-besarin. Yang penting aku sama dia gak ada hubungan apa-apa. Cuma kamu istri aku, gak akan ada yang kedua ketiga, dan seterusnya" Nanda mengejar Dinda karena istrinya akan pergi dalam keadaan marah seperti saat ini membuatnya khawatir.
"Omongan kamu tidak menjelaskan apa-apa tentang siapa perempuan itu".
Dinda melajukan mobilnya tanpa peduli tatapan dari suaminya. Pagi ini berbicara dengan Nanda menurutnya hanya bisa memancing emosinya saja. Lebih baik hindari dulu.
Setelah kepergian Dinda, kini Nanda pun mengunci pintu rumah karena ia akan menyusul Dinda yang sudah lebih dulu berangkat kerja. Biasanya, Dinda akan berangkat kerja setelah Nanda pergi. Karena Dinda nanti yang akan membawa kunci rumah. Hal itu karena Nanda pulangnya selalu tak tentu. Bisa cepat bisa lambat. Namun hari ini berbeda, karena pagi mereka yang tak seindah biasanya.
Nanda sampai di kantor. Ia menggebrak meja asistennya. Membuat beberapa orang yang sudah ada di sekitaran ruangan itu terkejut perihal sikap Nanda yang tak seperti biasanya.
"Beritahu saya, siapa yang sudah memberikan nomor handphone saya pada anak Pak Permana?" ucap Nanda kesal sambil menatap pada seluruh bawahannya yang sudah hadir di kantor pagi itu.
Sedikit info, Pak Permana adalah seorang Jenderal di kepolisian. Tentu Nanda adalah salah satu bawahannya. Dan hanya bisa tunduk pada atasan, termasuk pak Jenderal satu ini.
Pak Permana orang yang baik pada semua anggota kepolisian. Namun, walau begitu Nanda sama sekali tak pernah ada urusan yang terlibat langsung dengan Pak Permana sehingga menurut Nanda ia secara pribadi tidak memiliki urusan ataupun hutang budi pada Pak Permana.
Menurut penilaian Nanda saat itu, Gadis yang masih berstatus mahasiswi kedokteran itu adalah perempuan yang mandiri, ramah, ceria, dan cantik, pastinya. Namun karena Feza adalah anak dari atasannya, Jenderal pula, tentu saja Nanda tak berani mendekatinya apalagi sampai macam-macam dengannya.
Namun, ternyata di pertemuan pertama bagi Nanda itu adalah pertemuan kedua menurut Feza. Karena sebelumnya mereka sempat berada di acara yang sama tapi Nanda tak melihat Feza. Melainkan saat itu hanya Feza yang melihatnya. Dan sejak saat itu, Feza mulai mencari tahu perihal -Siapa Nanda, Apa nama sosial medianya, Apa hobinya, dan Siapa kekasihnya- Hingga akhirnya Feza tahu bahwa Nanda belum memiliki kekasih, oleh karena itu ia mulai rajin ikut bersama kedua orangtuanya ke acara kepolisian termasuk acara kondangan.
Hingga akhirnya bertemulah mereka, Feza yang ramah itu lebih dulu menghampiri Nanda. Karena melihat pakaian Feza yang senada dengan istri pak Jenderal Permana, Nanda pun tentu harus lebih ramah lagi pada Feza. Nanda yang semula heran kenapa anak jenderal itu bisa mengetahui namanya. Namun ia enggan bertanya, melainkan merespon saja apapun yang Feza tanyakan.
Kalau saja Feza adalah orang biasa, ada kemungkinan Nanda akan mendekatinya. Karena Feza memiliki ciri-ciri perempuan yang mudah untuk di cintai namun sulit digapai. Sehingga Nanda mengubur dalam-dalam harapan itu.
Kini, setelah 4 tahun berlalu. Tiba-tiba saja Feza kembali hadir dalam kehidupannya. Ia sampai cekcok dengan istrinya perihal pesan Feza semalam.
"Jawab! Jangan diam saja" Nanda membentak karyawannya yang hanya diam terpaku menunduk tak berani melihat kemarahan di wajah Nanda. Hingga tak berapa lama, satu di antara mereka maju selangkah dan mengakui perbuatannya.
__ADS_1
"Sa... saya pak" ucapnya sambil tetap menunduk.
Ternyata dia adalah bawahan Nanda namun dengan usia yang lebih tua dari Nanda. Karena Nanda tak enak hati memarahi orang tua, ia pun menurunkan nada bicaranya.
"Maaf sebelumnya karena saya sudah membentak kalian" ucap Nanda pada semua orang yang ada di sana termasuk tukang bersih-bersih.
"Pak, mari masuk keruangan saya" ajak Nanda pada polisi yang bernama Pak Ilham itu.
Sampailah mereka di ruang kerja Nanda. Nanda mempersilahkan Pak Ilham untuk duduk.
"Langsung ke intinya saja ya pak, kenapa bapak memberikan nomor handphone saya ke pada Mbak Feza?" tanya Nanda tanpa menekan Pak Ilham.
"Kemaren Mbak Feza sempat datang waktu bapak lagi keluar makan siang. Terus saya samperin, dia bilang ada yang mau diomongin sama bapak. Karena saya bilang bapak lagi gak ada jadi dia minta nomor pribadi bapak. Ya sudah, tanpa curiga saya kasih pak nomornya" ucap Pak Ilham dengan nada tak enak.
"Bapak tahu, Feza menghubungi saya larut malam. Sampai istri saya curiga kalau saya main gila di belakangnya" Nanda keceplosan curhat dengan lawan bicaranya itu.
Astaga, bikin malu diri sendiri kan jadinya.
"A-..."
"Ya sudah, Bapak boleh keluar sekarang" usir Nanda dengan halus. Ia berusaha tetap terlihat tegas di hadapan Pak Ilham.
Pak Ilham yang masih membuka mulutnya yang sempat terpotong saat mau bicara tadi akhirnya hanya mengangguk patuh lalu keluar dari ruangan.
Nanda pun kembali membuka pesan Feza, ia membaca pesan balasan yang di ketik istrinya. Nanda memijit keningnya seraya memejamkan mata. Ia berpikir apakah Feza beneran akan nongol lagi ke kantornya hari ini?
●●●
Lanjut 2 hari lagi yaa, yang sabar nunggunya...
__ADS_1
Bagi votenya dooong, like, dan komen juga. Sampe ngemis nih Othor.
Terimakasih:)