
Di hari senin, Dinda terbangun pagi hari sekali. Bahkan sebelum adzan Subuh ia sudah bangun. Dinda yang bingung mau ngapain akhirnya ia memutuskan untuk memandangi foto profil Whatsapp Nanda yang tersenyum sambil menggenggam tangan Dinda.
Setelah beberapa saat, Dinda pun menyalakan lampu utama di kamarnya saat ia mulai bosan hanya rebahan saja. Ia pun beranjak dari tempat tidurnya dengan tetap memegang ponsel dan berjalan menuju balkon kamarnya.
Langit masih gelap, lampu yang menyala di tiap-tiap teras rumah menjadi keindahan tersendiri buat Dinda. Udara yang sejuk membuatnya makin betah untuk berdiam diri menatap langit dan pemandangan di sekitarnya.
Hingga pada akhirnya, sorot mata Dinda tertuju ke arah rumah Ariel. Sosok yang namanya tak pernah lagi Dinda sebut. Sosok yang kini hanya menjadi sepenggal kisah yang sudah terkubur dalam-dalam.
Dulu, aku bisa masuk ke rumah itu kapanpun aku mau. Dulu, penghuni rumah itu selalu jadi alasan aku tersenyum. Dan dia juga yang aku harapkan untuk menjadi pendamping hidupku. Tapi, entah apa yang sudah terlewat di depan mataku yang tak aku sadari. Kini harapan itu sirna, semua sudah usai. Aku kini bersama Nanda, kamu bersama Diana. Mungkin saja kalau waktu itu kamu tidak memutuskan untuk pergi dari hidup aku, mungkin saja kita akan terus saling menyakiti. Kamu yang tersiksa karena aku suka marah-marah dan curiga. Aku juga tersiksa karena kamu yang tidak setia. Happy wedding mantan terindahku! Jadi laki-laki yang baik yaa, semoga kalian selalu bahagia dan langgeng terus, bisik Dinda dalam hatinya.
Dinda mengusap air mata di pipinya.
"Ariel, pengen peluk. Gue kangen lo. Bukan sebagai pacar, tapi teman. Gue juga pengen bilang kalo gue sekarang udah hebat. Gue udah move on, Riel. Gue punya pacar lagi sekarang, namanya Nanda. Gue sayaaaang banget sama dia. Semoga dia ga kayak elo ya, Riel"
Allahu Akbar...
Allahu Akbar...
Adzan berkumandang, Dinda pun menyadari kalau ia sudah cukup lama berdiri di sana, harusnya kini ia sudah selesai mandi. Akhirnya ia pun segera kembali ke dalam kamarnya untuk mandi dan sholat Subuh.
Selesai menjalankan sholat, Dinda beraktifitas seperti biasanya. Berdandan, lalu turun ikut membantu Bi Hanum menyiapkan sarapan. Lalu sarapan bersama kedua orangtuanya kemudian berangkat kerja di jemput oleh Nanda dan kebetulan Nanda hari ini cuti sampai besok.
"Selamat pagi, sayang" sapa Nanda yang baru saja sampai saat Dinda sudah duduk menunggunya di teras.
"Pagi juga, sayang. Kita langsung aja ya, soalnya aku buru-buru nih" ujar Dinda yang langsung masuk ke dalam mobil Nanda.
__ADS_1
Nanda pun langsung melajukan mobilnya menuju kantor Dinda. Sepanjang perjalanan, Dinda terus menatap Nanda dengan raut bahagia. Ia begitu bersyukur bahwa ternyata ada lagi sosok laki-laki yang bisa membuatnya kembali merasa istimewa.
"Kamu kenapa? Aku lihat senyum terus dari tadi" tanya Nanda datar.
"Aku bahagia banget bisa jadi pacar kamu. Tapi kayanya kamu engga" jawab Dinda dengan raut sedihnya.
"Aku bahagia sayang. Tapi kan memang aku ga ekspresif kaya kamu. Yang kalo ada apa-apa kamu gampang banget protesnya" ujar Nanda sambil merapikan rambut Dinda sekilas.
"Oh gitu. Sayang, emmm... Sherly tahu kalo kita udah jadian?" tanya Dinda yang memang sejak malam minggu kemaren ia belum sempat menanyakan hal itu.
"Aku emang belom kasih tahu dia. Tapi kayanya dia tahu. Soalnya aku ga pernah siap-siapnya lama tiap mau jemput kamu, tapi tadi aku nanya dia sampe beberapa kali, jadi dia kayanya udah curiga kalo aku sekarang punya pacar" tutur Nanda dengan geli saat mengingat kejadian sebelum ia jemput Dinda.
"Emang kamu nanya apa sama Sherly?". Raut penasaran tampak jelas di wajah Dinda.
"Hahaha, serius kamu nanya gitu? Waaah, langka banget siiiih" kata Dinda gemas dengan tingkah laku Nanda yang aneh bin ajaib itu. "Seorang Nanda, polisi ganteng yang ternyata kepercayaan dirinya tidak setinggi badannya, hahaha" ledek Dinda yang mulai berani mengolok-olok Nanda.
"Mulai berani ya ngetawain aku, awas kamu" ancam Nanda sambil memperlihatkan otot kekarnya.
"Huuuu, atut" ledek Dinda lagi. Semakin Nanda meladeni ucapannya makin bahagia hati Dinda. Karena respon Nanda sangat lucu menurutnya.
Tak lama, mobil yang membawa mereka telah sampai di depan kantor Dinda. Sebelum turun, Dinda berpamitan dan tak lupa Dinda mencium tangan Nanda. Mungkin hal ini membuat Nanda kaget, tapi menurut Dinda ini adalah salah satu kebiasaan yang dulu sering ia lakukan terhadap Ariel yang perlu untuk ia turunkan pada Nanda. Karena itu adalah kebiasaan yang baik. Tidak ada salahnya bukan?
Nanda yang tadinya tampak gugup saat Dinda mencium tangannya, kini sudah terlihat lebih santai. Itu terlihat dari pancaran senyumnya saat melepas kepergian Dinda yang sudah berjalan masuk ke kantornya.
"Udah berasa jadi kepala keluarga nih aku" ucap Nanda berbicara sendiri.
__ADS_1
Setelah mengantarkan Dinda, Nanda kembali ke rumahnya, karena ngapain ke kantor sedangkan ia sendiri lagi cuti.
Sore harinya
Seperti biasa, Dinda sepulang kerja selalu di jemput oleh Nanda, sang pujaan hatinya yang baru.
Tak butuh waktu lama mobil Nanda masuk ke dalam pelataran kantornya, Dinda pun segera bangkit dari tempat dimana ia menunggu Nanda tadi. Saat mobil sudah berhenti di hadapannya, Dinda segera masuk ke dalam mobil itu dan menyapa sang pengemudinya.
"Buat apa aku cuti ya kalo kita ga ngapa-ngapain. Padahal niat aku kita kemana gitu, berdua aja" ucap Nanda yang merasa cutinya sia-sia.
"Kamu sih, harusnya kan di hari libur biar kita bisa jalan-jalan kemana kek" protes Dinda sambil mengikat rambutnya karena ia merasa gerah dengan kondisi rambutnya yang terurai.
"Atau kita jalan bentar yuk, sholat maghrib di jalan aja. Aku telpon oom deh buat minta izin" cecar Nanda yang sangat menggebu-gebu ingin sekali jalan dengan pacarnya seperti pasangan pada umumnya. Karena mereka memang belum pernah jalan berdua selama mereka resmi menjadi pasangan kekasih.
"Sayang, bukan aku ga mau. Tapi aku gerah banget pengen mandi. Nih aku juga udah bau asem" tolak Dinda dengan berbagai alasan yang memang seperti itulah nyatanya.
"Ya udah deh" timpal Nanda yang tak mau memaksa Dinda untuk pergi bersamanya.
Karena keinginan Nanda yang tak terpenuhi saat ini, bukan berarti Nanda akan ngambek dan mendiamkan Dinda. Justru Nanda tetap bersikap seperti biasanya. Banyak omong dan banyak tanya terhadap kegiatan yang Dinda lalui sepanjang hari ini.
Dinda pun tak segan-segan menceritakan semuanya dari saat baru sampai kantor, sampai mau pulang kantor. Nanda saat bersemangat mendengarkan semua penuturan Dinda terkait pekerjaan dan tingkah laku teman-temannya itu.
Hal ini membuat Dinda jadi merasa bersalah, karena Nanda begitu baik, tak banyak menuntut, dan selalu mengalah.
Akankah Dinda berubah pikiran dan mau jalan bareng Nanda malam ini?
__ADS_1