(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Gugur Bunga


__ADS_3

Sesuai janji Rama tadi subuh, ia akan membawa Dinda keluar dari apartemen Feza pagi ini juga. Selagi Feza belum menampakkan diri ke apartemen ini, Rama akan membawa Dinda ke apartemennya untuk di periksa lebih dulu terkait kondisi Dinda dan janin yang ia kandung, lalu setelah itu barulah ia akan mengantarkan Dinda pada pelukan suaminya.


-


Di apartemen Rama alat pemeriksaan kesehatan jauh lebih lengkap. Hanya saja tidak ada alat untuk melihat keadaan bayi di dalam perutnya. Namun, Dinda masih yakin bahwa bayinya baik-baik saja. Karena ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa jarum suntik semalam memuncratkan semua cairan obat penggugur itu ke kasur.


"Gue janji akan antar lo ke suami lo. Tapi, kondisi kesehatan lo gak memungkinkan untuk berkendara lebih dari 1 jam. Goncangan di mobil bisa membuat lo keguguran. Dan lo harus istirahat total" ucap Rama yang membuat Dinda pasrah karena memang kenyataan bahwa dirinya sedang tidak sehat.


"Tekanan darah lo rendah, detak jantung lo juga gak stabil. Lebih baik lo istirahat dulu. Kalo keadaan lo sudah membaik, baru kita bisa pergi. Lo tenang aja, selama disini kita gak akan berdua aja. Karena gue sejujurnya juga canggung kalo cuma berdua doang, dan gue gak mau khilaf sama bini orang. Jadi, nanti gue bakal minta pacar gue kesini biar kalo lo butuh apa-apa bisa minta tolong dia" ucap Rama memberi diagnosa layaknya dokter di rumah sakit namun dengan embel-embel kejujuran tentang perasaannya yang sama canggungnya dengan Dinda.


"Put, eh Ma, makasih ya... Tapi gue mau tahu, kira-kira gue bisa pulih kalo sudah istirahat berapa lama?" tanya Dinda yang sejujurnya juga mengkhawatirkan kondisi suaminya.


"3 hari, mungkin..." jawab Rama dengan rasa tidak enak.


"Yah Ma, gue kangen suami gue. Gimana kalo lo telpon dia aja minta dia kesini. Gak bisa pulang gak pp, yang penting ketemunya" rengek Dinda yang membuat Rama jadi menyadari watak Dinda yang sebenarnya.


"Ya udah, berapa nomor Hp suami lo" Rama berdiri sambil tangannya telah siap menekan rentetan angka yang akan Dinda diktekan padanya.


"0811...4747... aduh..." Dinda tiba-tiba meringis kesakitan. Ia memegang perutnya yang terasa kram seperti nyeri datang bulan. Rama pun ikut panik dan kembali mengantongi ponselnya, tidak jadi menghubungi Nanda.

__ADS_1


"Tarik nafas, buang. Tarik nafas, buang. Setiap kali nyeri, badan lo putar ke kiri. Kalo nyerinya ilang, kembali terlentang ya" ucap Rama memberi instruksi.


Rama adalah seorang dokter spesialis kandungan. Tentu saja ia tahu apa yang di alami Dinda saat ini. Hanya saja ia tak ingin memberi tahu Dinda bahwa sebenarnya saat ini sakit yang Dinda rasakan adalah efek obat penggugur kandungan yang sedang bereaksi. Dinda mengalami keguguran, hanya saja pendarahan itu belum keluar sehingga Dinda masih tidak mengetahui keadaan kandungannya.


Dinda dengan patuh mengikuti setiap instruksi yang di perintahkan oleh Rama. Namun 30 menit berlalu, nyeri itu tak kunjung pergi justru makin terasa sakit.


"Rama, lo beneran ngasih instruksinya? Kok makin sakit ya?" tanya Dinda dengan mencengkram seprei tempat tidurnya.


"Lo jangan sedih ya, yang namanya kehidupan memang selalu berputar. Sedih tawa sedih tawa, gitu aja terus" ucap Rama masih merasa takut untuk menyampaikan yang sebenarnya. Terlebih lagi Dinda termasuk dalam daftar pasien istimewanya. Kenapa istimewa? Karena belum pernah sekalipun Rama berbicara panjang dengan pasien-pasiennya sebelum ini. Dan baru Dinda saja pasiennya yang baru ketemu saja sudah sangat cerewet, merepotkan, dan sudah terbuka tentang banyak hal.


"Arah omongan lo tuh kemana? Gue gak ngerti. Jangan suruh gue mikir, perut gue udah sakit malah lo ajak muter-muter" gerutu Dinda sambil sesekali meringis.


Dinda menangis tanpa isakan. Air mata itu tanpa izin meluncur ke arah telinganya. Gugur sudah janin yang baru beberapa hari ini ia sadari kehadirannya. Yang hadirnya tanpa sempat diketahui sang ayah, kini malah pergi tanpa aba-aba.


Dinda mengusap perutnya yang masih tertutupi oleh dress rumahan yang ia pakai. Jemarinya menggenggam kuat lapisan kain itu.


"Jangan pergi, jangan tinggalin Bunda. Bunda sayang kamu, Nak" Dinda berteriak sampai terduduk. Bibirnya pucat namun wajahnya merah. Rama berusaha menenangkannya. Ia memeluk Dinda layaknya seorang teman yang membutuhkan sandaran.


"Jangan bersedih terlalu dalam, nanti pasti akan ada gantinya, Din" bujuk Rama agar Dinda tidak berlarut-larut dalam tangisnya. Karena kondisi fisiknya pun saat ini sangat memprihatinkan.

__ADS_1


"Da...rah" Dinda merasakan basah di kasurnya. Setelah ia sentuh, Dinda melihat jarinya merah penuh darah. Dinda pun langsung pingsan seketika.


Rama buru-buru menelpon kekasihnya yang merupakan seorang perawat dirumah sakit yang sama ditempat ia bekerja. Rama meminta kekasihnya yang bernama Maudy itu untuk membersihkan bekas keguguran Dinda.


Rama memang sudah terbiasa melihat organ kewanit@an pasiennya. Namun untuk yang satu ini ia merasa sedikit berbahaya, takut nyaman dan terbawa perasaan. Padahal dirinya termasuk dokter yang sangat menjunjung tinggi sumpah profesinya, apakah karena dirinya dan Dinda sempat skin-to-skin makanya jadi goyah begini?


Maudy datang, namun ia hanya bisa datang sebentar. Setelah membersihkan tubuh dan memasangkan pakaian ganti yang sudah ia bawa untuk Dinda, ia pun pamit ke rumah sakit karena pembagian kerjanya di mulai siang ini.


"Jaga mata jaga hati ya, aku tahu kamu setia tapi entah kenapa perasaan aku agak gak enak setelah kamu hubungin tadi" ucap Maudy yang sebenarnya pengin tetap disana di banding ke rumah sakit.


"Iya sayang, kamu tenang aja. Aku bukan perebut istri orang" Rama mengecup singkat bib!r Maudy. Ia tidak ingin kekasihnya itu berpikiran yang tidak-tidak tentangnya. Apalagi hubungan yang mereka jalani sudah hampir 1 dekade. Bukan perkara mudah untuk mencari pengganti Maudy yang selalu ada untuknya.


Selama Dinda masih istirahat, Rama membuatkannya bubur untuk makan siang Dinda nanti. Dan lagi-lagi Rama tersadar mengapa Dinda menjadi satu-satunya pasien istimewanya, karena satupun dari pasiennya selama ini tidak ada yang pernah ia masakkan bubur, bahkan Maudy juga tidak pernah. "Bener 'kan apa kata gue. Baru kenal aja udah ngerepotin. Untung aja gue baik, gak gue kasih racun" ujarnya sambil mengaduk-aduk bubur yang sedang ia masak.


-


Di media, berita tentang hilangnya Dinda sudah menyebar kemana-mana. Namun satu pun kabar masih tidak Nanda dan keluarganya dapatkan. Entah kabar baik ataupun kabar buruk. Bahkan Nanda dengan gamblang mencantumkan nomor pribadinya untuk dapat segera dihubungi jikalau ada yang menemukan Dinda. Dan juga telah disiapkan sejumlah uang sebagai ucapan terima kasih untuk siapapun orang yang menemukan Dinda.


Hanya saja, Rama sampai detik ini masih asik terjun ke dalam buku-buku kesehatan yang memang selalu ia baca di waktu luangnya, hingga ia tak tahu jika di televisi dan media sosial memberitakan tentang wanita yang saat ini terlelap di kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2