
Dinda menonton tv di kamarnya sembari menunggu sang suami sampai ke apartemen Rama. Sedangkan Rama lagi-lagi kembali keruang kerjanya untuk membaca buku.
Sekitar hampir jam 3 sore, pintu apartemen ada yang mengetuk. Dinda pun bergegas ingin segera membukakan pintu. Ternyata benar, Nanda datang menjemputnya bersama Jovan dan Sherly.
Nanda pun langsung memeluk Dinda yang tampak lebih kurus dari sebelumnya. Ia juga menciumi puncak kepala Dinda beberapa kali karena betul-betul sangat merindukan istrinya.
"Ehm, mari masuk dulu" Rama tersenyum ramah sembari menawari tamunya untuk masuk karena Dinda lebih mementingkan berpelukan dengan suaminya dibanding menawarinya masuk.
Melihat Rama, Nanda langsung melepaskan pelukannya pada Dinda dan mengepalkan tangan hendak ingin memberi pelajaran pada Rama karena telah menculik Dinda. Namun, Dinda buru-buru menurunkan tangan Nanda yang terkepal kuat.
"Sayang, dia baik. Yang culik aku bukan dia. Justru dia yang udah nolongin aku" bela Dinda untuk menyelamatkan nasib Rama.
"Dia tamu yang pernah gue ceritain di masjid itu bang" sahut Jovan dari belakang Nanda.
"Jadi lo siapa?" tanya Nanda. "Bertamu kerumah gue buat apa?" sambungnya.
"Nanti gue ceritain. Kalian duduk dulu yah" Rama dengan tenang mempersilahkan para tamunya untuk duduk. Ia menjamu para tamunya dengan sebaik mungkin.
"Jadi, gue sebenarnya adalah sahabat Feza. Dan Feza yang sudah menghasut gue untuk menculik Dinda dengan alasan ingin menyelamatkan Dinda dari suaminya yang kejam. Tapi lama-kelamaan gue jadi tahu sendiri kalo ternyata kenyataannya tidak seperti yang dia bilang. Makanya gue selamatin Dinda ke apartemen gue. Dan tolong kalian jangan benci sama Feza, gue tahu dia salah dan sudah berbuat jahat sama Dinda tapi gue mohon tolong maafin dia. Dia ngelakuin itu karena dia dendam sama kalian yang membuat dia di buang ke pelosok sama bokapnya" ujar Rama dengan melempar tatapan pada Dinda dan Nanda.
"Feza? Berani-beraninya dia berbuat kaya gini sama kamu?" Nanda semakin marah pada Feza saat tahu dirinyalah yang sudah menjadi dalang penculikan Dinda.
"Yank, udah-udah. Aku mau kita maafin aja dia, jangan lagi diperpanjang urusannya. Karena aku benar-benar gak mau berurusan lagi sama dia" ucap Dinda membujuk Nanda yang sejujurnya ia juga kasihan dengan apa yang sudah dialami Feza. Dan juga, ia takut jika permasalahan ini di perpanjang, bisa saja suatu saat Dinda hamil lagi dan Feza lagi-lagi berbuat nekat padanya.
"Kamu tuh punya hati yang terbuat dari apa sih? Dia udah jahatin kamu, Yank. Aku gak bisa maafin dia gitu aja" tolak Nanda untuk memaafkan Feza begitu saja.
__ADS_1
"Yank, gak akan ada ujungnya kalo sama-sama dendam. Aku gak mau kita kena masalah terus-menerus. Kamu ngerti 'kan maksud aku?" Dinda terus membujuk Nanda.
"Ya udah. Tapi lo juga tolong sadarin sahabat lo itu buat jangan lagi mengganggu rumah tangga ataupun keluarga gue" gertak Nanda pada Rama.
"Lo tenang aja. Gue bisa jamin hal itu" jawab Rama dengan bijaknya.
Sherly yang duduk tepat di samping Jovan terus-menerus menatap Rama. Ia terpesona sejak tadi Rama mengampiri mereka dan menawarkan mereka untuk masuk.
Jovan yang menyadari tatapan Sherly ke arah Rama pun menjadi panas. Ia buru-buru meminta untuk segera pulang.
"Bang, udahlah. Ayo kita pulang" ajaknya berbicara pada Nanda.
Nanda pun menyetujuinya. "Ya udah kita pulang dulu ya. Maaf juga kalo tadi gue sempat salah paham sama lo" Nanda pun meminum minuman yang sudah Rama sediakan. Karena Nanda merasa tidak enak kalau sudah di jamu sebaik mungkin tapi malah tak disentuh.
"Ma, makasih ya udah nolongin gue. Maaf juga kalo udah ngerepotin lo dan pacar lo" ucap Dinda memotong ucapan Rama. Sejak tadi saat menunggu kedatangan Nanda untuk menjemputnya, ia sudah memikirkan matang-matang untuk menutupi kegugurannya. Anggap saja selama ini ia sama sekali belum pernah hamil.
"Iya Din, santai aja. Do'ain gue langgeng terus" ucap Rama sambil ikut berdiri bersama para tamunya yang hendak pulang.
"Yah, udah punya pacar" gumam Sherly yang terdengar sangat kecewa karena mengetahui Rama sudah punya pacar. Dan gumamannya di dengar oleh semua orang termasuk juga Rama.
Rama pun tersenyum pada Sherly karena dimatanya gadis itu sangat lucu. Melihat senyuman Rama tertuju padanya membuat Sherly jadi salah tingkah.
"Cape deh kalo cabe-cabean lagi jatuh cinta" tegur Jovan sembari mendorong bahu Sherly agar segera keluar dari apartemen Rama.
-
__ADS_1
Setelah sampai dirumah orang tuanya, Dinda pun segera memeluk erat sang mama dan papanya karena sudah membuat orang tuanya khawatir. Ia juga menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, kecuali tentang kegugurannya. Setelah usai melepas rindu dengan kedua orang tuanya, Dinda dan Nanda pun masuk ke kamar mereka.
Malam harinya, Nanda sangat-sangat memanjakan Dinda. Ia bahkan tidak mengizinkan Dinda untuk keluar kamar. Ia membawakan makan malam Dinda dan dirinya ke kamar. Melihat Dinda yang kurusan tentu saja Nanda menjadi sedih, apalagi di lengan istrinya terdapat luka yang masih tertutup perban, jalas membuat Nanda jadi over-protective.
Nanda menyuapkan istrinya makan, sambil ia bercerita bagaimana hari-harinya tanpa Dinda.
"Kamu tahu gak, waktu kamu hilang itu aku pikir kamu lagi sembunyi di rumah kita. Terus aku cari-cari gak ketemu, akhirnya aku sengaja gak cari kamu biar kamunya capek sendiri karena gak di cariin. Sampe pas aku mau sholat maghrib, aku beneran cemas karena kamu gak nongol-nongol. Akhirnya aku kerumah Jovan nanyain kamu. Tapi kamunya gak ada juga. Malam itu aku keliling yank, dimanapun harus ketemu. Tapi papa minta aku segera pulang, padahal aku maunya tetap cari kamu" ungkap Nanda perihal kejadian saat baru menyadari malam itu bahwa Dinda menghilang.
"Maaf ya udah buat kamu cemas" ucap Dinda merasa bersalah terlebih ia memendam sendiri kenyataan bahwa anak mereka tak bisa Dinda jaga.
"Jangan pergi lagi ya. Kamu tahu, kalo setiap malam aku gak bisa tidur karena mikirin kamu. Bahkan aku gak sempat makan kalo belum di paksa mama. Benar-benar gak selera makan yank. Aku juga gak masuk kerja karena selalu cari kamu. Dan kamu tahu? Aku setiap malam lewat di dekat apartemennya Rama, andai saja aku tahu kalo kamu disitu. Pasti udah aku jemput" ungkap Nanda lagi.
"Tapi yank, aku berada di apartemen Rama baru tadi pagi. Sebelum-sebelumnya aku di apartemen Feza" ungkap Dinda.
"Apartemen Feza? Aku juga lewat situ Yank tiap malam. Pantesan aja, waktu aku cari kamu dan berhenti di situ, aku punya firasat kalo kamu ada di sekitar situ. Tapi aku pikir itu cuma halusinasi aku aja karena udah kelelahan"
"Udah ya Yank, jangan di ungkit lagi. Aku gak mau mengingat kejadian itu lagi. Terpisah dari kamu buat aku sedih" Dinda memeluk Nanda. Apalagi kalau kamu sampe tahu bahwa anak kita udah gak ada di perut aku. Aku yakin kamu bakal menyalahkan diri kamu juga. Biarlah aku pendam sendiri ya Yank, semoga setelah ini aku hamil lagi , ucap Dinda dalam hatinya.
●●●●
Jangan lupa bagi-bagi vote dan hadiahnya ya guis...
Kasih juga dong komen dan likenya biar makin semangat nih buat update terus.
Kalian jaga kesehatan ya, lagi musim demam nih!
__ADS_1