(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
74. Malam Minggu Malam Kelabu


__ADS_3

Dinda, Nanda, Lita, Sherly dan 6 orang temannya berkumpul duduk lesehan di atas sebuah tikar yang yang sudah di sediakan. Mereka makan dengan nikmat ayam dan jagung bakar yang masih panas. Di situlah letak kelezatannya, makan rame-rame dan masih panas-panas.


Nanda duduk di tengah-tengah Dinda dan Lita, ia tak menyadari kalau posisi duduknya ini akan memancing perang dingin jadi panas. Ia sadar kalau posisinya di tengah-tengah setelah mendapat pelototan tajam dari Jovan dan Anton. Setelah itu barulah Nanda berpindah duduk di tengah-tengah Anton dan Jovan.


Mereka menyantap ayam dan jagung bakar bersama kelapa muda, karena Anton adalah anak seorang juragan kelapa, dan pastinya memiliki perkebunan kelapa yang luas.


Suasana makin seru karena malam kian larut di tambah bulan purnama yang menyinari mereka secara langsung. Untung saja malam ini tidak hujan, karena pasti mereka akan kerepotan untuk merapikan semua dan berpindah lagi ke teras.


Nanda menawarkan kesemua orang yang ada disana, bagi yang ingin makan ayam bakarnya pakek nasi silahkan ambil sendiri di dalam rumahnya, dan ternyata membuat Anton, Jovan dan Rendy buru-buru bangkit dan mengambil nasi ke dalam rumah.


"Kelaparan banget mereka" celetuk Dinda dan di sambut tawa oleh Sherly dan teman-temannya.


"Kamu mau nasi juga, Din? Biar aku ambilin" tawar Nanda yang ternyata memang mau ngambil nasi kedalam buat di makan rame-rame.


"Ngga, Nan. Ini aja udah kenyang" tolak Dinda dengan halus. Karena ia tak mau makin subur karena makan malam, di tambah lagi saingannya yang berada tepat di hadapannya ini memiliki tubuh yang bagus seperti impian semua wanita.


Nanda pun berlalu mengikuti jejak Anton dan yang lain. Beberapa lama, mereka berempat sudah kembali lagi ke tengah perkumpulan di bawah sinar rembulan. Jovan yang baru datang itu malah duduk di samping Dinda. Ia sengaja melakukan hal itu karena ingin menguji Nanda saja. Kira-kira apakah Nanda akan cemburu atau malah sebaliknya.


"Kamu ngapain duduk disini? Bukannya tadi di sana?" tunjuk Dinda tepat di posisi Jovan semula sebelum mengambil nasi ke dalam rumah.


"Kalo aku duduk disini ada yang marah gak kak?" tanya Jovan dengan mengerlingkan matanya pada Dinda.

__ADS_1


"Ga ada" jawab Dinda singkat karena kerlingan mata Jovan membuat Dinda geli sendiri.


Dinda dan Jovan malah makan sepiring berdua karena Dinda tak kuasa melihat Jovan makan dengan lahap dan sangat terlihat nikmat cara makannya karena makan langsung pakek tangan. Hal itu membuat Dinda ikut mencomot nasi sedikit demi sedikit lama-lama ikut menguasai piring milik Jovan.


Kelakuan Jovan dan Dinda membuat yang lain memperhatikan mereka. Karena mereka terlihat seperti sangat akur dan begitu asiknya makan sepiring berdua tanpa peduli dengan tatapan yang lain terhadap mereka.


Dinda sadar kok bahwa ia sedang di perhatikan, tapi menurutnya tindakan ini bisa sedikit mengurangi kekesalannya terhadap Lita dan Nanda. Makan, makan, dan makan. Membuatnya tak lagi menghiraukan Nanda dan Lita yang berada tak jauh dari sisinya.


Jovan pun serasa memiliki teman gila bareng, karena Dinda bisa menyaingi nafsu makannya yang sangat gila itu. Hingga mereka berdua kekenyangan dan saling tatap lalu tertawa ngakak.


Nanda menghampiri Dinda dan memberikannya tisu karena di pipi Dinda ada bekas bumbu ayam bakar. Dinda pikir Nanda akan membersihkan pipinya, ternyata Nanda malah menyodorkan tisu itu depan mukanya.


Dinda pun akhirnya membersihkan sendiri sisa-sisa makanan di pipinya.


Setelah acara makan-makannya selesai. Tanpa di komando, semua bergerak membersihkan yang sudah mereka pakai. Dinda mengumpulkan piring-piring kotor. Lita dan cewek-cewek yang lain mengumpulkan gelas, sampah-sampah dan menggulung tikar.


Para cowok juga kebagian tugas, ada yang membersihkan alat panggang. Ada yang membuang sisa kayu bakar dan kulit kelapa muda jauh ke tempat sampah di belakang rumah untuk di bakar besok pagi.


Dengan bergotong-royong, semua jadi rapi kembali secepat kilat. Jovan, Anton, Rendy, dan 3 teman Sherly yang lain pamit undur diri dari rumah Nanda. Mereka pulang dengan berjalan kaki bareng-bareng karena rumah mereka masih bertetanggaan dengan rumah Nanda.


Yang tersisa hanya Dinda, Lita, dan tuan rumah. Karena suasana sudah kembali sepi dan Dinda pun ikut pamit undur diri. Awalnya ia menolak untuk di antar Nanda tapi Nanda bersikukuh untuk mengantarkannya pulang. Karena apa kata orang tua Dinda nanti kalau anaknya di jemput Nanda tapi di kembalikan tanpa Nanda.

__ADS_1


Akhirnya Dinda pun menyetujui tawaran Nanda. Mereka berdua pamit kepada Lita dan Sherly. Sedangkan Lita entah mau sampai kapan berada di rumah Nanda. Bodo amat.


Di perjalanan Dinda hanya diam menatap ke luar jendela. Ia tak menyukai sikap plin-plan Nanda yang tak mengambil keputusan sampai sekarang. Namun tak kunjung mengatur jarak aman buat Dinda.


Kalau memang hanya ingin berteman biasa, tak perlulah segitunya antar jemput Dinda kerja. Kan Dinda jadi berharap kalau Nanda memperlakukannya seperti seorang gebetan.


Lama-kelamaan pasti Dinda akan menuntut kejelasan meski sampai detik ini Dinda masih sabar mengikuti kemana arah pertemanan yang Nanda ciptakan di antara mereka.


Ditambah lagi ada Lita, pasti makin sulit jalan Dinda untuk bersatu dengan Nanda karena perempuan itu sangat tak mau jauh-jauh dari Nanda. Dan Lita juga selalu ada di tiap kesempatan.


Di tengah keheningan itu, Nanda memecahkan semua pikiran yang menggerogoti perasaan Dinda.


"Kamu kenapa diem?" tanya Nanda perhatian.


"Gapapa" jawab Dinda singkat.


"Biasanya kalo perempuan bilang gapapa artinya malah kenapa-napa" ujar Nanda memaksa Dinda untuk terbuka padanya.


"Udahlah, aku kan cuma diem buat menenangkan pikiran aku. Beneran aku gapapa" kata Dinda dengan menunjukkan huruf V menggunakan kedua jarinya namun tatapannya masih tertuju ke luar jendela. Sama sekali tidak melirik ke arah lawan bicaranya.


"Kamu kesal ya sama aku?" tanya Nanda yang semakin membuat Dinda pengen menanyakan kejelasan hubungan mereka.

__ADS_1


"Iya. Aku kesal dengan sikap kamu yang plin-plan. Aku yakin kalo kamu mungkin nyaman-nyaman aja dengan pertemanan kita ini. Tapi aku ngga! Aku lelah di hadapkan dengan sikap manis kamu tapi ga ada status. Mau buka hati sama orang lain aku ga berani, takut malah aku yang nyakitin hati kamu. Dan kamunya pun ga ada kasih jarak aman buat aku kalo memang kita cuma teman biasa. Apa arti selama ini kamu antar jemput aku". Prang... Lepas sudah kendali Dinda yang selama ini ia tahan-tahan. Dan ia pun tak perlu lagi berpura-pura sabar terhadap Nanda, karena kesabarannya memang sudah habis.


"Baiklah kalau itu mau kamu..."


__ADS_2