(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Kebohongan Nanda


__ADS_3

"Kita mampir beli makanan dulu yaa, aku laper banget. Kamu ada yang perlu dibeli ga?" tanya Nanda saat mereka sedang di perjalanan.


"Kayanya ga ada" jawab Dinda sambil memperhatikan semua barang bawaannya.


"Kalo gitu, kamu lagi pengen makan apa?" tanya Nanda lagi. Ia berusaha mendapatkan lagi kenyamanan ketika ngobrol bersama Dinda.


"Aku udah makan" jawab Dinda datar.


"Tapi aku lagi kepengen makan makanan yang kamu pengen" kata Nanda sambil menampilkan senyum yang jarang ia perlihatkan pada orang lain.


"Ya udah, jantung kodok kalo gitu" ucap Dinda dengan datar dan membuang muka kearah luar jendela karena ia sedang menahan tawa.


"Kamu ketawa kan? Rese' banget sih jadi orang. Udah jantung aku kamu buat deg-degan sekarang malah asik ketawain aku" gerutu Nanda sambil pukul-pukul setir seolah-olah ia sedang kesal menjadi korban kejahilan Dinda.


"Heh, kamu sendiri yang jadi biang kerok. Kamu yang ngundang masalah, terus ga tanggung jawab banget lagi" omel Dinda karena Nanda suka menghilang saat ada masalah.


"Eitss, saya bawa anda karena mau baikan. Bukan mau adu jotos. Tolong anda jangan abaikan usaha saya yang ingin kita berbaikan" ucap Nanda dengan sok formal.


"Saya juga ga ngajakin situ adu jotos. Saya cuma heran, kenapa pacar saya suka ngilang kalo lagi ada masalah. Contoh, semalem kemana? Hubungin aku, ngga? Tuh kan, memang situ biang masalah" balas Dinda ikut-ikutan logat Nanda.


"Nanti saya jawab. Tapi ada yang lebih penting. Sebelum kita sampai rumah sakit, alangkah baiknya kita beli makan dulu, tapi enaknya makan apa ya?" ujar Nanda menanyakan hal lain.


"Udahlah, nasi padang aja. Atau sate deh sate" ujar Dinda memberi 2 pilihan.


"Boleh juga tuh, beli sate. Tapi kambing apa ayam?" tanya Nanda lagi.


"Ini yang mau makan aku atau kamu sih? Nanya mulu" gerutu Dinda dengan tingkah Nanda yang ada-ada saja.


"Kan minta rekomendasi boleh dong? Ga dosa kan?" tanya Nanda dengan santai.


"Ya ngga dosa memang. Huft... sate ayam aja" pungkas Dinda akhirnya.

__ADS_1


"Oke" jawab Nanda sambil menampilkan 3 jari ke arah Dinda.


Mereka pun berkeliling mencari tukang sate. Akhirnya setelah 15 menit mencari, mereka pun menemukan penjual sate keliling yang sedang mendorong gerobak di pinggir jalan.


Setelah memesan 20 tusuk, Nanda dan Dinda pun duduk dengan nyaman di kursi plastik yang memang disediakan Mamangnya untuk pembeli.


"Kok bego banget sih hahaha" Dinda ngakak karena dari tadi otak mereka tuh di pake buat apa. Udah jelas-jelas beli sate, yang namanya sate pasti di bakar. Dan mereka dengan antengnya duduk persis di depan tempat pembakarannya. Ya pasti jadi sasaran asap dong.


"Saya baru aja mau bilang Neng, eh udah keburu sadar" kata si Mamang sambil nyengir.


"Aku ngikutin kamu, kamu duduk dimana juga aku nempel aja" ucap Nanda sambil ngangkatin kursinya ke samping Dinda yang kini sudah berpindah tempat ke belakang si Mamang.


"Ini nyetopin saya di jalan, emang nengnya lagi ngidam ya mas?" tanya Mamang sambil tetap dengan kegiatan kipas mengipasnya.


"Iya Mang, doain aja ya semoga lancar sampe lahiran" kata Nanda dengan lugasnya ia berbohong. Dinda pun refleks menampar bahunya karena tak menyangka Nanda akan berucap demikian.


"Amiin, udah berapa bulan?" tanyanya lagi.


"Ooh, masih kecil banget itu. Udah lama nikahnya?". Niat hati Nanda bohong sekali bakal selesai, eh ternyata pertanyaan mamang ini membuatnya bohong berkali-kali.


"5 bulananlah Mang" ujar Nanda mulai singkat. Ia takut Mamang ini bertanya terus-menerus.


"Wah bagus itu, 3 bulan jadi. Saya dulu nikah 5 tahun baru di kasih" kata Mamang membuat Nanda jadi ga enak sudah membohonginya.


"Jadi anak udah berapa sekarang Mang?" tanya Nanda berusaha peduli dengan percakapan mereka.


"Udah 2, tapi sekarang istri hamil lagi. Ini Mas" Mamang memberikan 1 bungkus sate yang sudah di pesan Nanda. Dalam hati Nanda merasa lega, tak perlu berbincang lebih lama lagi dengan si Mamang.


"Berapa mang?" tanya Nanda sambil mengeluarkan dompetnya.


"45 aja Mas" jawabnya lalu menerima uang yang Nanda berikan.

__ADS_1


"Makasih ya Mang". Kali ini Dinda yang berbicara, sekaligus sebagai ucapan pamitnya pada Mamang yang ramah itu. Sedangkan Nanda sudah duluan masuk mobil.


"Iya Mbak, semoga sehat sampe lahiran" jawab Mamang membuat Dinda tersenyum kaku karena ucapan Mamang itu terdengar sangat tulus padahal kenyataannya tidak seperti yang mamang itu kira.


Dinda masuk kemobil sambil menahan tawa. Karena ulah Nanda ia di sangka ibu hamil.


"Kamu tuh bohong gak kira-kira" geram Dinda karena Nanda bisa-bisanya berbicara seperti tadi.


"Lah, emang bohong yang kira-kira tuh kaya gimana?" tanyanya dengan polos.


"Kamu tuh tega banget ya, mamang tuh orang tua. Malah kamu bohong-bohongin. Mana baik banget lagi, aku jadi merasa bersalah lho" ujar Dinda dengan sendu.


"Besok-besok kita beli lagi aja sate mamang itu, beli banyak. Kalo bisa borong. Itung-itung buat nebus dosa kita, uangnya pasti buat istrinya lahiran" kata Nanda yang mengerti perasaan Dinda.


"Emang kamu tahu tempat mamang itu jualan?" tanya Dinda sambil menggigit bibirnya.


"Jam berapa sekarang? 19:30. Malam besok kita lewat sini lagi aja, pasti ketemu kok" ujar Nanda yang nanya sendiri jawab sendiri.


Tak lama mereka pun sampai ke parkiran rumah sakit. Dinda menenteng sate yang tadi mereka beli. Sedangkan Nanda membawa barang bawaan Dinda. Mereka berjalan bersisian. Sesekali Nanda menyenggol tangan Dinda dengan tas pakaian Dinda yang ia bawa. Dinda tahu ini salah satu cara Nanda untuk meminta maaf padanya. Seperti anak kecil yang tidak tahu cara meminta maaf, alhasil melakukan sesuatu yang sekiranya bisa membuat hati temannya menjadi luluh.


Mereka pun sampai di ruang rawat Lita. Terlihat Lita sedang terlelap karena efek obat yang di minumnya. Nanda dan Dinda pun akhirnya berbicara dengan bisik-bisik karena tak mau mengganggu waktu istirahat Lita.


Nanda meletakkan tas pakaian Dinda di sebuah nakas kecil yang tersedia di ruangan itu. Dinda duduk di sofa sambil merenggangkan otot-ototnya karena lelah seharian bekerja. Nanda pun ikut menyusul duduk di samping Dinda lalu meletakkan kepala Dinda di bahunya.


"Kamu ga langsung makan? Tadi katanya laper" ucap Dinda dengan bisik-bisik yang jelas terdengar di telinga Nanda.


"Iya, 5 menit lagi. Aku masih menikmati posisi kita" ucap Nanda dengan bisik-bisik. Mereka berdua seperti sedang melakukan percakapan ASMR seperti di yutub-yutub.


Benar saja, 5 menit setelah itu Nanda mulai memakan sate yang sempat mereka beli. Sesekali ia menilai rasa sate itu. Hal itu membuat Dinda jadi menelan ludah karena merasa lapar tiba-tiba.


Mereka berdua pun makan dengan lahap tanpa menghasilkan bunyi sedikitpun.

__ADS_1


__ADS_2