
Mereka saling terdiam saat ditinggal pergi oleh Pak Ratmo. Tak berselang lama, Feza dan Nanda tertawa ngakak sampai meneteskan air matanya. Teringat bagaimana kerasnya Nanda melarang Feza untuk mengobati Rama ke dukun bahkan sampai mengata-ngatai Feza musyrik.
"Lo tuh jangan gampang putus asa, kita pasti bisa cari jalan lain buat sembuhin Rama. Lo kalo mau percaya sama dukun-dukunan, silahkan. Jangan ajak-ajak gue sama Pak Prima. Gue bakal terus cegah lo biar gak musyrik" ucap Feza yang menggoda Nanda dengan kata-katanya waktu itu.
Nanda pun jadi malu sendiri. Ia mengingat-ingat kembali pada ucapan Mbak Dwi. Ternyata iya juga, Mbak Dwi hanya bilang bahwa Pak Ratmo ahli mengobati penyakit nonmedis. Tanpa menyebut Pak Ratmo seorang dukun. Huh, dasar Mbak Dwi. Kasih info kok setengah-setengah.
Sudah terlanjur malu, Nanda pun tak mampu menampik ledekan demi ledekan dari Feza dan Pak Prima. Sedangkan Rama kembali membaringkan tubuhnya karena ia masih tak menyangka akan mendapat pengalaman mistis dalam hidupnya.
Malam itu, mereka pun kembali ke rumah dinas. Dengan alasan Rama tidak mau tidur di ranjang puskesmas itu lagi karena dirasa tidak nyaman.
Semalaman itu mereka menceritakan kegiatan mereka pada Rama selama Rama ke-skip 2 hari. Sampailah pada cerita tentang Nanda yang sudah mengetahui laki-laki yang telah melecehkan Feza.
"Sesuai tanggal yang sudah gue sepakati sebelumnya sama pihak kepolisian di kecamatan ini, mereka bakal datang besok pagi. Gue juga sudah mengantongi info tentang alamat laki-laki itu dari pemuda yang pernah main futsal bareng kita" ujar Nanda sembari menatap Feza dan Rama bergantian.
"Gue gak mau ikut-ikutan. Rasanya dunia yang sudah gue bangun kembali jadi runtuh seketika saat gue lihat wajahnya. Raut wajahnya sama sekali gak menunjukkan rasa bersalah terhadap apa yang sudah di perbuat ke gue". Dengan bibir bergetar, Feza tak mampu menutupi kesedihannya. Walau beberapa hari ini hidupnya selalu dilingkupi kesedihan karena Rama, namun tetap saja pelecehan itu punya dampak yang jauh lebih besar di sudut terdalam sanubarinya.
"Iya, besok lo cukup berada dirumah aja. Biar gue sama Rama yang ikut lihat proses penangkapannya" ucap Nanda dengan penuh penekanan.
"Nan, apa semua ini masih tertutup rapat dari bokap gue? Lo beneran bisa jaga rahasia 'kan? Gue takut Nan, takut bikin dia kecewa lagi". Tangis Feza langsung pecah saat teringat akan kemarahan Papanya waktu itu. Dia anak satunya-satunya yang dirasa paling mengecewakan di dunia ini. Yang ia rasa tak mampu membuat kedua orang tuanya bangga akan perbuatannya.
"Za, lo jangan mencemaskan sesuatu yang sebenarnya gak perlu lo cemaskan. Jangan menyiksa diri lo sendiri. Gue jamin bokap nyokap lo gak tahu akan hal ini. Karena gue sama temen-temen kepolisian yang lain udah kongkalikong bikin bokap lo sibuk sana sini biar lupa sama anak gadisnya. Nyokap lo juga pergi-pergi terus dampingin kemana pun bokap lo pergi" Nanda berterus-terang pada Feza akan segala rencana yang sudah ia susun. Karena selama ini Feza hanya diminta untuk terima beres saja.
Setelah lelah berbincang diruang tengah, mereka pun akhirnya bubar masuk kedalam kamar masing-masing. Sedangkan Rama yang memang sudah tertidur selama 2 hari tentu dirinya tidak merasa ngantuk sama sekali walau tubuhnya terasa sangat lelah namun matanya urung terpejam.
Rama memeriksa ponselnya yang lama tak ia sentuh. Alangkah sedih saat mendapati Maudy tak mengirimkan satu chat pun kepadanya. Seolah wanita itu benar-benar telah siap meniti kehidupan tanpa Rama. Rama duduk kembali di ruang tengah sendirian. Ia diam mematung, bergelut dengan pikirannya sendiri.
__ADS_1
Tak berapa lama, Feza keluar untuk mengambil segelas air. Ia tersentak kaget saat matanya menangkap sesosok pria duduk di ruang tengah dalam kondisi remang-remang karena hanya mengandalkan sorot lampu dapur. Yang ternyata adalah Rama.
"Rama" seru Feza.
Rama menegakkan kepalanya ke arah Feza. Ia tersenyum lalu menepuk sisi tempat disebelahnya. Feza tak jadi ke dapur, ia duduk di samping Rama.
"Rasanya gue gak mau balik ke Jakarta lagi. Gue pengen tetap disini aja sampe gue siap lahir batin buat ketemu Maudy di rumah sakit" ujar Rama tertunduk. Ternyata patah hati sangat menyakitkan. Pantas saja Feza sampai nekat menculik Dinda karena sakit hati pada Nanda, yang saat itu ia cintai.
"Lo sendiri aja deh. Gue justru pengen cepat-cepat pergi dari desa ini" ujar Feza.
"Jangan dong. Kan juru kunci tempat ini elo" ucap Rama mulai bercanda.
"Enak aja bilang gue juru kunci. Lo kira ini tempat apaan" sambut Feza menepuk lengan Rama.
"Plis yaa, kita tunda 3 hari aja kepulangan kita. Gue lebih nyaman disini ketimbang di Jakarta. Disana gue bisa ketemu Maudy, disana banyak tempat yang jadi kenang-kenangan gue sama Maudy. Gue takut papasan sama dia dirumah sakit. Gue belom sanggup kalo lihat dia yang udah punya pengganti gue. Lo gak ngerti sih rasanya jadi gue" ucap Rama melemah.
Mereka pun akhirnya membuka sesi curhat internal malam itu. Keduanya begadang tanpa peduli waktu sudah memasuki jam 2 dini hari. Dan Feza yang kini sudah mengerti betapa rapuhnya hati Rama akhirnya setuju untuk menunda kepulangan mereka. Lagipula kasihan juga, karena Rama hanya merasa baru satu hari disana sedangkan mereka sudah 3 hari. Rama juga menuntut Feza untuk mengajaknya pergi melihat sungai yang dulu pernah Feza ceritakan. Kata Feza tempatnya indah dan sejuk.
Feza terbangun saat matahari sudah tak lagi malu-malu menampakkan sinarnya. Ia terbangun dengan cepat karena baru menyadari bahwa sudah melalaikan sholat subuhnya. Niat hati ingin memarahi Rama yang tak membangunkannya namun ternyata Rama bahkan lebih parah darinya. Rama belum bangun meski hari sudah hampir siang.
__ADS_1
Sedangkan Nanda dan Pak Prima sudah pergi menuju rumah BK (inisal pelaku) untuk di bawa paksa ke kantor polisi buat dimintai keterangan. Feza pun dengan di bantu Dinda, sudah otomatis memiliki kuasa hukum, yakni Mas Sigit. Teman kantor Dinda dulu. Sehingga nanti Feza cukup diwakilkan melalui pengacaranya saja tanpa perlu mengikuti serangkaian acara di kepolisian dan pengadilan.
~~~~~**Sekali lagi Aku ingatkan, jangan lupa like dan komen**~~~~
Sore harinya, Nanda dan Pak Prima baru pulang ke rumah dinas. Mereka pulang tanpa beban, karena tujuan awal kedatangan mereka ke desa ini sudah terlaksanakan.
Mereka juga sepakat tidak membicarakan bagaimana proses penangkapan tadi kepada Feza. Kecuali jika Feza sendiri yang menanyakannya.
"Siap-siap ya, 2 hari lagi Mas Rahmat jemput" ucap Nanda yang berdiri tegap di hadapan semuanya.
"No" tolak Feza.
"Undur kepulangan kita. Ada temen yang patah hati pengen piknik lebih lama disini katanya" ucap Feza dengan memajukan bibirnya menunjuk pada Rama.
__ADS_1
Akhirnya Pak Prima dan Nanda hanya mampu mendesah pelan. Sedangkan Rama tersenyum canggung. Berharap belas kasih dari 2 orang tersebut.