
Dinda sudah di tawari Ayu untuk mampir dulu ke dalam rumahnya. Namun, Dinda menolak karena sudah cukup lelah seharian ini dan ingin langsung pulang saja.
Kini Dinda sedang dalam perjalanan menuju ke rumahnya. Saat berhenti di lampu merah, Dinda melihat mobil di depannya yang sangat familiar.
Yakni mobil Ariel. Ia bisa melihat dengan samar-samar jika Ariel sedang sendirian.
Mungkin Ariel juga sedang dalam perjalanan mau pulang, pikirnya. Dinda dulu sering merasa sedih kalau kondisi hubungan mereka sedang tak baik-baik saja tapi justru tanpa sengaja bersua.
Tapi, kini justru Dinda merasa ia biasa-biasa saja. Toh dalam hatinya, ia masih yakin jika Ariel pun suatu hari kembali lagi padanya.
Karena mereka memang sering kali putus-nyambung putus-nyambung terus sampai Ayu dan teman-temannya yang lain sudah jengan dengan hubungan mereka yang sebentar-sebentar putus, sebentar-sebentar balikan. Walaupun begitu, banyak juga teman-teman Dinda maupun Ariel yang mengakui bahwa memang sepertinya sejauh apapun nantinya Ariel pergi, tetap kembalinya ke Dinda.
Lampu merah sudah berganti menjadi hijau, Ariel melaju lebih dulu kemudian di susul oleh Dinda dan Mobil lainnya. Mungkin Ariel di depan sana menyadari jika ada Dinda di belakang mobilnya.
Sehingga ia sengaja menggoda Dinda. Menghalangi jalan setiap Dinda mau mencoba menyalipnya.
Dinda yang kesal pun akhirnya memilih untuk mengalah saja. Toh, laki-laki di depannya ini memang tipe kekanak-kanakan.
Dinda mengendurkan kecepatan mobilnya, dan memilih untuk mengekori mobil Ariel saja. Setelah 10 menit berlalu, harusnya Dinda sudah sampai ke komplek perumahannya. Tapi, ...
"Ah, sial. Kenapa bisa sampe sini. Gue kan mau pulang" tukas Dinda saat menyadari ia betul-betul mengekori mobil Ariel sampai menjauh dari komplek rumahnya.
Dinda kemudian memastikan situasi jalanan sedang lengang, ia ingin putar balik. Namun, di saat yang bersamaan, tiba-tiba Ariel menepi tepat di depan mobilnya.
"Sh*it, untung aja ga ketabrak" omel Dinda sambil ngerem mendadak.
Tapi kalo ketabrak juga ga papa, sakitnya ga seberapa di banding sakit hati yang dia sebabkan, bisik setan dalam otak Dinda.
__ADS_1
Mengetahui mobil Dinda sudah 100 persen berhenti di belakang mobilnya. Ariel segera menghampiri Dinda dengan mengetuk kaca mobilnya.
Tuk tuk tuk
"Bisa tolong singkirin mobilnya ga ? Aku mau pulang" tukas Dinda saat kaca mobilnya sudah terbuka lebar.
"Yakin, Mau pulang ? Bukan mau ikutin aku ?" ucap Ariel santai dengan senyum menawannya. Tapi senyum itu tak lagi berarti apa-apa lagi bagi Dinda sebab senyum itu pasti telah di obral ke semua wanita.
"Kamu jangan geer, buat apa aku ngikutin kamu. Ga ada kerjaan banget" ketus Dinda yang entah kenapa tiba-tiba saja ia merasa sangat marah kepada Ariel.
"Ya udah, kalo gitu jangan marah-marah dong. Aku cuma mau tahu, kamu dari mana ?" tanya Ariel dengan tatapan khawatir yang mendominasi.
"Bukan urusan kamu. Sekarang aku mau pulang, bye" Dinda menutup kaca mobilnya lalu melihat ke belakang, ada kesempatan untuk mobilnya mundur ke belakang lalu meninggalkan tempat dimana Ariel masih berdiri mematung dengan senyum yang tadinya mengembang namun tiba-tiba senyum itu memudar saat Dinda tak bisa ia ajak bicara dari hati ke hati.
Karena memang niatnya yang tanpa sengaja bertemu Dinda di jalan saat itu, ingin mengungkapkan perasaan serta rasa bersalahnya yang kian membuat kerjaannya di kantor tidak fokus dan ia pun makin sering keluyuran karena tidak sanggup menutupi ke galauannya kecuali dengan menyibukkan diri di luar bersama teman-temannya.
Yang Ariel sendiri tidak tahu harus bertindak bagaimana agar ia bisa mengajak Dinda berbicara baik-baik dan mau memaafkannya. Syukur-syukur bisa balikan lagi dengannya.
Ariel ikut memutari jalan dan segera pulang. Kini giliran ia lagi yang mengekori Dinda.
Ada sepasang mata yang tersenyum melihat 2 mobil berwarna sama itu maju beriringan. Seperti orang yang sedang menonton adegan romantis, dimana sang pria akan selalu melindungi wanitanya dan berjalan di belakang wanitanya agar terkesan begitu gentle.
Mama Dinda yang tak tahu perihal kandasnya hubungan Ariel dan Dinda jadi makin kesemsem dengan cara Ariel yang menggiring mobil Dinda sampai rumah. Mama Dinda yang seringkali bercanda dengan Ariel pun sudah punya niat macam-macam untuk godain pasangan itu.
Dinda melajukan mobilnya melewati sang Mama yang sedang berdiri depan pagar yang entah apa alasannya lalu kemudian segera keluar dari mobil dan berjalan menuju ke arah mamanya.
Dan di saat yang bersamaan, Ariel yang berhenti tepat di depan pagar rumahnya, segera berjalan menuju Mama Dinda untuk sekedar menyapa karena memang sudah 2 mingguan tak berjumpa.
__ADS_1
Dinda sampai menuju mamanya, Ariel pun sampai menuju mama Dinda. (Duh, canggung banget ga tuh).
"Siang tante" sapa Ariel yang kemudian menyalami dan mencium tangan mama Dinda.
"Siang juga, kalian dari mana ? Kompak bener" tanya mama Dinda.
Ariel diam dan sengaja membiarkan Dinda saja yang menjawab pertanyaan mamanya.
"Aku tadi habis makan siang sama Ayu ma" jawab Dinda sambil menatap ke arah mamanya kemudian beralih ke sembarang arah demi menghindari tatapan Ariel.
"Riel, jam segini bukannya kamu masih di kantor ?" tanya mama Dinda lagi.
"Harusnya gitu Tan, tapi karena seminggu ini lagi perang dingin sama anak tante jadi aku ga bisa konsentrasi dan milih pulang cepet aja" jawab Ariel lugas dan langsung mendapat pelototan tajam dari Dinda.
Bisa-bisanya dia santai banget ngadu gitu sama mama gue, dasar bocah. Maki Dinda dalam hatinya.
"Ya udah tante masuk aja kalo gitu. Dinda, Ariel tolong selesaikan urusan kalian ya, jangan saling diam kalo lagi ada masalah" ucap mama Dinda yang kali ini gagal godain pasangan itu karena ternyata sedang ada perang dingin di antara mereka.
Dan sebagai mama yang baik, ia harus bisa membimbing sepasang sejoli itu untuk bersikap dewasa dan menyelesaikan masalah dengan bijak. Karena masalah sekecil apapun jika di diamkan dan tidak di selesaikan, suatu saat bisa menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja.
"Jalan yuk" ucap Ariel yang kemudian seperti menyesali kata-kata bodoh yang keluar barusan. Tepat saat mama Dinda sudah sampai depan pintu utama.
"Kamu ga sadar apa sama kesalahan yang kamu ulang-ulangin terus ? Ga malu apa ?" ketus Dinda yang mendadak emosi seperti menggebu-gebu ingin me-roasting orang yang saat ini berdiri tepat di depannya dengan wajah tanpa dosa.
"Malu aku udah hilang, aku udah ga punya harga diri lagi kalo depan kamu. Aku juga ga sadar kenapa tiba-tiba itu yang kesebut". Seketika wajah Ariel berubah merah dan mendadak meneteskan air mata di hadapan Dinda.
Kalo udah kaya gini, kesannya gue yang jahat, ucap Dinda dalam hati.
__ADS_1