
Terimakasih sudah membaca sampai sejauh ini. Semoga penulisan dan jalan ceritanya selalu menarik dan tidak membosankan yaa...
***
Kulihat Rizal masih betah nongkrong di kafe, akupun hendak pulang dan berjalan dekat mejanya. Lalu ia memanggilku.
"Kak!" panggilnya.
"Kenapa Zal?" sahutku.
"Bapak kemana kak? Gak masuk hari ini?" tanyanya.
"Lagi ada tugas ke Desa M****u Zal. Memangnya kamu gak tahu?" jawabku dan balik bertanya.
"Gak tahu kak. Tugas apa emangnya?" jawab Rizal benar-benar tak tahu.
Hm? Kok Rizal yang sekantor sama Nanda gak tahu. Pasti ada sesuatu nih.
"Kakak juga gak ngerti Zal" jawabku apa adanya.
"Ya udah ya Zal, kakak pulang dulu udah engap nih" aku pun langsung cabut dari sana menuju rumah.
Sesampainya dirumah mobilku langsung berpapasan dengan taksi yang baru saja mengantarkan bapak dan ibu Yono. Mereka memang baru saja pulang menjenguk Yono ditempat penahanan.
Kami masuk bersama-sama kedalam rumah lalu berpisah untuk istirahat dikamar masing-masing. Aku yang tiba-tiba merasa butuh penjelasan lebih dari Nanda segera mengaktifkan kartu perdana yang tadi sempat ia berikan.
Dan setelah aktif, aku langsung menghubungi Nanda. Panggilan tersambung namun agak lama barulah akhirnya di angkat.
"Halo, siapa nih?" sambut Nanda dari seberang telepon.
"Yank kok Rizal gak tahu sama keberangkatan kamu ada apa nih jangan bohong-bohong kamu sama aku nanti kualat kamu" cecarku lancar tanpa hambatan. Jujur, aku memang tidak suka di kibulin. Apalagi oleh orang yang sangat aku percayai. Mungkin ini imbas dari perbuatan Ariel dulu, jadi aku sangat mudah terpengaruh dan curiga pada suamiku. Maaf ya sayang.
"Astaga, kamu kesambet apa sih Yank. Kalo ngomong tuh bisa gak pakek titik koma jangan main nyerocos aja" sahut Nanda.
"Oke titik. Kok Rizal gak tahu sama keberangkatan kamu tanda tanya. Kamu bohongin aku ya tanda tanya. Pasti ada sesuatu 'kan tanda tanya" Nanda hanya diam mendengar celotehku.
"Yank, jawab. Aku males banget diboong-boongin. Nanti aku boongin balik gak terima" ancamku.
"Iya-iya. Aku emang kesini diem-diem sayang. Kan aku udah bilang"
__ADS_1
"Gak ada, kamu gak ada bilang" ujarku.
"Tuh kan, kamu dikit-dikit lupa. Coba deh inget-inget lagi. Semalam udah aku bilang" ujarnya.
"Hmmm gitu ya? Tapi aku ngerasa kamu gak ada bilang" ucapku melemah karena tak enak sudah menuduh yang tidak-tidak pada suamiku sendiri.
"Udah, kamu percaya aja sama aku. Ini sekarang aku lagi nyetir, nanti aja telpon lagi ya pas aku udah sampe" kata Nanda.
"Oh udah dijalan ya Yank? Ya udah, kamu hati-hati dijalan. Love you"
"Love you too" Panggilan pun berakhir.
Aku merasa lega setelah mendengar suara suamiku. Perihal masih ada sesuatu yang ia tutupi atau tidak, aku tidak lagi memperdulikan. Aku tahu suamiku tidak akan berbuat buruk, sekalipun jika memang ada yang ia tutupi dariku mungkin memang itulah yang terbaik menurutnya. Sebagai istri, aku cukup mendoakan dan mempercayakannya pada Tuhan. Kuminta padaNya, jika suamiku salah langkah segera sadarkan dia.
Hari sudah sore, aku dan ibu berbincang di halaman belakang rumah. Sedangkan bapak sedang mengurus usahanya di kampung melalui panggilan telepon dengan orang kepercayaannya.
Tak berapa lama, Feza datang dari arah depan. Ia disambut oleh bapak karena suara mobil Feza tidak kedengaran olehku. Dan akupun memperkenalkan Feza kepada bapak dan ibu. Lalu aku juga mengantarkan Feza menuju kamarku untuk meletakkan kopernya.
"Gilaaaa, akhirnya bisa bernafas lega. Gak nyangka gue bakal nginap disini. Kalo Rama sama Nanda gak pergi, nginap disini pasti mustahil sih" ucap Feza lalu melepas outernya dan berjalan santai mengitari kamar.
"Iya juga sih. Tapi tetep aja ditinggal suami tuh gak enak" ujarku.
"Memang iya, tapi kondisinya gue lagi hamil besar begini gak enak banget ditinggal-tinggal"
"Eh Din, gue pinjem toilet ya. Gerah ni mau mandi"
"Pakek aja" ujarku mengizinkan.
*
Malam harinya kami berempat duduk diruang TV setelah makan malam. Kehadiran Feza membuat aku dan yang lain jadi punya bahan perbincangan yang baru. Karena ibu dan bapak jadi nanya-nanya tentang Feza dan kehidupannya. Feza pun menceritakan hal yang layak untuk ia ceritakan. Termasuk hubungan pertemanan suami kami berdua.
Saat menjelang pukul 10 malam, ibu dan bapak pamit kembali ke kamar. Tinggallah aku dan Feza diruang TV. Karena bingung mau ngapain tapi mata belum mengantuk, akhirnya Feza berniat memvideo call Rama dengan ponselnya.
Baru saja tersambung panggilan video itu langsung dijawab. Terlihat wajah Rama yang baru selesai cuci muka. Basah dan cerah.
"Kenapa? Kangen? Kangen sama senyuman aku? Atau kangen sama ..." Rama menurunkan arah kamera menuju tempat bernaungnya si perkutut yang ia bangga-banggakan.
"Astaghfirullah" pekik Feza cepat untuk menghentikan perbuatan Rama. Karena disampingnya ada aku yang tengah tertawa renyah melihat kelakuan random Rama.
__ADS_1
"Kamu lagi dimana? Itu yang ketawa siapa?" tanya Rama yang baru saja sadar bahwa background ruangan tempat Feza berada tampak asing dimatanya.
"Aku dikamarnya Nanda, nginep sini diajak Dinda. Kamu tuh, makanya kelakuan jangan aneh-aneh" tegur Feza pada Rama.
"Aku kan gak tahu" kilahnya.
"Makanya Ma, tiati kalo mau bahas gituan. Pastiin dulu kondisinya aman gak?" timpalku. Meski wajahku tidak masuk ke kamera, tapi Rama tetap bisa mendengar suaraku.
"Gue sih santai kalo sama lo doang" sahut Rama.
"Kalo gitu, gue yang gak santai" balasku.
Akhirnya kami video call-an berempat. Karena suamiku ikut-ikutan nongol di kamera Rama. Aku pun juga akhirnya ikutan munculin muka ke kameranya Feza. Dan kami pun minta mereka menceritakan perjalanan dari sini hingga kesana. Lalu tinggal dimana dan bagaimana bentuk tempat tinggalnya.
"Kita disini tinggalnya agak jauh dari rumah dinas soalnya beda RT. Terus juga rumah yang ini lebih aman karena toiletnya didalem. Tapi tetep, kita cari makannya ke warung Bu Heni. Karena disitu yang paling lengkap pilihan lauknya" ujar Rama.
"Terus disana sampe kapan?" tanyaku.
"Gak tau sih" jawab Nanda dan Rama sama-sama tidak tahu jawaban pasti dari pertanyaanku.
"Kalo bisa, nanti aku lahiran kamu udah ada disini" ujarku.
"Pasti. Kamu kan lahiran masih 3 mingguan lagi, aku yakin bakal disini gak sampe selama itu. Kamu tenang aja" ucap Nanda menenangkanku.
"Kalo kamu kapan Za?" tanya Rama.
"Apasih Mas. Hamil aja belum gimana mau lahiran" cebik Feza kesal.
"Mas?" tanyaku bersamaan dengan Nanda.
"Kenapa? Gak terima kalo kami lebih romantis daripada pasangan senior?" kata Rama. Feza terkikik geli dengan ucapan Rama.
"Hueeeek" ledekku dan Nanda bersamaan.
Pov Dinda end
***
Mohon bantuan subsidi berupa like dan votenya ya guys... Jangan pelit-pelit sama aku, sama yang lain boleh.š
__ADS_1