(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Hilang


__ADS_3

Ditengah aktifitasnya memasak makanan spesial untuk menyambut suaminya pulang, Dinda yang lupa mengabari bahwa dirinya sudah pulang pun segera memberitahu suaminya untuk tak perlu kerumah mama karena Dinda sudah dirumah.


Baru saja pesan itu terkirim pada Nanda, tiba-tiba pintu depan ada yang mengetuk.


Dinda pun segera berjalan menuju pintu depan. Dengan ramah, Dinda menyapa tamu yang berkunjung kerumahnya.


"Maaf, siapa ya?" tanya Dinda saat pintu sudah terbuka lebar.


"Saya Putra, mau memberitahukan bahwa Pak Nanda suami ibu mengalami kecelakaan, sekarang kondisinya kritis. Saya datang untuk menjemput ibu" ucapnya dengan tatapan sendu.


Dinda tak mampu lagi menahan kesedihan hatinya, badannya langsung ambruk saat mendengar kabar buruk itu. Dan Putra dengan cekatan segera menangkap tubuh lemah Dinda agar tak menubruk lantai.


Dinda langsung dibawa masuk kedalam mobil Putra. Mobil itu di kendarai oleh seorang pria yang tak diketahui identitasnya. Dinda yang masih belum sadar itu terbaring di pangkuan Putra. Ia dibawa menuju sebuah apartemen yang berjarak 2 jam dari rumahnya.


Dinda pun tersadar dari pingsannya, ia melihat sekeliling tempat ia berada saat ini. Ruangan ini seperti kamar tidur, sangat tidak mungkin dirinya bisa berada ditempat ini. Karena seingatnya terakhir kali dirinya bertemu dengan seseorang yang bernama Putra dirumahnya sendiri.


Ceklek


"Ternyata kamu sudah bangun" ucap Putra sambil membawa nampan yang terdapat segelas air dan semangkuk bubur diatasnya.


"Putra, dimana Nanda?" tanya Dinda yang bingung kenapa dirinya bisa berada disini.


"Tenang, kamu jangan pikirkan suamimu dulu. Lebih baik kamu istirahat dan habiskan ini" ucap Putra sambil meletakkan nampan itu ke paha Dinda.


Jelas saja tangan kekar Putra dapat sekilas bersentuhan dengan paha Dinda. Walau terlapisi oleh dress rumahan yang sepanjang betis, namun Dinda tetap merasa tak nyaman dengan hal itu. Ia pun sedikit tersentak saat Putra meletakkan nampan ke pahanya.


"Maaf" kata Putra tak enak hati.


"Hm" balas Dinda singkat.


Saat Putra hendak keluar meninggalkannya sendirian dikamar itu, Dinda buru-buru menghentikan langkahnya.


"Putra, dimana Nanda? Aku tidak bisa tenang kalau belum melihat wajahnya. Aku ingin tahu keadaannya. Tolong Putra, bawa aku pada Nanda" Dinda memohon dengan sangat. Ia yakin bahwa Putra bukanlah orang jahat, oleh karena itu dirinya berani berbicara bahkan memohon pada Putra demi di pertemukan dengan suaminya.


"Dinda, sekali lagi aku minta maaf. Aku tidak bisa mengabulkan keinginanmu" Putra langsung meninggalkan Dinda setelah berkata demikian.


Dinda pun kembali menangis, namun ia tetap mengikuti perintah Putra untuk menghabiskan bubur di hadapannya. Dinda butuh asupan ekstra memang, karena ada satu nyawa dalam rahimnya yang harus ia perhatikan juga.

__ADS_1


Dinda yang sudah menghabisi makanannya pun berniat untuk keluar dari kamar itu. Ia ingin mengembalikan nampan serta semua alat bekas makannya ke dapur.


Namun saat dirinya memutar knop pintu, bertepatan juga dengan Putra yang mau masuk ke dalam kamar. "Mau kemana?" tanya Putra yang membuat Dinda seperti maling tertangkap basah.


"Aku mau antar ini ke dapur" jawab Dinda.


"Biar aku aja" Putra langsung mengambil nampan yang ada ditangan Dinda. Lagi-lagi Dinda tak suka kalau harus bersentuhan kulit dengan laki-laki asing seperti Putra.


Dinda sadar akan satu hal, sepertinya dirinya dilarang keluar dari kamar ini. Walau Putra tak memberitahukan itu, tapi ia bisa merasakan maksud dari tingkah Putra yang selalu mengeceknya di dalam kamar.


-


Ditempat Lain


Nanda baru saja sampai kerumahnya. Nanda parkir tepat di samping mobil istrinya. Ia melihat pintu rumah yang terbuka tanda istrinya itu pasti sedang ingin menyambut kepulangannya.


"Assalamu'alaikum sayang" salam Nanda saat masuk kedalam rumah.


Kosong. Disepanjang Nanda menyusuri ruang tamu sampai kamarnya ia tak mendapati keberadaan istrinya itu. Nanda pun sejenak melepas baju seragamnya dan hanya menyisakan kaos tipis dan celana panjang.


Nanda pun kembali mencari istrinya ke dapur. Disana, ia melihat beberapa batang lilin yang tersusun rapi di atas meja makan namun belum dinyalakan. Dan ia melihat di dekat kompor masih ada bahan masakan yang berserakan. Tanda bahwa Dinda sedang memasak saat ini. Tapi dimana Dinda?


Alhasil ia menemukan sendiri ponsel Dinda yang tergeletak di atas rak di dekat televisi. Nanda yang menduga-duga bahwa istrinya hanya sedang mengerjainya pun tak terlalu ambil pusing. Pasti nanti akan jengah sendiri karena sudah bersembunyi namun tak dicari.


Adzan maghrib pun berkumandang. Nanda yang sudah rapi dan siap untuk menunaikan sholat tiba-tiba kepikiran lagi dengan istrinya. Kenapa belum nongol juga, memangnya sembunyi dimana?


Seketika firasat Nanda menjadi tidak enak. Ia pun melaksanakan sholatnya dengan tergesa-gesa.


Sehabis sholat, ia berjalan menuju rumah Jovan.


"Van"


Tok...tok...tok...


"Van"


Tok...tok...tok...

__ADS_1


Nanda dengan tidak sabaran menggedor-gedor pintu rumah Jovan. Papa Jovan yang mendengar panggilan Nanda pun akhirnya membukakan pintu.


"Ada apa Nan?" tanya Om Heru, Papa Jovan.


"Jovannya ada Om?" tanya Nanda sambil melongok mencari keberadaan Jovan di belakang om Heru.


"Ada, sebentar ya". Om Heru pun memanggilkan Jovan yang sedang bermain ponsel di kamarnya untuk segera menemui Nanda di depan.


"Kenapa Bang?" tanya Jovan saat menghampiri Nanda.


"Kak Dinda disini?" tanya Nanda dengan cemas.


"Ya nggaklah. Kenapa emang?" tanya Jovan yang masih tidak tahu alasan Nanda begitu cemas.


"Van, kalo gitu lo bantu gue. Kita cari istri gue sekarang juga" ucap Nanda sambil menarik Jovan untuk ikut dengannya.


"Bang, jelasin bagus-bagus. Ini ada apa sih?" tanya Jovan geram.


Nanda pun menceritakan semua kejadian saat ia pulang kerumah sampai ia mulai menyadari bahwa telah terjadi sesuatu pada Dinda. Jovan yang mendengar hal itu tentu ikut panik.


Terlebih Nanda yang saat ini jelas sekali sedang mengkhawatirkan Dinda membuatnya ikut sedih. Nanda tak seperti yang biasa ia lihat.


"Lo udah telpon ke rumah mertua lo bang?" tanya Jovan.


"Belum" jawab Nanda lesu.


"Dasar bego, lo telpon dulu dong. Tanyain, mana tau kak Dinda disana" ujar Jovan yang seketika membuat Nanda seperti mendapatkan angin segar.


"Ah iya, kenapa gue gak kepikiran ya".


Dengan cepat ia merogoh ponselnya lalu menghubungi sang mertua, berharap perkataan Jovan memang benar.


Namun apa? Tak sesuai yang di harapkan. Malah kini kedua orang tua Dinda ikut panik setelah mengetahui bahwa Dinda menghilang.


Jovan pun jadi merasa bersalah. Karena kini justru Nanda makin mengkhawatirkan Dinda yang tak tahu dimana.


●●●

__ADS_1


Makasih ya buat kalian yang setia nungguin novel ini update🤗


Jangan lupa bagi vote, like, dan komennya yaa...


__ADS_2