(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Ajakan Nginap


__ADS_3

Keesokan harinya, Nanda pulang pagi-pagi kerumahnya untuk mengantarkan pakaian kotor serta mengambil pakaian ganti untuk di bawa ke rumah sakit. Ia sempat bertemu Sherly sebentar sebelum Sherly di jemput oleh tukang ojek yang memang sudah Nanda pekerjakan untuk antar jemput Sherly kalau Nanda sedang ada urusan.


Saat Nanda sedang memilih-milih pakaiannya, Bi Nurul menghampirinya dengan membawakan sarapan ke kamar Nanda.


"Makasih ya Bi"


"Sama-sama Den. Oh iya, kemaren Bibi lihat ada mobil parkir di depan tapi orangnya ga keluar sama sekali. Terus langsung pergi. Seingat Bibi, itu mobil pacarnya Aden" ungkap Bi Nurul yang merasa perlu untuk melaporkan hal apapun kepada majikannya itu. Karena majikannya adalah seorang polisi, dan yang di khawatirkan siapa tau Bi Nurul salah menduga karena bisa saja itu bukan mobil Dinda. Karena majikannya ini punya banyak musuh yang sering kali mengirimkan paket-paket tak jelas kerumah.


"Astaga" pekik Nanda. Ia meremas rambutnya lalu mengusap wajahnya kasar. Ia baru teringat akan Dinda yang sudah ia janjikan untuk ke rumah sakit bareng. Bahkan Dinda rela menemuinya kerumah yang ternyata Nanda tak ada dirumah.


"Bagaimana kalau Dinda nyusulin gue kerumah sakit terus liat gue nangisin Lita?" gumam Nanda yang semua gerak-geriknya itu masih diperhatikan oleh Bi Nurul.


"Den, ada masalah apa to? Cerita aja sama Bibi. Wong dari dulu juga Aden biasanya selalu cerita sama Bibi" ujar Bibi berusaha membantu mencarikan solusi atas masalah Nanda.


Nanda pun duduk di tepian tempat tidurnya sedangkan Bibi duduk di kursi kerjanya yang tak begitu jauh dari tempat tidur.


"Aku bingung Bi mau memulai darimana, yang jelas dalam 2 hari ini, aku udah kecewain Dinda 3 kali. Sebenarnya 4, karena yang satunya lagi Dinda ga tahu Bi. Aku udah minta maaf Bi, tapi habis minta maaf aku bikin kesalahan lagi. Aku harus gimana ya Bi, bahkan buat hubungin Dinda aja nggak karena aku takut kita berantem" beber Nanda yang tak tahu harus bercerita ke siapa. Untunglah ada sang Bibi yang memang selalu jadi tempat curhatnya dan Sherly tentang berbagai hal.


"Kalo Non Dinda marah, itu wajar Den. Namanya perempuan pasti kecewa kalo pacarnya bikin kesalahan sampe berturut-turut gitu. Tapi masalahnya ini marahnya kenapa?" tanya Bibi lebih lanjut.


"Cemburu sama Lita kayanya" ucap Nanda lesu. "Aku jaga lita di rumah sakit Bi, dan tiap Dinda ke rumah sakit selalu pas banget kejadiannya dengan aku yang lagi peluk Lita buat nguatin dia, atau aku yang lagi suapin Lita karena tangannya terkilir Bi" tutur Nanda yang ikut membayangkan bagaimana sakit hatinya Dinda kala melihatnya berdua-duaan bersama Lita.


"Wah, Bibi jadi gemes sama Aden. Aden udah kelewatan bener. Kalo Bibi jadi Non Dinda udah Bibi kasih racun suami Bibi" tutur Bi Nurul yang gemas dengan kelakuan Nanda yang tak bisa menjaga perasaan Dinda yang sudah begitu baik padanya. Dan rela datang pagi-pagi kerumahnya untuk buatin Nanda sarapan.


"Terus nasib aku gimana Bi? Maksudnya aku harus ngapain. Minta maaf pasti udah basi. Aku yakin Dinda ga mau maafin aku. Aku jahat banget Bi sama Dinda. Tapi kondisi Lita juga kasihan Bi" ucap Nanda berterus terang.


"Sudahlah Den, mungkin sekarang maaf Aden ga berarti apa-apa bagi Non Dinda. Tapi Bibi punya ide biar masalah Aden cepet selesai" kata Bibi dengan senyum mengembang.

__ADS_1


"Apa Bi? Kalo Bibi minta aku buat jangan jagain Lita lagi, aku ga bisa. Lita sahabat aku Bi. Kasihan dia, habis operasi juga" sangkal Nanda padahal belum mendengar ide yang Bi Nurul mau sebutkan.


"Nah, itu. Lebih baik, nanti Aden jemput Non Dinda ajak aja sekalian Non Dinda buat nginap di rumah sakit. Itung-itung buat Non Dinda percaya dulu kalo Aden betul-betul cuma jagain Non Lita. Urusan minta maaf nanti aja, bisa diomongin belakangan" ujar Bibi yang lupa dengan segala pekerjaannya hari ini. Fokusnya hari ini adalah jadi teman curhat majikannya.


"Alhamdulillah, oke deh Bi. Aku ikutin ide Bibi" ujar Nanda seperti mendapat angin segar, lega. Namun sesaat kemudian, wajahnya kembali murung.


"Tapi Bi, kalo Dindanya ga mau aku ajakin nginep di rumah sakit?"


"Itu artinya Non Dinda ga ngasih Aden kesempatan lagi" timpal Bibi dengan santai.


"Aduh, kok serem ya" ringis Nanda sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Den, semangat ya. Non Dinda pasti mau di ajak nginep di rumah sakit" ujar Bibi memberi semangat.


"Kalo gitu, Bibi ke belakang dulu. Mau jemur pakaian" Bibi berlalu meninggalkan Nanda yang masih termenung membayangkan apakah nanti Dinda mau untuk ia ajak nginap di rumah sakit? Ia tak yakin.


-


Menjelang sore, satu persatu dari mereka mulai pamit. Akhirnya Nanda kembali tinggal berdua dengan Lita. Mereka tak banyak bicara karena sedari tadi sudah terlalu banyak bicara. Kini tak tahu lagi harus ngomong apa.


-


Tepat sebelum maghrib, Nanda yang sudah rapi izin kepada Lita untuk keluar membeli makan malamnya. Padahal sebenarnya Nanda ingin kerumah Dinda untuk melancarkan misi seperti yang sudah di perintahkan oleh ARTnya.


Lita pun mengangguk dan ia pasti tak akan menyangka jika ternyata Nanda pergi untuk menjemput Dinda.


Di perjalanan menuju rumah Dinda, Nanda menyempatkan untuk sholat maghrib di masjid yang ia lewati.

__ADS_1


Kini sampailah Nanda di rumah Dinda. Dengan mengucap basmalah sebelum membuka pintu mobilnya, ia berharap jika nanti Dinda akan menyetujui permintaannya.


Nanda datang di sambut oleh Bi Hanum. Lalu Bi Hanum memanggilkan Dinda untuk kedepan menemui Nanda. Dengan raut wajah tak suka, Dinda menanyakan hal apa yang mengantarkan Nanda sampai kerumahnya.


"Aku kesini mau minta kamu temenin aku nginap di rumah sakit" ujar Nanda dengan tegas mampu menutupi kegugupannya.


"Buat apa? Nanti aku malah ganggu kalian" ucap Dinda yang tak mengerti apa maksud Nanda mengajaknya malam ini nginap di rumah sakit.


"Kata ..." Nanda menampar mulutnya sendiri.


Aks, hampir aja ketahuan kalo ini ide Bibi.


"Biar kamu ga salah paham. Aku kan selama ini tahunya bikin kamu kesal aja. Ga tahu cara nyenengin kamu. Dan mungkin salah satunya begini, aku ajak kamu buat terlibat di setiap hal yang ada Litanya. Kecuali urusan pekerjaan" ucap Nanda dengan lugas. Ia tak mengira jika kini otaknya sangat encer mencari kalimat yang tepat untuk di ucapkan pada Dinda.


Dengan penuh percaya diri, Dinda menyanggupi ajakan Nanda. Setelah menunggu Dinda bersiap-siap mereka pun meminta izin pada kedua orangtua Dinda yang awalnya takut melepas kepergian Dinda namun karena Nanda bisa meyakinkan kedua orang tua Dinda akhirnya mereka pun mengantongi izin untuk nginap di rumah sakit malam ini.


Dinda dan Nanda menuju mobil.


Makasih Bi. Nanti aku kasih bonus.


ā—ā—ā—


Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan...


Semoga puasanya lancar yaa...


Yang tarawih malam ini tolong komen dibawah!šŸ‘‡šŸ‘‡

__ADS_1


__ADS_2