
..Yang paling banyak ngelike Otor doain semoga panjang umur, murah rezeki, hidup bergelimpangan harta, amiiin🙏
...---...
...---...
Pagi harinya, seluruh penghuni rumah dinas sedang sibuk dengan kegiatan merapikan pakaian masing-masing. Mereka akan dijemput pagi ini oleh Mas Rahmat. Jika Mas Rahmat berangkat sekitar jam 07.00 pagi, itu artinya ia akan tiba disini pukul 13.00. Lebih cepat sampai dibanding waktu mereka berangkat dulu, tentu saja karena jalan yang sudah di bersihkan waktu itu.
"Sayang, ransel aku gak muat. Lipatin dikit ya, biar rapi. Mau titip di koper Rama aja". Nanda datang ke kamar Feza untuk menyerahkan beberapa helai baju kaos miliknya pada Dinda.
"Lipat itu doang harus banget nyari bini, astaghfirullah" gemas Feza melihat kelakuan manja Nanda.
"Kalo gue yang lipat kata Rama gak rapi. Kalo gak rapi gak boleh masuk koper dia. Salahin noh orangnya" tunjuk Nanda ke depan pintu karena bertepatan dengan kemunculan Rama ke kamar Feza.
"Nih Din, toplesnya udah gue cuci" Rama menyerahkan toples keripik singkong yang sudah di cuci.
"Wah, ini baru calon suami idaman. Makasih lho udah di cuciin" sambut Dinda menerima toples itu dari Rama.
"Sama-sama. Lah ini, baju Lo gak jadi nitip gue?" tanya Rama pada Nanda.
"Ya jadilah, ini habis di lipet sama Dinda" jawab Nanda.
"Halah, ngebebanin koper gue aja. Sini!". Rama pun mengambil baju Nanda tadi lalu ia gulung-gulung agar lolos masuk ke dalam toples yang ia cuci tadi.
"Mana Din toples tadi?". Dinda pun mengembalikan lagi toples pada Rama.
"Nah, bisa kan? Mikir" ledeknya pada Nanda.
Prok, prok, prok
Feza bertepuk tangan bangga. "Ini baru anak didik gue" ucapnya dengan tidak langsung memuji dirinya sendiri.
Rama hanya berdecih, lalu kembali ke kamarnya. Ia juga harus melanjutkan acara packing-packing segala barang bawaannya. Sekaligus ngecek apakah masih ada yang kelupaan.
Setelah mereka selesai memasukkan semua barang ke dalam tas atau koper. Kini semua tas dan koper mereka kumpulkan di ruang tengah, agar memudahkan mereka untuk mengangkutnya ke mobil Mas Rahmat nanti.
"Guys, foto dulu yuk" ajak Feza yang sudah menyalakan kamera di ponselnya.
"Ayo-ayo" pekik Rama paling bersemangat.
Mereka pun berfoto dengan pose berdiri saling merangkul. Ditambah lagi segala tas dan koper juga ikut masuk dalam foto itu. Membuat kesan sedih tersendiri seolah takkan berjumpa lagi.
Feza membidik beberapa foto, nanti saat ada sinyal akan ia posting di akun media sosialnya. Selama menunggu kedatangan Mas Rahmat, mereka saling memfoto secara diam-diam. Sengaja, agar jadi kenang-kenangan indah yang bisa dilihat kapan saja. Foto yang tidak bisa di sebar-luaskan karena berisi aib dari masing-masing mereka. Foto Rama lagi mangap, Nanda lagi bersihin sendal, Dinda lagi ngomong dengan mata yang ketutup, Pak Prima yang lagi bersin, dan Feza yang ngeblur karena kebanyakan gerak.
__ADS_1
"Nanti posting ah, pakek lirik lagu yang Hey, sampai jumpa di lain hari untuk kita bertemu lagi" ucap Rama sambil menyanyikan penggalan lirik dari lagu yang ia maksud.
"Kalo gitu gue pakek lagu Project Pop, ingatlah hari ini" sambut Feza tersenyum riang sambil nyanyi juga.
"Gue lagu apa ya?" tanya Nanda.
"Lagu Sheila on 7 aja Yank, yang kisah klasik untuk masa depan" sahut Dinda.
"Gimana lagunya?" tanya Nanda.
"Sampai jumpa kawanku, semoga kita selalu, menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan". Dinda menyanyikan bagian reff dari lagu itu.
"Ah bagus, bagus. Gue pakek lagu itu" sambut Nanda.
"Lah, saya lagu apa?" Kali ini Pak Prima yang kebingungan.
"Bapak punya sosmed?" tanya Feza.
"Ya punya, tapi gak pernah posting" jawab Pak Prima nyengir.
"Oalah, kalo gitu Bapak pakek lagu angkatan bapak aja. Kemesraan ini ..."
"Janganlah cepat berlalu" sambut semua orang disana menyambung lagu Dinda.
"Pak, jangan sedih. Kita 'kan masih bakal ketemu lagi di Jakarta" ucap Dinda menghibur hati Pak Prima.
"Iya Pak, kita makan malam lho dirumah saya malam minggu. Dijamin ketagihan kalo udah nyicipin masakan istri saya" sambut Nanda.
"Saya cuma sedih, karena gak akan liat muka bantal kalian. Gak ada lagi teriak-teriakan kehabisan shampo" ujar Pak Prima.
"Wah, Bapak nagih hutang ni kayanya" kata Feza.
"Haha, saya gak nagih hutang. Malah saya udah ikhlas kok. Kalian udah saya anggap anak sendiri" jawab Pak Prima.
"Ngomong-ngomong soal hutang, Lo punya utang 13 rebu ya sama gue" todong Rama pada Nanda sambil menyenggol kasar bahu Nanda.
"Iya, nanti gue bayar pas di kota. Sekarang duit cash gue bener-bener udah abis" sahut Nanda sambil merapikan lagi kaosnya karena ditarik Rama.
"Heh, lupa?" ujar Feza sambil menyentik-nyentikkan kukunya di depan wajah Rama.
"Hehe, Nan ntar lu bayar ke Feza aja" titah Rama.
"Ck, masih kurang itu" pungkas Feza.
__ADS_1
"Iya-iya, kurang 7 rebu doang pasti gue bayar" jawab Rama.
"Kalian 13 rebu, 20 rebu, masih ditagih juga?" ucap Pak Prima bengong.
"Iya pak, kebetulan kami ini kumpulan orang-orang perhitungan memang" sahut Rama dengan gamblang.
"Lah, si Feza aja ngutang sama saya 50 ribu saya ikhlasin" ungkap Pak Prima.
Akhirnya mereka semua tertawa karena sejatinya uang itu memang mutar-mutar disitu saja. Yang mengeluarkan modal adalah Pak Prima ke Feza, dari Feza lalu di pinjam Rama 20 ribu, lalu dari Rama dipinjam Nanda 13 ribu. Sangat perhitungan sekali, bukan? Yang ngeluarin duit siapa, tapi bayar hutangnya ke siapa.
1 jam sebelum sholat jum'at dimulai Nanda, Rama, dan Pak Prima pun berangkat menuju masjid dengan berjalan kaki. Mereka tidak merasa lelah walau perjalanan menuju masjid cukup jauh, karena selain memang sudah terbiasa jalan kaki selama tinggal di desa mereka juga tidak sendirian.
Rama, Nanda, dan Pak Prima sudah sampai di masjid saat masjid sudah hampir penuh. Mereka pun kebagian shaf paling belakang.
Kali kedua menginjakkan kaki di masjid ini. Waktu itu aku menyebut nama Maudy, tapi sepertinya Tuhan tidak mentakdirkan aku bersamanya.
Kini, aku berserah padamu, Tuhan. Engkau ingin membuat takdirku jadi begitu begini aku janji tidak akan protes lagi. Kuserahkan semua yang terbaik menurut versiMu.
Jika nama yang kusebut tidak sama dengan yang kau tulis untukku, tidak masalah. Aku siap dengan segala kejutanMu, ya Allah. Tapi aku cuma minta satu, tolong jangan dulu cepat-cepat pertemukan aku dengan Maudy. Biarkan aku hidup tenang di Jakarta tanpa harus melihatnya. Walau terdengar mustahil, tapi aku percaya Engkau pasti bisa melakukannya. Persis seperti saat Kau balik hatinya dalam sekejap untuk meninggalkanku. Bantulah aku ya Allah, amiin.
-
-
-
Hayoo yang mau hidup enak jangan lupa like, komen, bagi-bagi kopinya biar mata Otor gak cepet ngantuk.
-
-
-
Eh iya, kemaren ada yang komen begini di bab waktu Dinda masih pacaran sama Ariel:
😗 Thor, ceritanya bertele-tele gak suka.
Waktu itu aku balasnya "Maaf mba, maklum ini novel pertama aku. Doain aja semoga makin membaik kedepannya".
Tapi setelah aku pikir-pikir, mungkin yang dia maksud bertele-tele itu kisah Dinda-Arielnya. Ya gimana ya, kan memang sengaja di buat begitu biar ngena dengan maksud yang Otor tuju. Yaitu; mereka pacaran lama, terus ya putus nyambung mulu.
Ya namanya pacaran ngapain aja siih, begitu-gitu aja kan? Makan, jalan, berantem. Dan endingnya ga jodoh. Karena banyak lho orang yang mengalami hal kaya gini, pacaran lama eh taunya ga jadi nikah. Mana kenangannya udah banyak banget menggunung kaya sampah, kan nyesek ya!
__ADS_1
Pokonya bagi kalian yang setia banget baca dari bab 1 sampe sekarang, makasih banget udah jadi pembaca setia. Bahkan ada juga yang gak lupa ngelike, sampe boom like gitu. Terimakasih banyak, Otor sayang kalian😚