(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Mendapat Teror


__ADS_3

Kini hari sudah hampir malam, namun Rama tak kunjung menunjukkan tanda-tanda kesadarannya. Feza terus membisikkan 2 kalimat syahadat dan dzikir pendek di telinganya. Hal ini Feza lakukan sebab dirinya mulai kepikiran akan perkataan si perawat tadi siang.


Flashback On


"... Buk, saya gak bermaksud mau nakutin apa gimana. Tapi ini bukan pertama kalinya saya lihat orang yang senasib sama Mas ini. Di desa ini, ibuk harus hati-hati. Karena masyarakatnya masih banyak yang mempraktekkan ilmu hitam dan lain sebagainya" sang perawat yang merupakan bukan warga asli sana menyampaikan pengalamannya selama bertugas 2 tahun di desa M****u. Ia mengangguk saat Feza menatapnya intens seolah mencari kebohongan lewat tatap mata itu. Ia pun mencoba meyakinkan Feza agar segera mempertimbangkan ucapannya sebelum terlambat memberi pertolongan pada Rama.


Flashback off


"Pak, Nan, gimana kalo kita ikutin aja saran Mbak Dwi. Ini demi kebaikan Rama, gue takut kita terlambat kasih pertolongan buat dia" bujuk Feza.


"Za, percaya sama dukun itu musyrik. Lo jangan lemah gini. Lebih baik kita minta pertolongan sama yang maha kuasa. Ayo sholat" Nanda mengarahkan bahu Feza lalu menuntunnya keluar dari ruang tempat Rama di rawat. Saat ini biar Pak Prima yang menjaga Rama.




Malam itu rencananya mereka akan bergantian menjaga Rama. Untunglah di warung Bu Heni tadi Feza sempat membeli jagung dan sekilo tepung. Feza pun membuatkan bakwan jagung dan 3 gelas kopi panas untuk bahan bakar mereka yang akan begadang malam ini.



Feza membawakan semua makanan dan minuman yang sudah ia persiapkan ke dalam nampan untuk lebih mudah di bawa ke puskesmas. Sampai disana Nanda dan Pak Prima dengan senyum cerah menyambut kedatangannya yang membawa buah tangan.



"Ma, bangun lo. Kalo tidur mulu gak kebagian bakwan jagung" ucap Nanda yang duduk tepat di samping Rama.



Mereka semua pun duduk di kursi plastik yang biasa di sediakan untuk para pasien yang ingin berobat. Feza yang duduk tepat di dekat jendela dengan posisi membelakangi tiba-tiba merasa merinding. Bulu kuduknya berdiri. Dicelah jendela terasa seperti ada yang meniup-niup kearahnya. Ingin rasanya memutar kepala, namun tubuh Feza yang membeku seperti es tak mampu ia gerakkan.



"Za, lo kenapa?" tepuk Nanda pada pundaknya.



Berkat tepukan Nanda itulah akhirnya Feza mampu menggerakkan tubuhnya yang sempat kaku. "Alhamdulillah" syukur Feza.



"Di tanya kenapa malah alhamdulillah" timpal Nanda heran.



"Kamu kenapa, Za?" kali ini Pak Prima yang bertanya.



"Kalo aku cerita, kalian bakal percaya gak?" tanya Feza. Sebenarnya ia tak ingin bercerita takut 2 teman begadangnya ini akan ketakutan dan malah berniat ingin segera kembali ke kota.



"Cerita aja, Za" kata Pak Prima.



"Iya, cerita aja. Kenapa sih lo?" tanya Nanda kesekian kalinya.

__ADS_1



"Tapi tukeran posisi dulu. Nan, lo duduk sini ya" titah Feza mengajak Nanda bertukar tempat dengannya. Nanda pun dengan santainya berpindah tempat ke kursi Feza sebelumnya.



"Aku tadi ngerasa ada yang merhatiin kita Pak, dari sana" ujar Feza sambil menunjuk ke arah jendela. "Terus tiba-tiba aku ngerasa merinding, badan aku kaku sekaku-kakunya. Untunglah Nanda nepok bahu aku. Kalo gak gitu mungkin bisa sampe pagi badan aku nge-*freeze*". Feza menceritakan hal yang ia alami barusan sambil mengusap dada. Kentara sekali rasa leganya karena telah di selamatkan Nanda dari rasa takut itu.



Feza dan Pak Prima melanjutkan obrolan mereka. Tanpa mereka sadari bahwa kini giliran Nanda yang mendapat serangan tiup-tiupan itu. Namun bedanya, Nanda berani membalikkan badan kebelakang dan berniat menggertak seseorang yang mengerjainya.



Nanda membuka jendela tanpa gorden itu. Dan dengan jelas, matanya menangkap sekelebat perempuan dengan wujud yang menakutkan.



"Aaaaa" teriak Nanda lalu terjungkal ke belakang.



"Kenapa, Nan?" tanya Pak Prima dan Feza.



"Ada kunti diluar". Sontak saja Feza dan Pak Prima langsung beringsut merapat pada Nanda.



"Nan, tutup lagi jendelanya" titah Feza.




"Kamu yang buka kok saya yang nutup" elak Pak Prima.



"Ya ampun Pak, saya kan udah liat terus Feza juga udah ngerasain atmosfirnya. Bapak doang yang belum kebagian" tampik Nanda yang ketakutan. Tak ada lagi sedikitpun sisa-sisa keberanian yang sempat bersarang dalam dirinya.



"Oke, saya yang nutup. Tapi kita sama-sama kesitu. Biarin saya yang nutup tapi kalian juga ikut kesitu" ucap Pak Prima memohon. Karena dirinya juga takut. Terlebih ini kali pertama ia diganggu hantu.



Akhirnya Nanda dan Feza mengapit Pak Prima yang akan menjulurkan tangan untuk menutup jendela itu. Mereka berjalan perlahan mendekat ke jendela yang terbuka selebar 20cm itu. Lalu dengan gerakan cepat Pak Prima menarik jendela itu merapat dan langsung menguncinya. Beruntung mata mereka tak melihat apapun. Sehingga mereka kini jadi lebih tenang karena hantu perempuan itu sudah tidak berada di sekeliling mereka.



"Eh, pintu utama udah ditutup belum?" tanya Nanda.



"Gak tau" ucap Pak Prima lemah. Begitupun dengan Feza. Ia menggeleng tak tahu.

__ADS_1



"Ayo kita cek sama-sama" perintah Nanda.



"Rama ditinggal sendirian?" tanya Feza.



"Ya udah, lo jaga Rama. Gue sama Pak Prima aja berdua" ucap Nanda yang langsung menggandeng tangan Pak Prima.



Mereka pun menuju ke depan guna memeriksa pintu utama puskesmas itu. Sampai di depan pintu, mereka mendapati bahwa ternyata pintu itu sudah di kunci. Namun, saat hendak berbalik. Pak Prima dan Nanda dapat melihat dengan jelas melalui jendela utama bahwa kuntilanak itu sedang berdiri tepat di bawah sorot lampu teras rumah dinas dengan posisi kepala menunduk.



Nanda dan Pak Prima yang sama-sama ketakutan namun sama sekali tak bergerak meninggalkan tempat itu. Mereka terus-menerus memperhatikan hantu perempuan yang sengaja mencari perhatian mereka.



Sampai akhirnya hantu itu menegakkan kepalanya dan sepersekian detik ia melayang mendekat, terus mendekat, kian mendekat dan sampailah ia ke hadapan Pak Prima dan Nanda walau terhalang jendela tipis. Lalu mereka berdua berlari terbirit-birit menuju ke ruang perawatan Rama.



"Kenapa?" tanya Feza panik.



"Kita udah tatap-tatapan sama kuntinya" ucap Nanda sambil meringkuk ketakutan.



"Tutup pintunya, Za" perintah Pak Prima cepat meminta Feza menutup pintu ruangan tempat mereka kini berada.



"Kenapa jadi gini, astaghfirullah" ucap Nanda sambil mengusap wajahnya kasar.



"Gue masih takut sama jendelanya. Lebih baik pakein ini aja biar gak takut-takut amat" ucap Feza seraya memberikan sneli atau jas dokternya untuk di sampirkan ke jendela sebagai pengganti gorden. Pak Prima pun menyampirkannya ke paku-paku yang berada di kiri-kanan jendela.



*Ya Allah, lindungilah kami. Apa salah kami ya Allah sampai hantu itu meneror kami malam ini. Dan juga, aku mohon cepat sadarkan Rama ya Allah. Aku ingin segera pulang dari sini dan tak lagi mau berurusan dengan makhluk itu*, doa Feza dalam hatinya.



Malam itu mereka bertiga tak bisa tidur. Selain alasan menjaga Rama juga karena rasa kantuk yang hilang dikalahkan oleh rasa takut. Kopi yang Feza siapkan sangat membantu mereka menenangkan pikiran mereka yang kalut efek di ganggu hantu malam itu. Mereka tak tahu sampai kapan hantu itu akan meneror mereka. Harapan mereka, semoga kejadian ini tak terulang di malam selanjutnya.



●●●●


__ADS_1


**Aku suka membuat kisah yang gak ketebak alurnya mau kemana, hehe**....


**Biar sama-sama pusing kita, kalian yang bacanya pusing, aku juga ikut pusing mikirin ending. Mau dibawa kemana (hubungan kita), yang baca sambil nyanyi butuh karaoke ya**?


__ADS_2