(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Hampir Kepincut Janda


__ADS_3

POV Dinda


Hari ini sudah hampir 72 jam aku ditinggal suami. Kali pertama ditinggal lama setelah menikah. Ternyata ada serunya juga, hehe. Karena bertemu setiap hari terselip rasa bosan ketika melihatnya. Dia lagi, dia lagi. Kalau Nanda tahu bahwa aku bosan melihatnya setiap hari, pasti dia akan merajuk dan meminta aku untuk membujuknya. Dasar bayi! Bayi tua lebih tepatnya.


Tapi jujur, kini aku merindukannya. Merindu sekelebat bayangannya yang tiap kali aku fokus bermain Hp dia akan lewat hilir mudik untuk mencari perhatianku. Atau dia akan menggunakan kol0rnya saja lalu menari-nari di hadapanku. Aku rindu suamiku, rindu semua kelakuan gilanya.


Semalam, aku mengirim pesan padanya. Sudah ada beberapa pesan yang kukirim namun masih centang 1. Aku paham, disana tak ada sinyal. Dan suamiku sedang membantu temannya yang mendapat pelecehan. Siapa lagi kalau bukan Feza.


Kalau ditanya, bagaimana perasaanku? Aku baik-baik saja. Aku tidak cemburu. Karena aku tahu suamiku laki-laki setia dan bertanggung jawab. Dulu, saat kami masih pacaran akulah yang sangat pencemburu di antara kami berdua. Tapi setelah menikah semua jadi berbalik. Apalagi setelah dia tahu mantanku tetanggaku. Beuh, makin posesif. Aku bahkan dilarang menjalin hubungan kerja sama dengan perusahaan Ariel. Padahal sebelumnya memang tak pernah menjalin kerja sama dengannya.


Oh iya, bicara tentang Ariel aku jadi ingat sesuatu. Kemaren sore sewaktu aku dan Mama duduk di depan rumah, Om Setyo papanya Ariel datang menghampiri kami. Ia mencari Papa, biasalah karena ia dan papaku memang sudah sangat akrab sekali sejak dulu waktu ia baru pindah kesini. Tapi kami bilang, kalo papa belum pulang masih diluar kota. Akhirnya ia tak jadi menemui papa.


Namun setelahnya ia justru menanyakan aku. Ia bertanya perihal kabarku, mana suamiku, dan lain sebagainya. Setelah berbincang sebentar, ia pun pulang kerumahnya.


Malamnya, aku mendapati Ariel yang lagi-lagi mengirimiku pesan via instagram. Ia tahu bahwa suamiku sedang pergi, mungkin Om Setyo yang cerita. Dan ia mengajakku bertemu di suatu tempat. Aku sangat lega tidak berjodoh dengan Ariel, karena menurutku ia laki-laki yang picik. Diluar kelihatan seperti suami setia, tapi dalamnya na'udzubillah. Sudah sering pesannya itu hanya aku baca tapi ia tetap gencar mengirimiku pesan. Lewat akun fake lagi.


Apa istrinya tidak tahu kelakuan suaminya itu. Bahkan saat ini istrinya sedang hamil dan dia masih terus menghubungi mantannya, yaitu aku.


Karena jengah dengan kelakuan Ariel. Aku pun memilih untuk memblokirnya. Saat ini suamiku memang sedang tak ada, tapi aku tetap tak mau mengecewakan kepercayaannya.


Dan kini aku sedang benar-benar rindu pada suamiku. Tak mampu kutahan lagi. Mana dia? Gak ke DPR lagi 'kah sore ini?


Kubaca-baca lagi pesan yang kukirim padanya.


Dinda➡Nanda



Daripada menung gak jelas mikirin kamu, aku obrak-abrik aja dapur mama🤓😉


Dinda➡Nanda


Semalam kutahan


Kutahan semalam


Lama-lama rindu tak mampu kutahan


Tapi sayang, cintamu cuma semalam


Lalu kau pergi menghilang


Dinda➡Nanda

__ADS_1


Aku sayang, kamu juga sayang


Tapi sayang, kita berjauhan


Dinda➡Nanda


Sekedar info:


Suami tak pulang-pulang


Istri open BO


Aku terkikik geli membaca ulang semua pesan yang kukirim pada Nanda. Ternyata kalau aku sedang rindu, aku sama gilanya dengan suamiku.


Apalagi sampai mengirim penggalan lirik lagu yang sering kudengar dari ponsel Sherly. Karena liriknya rada manja, aku jadi suka. Mungkin karena aku rindu dimanja-manja. Atau lebih tepatnya rindu dibelai suami kali yaa hehehe. Udah halal kok, jangan iri ya mblo.


POV Dinda End


Sebelum dilanjut, absen jempol dulu yuk


Malam harinya setelah makan malam, Nanda dan Feza berniat akan langsung pergi kerumah Pak Ratmo. Sedangkan Pak Prima tinggal di puskesmas untuk menjaga Rama.


"Kalian jangan lama-lama ya. Saya beneran takut" ucap Pak Prima saat Feza dan Nanda bersiap-siap memakai jaket masing-masing. Karena angin malam tak baik untuk kesehatan.


"Iya pak. Bapak tenang aja, kita cuma sebentar kok" jawab Feza menenangkan Pak Prima.


"Nan, gue kok merinding ya?" tanya Feza.


"Sambil dzikir jalannya" titah Nanda. Dan Feza pun berdzikir dalam hati berharap segera sampai kerumah Pak Ratmo.


Perjalanan mereka pun aman sampai kerumah Pak Ratmo.


Tok... tok....tok


"Permisi" salam Nanda dari luar.


Krieeeeet


Pintu rumah terbuka setengah. Terlihat seorang anak perempuan berusia sekitar 8 tahun yang membukakan pintu.


"Siapa?" tanyanya pelan. Mungkin ia merasa takut juga bertemu orang asing.


"Dek, bapaknya ada?" tanya Feza dengan ramah agar anak itu tidak takut padanya.

__ADS_1


"Gak ada" ucapnya lagi tetap dengan suara yang pelan.


"Gimana nih?" tanya Nanda mulai kesal. Laki-laki itu memang selain masih tidak setuju dengan ide Feza untuk mengobati Rama ke dukun, ia juga kesal karena sudah jauh-jauh menempuh perjalanan yang mencekam eh sampai kesini Pak Ratmonya gak ada.


"Lo tenang dulu" ucap Feza pada Nanda.


"Bapaknya kemana, Dek?" tanya Feza pada bocah perempuan itu.


"Udah meninggal" jawabnya.


"Innalillahi" ucap Feza dan Nanda. Tapi keduanya merasa heran. Sebab dirumah itu sepi, tak ada bendera kuning atau bahkan acara yang biasa di adakan saat ada anggota keluarga yang meninggal. Apa mungkin tradisi masyarakat di desa ini memang begitu?


Lama terdiam di luar pintu, akhirnya seorang wanita paruh baya menghampiri mereka.


"Ada siapa, Ndu?" tanya wanita itu.


"Eh mbak yang ini" ucapnya yang masih mengingat bahwa Feza yang tadi siang mencari Pak Ratmo. Lalu ia membuka pintu dengan lebar.


"Masuk dulu, mari". Ia juga mempersilahkan Feza dan Nanda untuk duduk diruang tamunya.


"Saya sudah bilang ke suami saya. Kalian tunggu dulu ya, beliau lagi sholat isya" ucap wanita itu.


"Windu, minta tolong ibumu buatkan Mas dan Mbak ini teh hangat" perintahnya pada bocah tadi.


"Iya Nek" lalu bocah itu pun masuk kedalam ruangan yang berada di ujung ruang tamu.


Beberapa detik kemudian keluarlah seorang wanita berusia kisaran 25 tahun. Ia keluar dari kamar sambil menguncir rambutnya.


Feza yang melihat Nanda fokus menatap wanita itu pun langsung memberi sikutan pada pinggangnya.


"Lo mau dirajang sama Dinda?" ujar Feza dengan menatap Nanda tajam.


Feza pun kembali berbincang dengan si ibu itu setelah memperingatkan Nanda. Tak lama Pak Ratmo pun menghampiri mereka di ruang tamu.


"Maaf lama, saya sholat dulu tadi" ucapnya sembari duduk di samping sang istri.


Nanda dan Feza tercenung. Mereka tak menyangka bahwa dukun yang mereka cari-cari itu akan berpenampilan layaknya seperti seorang ustadz. Feza dan Nanda terus saja mengamati dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Kok dukunnya gak kayak di film-film ya?" cetus Nanda.


Anak Pak Ratmo datang membawakan teh hangat untuk mereka. "Yang bilang dukun siapa mas?" tanya Ratih. Wanita yang tadi sempat Nanda perhatikan.


Feza dan Nanda langsung tersadar. Keduanya saling berpandangan.

__ADS_1


"Jadi, bukan dukun?" tanya Nanda masih dengan wajah "bego"nya.


Guys, kalian boleh vote novel ini kalau memang menurut kalian layak untuk dikasih vote. Aku ga akan maksa kok, cuman aku gak mau up kalo gak di kasih vote👿😈~


__ADS_2