
Setelah hampir 2 jam menempuh perjalanan dari masjid ke rumah pak kades. Kini waktu sudah mendekati maghrib, dan mereka baru sampai di rumah pak kades. Kondisi jalanan yang longsor 2 hari lalu membuat perjalanan mereka memakan waktu lama. Kalau normalnya hanya setengah jam, kini jadi 2 jam.
Mobil yang mereka tumpangi kini tepat berhenti di halaman depan rumah Pak Kades. Nanda dan yang lain pun memutuskan untuk menunggu sampai waktu maghrib selesai barulah mereka akan bertandang ke rumah itu. Karena tidak mau mengganggu si tuan rumah di jam-jam yang tidak lazim untuk bertamu.
Setelah dirasa sudah cukup lama menunggu, dan misalnya pun Pak Kades ini menjalankan sholat pasti sudah selesai dari tadi. Nanda dan yang lain pun turun satu persatu.
Tok... tok... tok. Pak Prima mengetuk pintu yang tertutup rapat itu.
"Permisi" sapa Nanda dengan suara lantang agar terdengar sampai ke dalam.
Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya membuka pintu dengan wajah keheranan. Mungkin karena ia tidak mengenal satu orangpun di antara mereka.
"Permisi Bu, saya Nanda. Apa betul ini rumahnya Pak Kades?" tanya Nanda dengan penuh hormat.
"Ah iya. Mari masuk dulu semuanya. Saya panggilkan Bapak" ujar wanita itu.
Rama, Feza, Nanda dan Pak Prima pun duduk lesehan di atas tikar yang memang sudah sejak awal terbentang disana. Mereka duduk sembari mengamati foto hitam putih dan segala pajangan yang terpajang di dinding rumah itu. Sedangkan Mas Rahmat, ia memilih menunggu di dalam mobil.
Lalu Pak Kades pun mengampiri mereka disusul wanita paruh baya yang menyambut mereka tadi ikut datang sembari membawakan gelas dan teko yang ia letakkan di atas nampan ke tengah-tengah mereka. Pak Prima dan yang lain pun tersenyum sembari mengucapkan terima kasih. Lalu wanita itu kembali masuk ke dalam.
Mereka yang ada diruang tamu itu pun bersalaman satu persatu dengan Pak Kades yang bernama Pak Hudori itu sambil memperkenalkan diri mereka.
"Kalau saya boleh tau, maksud kedatangan Bapak, Mas, dan Mbak ini...."
"Saya Feza, Pak. Dokter yang sempat bertugas di puskesmas desa ini" ucap Feza saat menemukan ekspresi seperti sedang mengingat-mengingat di wajah Pak Hudori.
__ADS_1
"Ya ya, saya ingat sekarang. Maklum ini lampunya remang-remang belum sempat di ganti jadi penglihatan saya agak terganggu" ujar Pak Hudori lebih santai dari sebelumnya. Karena setidaknya di antara 4 orang asing itu ada 1 yang dikenalnya.
Mereka pun tersenyum singkat mendengar ucapan pak Hudori. Lalu Nanda langsung menyampaikan maksud dan tujuannya datang ke desa ini. Tidak lain dan tidak bukan untuk menjadi pengawal Feza yang masih ingin bekerja di puskesmas desa ini. Dan sekaligus meminta saran pada Pak Hudori perihal dimana baiknya mereka akan tinggal. Karena menurut pemikiran Nanda, Pak Prima, Rama, dan Feza tentulah sangat tidak layak jika laki-laki dan perempuan yang tidak memiliki ikatan darah harus tinggal serumah. Pastilah akan jadi bahan pergunjingan para tetangga karena hal itu sangat erat kaitannya dengan dugaan perzinaan.
Namun ternyata, jawaban Pak Hudori membuat mereka kaget namun juga mempermudah mereka untuk berkompromi.
"Oh begitu. Kalau tempat tinggal sepertinya kalian bisa tinggal di rumah dinas yang sama dengan Ibu Feza. Karena disitu ada 2 kamar. Jadi kalian bisa berbagi. Disini tidak ada rumah dinas yang kosong lagi, selain rumah itu" ucap Pak Hudori.
"Tapi pak, apa gak masalah kalau kami tinggal serumah?" tanya Rama setengah tak percaya. Bahkan jika harus menumpang di rumah warga pun kalau bisa, ia mau sekali. Mengingat sangat tidak etis rasanya tinggal bersama lawan jenis.
"Gak papa. Desa ini aman kok" jawab Pak Hidori.
Aman? Maksudnya? Pertanyaan itulah yang ada di kepala Nanda, Pak Prima, Rama, dan Feza saat ini. Namun mereka tak sempat bertanya lebih lanjut, karena Pak Hudori sudah kembali masuk ke dalam rumahnya untuk mengambilkan kunci rumah dinas yang sudah Feza kembalikan padanya dulu.
Akhirnya setelah di beri kunci rumah dinas itu, mereka pun berpamitan pada Pak Kades dan istrinya. Lalu masuk lagi ke mobil untuk segera ke rumah dinas.
Sepengamatan Nanda, Rama, dan Pak Prima, rumah ini memiliki ukuran yang cukup kecil. Dan didalamnya, memiliki dapur ukuran 2×2 meter. Kamar mandinya diluar, wow sangat berbahaya untuk perempuan.
Lalu ruang tengah menjadi 1 dengan ruang tamu. Dan di kiri kanannya ada 2 pintu. Yaitu kamar 1 dan kamar 2. Feza menghuni kamar 1 kamar yang dulu pernah ia gunakan, sedangkan kamar 2 kosong tak terisi apapun selain sarang laba-laba dan kotoran cicak.
Nanda, Mas Rahmat, dan Rama saling bergotong royong membersihkan sarang laba-laba di dinding, di plafon, di dapur, dan di seluruh ruangan. Mereka menyapu dan mengepel lantai dengan alat yang seadanya. Sedangkan Feza dan Pak Prima mengangkut barang-barang mereka dari ruang tengah ke kamar. Lalu Feza juga membersihkan kamarnya sendiri. Beberapa gantungan pakaian miliknya yang sempat tertinggal ia antarkan ke kamar para lelaki. Siapa tahu butuh, begitu pikir Feza.
Setelah lelah membersihkan rumah dinas, mereka pun duduk berkumpul di ruang tengah. Berbincang dan bercanda untuk menghibur diri karena bermain ponsel jelas tidak bisa di tempat itu.
"Za, maaf ya tadi gue sempat bentak lo" ucap Rama yang duduk bersebelahan dengan Feza.
__ADS_1
"Iya, lo gak minta maaf pun pasti gue maafin" jawab Feza dengan tersenyum manis.
"Makasih yaa" ujar Rama.
Krucuk krucuk
Terdengar suara perut keroncongan yang bersumber dari seseorang yang paling tua di antara mereka. "Bapak lapar ya? Haduh untung aja ini masih jam 8an, warung buk Heni masih buka kayanya" Feza buru-buru masuk kekamarnya untuk mengambil cardigan. Ia berniat akan pergi ke warung Bu Heni untuk membeli makanan untuk makan malam mereka.
"Gue temenin ya Za" usul Rama yang juga telah mengantongi kunci mobil Mas Rahmat. Ia khawatir jika membiarkan Feza pergi sendirian ditempat itu.
"Ya udah ayo". Feza dan Rama pun langsung menuju warung Bu Heni.
Disana mereka membeli 5 bungkus nasi dengan berbagai macam lauk pauk kecuali menu daging-dagingannya. Karena selama disini Feza memang tidak pernah mau membeli makanan yang mengandung daging, selain daging ayam. Dengan alasan tidak tahu apakah itu daging yang halal ia makan atau sebaliknya. Mau bertanya pun Feza merasa enggan dan sungkan.
"Wah, murah juga ya. Kita beli segini aja cuma 50 ribu" pekik Rama senang membeli makanan murah meski dengan lauk yang cukup banyak dan bervariasi.
"Seneng kan lu bisa makan murah meriah. Enak lagi, gue langganan banget sama Bu Heni" ungkap Feza.
"Murah, enak, banyak lagi. Suruh Bu Heni buka cabang di Jakarta ya" decak Rama dengan ide briliannya saat mereka masih dalam perjalanan kembali ke rumah dinas.
-
Rumah yang dibangun di depan puskesmas itu memang disebut dari sananya sebagai rumah dinas oleh para warga sekitar.
●●●
__ADS_1
Hello strangers, kasih aku vote dan kopi luwaknya dooong. Biar makin semangat buat upnya nih