
Waktu terus bergulir, bulan selalu berganti. Dinda yang kini mulai terbiasa tanpa kehadiran dan perhatian Ariel sedang menyendiri di halaman belakang rumahnya sambil memperhatikan kucing-kucing kesayangan Papanya.
Ia memang sudah terbiasa menjalani hari-harinya tanpa panggilan telepon dan chat mesra dari Ariel. Namun, Dinda masih sering beberapa kali melihat ke daftar panggilan masuk dari Ariel yang ia sendiri tidak tahu kalau ternyata waktu itu setelah 1 minggu mereka putus. Ariel pernah menelepon Dinda sampai 7 kali dengan menggunakan Whatsapp mama Ariel (karena Whatsapp Ariel masih Dinda blok) dan 1 kali panggilan manual ke ponsel Dinda.
Bukan hanya itu, 1 pesan pun Ariel kirim ke ponsel Dinda yang berbunyi:
"Din, angkat telepon"
"Arggghhh, waktu itu gue kemana ya? Kok gue ga tahu kalo Ariel pernah telepon sampe beberapa kali terus SMS juga. Huft, sekarang pun kalo nih SMS gue balas pasti udah basi" ucap Dinda bermonolog.
Tentu saja Dinda berpikir kalau hal itu sudah basi. Secara, mereka mulai ga teguran akhir februari dan ini sudah memasuki pertengahan April.
Artinya, sudah hampir 2 bulan SMS itu terbengkalai begitu saja tidak Dinda baca. Sebab, Dinda berpikir bahwa pesan-pesan masuk di ponselnya ya dari operator kartu Sim yang Dinda gunakan.
Karena berdasarkan pengalaman Dinda tiap putus nyambung sama Ariel, terus Dinda blok kontak Ariel. Pasti yang biasa Ariel lakukan adalah chat Dinda dengan Whatsapp mamanya atau bahkan Whatsapp papanya.
Setelah Dinda pikir-pikir, biarkan sajalah. Toh nanti kalau Ariel butuh atau apapun, pasti Ariel bakal telepon Dinda lagi atau chat Dinda lagi dengan ponsel orang tuanya.
3 Bulan Kemudian...
Sore itu, Dinda sedang melakukan aktifitas setiap harinya yaitu menyiram tanaman di samping rumahnya. Tanaman kesayangan mamanya yang hampir setiap hari kini malah Dinda yang terlihat menyirami dan lebih menyayangi tanamannya tersebut.
Sore itu hampir setengah 6 saat Dinda menyiram tanaman. Dinda melakukannya dengan suasana hati yang biasa-biasa saja. Bahagia tidak, sedih pun tidak.
Dinda yang sampai detik ini memang betul-betul sudah melupakan Ariel dan tak pernah berharap lagi supaya Ariel kembali menelponnya setelah mereka putus 5 bulan. Ini menjadi rekor terlama, pikir Dinda.
Setelah Dinda selesai dengan kegiatannya, Dinda pun kembali ke kamarnya hendak mandi, karena Dinda sudah berkeringat.
Namun, seperti kebanyakan orang. Kalau sudah liat ponsel pasti malah gagal melancarkan tujuan awalnya.
Yup, persis seperti Dinda saat ini. Dinda yang berniat ke kamar ingin mandi, justru kini ia terfokus dengan ponsel yang ada di tangannya.
Hingga ada 1 chat yang masuk dan malah membuat Dinda mengurungkan lebih lama niatnya untuk segera mandi.
Pesan itu dari Ayu.
"Din, lo udah tau sesuatu?"
__ADS_1
Dinda yang merasa janggal dengan kalimat 'sesuatu' yang Ayu sebut pun akhirnya jadi berpikiran negatif. Tiba-tiba saja Dinda kepikiran Ariel.
Dinda berpikir, kalau-kalau Ariel tertangkap polisi karena narkoba, atau Ariel kecelakaan maut, bahkan juga berpikir sampai Ariel di gerebek sama PSK di sebuah hotel.
Arggggg....
Karena tidak ingin berasumsi yang belum tentu kebenarannya. Dinda pun segera mengetikkan kalimat balasan untuk Ayu. Saat mengetik pun Dinda gemetaran. Entah kenapa sekarang jantungnya tiba-tiba saja jadi berdebar kencang.
"Apa yu? Gue ga tau yang lo maksud" begitu balasan Dinda pada Ayu.
1 menit...
2 menit...
3 menit...
15 menit...
30 menit...
"Ini nih resiko punya temen ibu rumah tangga. Sampe urusan gue ke skip pasti gegara ngurus anak dulu. Ga tau apa, disini jedag-jedug" gerutu Dinda yang yakin kalau Ayu saat ini mandiin anak dulu baru balas chat Dinda.
Dinda berdzikir dalam hatinya, agar apa yang tadi ia sangka-sangka, tidak sampai terjadi. Mau bagaimana Ariel, mau bagaimanapun kondisi hubungan mereka.
Dinda tetap cinta, Dinda tetap sayang. Hanya saja mereka saat ini memang sibuk mengurusi diri sendiri, tidak saling menghubungi dan tidak lagi saling mencari.
Dan Dinda yakin, sejauh apapun Ariel pergi pasti Ariel tetap kembali ke Dinda. Karena memang selalu begitu kenyataannya.
Setelah lama rebahan... Tanpa Dinda sadari, waktu terus berjalan. Adzan sudah berkumandang dan barulah Dinda tersadar kalau ia belum juga mandi.
Dinda pun beranjak menyalakan lampu utama di kamarnya dan berjalan ke kamar mandi. Selama mandi, Dinda tetap kepikiran Ariel, ia sangat penasaran.
Padahal Ayu tidak memberi petunjuk kalau yang di maksud itu berkaitan dengan Ariel atau tidak. Tapi Dinda sudah yakin betul bahwa ini menyangkut Ariel.
Setelah mandi, Dinda menjalankan sholat maghribnya dan kembali buru-buru ngecek ponsel. Ternyata sudah ada balasan dari Ayu.
"Ariel mau lamaran"
__ADS_1
Deg deg deg deg deg deg...
Jantung Dinda benar-benar di pacu secepat mungkin seperti sedang berlari kencang. Tanpa aba-aba air mata dengan deras mengalir di pipi Dinda.
Karena Dinda yakin, itu pasti bukan dengan Dinda. Karena mereka memang tidak pernah lagi beberapa tahun terakhir ini membahas pernikahan.
Dinda
"Sama siapa?"
Hanya itu yang mampu jari Dinda ketikkan.
Dengan posisi duduk di kasur dan bersandar di sandaran kepala kasur, Dinda terdiam menangis. Hal yang tak pernah ia duga, tiba-tiba saja terjadi.
Otak yang tak di perintah untuk memutar memori tentang Ariel. Justru dengan lancangnya terputar di kepala Dinda.
"Riel, aku salah apa? Aku sayang kamu, Riel. Kenapa kamu tega" begitu celoteh Dinda dalam tangisnya. Lalu Dinda beranjak sebentar dari posisinya demi bisa mematikan semua lampu yang menyala di kamarnya.
Dinda hanya ingin, ketika siapapun masuk ke kamarnya. Mereka tak mampu melihat wajah Dinda yang basah karena air mata.
Ting...
Ayu
"Gue gatau, Din. Tadi gue di kasih tau Aidil"
Karena tak mendapat jawaban yang sesuai keinginannya. Dinda pun buka akun Instagram Ariel demi mencari informasi.
Dan...
Semua DM sudah bersih, semua sudah Ariel hapus. Dinda pun mencari lewat postingan Ariel.
Adakah perempuan yang gencar ngelove atau rajin berkomentar di postingan Ariel.
Dan ya, hasilnya pun sama nihilnya.
Dinda yang seketika menjadi seorang stalker handal pun berusaha kuat mencari kontak mana yang kira-kira mau untuk memberi informasi padanya di antara semua teman-teman dekat Ariel itu.
__ADS_1
Hingga akhirnya, pilihan Dinda jatuh kepada salah satu pacarnya teman Ariel. Namanya Nara.
Dinda tiap kali nonton Ariel main basket, sering duduk dekat Nara. Meski tidak begitu akrab, tapi ia yakin Nara pasti bisa mengerti dengan keadaan Dinda.