(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Dinda Hamil?


__ADS_3

Terimakasih banget buat yang support dan terus kasih like, komen, dan bunganya ke Novel ini. Tanpa kalian pasti novel ini sudah aku telantarkan dari dulu🤗


...Happy reading⤵⤵⤵...


⤵


⤵


⤵


Senja telah tiba, Rama juga telah usai mengimami Feza pun segera bersiap untuk memakai tuxedonya. Sedangkan Feza ke kamar lain yang memang menjadi tempat khusus untuk dirinya berdandan. Karena Rama tidak suka orang asing masuk ke dalam kamarnya.


Rama mempersiapkan tampilannya sendiri tanpa bantuan siapapun. Saat dirinya sudah rapi dan wangi, ia pun menghampiri Feza di kamar sebelahnya.


Cklek


Rama melihat Feza sudah tampak cantik dan segar karena bantuan make up. Rama lalu mendekat ke Feza yang masih asyik dengan kegiatan mengetik pesan.


Rama pun berdiri di samping Feza untuk mengintip apa yang sedang di ketik oleh Feza. Ternyata istrinya tengah berkirim pesan dengan Dinda.


Disitu Dinda bertanya, "Za, gue kenapa ya akhir-akhir ini rasanya dada gue rasanya kencang banget. Kaya tanda-tanda mau haid. Tapi gak haid"


Feza membalas


Hamil itu. Coba lo cek ke dokter kandungan atau lo pakek testpack aja dulu.


Dinda


Gue udah beli testpack dan udah gue tes, tapi gak berani liat hasilnya. Gue takut kecewa😔


Feza


Nanti di bawa testpacknya, biar gue yang liat hasilnya.


Dinda


Oke😊


"Lho?" kaget Feza baru menyadari ada suaminya disamping.

__ADS_1


"Makanya, jangan keasikan main hp" tegur Rama sambil ikut berkaca membetulkan dasi pitanya.


"Ma, ciri-ciri orang hamil tu gimana?" tanya Feza karena Rama juga pasti sudah tau ini pertanyaan titipan dari siapa.


"PD (payud*ara) terasa kencang, mual, muntah, ngidam, keluar flek seperti haid, kulit terlihat jadi lebih kusam atau sebaliknya karena perubahan hormon, dan masih banyak lagi. Tiap orang cirinya beda-beda. Malah ada juga yang gak ngerasa apa-apa dari yang aku sebut tadi" ucap Rama yang sudah ikut duduk disamping Feza tanpa terganggu dengan kegiatan penata rambut Feza.


"Si Dinda kayanya lagi hamil deh" ujar Feza dengan tersenyum.


"Baguslah. Gak lama lagi kita nyusul" kata Rama dengan lempeng membuat Feza tidak mengerti apakah ini bercanda atau serius.


"Muka kamu kenapa gitu? Gak mau hamil anak aku?" tanya Rama karena Feza malah tercenung mendengar ucapannya tadi.


"Gak gitu, aku mau kok" jawab Feza dengan menyunggingkan senyum manisnya.


Tak berapa lama, mama Rita datang menghampiri karena tamu di aula resepsi sudah berkumpul dan tidak sabar untuk menyambut kedatangan pasangan pengantin baru itu. Lalu setelah Feza selesai bersiap, Feza dan Rama pun di giring menuju aula resepsi mereka.


Feza dan Rama masuk kedalam aula di sambut oleh kerabat keluarga, teman sejawat, dan para kolega dari dua keluarga besar itu. Tenaga kesehatan dan anggota kepolisian adalah yang paling mendominasi di aula nan megah itu.


Lampu yang menyala tiba-tiba berubah menjadi sangat terang menyambut kedatangan pasangan itu. Terlihat Rama dan Feza berjalan perlahan masuk kedalam aula dengan bergandengan mesra dan disambut denting piano yang mengalunkan lagu Marry Your Doughter. Pasangan pengantin itu pun melempar senyum pada setiap tamu yang mereka lewati sepanjang berjalan menuju pelaminan.


Saat keduanya sampai dipelaminan, piano pun berhenti mengalunkan lagunya. Dan acara pun resmi di mulai saat sang pembawa acara mulai memberi kata sambutan pada seluruh tamu yang hadir.


Saat sudah berdiri hampir dua jam, Feza merasakan kepalanya terasa berat dan keringat dingin sebesar biji jagung juga terasa membasahi punggungnya. Namun, ia masih berusaha untuk bertahan. Hanya saja tidak tahu sampai kapan.


"Ma, kepala aku pusing banget" ujar Feza saat ada kesempatan untuk berbicara dengan Rama.


"Jangan pingsan jangan pingsan. Bentar lagi acaranya selesai kok" kata Rama menenangkan Feza dengan ditambah bumbu-bumbu kebohongan. Karena sebenarnya masih ada dua jam-an lagi sebelum acara berakhir.


Rama lalu meminta MC untuk menstop dulu kegiatan salam-salamannya biar Feza bisa duduk dan beristirahat sejenak. Lalu MC pun dengan cekatan mengajak para tamu untuk bernyanyi di dekat panggung dengan tembang kenangan yang pas dan sesuai dengan segelintir tamu disana.


"Put, tolong ambilin minum buat kak Feza ya. Makanannya juga sekalian" pinta Rama pada adiknya yang kebetulan sedang berada tak jauh dari pelaminan.


"Oke" sahut Puput lalu segera menuju ke meja tempat seluruh makanan tersaji.


Puput pun mengambil sepiring pasta dan segelas air lalu diletakkan di atas nampan. Setelah itu mengantarkannya ke pelaminan tempat dimana masnya kini sedang mengipasi sang istri dengan tangannya.


"Mas, ini" Puput menyerahkan nampan pada Rama.


"Za, makan dulu nih biar ada tenaga"

__ADS_1


Lalu Feza pun makan dengan diiringi paksaan dari Rama untuk menghabiskan makanan di piringnya. Perlahan tapi pasti, akhirnya makanan itu habis tak bersisa.


"Udah siap berdiri lagi kan?" tanya Rama saat piring kosong beserta gelasnya sudah diletakkan di belakang kursi pelaminannya.


"Belum Ma, aku kekenyangan" jawab Feza dengan manja. Masa baru selesai makan, belum lagi makanan itu sampai ke lambung sudah diminta berdiri lagi.


"Ya udah, lima menit ya" tawar Rama meminta persetujuan Feza. Dan hanya dijawab anggukan oleh Feza.


Setelah diberi waktu lima menit itu, kini tenaga Feza sudah kembali terisi berkat makanan tadi. Ia pun kembali bersalaman sampai mendekati pukul 23.00 malam karena tamu tak henti-henti menghampiri untuk mengucap selamat pada kedua mempelai.


Saat tamu sudah benar-benar tak ada lagi, hanya tersisa beberapa anggota keluarga Feza dan Rama di aula. Rama dan Feza baru bisa betul-betul istirahat.


Feza terduduk lemas di kursi pelaminan lalu membuka sepatu haknya dan meminta sang mama untuk mengambil sendal jepit yang sudah ia bawa dari rumah. Berbeda dengan Feza yang tengah duduk sendirian di pelaminan menunggu sang mama mengambilkan sendal jepit, Rama justru tengah mencari makanan karena dirinya sama sekali tak sempat mengisi perut sejak sore tadi.


Ia dan Feza hanya makan tadi siang. Beruntung lambungnya baik-baik saja dan tidak sampai mengeluarkan keringat dingin seperti Feza tadi.


Feza yang kini sudah memakai sendal jepit akhirnya melangkahkan kaki menuju meja tempat suaminya makan, lalu ikut makan beberapa suap. Baru kemudian ia menyadari sesuatu.


"Eh, tadi kita gak ada nyalamin Dinda sama Nanda kan?" tanya Feza.


"Berarti mereka gak dateng dong" sambungnya lagi.


Sedangkan Rama masih asik ngunyah tidak menghiraukan pertanyaan Feza.


Saat Feza masih menunggu Rama selesai ngunyah untuk mendengar respon suaminya, tiba-tiba ada tangan yang menyentuh pundaknya.


Feza pun memutar kepala untuk melihat si pemilik tangan itu.


"Din, kok lo pucat?" tanya Feza khawatir. "Duduk duduk, ya ampun kenapa bisa gini sih?" tanya Feza beruntun.


"Gue mual-mual waktu dijalan tadi. Sampe harus berhenti beberapa kali dan malah baru nyampe sekarang" Dinda pun tersenyum tipis karena rasa mual itu masih jelas terasa namun ia tahan-tahan agar tidak keluar.


"Terus Nanda mana?" tanya Rama.


"Ke toilet. Gue sempet muntah ke jasnya dia. Kasian banget dia malam ini" ucap Dinda.


...***...


Tbc...

__ADS_1


kalo banyak yang komen dan like💋


__ADS_2