
Silahkan tap jempol sebelum lupa๐๐๐
***
Kejadian saat baru sampai di Desa M****u
Pukul 3 sore, 2 mobil jenis SUV warna hitam yang dikendarai oleh Zapata dan Nanda baru saja sampai dan parkir tepat di depan halaman rumah yang sebelumnya sudah Zapata sewa pada seorang mantan pegawai di perusahaannya. Rumah itu sudah kosong sejak 1 tahun lalu. Namun karena sang pemilik masih peduli dengan rumah tersebut sehingga kedatangan Nanda dan yang lain tinggal menempatinya saja tanpa harus membersihkannya terlebih dahulu.
Dirumah itu terdapat 3 kamar. Kamar depan di pakai oleh Zapata dan Bintang atau Bibin. Kamar paling belakang yang berhadapan langsung dengan kamar mandi adalah kamar Rama dan Nanda. Sedangkan kamar tengah, mereka jadikan tempat untuk menyimpan segala barang yang mereka bawa termasuk kamera dan drone.
Mengapa Rama dan Nanda malah menghuni kamar paling belakang? Tujuannya agar kalau ada yang berniat mengganggu mereka, dari pintu belakang bisa langsung terdeteksi oleh Rama dan Nanda. Sedangkan pintu depan Zapata dan Bibin yang menjaga.
Setelah menyusun semua perbekalan mereka dirumah itu, Nanda pun memutuskan untuk mandi lebih dulu. Lalu setelah semua juga sudah bersih-bersih mereka pun langsung bergegas mencari lokasi yang dijadikan tambang batu bara.
Tak lupa membawa mobil mainan, kamera, dan drone untuk dipakai memata-matai. Sepanjang mereka berjalan dan berpapasan dengan para warga, mereka berusaha untuk tidak terlalu mencuri perhatian karena hal itu bisa saja membuat warga mencurigai mereka.
Setelah mereka berada tak jauh dari lokasi, Zapata meminta Bibin untuk menggunakan dronenya. Guna memeriksa berapa jumlah satpam atau penjaga di depan gerbang pertambangan tersebut.
"Bargez, cepetan terbangin dronenya. Kita musti cek dulu satpam yang jaga ada berapa dan dimana aja akses masuk buat kita bisa kedalam tempat itu" ujar Zapata menginstruksikan.
Bibin pun mendengus dan segera mengikuti perintah Zapata. Ia pun meminta tolong pada Rama dan Nanda untuk menghalau beberapa ranting pohon agar drone miliknya itu bisa terbang.
Sedikit informasi, Bibin ini merupakan teman SMA Zapata. Mereka 3 tahun selalu berada dikelas yang sama meski sekolah mereka punya sistem penentuan kelas acak setiap kenaikan kelas dengan tujuan agar setiap murid terlatih beradaptasi. Hal itulah membuat Bibin dan Zapata menjadi akrab. Dan juga, ukuran tubuh Bibin yang hanya setinggi lutut Zapata membuat persahabatan mereka jadi saling menguntungkan. Zapata selalu mencontek pada Bibin, sedangkan Bibin yang ditolong beasiswa untuk bisa masuk ke sekolah itu selalu mendapat perlindungan dan traktiran dari Zapata.
Walau disekolah banyak yang mengolok-olok tubuhnya yang mini itu, tapi ia selalu dibela oleh Zapata sehingga teman-teman yang lain menjadi takut dan berhenti mengolok-olok dirinya. Sampai selesai kuliah pun, Zapata selalu menghargainya.
"Namalu Bargez?" tanya Rama saat drone sudah terbang tinggi.
__ADS_1
"Huft, bukan. Tapi dia itu memang kalo nyebut nama orang suka sembarangan. Tunggu aja nanti akan ada panggilan-panggilan aneh lainnya" sahut Bibin sambil mengoperasikan remot kontrol.
Dilayar monitor ipad milik Zapata, terlihat ada 4 orang penjaga di bagian depan gerbang. Dan gerbang itu sendiri, memiliki tinggi sekitar 5 meteran yang mana bagian dindingnya terbuat dari susunan seng.
Bangunan tersebut berbentuk persegi panjang. Dengan akses masuk bisa lewat depan maupun belakang. Hanya saja, drone mereka sama sekali tidak bisa masuk karena pintu gerbang tertutup dan tidak memiliki celah lain untuk masuk kesana.
"Udah, tarik lagi drone lu" titah Zapata.
Bibin pun memutar balik dronenya agar kembali. Namun, tiba-tiba saja di layar monitor menangkap sebuah mobil yang berhenti di depan gerbang.
"Stop stop stop, pantau dulu tuh mobil. Kiri, kiri, dikit lagi" Akhirnya terlihat jelas plat nomor di mobil tersebut. Zapata kenal dengan mobil itu dan juga pemiliknya.
"Ini mobil si Sapurendeu itu. Kita harus teliti lagi berapa minggu sekali dia kesini. Karena nih orang setau gue sibuk banget dan berapa lama dia bakal ada ditempat ini" ujar Zapata.
Sedangkan Rama dan Nanda tidak tahu siapa itu si Sapurendeu. Karena wajah Rama dan Nanda tampak seperti orang kebingungan, akhirnya Bibin yang mewakili mereka untuk bertanya pada Zapata.
"Siapa Sapurendeu?" tanyanya.
Rama pun berdiri di samping Zapata yang memantau lewat monitor. Terlihat Romi baru saja masuk ke dalam gerbang yang bentuknya seperti gudang tapi dengan ukuran besar.
"Kalo malam, kita masih bisa mantau pakek drone gak?" tanya Nanda.
"Waduh, gak bisa. Karena otomatis gelap dan kalo kita pasang lampu pasti ketahuan" ujar Bibin.
"Selagi masih sore, kita pantau sebisanya aja. Jangan sampe, kita disini sia-sia" ujar Rama.
Setelah hari sudah mulai gelap dan drone juga perlu untuk di cas, mereka pun segera pulang. Sambil pulang, mereka juga mengamati situasi hutan yang mana saat nanti mereka harus memata-matai gudang mereka sudah tahu hutan mana yang lebat dan bisa melindungi diri dari kejaran orang-orang suruhan Romi si Sapurendeu.
__ADS_1
Mereka sampai dirumah, dan satu persatu mengambil wudhu. Mereka sholat maghrib berjama'ah diruang tengah. Lalu Rama dan Nanda mengusulkan untuk mencari makan, kemana lagi kalau bukan ke warung milik Bu Heni.
Menggunakan mobil Zapata dan juga berbekal petunjuk jalan dari si pemilik rumah. Iya, Nanda sempat menanyakan alamat puskesmas pada si pemilik rumah tadi dengan begitu ia jadi tahu jalan menuju warung Bu Heni.
Sampai disana Bu Heni tersenyum ramah karena ternyata ia masih mengingat wajah Rama dan Nanda. Mereka pun membeli 4 bungkus nasi lengkap dengan lauk yang dibungkus terpisah beserta kerupuknya.
Warung Bu Heni saat itu ramai pengunjung. Terlihat banyak sekali sopir batu bara yang mengisi perut disana. Nanda pun saat sedang menunggu pesanannya siap sambil menggali informasi dari bapak-bapak itu.
"Sopir batubara ya pak?" tanya Nanda berbasa-basi.
"Iya, masnya juga?" tanya bapak tersebut.
"Oh bukan" jawab Nanda sampai disitu.
"Pantes, rapi banget soalnya hehe" jawabnya dengan terkekeh. Nanda pun ikut terkekeh pelan.
"Orang kota ya?" tanyanya.
"Iya, memangnya kenapa pak?" sahut Nanda.
"Soalnya dipertambangan juga gitu. Pekerja yang rapi-rapi itu pasti bosnya. Udah pasti orang kota juga" ujarnya. "Tapi mas ini bukan bos pertambangan ya? Soalnya saya gak pernah liat" sambung bapak itu.
"Bargez, ini udah. Ayo balik" Tiba-tiba saja Rama menghampiri Nanda.
"Permisi dulu ya pak, pesenan saya udah selesai" Nanda bergegas menuju mobil menyusul Rama yang sudah lebih dulu masuk kemobil. Mereka pun segera menuju rumah kontrakan.
Selama mereka tinggal disana, mereka berempat sepakat untuk tidak menyebut nama asli jika di luar rumah. Itu salah satu cara mereka juga agar keberadaan mereka tidak mudah diketahui musuh. Lebih tepatnya, ide ini mencetus keluar begitu saja saat mengetahui Zapata punya kebiasaan unik yakni memanggil nama orang dengan sembarangan. Diperkuat dengan paparan Nanda yang menyatakan bahwa hal ini akan membuat mereka berempat lebih aman.
__ADS_1
****
Terimakasih untuk yang sudah meluangkan waktunya dan memberikan dukungannya, kalian terbaikkkk๐๐๐