(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Siapa Biang Keroknya (?)


__ADS_3

Dinda dan Nanda berjalan keluar kantor sambil bergandengan. Mereka menuju ke mobil Nanda untuk berburu mencari si mamang sate yang Dinda mau.


Dinda memasangkan sabuk pengaman Nanda karena sedari tadi Nanda berusaha mengaitkan sabuk pengaman sambil lihat ke arah jalan. Hal inilah yang membuat Nanda punya ketergantungan sendiri terhadap perhatian Dinda, sosok Dinda, dan semua tentang Dinda.


"Wah, mulai tumbuh lagi ni" ujar Nanda yang berkaca di spion tengah sambil mengelus dagunya.


"Udahlah, biarin aja. Aku pengen lihat kamu jenggotan" ujar Dinda sambil mengelus dagu Nanda gemas.


"Kalo jenggotan jelek, Yank. Brewokan baru keren" sahut Nanda sambil mengelus-elus bagian yang biasa di tumbuhi brewok tapi tak brewokan.


"Jadi, mau?" tanya Dinda.


"Ngga bisa Yank. Aku kan tumbuh rambutnya cuma di bagian dagu aja. Sini-sininya ngga" tunjuknya pada bagian rahang.


"Tapi temen aku ada tuh pakek Wak Kadir, tumbuhnya malah mencar-mencar, ga barengan. Kan jadi ga rata" ujar Nanda bercerita.


Perjalanan yang harus mereka tempuh ke tempat mereka membeli sate memang agak jauh, dan di jam istirahat begini jalanan juga penuh. Namun karena hujan deras yang mengguyur, membuat para pengguna sepeda motor melipir ke pinggir trotoar untuk berteduh. Dinda dan Nanda akhirnya sedikit lega karena jalanan mulai lengang.


Dengan jarak pandang yang seadanya karena hujan benar-benar menutupi kaca mobil, Nanda dengan hati-hati melajukan mobilnya ke tempat tujuannya yang waktu itu ia bertemu si mamang sate. Sampai ditempat yang mereka waktu itu membeli sate yakni di tepi jalan, Nanda menghentikan laju mobilnya.


"Kita waktu itu turunnya disini kan Yank?" tanya Nanda mencoba mengingat posisi beberapa bangunan di sekitarnya yang waktu itu sempat ia lihat.


"Iya sayang, mamang itu kan jalan ke arah depan sana tapi kita berhentiin di sini" sahut Dinda.


"Berarti kita ke depan lagi, kita cari tempat mangkalnya. Kalo ga ada jangan marah ya" ucap Nanda setengah bercanda.


Sampai ke tikungan ujung jalan, mereka tak menemukan 1 pedagang satepun. Akhirnya dengan terpaksa Dinda menerima tawaran Nanda untuk makan makanan lain saja yang terdekat saat ini.


Dinda dan Nanda makan mie ayam di sebuah warung yang mereka temui. Di tengah hujan deras begini makan yang anget-anget memang paling enak. Dinda dan Nanda sangat menikmati makanan enak yang tersaji di hadapan mereka. Membuat Dinda tak lagi menginginkan sate yang diidam-idamkannya.

__ADS_1


"Jadi kamu tetep pengen satenya mamang?" tanya Nanda.


"Ngga, ini enak juga sayang" sahut Dinda lalu menyeruput mienya.


"Maksud aku bukan sekarang, tapi nanti malam" ujar Nanda tersenyum simpul. "Kita cari lagi mamangnya, kasihan pacar aku kalo kemauannya ga diturutin, bisa mood swing nanti"


"Ih kamu mah gitu, cuma perkara takut aku moodyan doang" gerutu Dinda sambil melotot pada Nanda.


"Hahaha, ngga ngga. Aku pengen bahagiain kamu. Kan kalo ngecewain kamu udah sering-"


"Iya" potong Dinda.


"Hahaha, di iyain lagi, aku kan jadi berasa kejam banget Yank" gemas Nanda dengan jawaban polos kekasihnya itu.


"Memang. Tapi kalo kamu beliin aku sate mamang itu, aku bakal seneeeeeng banget" kata Dinda sambil mengedipkan kedua bola matanya lucu.


"Iya, nanti malam kita jalan ya. Sekalian cari mamang sate" pungkas Nanda mengelus puncak kepala Dinda yang tengah asik menunduk menyantap mie ayam di mangkuknya.


Mereka pun selesai makan namun tak beranjak dari tempat duduknya. Menikmati hujan sambil duduk menatap pepohonan yang bergoyang tertiup angin adalah kesenangan tersendiri. Dinda dan Nanda merapatkan duduk mereka karena udara sangat dingin. Nanda tak membawa jaket hari ini, ia hanya memakai kaos Polo sedangkan Dinda memakai kemeja lengan panjang warna merah muda. Mereka duduk diam sambil memperhatikan sekitar, Nanda menggenggam erat jemari Dinda untuk mentransfer rasa hangat agar Dinda tak kedinginan.


"Balik gak ni?" tanya Nanda di telinga Dinda. Efek hujan deras membuat keduanya berbicara harus dengan volume kencang.


"Ayo, tapi bayar dulu" ucap Dinda mengingatkan.


"Oh iya, hampir aja lupa" Nanda pun berdiri menemui ibu si pemilik warung untuk membayar tagihan makan mereka. Setelah itu Nanda kembali menghampiri Dinda.


"Ayo" ajak Nanda.


Mereka pun menuju ke mobil dengan berlari seperti saat mereka turun tadi. Sampai di dalam mobil keadaan keduanya sudah basah kuyup. Nanda memperhatikan Dinda dengan seksama dari atas sampai ... Sampai pinggang. Ia menelan salivanya dengan kasar.

__ADS_1


"Yank..." gumam Nanda perlahan.


"Apa yank" sahut Dinda masih dengan kesibukannya merapikan rambut dan mengelap wajahnya dengan tisu.


"Baju kamu" kata Nanda dengan membuang muka.


"Astaga" pekik Dinda karena akibat menerjang hujan menuju mobil membuat kemejanya menjadi tembus pandang. Untung saja Nanda tak berbuat macam-macam padanya.


"Yank, biasanya ada kaos di mobil kamu" ujar Dinda memeriksa ke belakang sambil menutupi bagian depannya dengan tas kerja.


"Ada Yank, coba cari di bawah-bawah. Soalnya aku suka naro sembarangan" ujar Nanda masih tetap membuang muka.


"Ada-ada, bentar ya. Kamu jangan lihat dulu"


Dinda pun memakai kaos milik Nanda tanpa melepas kemejanya. "Udah Yank" ujarnya biar Nanda tak perlu membuang muka lagi.


"Aku antar kamu ke kantor atau pulang Yank?"


"Pulang aja Yank. Emangnya boleh aku ke kantor pakek kemeja tembus pandang?" tanya Dinda sambil mematikan AC (Air Conditioner) mobil.


"Ya ga bolehlah" sahut Nanda dengan ekspresi kesalnya.


"Sayang, tapi kita belom sholat lho. Nanti ajalah ya, kita sholat di rumah aku" ucap Dinda yang langsung di angguki Nanda.


Mereka pun sudah sama-sama menggigil kedinginan karena memakai baju yang basah. Sampai di rumah Dinda, Nanda tak ikut turun karena bagaimana mau sholat kalo bajunya basah, dan juga ia tak mau kalau harus memakai baju Dinda atau papanya. Akhirnya Nanda pun pamit pulang.


Mereka sholat di rumah masing-masing. Dinda juga sudah mengabari kantornya bahwa ia pulang cepat hari ini.


Dinda yang kini tengah bersantai dirumah sama sekali tak mengetahui bahwa saat ini juga, di kantor ia sedang jadi perbincangan hangat. Si laki-laki yang menunjukkan ruangan Dinda pada Nanda itu bercerita pada teman-temannya bahwa tadi ada polisi yang mencari Dinda. Di duga, Dinda terlibat kasus sehingga di jemput paksa oleh polisi. Dugaan bahwa Dinda terlibat masalah semakin diperkuat dengan ketiadaan Dinda di kantor setelah di cari polisi tadi.

__ADS_1


Sedangkan Sigit, Vinike, dan Sari hanya tersenyum-senyum saja mendengar gosip itu, karena memang hanya mereka yang tahu kalau pacar Dinda seorang polisi. Dan mereka yakin jika polisi yang mencari Dinda adalah kekasihnya.


Ditempat berbeda, Nanda yang kini tengah menderita bersin parah sedang menyeduh teh hangat yang di sediakan Bibi untuknya. Sejak kepulangannya yang basah kuyup itu, ia mendadak bersin-bersin sampai sang Bibi mengundurkan kepulangannya sore itu karena Nanda demam dan Sherly yang belum pulang dari kegiatan ekstrakurikulernya.


__ADS_2