
Jangan lupa like yaa...
***
Jam 9 lewat 4 menit, Nanda sampai kerumah. Dinda menyambutnya dan juga menawarinya makan malam, namun Nanda menolak dan langsung menuju kamar untuk bersih-bersih.
Dinda menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan suaminya. Nanda tampak sangat kelelahan saat baru sampai kerumah.
Dinda berpikir untuk membuatkan Nanda kopi dan saat Nanda selesai mandi akan ia ajak berbicara. Tentu saja Dinda ingin berbagi segalanya dengan sang suami. Termasuk berbagi beban. Itu salah satu janji mereka saat menyiapkan pernikahan dulu. Selalu bersama apapun yang terjadi. Baik itu suka ataupun duka, harus dihadapi bersama.
"Yank, ini kopinya" Dinda menyuguhkan segelas kopi tanpa Nanda minta. Yang sebenarnya ini adalah pancingan Dinda agar Nanda mau terbuka padanya.
"Makasih sayang" Nanda menyeduh kopi itu pelan-pelan. Dinda memperhatikannya lamat-lamat.
Sampai Nanda merasakan tatapan istrinya itu. Ia pun menaruh kopi ke meja, lalu menarik Dinda kedalam pelukannya.
Dinda mengaduh pelan karena perutnya yang besar bertabrakan dengan pinggang Nanda. Lalu sepersekian detik ia sudah terduduk tepat di pangkuan suaminya.
"Kamu tau aja kalo aku lagi banyak pikiran" ucap Nanda dengan mata sayu tapi berusaha tetap terlihat santai dihadapan istrinya.
"Menurut ngana? Udah sekian lama bobo bareng masa aku masih ga ngerti sama tindak-tanduk kamu. Intinya kalo urat dikening ini nampak keluar-keluar, itu artinya suami aku lagi ada masalah" ujar Dinda sambil memainkan telunjuknya di kening Nanda.
"Yank, aku lagi ada yang di urus. Kamu dirumah kan ada bapak sama ibu, jadi aku bisa tenang kalo harus pulang telat" kata Nanda berat.
"Lembur lagi?" tanya Dinda dengan nada kecewa.
Memang sampai detik ini Nanda belum menceritakan yang sebenarnya terjadi pada Yono. Ia tidak ingin kehamilan istrinya terganggu. Apalagi Dinda adalah tipe orang yang tidak bisa tidur kalau ada hal yang mengganggu pikirannya.
"Kan bulan depan ada HUT Bhayangkari, kita mau ada persiapan buat perayaannya. Jadi, tadi itu kita kumpul buat cari ide mau bikin acara lomba apa aja" kata Nanda berbohong.
"Huft, perasaan sebelum-sebelumnya gak gini" protes Dinda.
__ADS_1
"Gini juga , tapi kan waktu itu aku cuma staf biasa. Sekarang udah gak biasa, tapi luar biasa" candanya sambil meniup-niup bola mata Dinda sampai Dinda mengerjap-ngerjapkan matanya yang membuat Nanda fokus pada pergerakan bulu mata lentik sempurna milik istrinya.
Agar fokus Dinda terpecah dan tidak lagi menanyai seputar alasan dirinya lembur.
Karena jauh dilubuk hati, sebenarnya Nanda tak ingin membohongi.
"Jangan tiup-tiup ih" Dinda berusaha turun dari pangkuan sang suami.
"Mau kemana?" tanya Nanda menahan istrinya agar tidak pergi.
"Aku berat, kamu gak akan kuat" tutur Dinda yang tidak berhasil turun dari pangkuan Nanda.
Nanda tertawa, memang benar sejak Dinda hamil tubuhnya jadi semakin berat. Namun Nanda sama sekali tidak masalah. Buktinya ia tetap suka mendudukkan boko*ng Dinda di atas pahanya.
Nanda mengusap perut Dinda yang kini terasa semakin kencang dan semakin sering ditendang oleh calon anak mereka. Dirinya tidak sabar ingin segera bertemu dengan bayi mungil yang jenis kela*minnya masih mereka rahasiakan dari siapapun itu. Bujukan mama dan Sherly pun tidak mampu menggoyahkan mulut mereka untuk teguh terkatup kala ditanya perihal jenis kel*aminnya.
***
Saat itu setelah Nanda dan Rama berbincang di apartemen, keduanya mulai bergerak menemui publik figur sesuai dengan yang jangkauannya paling dekat. Pilihan jatuh kepada Zapata. Seorang mantan anggota DPR RI dengan usia yang tak terpaut jauh dari Rama dan Nanda. Alamat rumahnya masih satu lokasi dengan kediaman orangtua Feza.
Rama pun dengan mudah menemukan rumahnya karena semenjak menikah dengan Feza ia jadi hapal dengan isi perkomplekan ini. Kedatangan keduanya di sambut oleh seorang satpam berkumis tebal. Nanda dan Rama pun menurunkan kaca dan menanyakan keberadaan Zapata di rumah.
Sang sopir pun berbicara lewat HT untuk menyampaikan kepada rekannya yang berjaga di dalam. Lalu sang satpam yang sudah mengantongi izin dari bosnya langsung membukakan gerbang rumah dan mempersilahkan mobil Nanda untuk masuk.
Dari gerbang ke pintu utama lumayan jauh, membuat Nanda dan Rama berdecak kagum dengan luas halaman rumah yang bisa di pakai lagi untuk membangun gedung. Saat sampai di parkiran depan rumah itu, Rama dan Nanda langsung turun. Keduanya langsung di sambut oleh satpam lagi tapi dengan perawakan yang lebih necis.
"Silahkan masuk" titahnya tegas.
Nanda yang memang datang tanpa menggunakan seragam kerjanya hanya mengikuti saja instruksi satpam tersebut. Maski dalam hatinya berkata "Sok banget ni satpam. Jangan-jangan dulu juga latihan pembekalan sama gue".
Mereka pun di antarkan menuju ruang tamu yang sangat besar lengkap dengan 3 pasang guci super besar yang tersebar di setiap sudut ruangan. Lagi-lagi mereka harus mematuhi protokol yang sudah pemilik rumah itu buat.
__ADS_1
"Kan Zapata ini bukan pejabat lagi ya, kok masih kebawa-bawa sampe sekarang" ucap Rama dengan berbisik.
"Halah udah, jangan komen dulu. Nanti aja kita bahas" sahut Nanda.
Tak berapa lama tercium wangi semerbak memenuhi ruangan. Dari arah ruang tengah terdengar langkah kaki dengan pijakan sangat tegas di lantai.
Zapata muncul dengan tampilan rapi namun santai. Ia memang baru selesai mandi saat menerima laporan ada tamu yang datang.
"Selamat siang" sapanya dengan senyum tipis dan tangan yang terjulur kedepan. Rama dan Nanda bergantian bersalaman dengannya.
"To the point saja, saya merasa tidak mengenal kalian tapi apa alasan kalian untuk menemui saya kemari?" tanya Zapata lalu menyilangkan kakinya penuh wibawa.
Rama dan Nanda bergantian memperkenalkan diri. Sekaligus menyampaikan alasannya datang menemui Zapata.
Setelah mendengar penjelasan Nanda, Zapata hanya tersenyum miring dan berkata "Kalian tahu Romi Maha Jayardi?" tanya Zapata.
Nanda menggeleng, tapi Rama mengangguk.
"Dia kunci utama yang harus dibasmi terlebih dahulu. Karena sebenarnya dari sekian oknum yang kamu sebut, mereka itu hanya cukongnya saja. Kita ngobrolnya santai aja ya, lagian kalau dilihat-lihat umur kita juga gak jauh beda.
Jadi, gue sebenarnya punya impian untuk merombak sistem hukum di negara kita ini supaya lebih tegas. Waktu itu gue kenal Romi secara gak sengaja karena gue pernah deket sama cewek yang ternyata matre dan pecinta om-om. Gue mergokin tuh cewek sama Romi di hotel sahabat gue. Hingga akhirnya gue taulah nih siapa itu Romi. Dan dengan rahasianya itu, gue ancamlah bakal bongkar kelakuan nakalnya ke media kalo dia gak mau masukin gue ke partainya.
Dan ternyata gampang banget buat dia masukin nama gue menjadi salah satu kandidat calon wakil rakyat. Gue gak peduli cara gue nyalon itu legal atau tidak, tapi yang pasti niat gue baik" ungkap Zapata dengan leluasa. Tapi kemudian ia membuang nafas kasar.
"Ini bagian buruknya. Sama seperti pejabat jujur pada umumnya, yang baik akan dibuat mati langkah karena memang di sekeliling kami yang tidak baik jumlahnya jauh lebih banyak dan pintar-pintar. Antara pintar atau picik, entahlah.
Jadi, kalian tetap mau berantas semuanya?" tanya Zapata memastikan tekad dua orang dihadapannya.
Rama dan Nanda sejenak saling tatap, lalu keduanya mengangguk mantap. Melihat tekad dan nyali besar dua pemuda itu, Zapata pun mengajak keduanya masuk kedalam ruang kerjanya yang di penuhi dengan kamera pengintai dan berlapis-lapis pintu.
Tbc...
__ADS_1