(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
28. Pulang Kondangan


__ADS_3

"Siap, apapun akan aku turuti asal tuan puteri bahagia" jawab Ariel mantap sambil membayangkan momen itu dalam kepalanya.


¤¤¤¤


Setelah sampai di kediaman Dinda, Ariel hanya turun sebentar dan kemudian balik kerumahnya. Dinda yang heran karena biasanya jika orang tuanya sedang tak di rumah Ariel akan betah sekali duduk di rumah Dinda meski tidak melakukan apa-apa.


Bahkan duduk diam pun tak masalah. Tapi entahlah, firasat Dinda seperti mendadak tak enak.


Tapi karena ia lelah hari ini, di tambah cuaca yang sangat panas membuatnya menampik perasaan yang mengganggu di dalam hatinya. Toh Ariel saat ini juga pasti sedang lelah karena menemaninya kondangan.


Di saat malam harinya, setelah bertelepon ria dengan sang mama. Dinda baru menyadari jika malam ini Ariel sama sekali tak menghubunginya.


Kemana laki-laki itu, pikir Dinda.


Biasanya habis sholat maghrib tanpa aba-aba sudah nongol depan pintu rumah Dinda untuk menawarkan ajakan makan diluar atau bagaimana. Sebab Ariel memang terbiasa ekstra perhatian jika kedua orang tua Dinda sedang meninggalkan putrinya sendirian.


Ariel merasa di beri amanah oleh papa Dinda padahal orang tua Dinda itu sama sekali tak pernah menitipkan Dinda padanya secara langsung. Namun baiknya, justru Ariel secara sadar mengerti jika ia yang pantas untuk melindungi Dinda.


Dinda yang merasa di abaikan pun menjadi seketika bad mood. Terlebih saat ini ia sedang PMS. Makin kacau kalau Ariel tak segera peka.


Dinda malam itu makan sendirian, di depan tv dengan keadaan tv yang menyala. Meski begitu, sama sekali tak membuatnya tenang karena ia masih tetap merasa aneh akan sikap Ariel. Setelah makan nanti, Dinda akan menghubungi Ariel.


Menanyakan apakah laki-laki itu sedang keluar untuk berolahraga atau sekedar nongkrong biasa di coffee shop. Atau ada hal lain yang di kerjakan Ariel malam itu.


Pov Dinda


Sambil menggerutu, aku menelepon Ariel sampai berkali-kali. Telepon itu tak di angkat seperti di biarkan berdering begitu saja.


Aku ingat betul, kejadian-kejadian serupa seperti ini ketika Ariel sedang mendekati gadis lain. Ya, selama kami berpacaran Ariel sudah banyak mendekati gadis tanpa aku tahu. Sehingga temannyalah yang memberitahukan itu padaku. Dan bodohnya, aku selalu memaafkan. Karena aku berfikir, dia pasti akan selalu kembali padaku. Karena memang iya, setiap kali aku membebaskan ia untuk pergi dari hidupku lagi-lagi ia datang kembali. Mengemis maaf dariku. Ia bahkan menangis di pelukanku. Seakan betul-betul menyesali perbuatannya. Dengan semua rayuan mautnya, aku luluh. Memaafkan dengan begitu mudahnya. Padahal kepala ini selalu mengingatkanku jika suatu hari juga pasti akan terulang lagi. Seolah tidak ada maaf yang benar-benar tulus dari yang Ariel lontarkan kepadaku.


Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku, seolah ia menangisi sesuatu yang sesuai dengan yang aku pikirkan saat ini. Padahal hati ini masih kekeuh mengatakan belum tentu.

__ADS_1


Ya Tuhan, sebegini menyakitkannya jika kepercayaan sudah mulai luntur tapi hati masih kuat untuk mencintai dan menahannya agar tetap di sisi.


Dulu aku pikir, aku wanita yang kuat. Tidak mudah menangis apalagi menangisi laki-laki.


Ternyata aku pun tak jauh berbeda dari teman-temanku yang sering galau karena cinta. Saat ini sebenarnya aku masih bisa sedikit tenang, karena belum tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Apakah iya, Ariel kembali brengsek?


Apakah iya, ada lagi perempuan yang bisa membuat ia melupakan dan mengabaikan aku ?


Dengan hati bimbang, aku melangkahkan kakiku ke pintu rumah. Aku akan menemui Ariel di rumahnya. Aku sudah siap jika harus menemukan kenyataan pahit nantinya.


Air mata, tenanglah dulu. Jangan kau menetes sia-sia. Kita masih harus mencari tahu dulu.


Hati, berusahalah tenang. Jangan lemah. Apapun nanti yang kita dapati. Kita harus kuat.


Otak, cegah air mata ini turun. Pikirkanlah hal yang indah-indah. Jangan mau di kalahkan oleh hati.


Apakah aku akan mengganggu waktu istirahat mereka ?


Setelah 5 menit mengumpulkan keberanian, tanganku mulai terangkat untuk menekan bel rumah yang berada di samping atas kepalaku.


Namun gerakan tanganku tiba-tiba berhenti saat ku dengar suara motor yang sangat ku hapal mendekat ke arahku.


Benar, itu Ariel.


Setelah ia memasuki pagar rumahnya dan turun dari motornya. Segera kuhampiri ia dan...


"Kamu nga..."


"Aku boleh pinjam hp kamu ?" ucapku tegas dan sempat memotong ucapannya. Aku merasa, jantungku berdebar cepat. Seperti akan memergoki sesuatu.

__ADS_1


Berusaha tenang pun pasti sudah tak ada gunanya, sebab Ariel sudah pasti tahu apa yang aku rasakan saat ini sebab dari mata dan wajah yang sembab dan terlihat kacau sudah menggambarkan betapa kini aku menaruh curiga kepadanya.


Setelah hp itu berada di tanganku, segera kubuka aplikasi whatsapp yang jarang sekali aku buka. Aku sungguh menghormati privasinya. Dan tak ingin menjadi pasangan yang posesif untuknya.


Tapi karena aku sudah sering di bodohi, kinilah saatnya aku menunjukkan sisi singa-ku yang selama ini tertidur dalam darahku. Ariel-lah yang membangunkannya.


Kulihat chat dengan nama pengirimnya seorang wanita, lalu kubuka pesan itu. Berderai air mataku yang sejak tadi ku coba untuk berhenti keluar.


Lagi, lagi, dan lagi. Aku di kecewakan oleh laki-laki yang selalu membuat aku tersenyum, tertawa, bahagia.


Kaki ini seperti tak lagi bertenaga untuk melangkah menjauh dari sana. Hatiku sudah hancur, mengingat siang tadi kita sempat membahas momen indah tentang sebuah pernikahan yang akan kita bina. Semua sirna, aku kecewa.


Dengan tampang sok baiknya, laki-laki di hadapanku ini bisa berubah dalam sekejap menjadi monster bagiku. Ia pandai membuat duniaku seperti hancur berkeping-keping.


Hp yang sejak tadi kupegang, kini berada di dadaku. Rasanya ingin kuhancurkan benda pipih itu. Dan...


Prakkkk


Aku menghempaskan hp itu di depan muka Ariel dan layarnya langsung pecah seketika karena berbenturan dengan konblok. Ariel diam, mungkin terkejut melihat amarahku malam ini.


"Aku benci sama kamu. Aku salah apa selama ini sama kamu? Kenapa kamu sakitin aku terus? Belum puas Kamu menghadirkan Mutia, Puja, Dea itu? Aku sakit Ariel. Aku bebasin kamu pergi dari hidup aku tapi kenapa kamu selalu datang lagi, ganggu aku lagi? Siapa di antara kita yang sebenarnya mencintai ? Kamu bilang cinta sama aku tapi ini cara kamu? Laki-laki bangsat!" pekikku yang tak lagi peduli dengan lingkungan sekitar dan suara yang bergetar. Yang penting semua rasa kesalku bisa kuutarakan.


Aku hanya ingin lega, memakinya saja belum 100 persen membuatku lega. Aku harus menyendiri dan menangis sejadi-jadinya sampai aku tenang.


...¤...


...¤¤...


...¤¤¤...


Tbc, semoga kalian suka dengan novel ini. Jangan lupa like dan komen, karena itu bentuk penyemangat buat aku yang mau up lebih sering dari biasanya.

__ADS_1


__ADS_2