(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Ngedumel Part 2


__ADS_3

30 menit kemudian


Nanda yang sudah selesai dengan kewajibannya buru-buru meraih ponselnya untuk menghubungi Dinda. Dalam hatinya masih banyak uneg-uneg yang ingin disampaikan.


"Assalamu'alaikum" sapa Dinda di seberang telepon.


"Wa'alaikumsalam. Berapa lama kamu pacaran sama dia?" tanya Nanda langsung menyambung percakapan yang terputus di panggilan pertama tadi.


"5 tahun lebih" jawab Dinda singkat.


"Busyet, lama banget" gumam Nanda pelan tapi masih kedengaran oleh Dinda.


"Terus selama itu pacarannya ngapain aja?" tanya Nanda sambil mengeratkan rahangnya.


"Ya kaya orang-orang lah, kayak gimana lagi emang?" Dinda menjawab dengan bahasa yang ia rasa Nanda akan mengerti.


"Jelasin yang jelas kaya gimana?" Nanda mulai emosi.


"Kamu kenapa sih marah-marah? Tadi sore masih baik-baik aja" ucap Dinda yang malas mendapatkan pertanyaan perihal Ariel, karena ia sendiri sudah tak ada sangkut pautnya lagi dengan Ariel.


"Aku cemburu, mantan kamu tinggalnya depan rumah kamu 'kan? Terus aku salamin lagi" Nanda menarik nafas dalam, kemudian... "Dari orang kepercayaan aku, dapet info kalo kamu di tinggal nikah pas lagi sayang-sayangnya. Betul itu?"


Siapa lagi nih orang kepercayaan dia.


"Betul" jawab Dinda sekilas.


"Jawabnya yang panjang, hargain dong ucapan aku yang panjang-panjang" Nanda jadi merasa tambah kesal saat Dinda merespon pertanyaannya singkat, padat, ga jelas menurutnya.


"Iya, dengerin ya sayangku, buka telinga kamu lebar-lebar. Kalo memang kamu mau tau banget. Akan aku ceritain" Dinda mulai mengingat ke masa ia pacaran dengan Ariel lalu bagaimana ia ditinggal Ariel.

__ADS_1


"Jadi, aku sama dia pacaran 5 setengah tahun. Kita pacarannya gak ngapa-ngapain. Peluk doang sih beberapa kali, ciuman gak pernah. Kita pacaran sering banget putus nyambung, soalnya dia sering banget genit sama cewe-cewe. Endingnya, aku chatingan sama dia balesnya singkat-singkat tapi dianya online terus padahal dia sendiri yang aku tahu jarang pegang HP, berawal dari kecurigaan itulah akhirnya aku blokir dia. Kirain bakal kayak yang udah-udah, tetep balikan. Eh ternyata aku dapet kabar dia mau lamaran. Ya udah, aku ga bisa dan ga berani berbuat apa-apa selain nangis kejer terus aku kenal kamu. Sayang, dengerin ya ini poin pentingnya"


"Iya" jawab Nanda patuh.


"Awalnya saat kita kenal terus deket, aku sempat ngira kalo kamu cuma pelarian aku doang. Tapi lama-kelamaan aku sadar sendiri kalo sebenarnya dugaan aku salah. Mungkin memang move on aku terdengar sangat cepat karena bantuan kehadiran kamu tapi aku tetap jaga-jaga, takutnya masih ada mantan di dalam hati makanya dulu aku sempet jaga jarak sama kamu, aku mau menyendiri buat yakinin hati aku sendiri. Beneran cinta sama kamu atau hanya sekedar butuh buat ngilangin bayang-bayang mantan?"


"Tuh, terus jawabannya apa?" Nanda masih bertanya padahal dia sendiri juga sudah tahu jawabannya apa. Memang dasarnya dia ingin di angkat-angkat sama Dinda.


"Masa kesimpulannya kamu masih ga tau?" Dinda meng-kesal karena Nanda masih meragukannya.


"Kalo kamu tau ya kasih tau" elak Nanda.


"Kesimpulannya adalah aku memang cintaaaaa banget sama kamu. Waktu kamu ajak aku nikah, aku bahagiaaaa banget. Waktu mantan DM-in aku, aku bahagiaaa banget. Bahagia karena ternyata dia bukan lelaki yang baik. Dan Tuhan masih nyelamatin aku buat ga nikah sama dia meski lewat luka" ucap Dinda mengakhiri "pidato"nya malam ini.


"Jadi dia DM kamu?" tanya Nanda yang tadinya sempat senang sekali, eh mendadak dingin lagi.


"Iya, mau aku ceritain?" tanya Dinda yang memang sejak tadi di perintah untuk menjawab panjang-panjang.


"Hahahaha, ini baru calon suami aku. Gak ada lawan" puji Dinda karena tadinya ia sempat syok mengapa Nanda jadi bahas-bahas mantan, padahal Nanda paling anti dengan pembahasan itu sebelumnya.


"Hampir aja aku kerumah kamu buat siram bensin" canda Nanda yang membuat Dinda tertawa ngakak.


"Kenapa ga jadi?" tanya Dinda.


"Bensin mahal"


Dinda dan Nanda pun kini tak lagi memperdebatkan soal mantan. Dan juga, Dinda tak punya kesempatan untuk memperdebatkan mantan Nanda karena Nanda tak memiliki mantan. Tapi kalo mantan gebetannya sangat banyak, bahkan jika di hitung rata-rata gebetannya 8 orang pertahun. Dan ia melihat Dinda di taman karena saat itu sedang tak punya gebetan makanya memberanikan diri untuk mengahampiri.


Setelah malam itu, Dinda dan Nanda benar-benar tak pernah bertemu karena mereka sedang di pingit. Keduanya juga jarang berhubungan via telepon. Namun sesekali saja mereka bertukar pesan, itu pun untuk menanyakan perihal urusan persiapan pernikahan saja.

__ADS_1


Jum'at


Kini, setelah 1 minggu berlalu Dinda dan Nanda akan melangsungkan akad pukul 2 siang nanti. Aktifitas Nanda pagi hari ini mengikuti instruksi dari Sherly. Ia di minta maskeran lalu menggunakan berbagai macam skincare yang katanya akan mengangkat kulit mati dan mencerahkan kulit.


Nanda pun dengan semangat '45 mau-mau saja wajahnya di otak-atik oleh Sherly yang di gadang-gadang sebagai orang kepercayaannya. Nanda yang selama ini tidak mengenal skincare kini mendadak jadi pengguna skincare milik Sherly.


Pukul 10, wajah Nanda sudah di bilas berkali-kali akibat penggunaan skincare wajah yang tiap pemakaiannya wajib bilas. Ia berkaca lalu tersenyum. Karena apa yang di katakan Sherly itu benar. Wajahnya menjadi lebih putih, halus, dan enak di cubit-cubit.


Nanda yang tak sabar ingin memamerkan pesona terbarunya pada Dinda pun akhirnya sengaja mengambil foto dirinya lalu mengirimkannya pada Dinda.


Tak lama ponselnya pun bergetar.


Dinda


"Kak Dindanya lagi di urut bang, soalnya 3 hari terakhir badannya lemes terus semalam dia muntah. Ini Zara bang, yang sengaja diutus buat balas chat abang"


Membaca pesan tersebut membuat Nanda jadi khawatir. Takut Dinda kenapa-napa dan pernikahannya terpaksa di undur.


Buru-buru Nanda membalas pesan tersebut.


"Waduh, jadi pernikahan abang sama kak Dinda gimana?"


Terlihat balasan pesannya sedang di ketik, Nanda menunggu dengan jantung yang tidak santai.


Dinda


"Kata kak Dinda, woles ae bang, orang kak Dindanya cuma kecapean. Lupa minum vitamin sama demam panggung (dugaan sementara:D)"


.

__ADS_1


Nanda pun merasa lega, ternyata Dinda tak apa-apa. Ia kira Dinda menderita penyakit sehingga harus di bawa kerumah sakit.


Siang harinya semua kaum adam dirumah Dinda bergerak menuju Masjid untuk menunaikan sholat Jum'at. Sedangkan dikamar Dinda, ia sedang duduk bersama Zara dan yang lain sekedar bercerita perihal bagaimana rasanya mau jadi manten. Dan Dinda akan mulai di dandani sekitar 30 menit lagi.


__ADS_2