
Siang ini, pasangan pengantin baru itu akan pergi ke supermarket karena persediaan bahan makanan yang hampir habis. Sebagai pasangan dengan predikat masih anget-angetnya, selama Dinda masih siap-siap, Nanda yang lebih dulu selesai bersiap pun akhirnya memanaskan mobilnya lalu ia juga menyemprotkan pewangi botolan yang khusus untuk mobil. Ia ingin menyambut istrinya dengan totalitas.
Tak lama, Dinda pun keluar rumah dengan dress pendek selutut dan sendal sarung minimalis dikakinya. Nanda pun membukakan pintu mobil untuk istrinya itu.
"Rumah udah dikunci kan, Bun?" Nanda memanggil Dinda dengan sebutan Bunda. Dinda yang dalam posisi mau duduk, akhirnya terperangah dengan panggilan yang suaminya itu lontarkan.
"Bun? Maksudnya bunda?" tanya Dinda yang kini telah duduk nyaman di dalam mobil.
"Tuh, kamu tahu" ucap Nanda lalu menutup pintu mobil dan ia pun berputar lalu duduk di kursi samping Dinda.
"Pintu udah kamu kunci kan?" tanya Nanda lagi.
"Udah kok, ini" Dinda menunjukkan kunci rumah yang sudah ia simpan dalam dompetnya.
Mereka pun berlalu meninggalkan halaman rumah. Dinda beberapa kali mengarahkan kaca pada bagian lehernya. Ia takut hasil perbuatan Nanda pagi tadi masih kelihatan jelas padahal sudah ia coba tutupi dengan foundation.
"Udahlah biarin aja, kan udah punya suami juga" ucap Nanda enteng.
"Ck, banyak kok yang udah nikah lama dan masih romantis. Tapi gak di pamerin juga tuh bukti percintaan mereka" jawab Dinda. Karena sebenarnya ia hanya tidak mau kalau mata orang-orang yang ia temui akan fokus pada leher jenjangnya.
Setelah berdebat sedikit, akhirnya mereka pun sampai di parkiran supermarket. Dinda dan Nanda turun berbarengan lalu masuk dengan langkah yang beriringan. Nanda mengambilkan troli lalu menyusul Dinda yang sudah lebih dulu berjalan menuju rak bahan masakan, daging-dagingan, dan sayur-sayuran.
Selama Dinda memilih-milih, Nanda hanya diam dan mengamati istrinya dari belakang. Terkadang Nanda juga ikut menyentuh-nyentuh bahan masakan yang berada tak jauh darinya. Membolak-balik sayuran ditangannya, lalu melihat harganya, lalu di kembalikan ketempatnya dan melihat sayuran yang lain lagi. Begitu seterusnya.
"Yank, udah belom ? Eh Bunda" ralat Nanda saat menyadari salah panggil. Padahal Dinda juga gak minta di panggil bunda.
"Sabar, ini masih banyak yang belom" jawab Dinda tanpa melihat Nanda karena ia sendiri sedang membaca catatan belanjaan yang harus ia beli.
"Sayang kamu ada lihat kemiri gak? Biasanya disusun deket-deket sini?" tanya Dinda.
"Gak ada" jawab Nanda sambil memutar kepalanya melihat ka arah rak yang sempat ia lewati.
__ADS_1
"Ya udahlah, berarti tinggal buah-buahan lagi. Yok kesana" Dinda berjalan ke arah rak dan meja buah-buahan. Ia membeli buah-buahan yang suaminya suka.
Setelah selesai berkeliling, Nanda pun menuju kasir untuk membayar apa saja yang istrinya masukkan dalam troli. Sekian lama mengantri barulah Nanda menghampiri Dinda yang tengah asik menikmati es krim yang menjadi alasan meninggalkan suaminya sendirian mengantre di depan kasir.
"Enaknya istriku, aku udah di kira duda lho gara-gara dikira belanja sendirian" canda Nanda sambil duduk memperhatikan istrinya.
"Hahaha, gak percaya" ledek Dinda.
"Sayang, belanjaan kita mana?" tanya Dinda karena Nanda menghampirinya tanpa membawa tentengan satu pun.
"Udah di mobil sayang. Habis ini kita kemana lagi?" tanya Nanda sambil membersihkan noda es krim di sudut bibir istrinya.
"Pulang aja, soalnya aku belum cuci baju lho. Tadi pagi gak sempat" ujar Dinda tak enak hati karena ia takut Nanda akan kecewa padanya yang masih belum mampu menjadi istri siaga. Ditambah lagi, Bibi yang Nanda minta untuk tidak perlu datang kerumah selama 1 minggu ini dengan niat agar bisa bebas berdua-duaan bersama Dinda tanpa takut tertangkap basah oleh siapapun.
"Gak usah di cuci. Kita tunggu ada Bibi aja, kan pakaian aku juga masih banyak yang bisa di pake. Kamu cuci yang penting-pentingnya aja. Kaya pakaian kerja aku, ****** *****, bra kamu" ucap Nanda santai.
"Ish kamu" ucap Dinda yang tiba-tiba malu mendengar kalimat Nanda barusan.
"Sayang, maaf ya belum bisa jadi istri yang baik. Jujur aja aku masih ga tahu step by stepnya. Bangun tidur harusnya putar cucian, tinggalin terus buat sarapan biar multitasking. Dalam sekejap bisa ngerjain apa aja" sungut Dinda yang hanya sempat bikin sarapan, cuci piring, dan nyapu rumah.
"Gak selamanya aku harus bergantung sama Bibi, aku juga harus bisa ngerjain apapun. Aku istri kamu, harusnya aku yang lebih paham"
"Udahlah, gak papa. Namanya juga baru jadi istri. Orang lain juga pasti gitu. Learning by doing, gak ucuk-ucuk langsung hebat. Semangat yaa, jangan capek-capek tapi, nanti ga punya tenaga bertarung sama aku". Tetap ya, ujung-ujungnya m3sum. Berapa kali Dinda harus buang muka saat suaminya itu membahas hal-hal yang masih tabu di telinganya.
"Udah habis kan es krimnya? Ayo pulang" Nanda sudah berdiri, ia meraih tangan Dinda agar istrinya itu segera bangkit dari kursi.
Keduanya pun kini sudah sampai rumah. Dinda membuka kunci pintu rumah untuk suaminya yang kini masih berdiri di belakang mobil menurun kan semua belanjaan yang ia beli tadi.
"Sebanyak ini buat kebutuhan berapa lama Yank?" tanya Nanda yang kewalahan membawa kantong belanjaan yang pastinya berat karena buah. Ia lupa bertanya saat masih memilih-milih di supermarket.
"Paling seminggu" sambut Dinda singkat lalu menyusun semua belanjaannya di kulkas dan di lemari penyimpanan bumbu dapur.
__ADS_1
"Hah? Emang iya? Tapi ini banyak lho Yank?" Kaget Nanda yang masih syok.
"Selama ini emang Bibi belanja gak sebanyak ini?" tanya balik Dinda.
"Gak tau sih, aku gak pernah ikut bibi belanja" jawab Nanda sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Huh, ngapain syok kalo sendirinya gak tahu". Kesal Dinda dengan tingkah berlebihan suaminya itu.
-
Akhirnya usai sudah urusan merapikan barang belanjaan. Kini Dinda menggulung-gulung dan menjepit rambutnya karena ia akan kembali bergumul dengan segala kegiatan ibu rumah tangga. Walau sebenarnya ia tak biasa melakukannya.
Dinda berjalan menuju kamarnya dan kamar Sherly untuk berburu cucian. Setelah mendapatkan yang ia cari, ia pun segera mencuci pakaian sambil duduk di halaman belakang rumah biar gak kelupaan dan kalau putaran cuciannya sudah berhenti bisa segera ia putar kembali.
Nanda yang kehilangan istrinya mencari ke depan sampai teras belakang. Mendengar cucian yang berputar, ia tahu alasan istrinya duduk anteng disana.
"Eh, kamu ngapain kesini Yank? Aku lagi nungguin cucian" ucap Dinda saat suaminya ikut duduk disampingnya.
"Salut aku. Segitu kerasnya usaha kamu buat memenuhi semua kebutuhan aku. Sarapan ada, rumah rapi, baju juga di cuciin. Aku ga minta kamu ngelakuin semuanya Yank. Nanti kalo udah ada Bibi, kerjaan kamu cukup masak aja ya" Pinta Nanda dengan lembut agar istrinya tak membantah.
"Iya sayangku. Oh iya, seragam kamu ada yang perlu di cuci khusus gitu nggak? Misalnya harus di cuci pakek tangan?" tanya Dinda karena ia takut seragam suaminya rusak karena ia sembarang masukin ke mesin cuci.
"Seragam yang coklat cucinya kucek-kucek aja Yank. Terus periksa pinnya, nanti tangan kamu kena jarum. Kalo udah kering pasang lagi"
"Tapi aku lupa susunannya. Nanti salah pasang, gimana?"
"Kamu kira Bibi yang setua itu gak pikun? Aku tempel foto di dinding tempat setrika baju. Biar gak salah letak masangin pinnya"
●●●
Jangan lupa kasih vote, like, dan komen yaa...
__ADS_1
Terimakasih:)