(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Dinda Nanda Menuju Halal


__ADS_3

Seiring waktu berjalan, semua persiapan pernikahan antara Dinda dan Nanda sudah mereka persiapkan sampai 70 persen. Syarat pernikahan secara kepolisian juga sudah rampung mereka laksanakan, kini keduanya hanya perlu sedikit istirahat untuk mempersiapkan diri menyambut acara resepsi pernikahan yang akan di adakan dalam 1 minggu lagi. Mereka berdua memilih melangsungkan akad dan resepsi di kediaman Dinda. Untuk akad, ditentukan waktunya tepat sehabis sholat Jum'at, lalu resepsinya di laksanakan pada hari Senin. Dilakukan secara sederhana saja dan hanya mengundang teman dekat, kerabat, rekan kerja Nanda dan Dinda, karyawan kantor Papa Dinda serta rekan bisnis orang tua Dinda yang berdomisili di Jakarta saja. Resepsi ini sengaja di laksanakan pada siang hari dengan tujuan agar semua tamu, bisa menikmati makan siang bersama di acara resepsi Dinda dan Nanda.


Sherly juga tak lupa mengundang teman-temannya yang juga rata-rata kenal dengan abangnya itu.


Hari ini, rencananya Dinda dan Nanda akan fitting gaun dan setelan pakaian Nanda untuk yang terakhir kalinya. Dinda janjian bertemu langsung ditempat mereka fitting baju akad dan resepsi.


Dinda sampai lebih dulu, ia langsung di minta untuk mencoba gaun putih dengan hiasan payet mewah mengelilingi hampir semua bagian gaunnya sehingga terkesan elegan dan glamour. Belum selesai Dinda memakai gaunnya, ternyata Nanda sudah datang. Ia datang bersama Sherly. Karena Sherly juga ikut penasaran dengan gaun yang akan dikenakan Dinda.


Nanda duduk di tempat yang telah disediakan. Dinda berada dalam fitting room, sedangkan Nanda duduk tepat berhadapan dengan tirai masuk fitting room. Nanda duduk diruangan dengan dinding yang sepenuhnya kaca itu. Ia di perboleh kan masuk kesana, karena memang mau fitting baju pengantin. Dan juga, tidak ada tamu lain selain mereka.


Dinda sudah selesai mengenakan gaun akad di bantu oleh seorang perempuan yang memang merupakan karyawan di butik itu. Setelah itu, perempuan itu membukakan tirai agar Dinda bisa keluar. Dan saat Dinda keluar, Nanda pun bisa melihat betapa mempesonanya calon istrinya itu saat memakai gaun walau tanpa riasan di wajahnya. Ia begitu memuja kecantikan Dinda yang seolah selama ini Dinda sembunyikan darinya. Tak menyangka Dinda punya pesona luar biasa kalau sedang mengenakan gaun seperti saat ini.


"Kak Dinda cantik banget" pekik Sherly sambil tepuk tangan. Gadis remaja itu tidak bisa menutupi kekagumannya pada Dinda. Sampai sang abang yang menghentikannya bertepuk tangan.


"Berisik banget sih" ujar Nanda yang terganggu dengan tepuk tangan Sherly.


"Bodo" sahut Sherly.


"Kakak nyerah deh, ga siap jadi kakak ipar kamu. Kerjaan kalian ribut mulu" ujar Dinda yang kini sudah berdiri di hadapan kakak beradik itu.


"Abang tuh kak, sukanya marah-marah. Nanti cepet tua" adu Sherly pada Dinda sambil menggandeng di lengan Dinda. Karena Dinda sering membelanya saat berdebat dengan Nanda.


Nanda pun mendorong Sherly dari samping Dinda. "Sayang, cantik" ujar Nanda yang tersenyum penuh arti.


Sedangkan Sherly yang terdorong mundur kebelakang hanya bisa menggerutu pelan.


"Kamu ga mau coba juga?" tanya Dinda karena Nanda hanya sibuk menatap dirinya, membuat Dinda jadi malu tapi berusaha ia tutupi.

__ADS_1


"Gaunnya?" tanya Nanda polos.


"Iya, gaunnya. Nanti pas akad kak Dinda yang pakek jas" Kali ini Sherly mengeluarkan seluruh tenaga dalamnya untuk berkata demikian. Ia sungguh kesal melihat abangnya yang tiba-tiba berubah jadi oon ketika melihat calon istrinya.


"Tuh kan, adik kamu jadi naik darah" ujar Dinda pelan di telinga Nanda.


"Ih kakak, aku bantuin kakak jelasin malah kakak sekongkol sama dia" tunjuk Sherly pada abangnya.


"Hahaha, kakak nggak ngomong apa-apa kok. Udah ih, jangan cemberut gitu" bujuk Dinda sambil merangkul Sherly. "Menurut kamu, penampilan kakak gimana? Kata abang cantik, tapi kakak ga percaya" ujar Dinda biar Sherly kembali bersemangat.


"Iya kak, cantik banget. Apalagi nanti kalo udah di dandanin ala manten, pasti auranya lebih keluar. Jadi tambah cantik" ucap Sherly dengan senyum semangat.


Nanda pun tak lama kemudian juga ikut mengenakan setelan yang akan ia gunakan untuk akad, tiga pakaian lainnya untuk resepsi. Total ada empat setelan yang akan mereka kenakan. Dua di antaranya adalah pakaian adat dari kedua belah pihak.


Sepulang dari fitting baju, mereka pulang kerumah Dinda dengan mobil masing-masing. Sherly memilih ikut mobil Dinda. Karena katanya ikut abang udah bosan.


Nanda pun sempat bercengkrama dengan beberapa paman, bibi, dan sepupu-sepupu Dinda yang baru saja sampai dari luar kota. Sherly yang sudah akrab dengan beberapa sepupu Dinda yang sudah menginap lama dirumah Dinda, langsung hilang entah kemana sejak baru turun dari mobil tadi.


Saat hari sudah agak sore, Nanda duduk menikmati suasana indah dengan langit yang biru terang di bangku taman belakang rumah Dinda. Tadinya ia duduk bersama calon mertuanya, namun calon mertuanya itu kembali masuk kerumah karena ada panggilan telepon untuknya.


Dinda pun yang melihat punggung Nanda dari dapur, sengaja membuatkan Nanda segelas teh hangat. Lalu ia menghampiri Nanda yang duduk sambil menatap kolam ikan yang memang baru-baru ini dibuat.


"Sayang, ini tehnya" ujar Dinda saat meletakkan segelas teh di hadapan Nanda. Nanda pun menerimanya dengan tersenyum.


Dinda pun duduk bersisian dengan Nanda. Ia memperhatikan gerak-gerik Nanda mulai dari mengambil gelas, lalu menyesap teh yang ia buat, sampai Nanda meletakkan kembali gelas itu ke meja.


"Kamu kenapa ngeliatin aku segitunya?" tanya Nanda. Karena menurutnya, saat memutuskan mau menikah Dinda kini jadi sering memperhatikannya.

__ADS_1


"Gapapa" ucap Dinda dengan wajah bersemu merah lalu memalingkan pandangannya kedepan.


"Udah ga sabar?" tanya Nanda sambil memainkan alisnya.


"Kamu jorok banget sih pikirannya" sahut Dinda dan reflek mendorong tubuh Nanda.


"Udah ga sabar pengen makan malam?" tanya Nanda yang seolah pertanyaannya tadi itu kepotong. Nanda tersenyum karena Dinda malah mencubit-cubit pinggangnya. Ia sudah terjebak dengan pertanyaan Nanda.


"Mana ada gitu. Pasti pertanyaan kamu tadi sebenarnya ga kesitu kan?" omel Dinda karena Nanda menertawakannya.


"Lho, kok maksa. Jadi mau kamu arah pertanyaan aku kemana?" tanya Nanda lagi. Membuat Dinda bangkit berdiri ingin meninggalkan Nanda sendirian disana.


Tapi Nanda buru-buru menahannya, "Jangan pergi, disini aja. Kan setelah hari ini kita sepakat buat ga ketemu, terus ketemu laginya nanti pas akad. Aku bakal kangen banget sama kamu. Kamu jangan nakal ya" ucap Nanda dengan tatapan dalam ke mata Dinda. Dinda hanya bisa mengangguk, ia grogi kalau Nanda yang sehari-harinya ga pernah romantis lalu tiba-tiba menjadi seperti saat ini.


"Janji ya jangan nakal, bentar lagi bakal jadi istri" lanjut Nanda lagi.


"Iya, aku gak akan nakal. Meskipun ga ketemu kamu seminggu, aku janji tetep jadi anak baik. Kemana-mana bawa SIM biar ga ditilang sama temennya calon suami" ujar Dinda karena memang pernah kejadian, tapi Nanda yang membereskannya. Dan Nanda tidak mau untuk yang kedua kali jika Dinda kembali di tilang.


Adegan romantis itu tak luput dari pandangan Ariel. Ia ikut berkumpul dirumah Dinda karena ajakan papanya.


Papa Dinda mengundang papanya untuk ikutan ngumpul dirumah, lalu papanya Ariel ngajak Ariel untuk ikutan kerumah Dinda. Itung-itung memperpanjang tali silaturahmi antar keluarga mereka. Bahkan Mama dan istri Ariel juga ada di rumah Dinda. mereka berdua duduk di ruang keluarga bersama para kerabat Dinda.


Ariel yang memandangi Nanda dan Dinda hanya bisa berdiam diri ditempatnya. Ada sedih dalam dada, tapi tak kuasa menunjukkannya. Karena kini, mereka sudah sama-sama ada yang punya.


●●●


Terimakasih untuk yang sudah vote, komen, like, kasih hadiah, dan favoritin novelnya. Kalian luar biasa:)

__ADS_1


__ADS_2