(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Masih Diam di Tempat


__ADS_3

Bagi yang sering baca tapi lupa ngelike, monggo absen dulu🙄


...-...


...-...


...-...


Waktu sudah bergulir cukup lama, hubungan Rama dan Maudy sepertinya memang sudah berakhir. Karena tak ada lagi perbincangan diantara mereka, yang terakhir adalah saat pagi hari itu (Bab Usaha Rama).


Rama hanya akan terlihat baik-baik saja jika sedang melakukan pekerjaannya. Namun, ketika sudah masuk jam istirahat atau saat-saat dirinya harus berjalan di koridor rumah sakit maka dia akan terlihat seperti orang banyak pikiran. Wajahnya datar namun tatapannya sayu.


Beberapa kali ia mengajak Nanda, Pak Prima, atau Feza untuk kumpul-kumpul. Namun semua tak ada yang bisa. Alasannya tidak jauh-jauh dari urusan pekerjaan. Begitu juga Feza yang kini tengah senang-senangnya karena sudah memiliki klinik pribadi yang berada tepat di samping rumah orang tuanya. Keputusan Feza meninggalkan rumah sakit membuat Rama jadi kesepian. Tak ada lagi orang yang bisa ia ganggu.


Beberapa hari kemudian, Rama kembali harus melakukan sidak ke beberapa ruangan di rumah sakit. Ini adalah rutinitasnya setiap bulan satu kali. Saat hendak menuju ke ruang laboratorium, di koridor rumah sakit itu Rama berpapasan dengan Maudy dan satu rekan kerjanya.


Ya Allah, bisik Rama dalam hati.


"Selamat pagi, Pak" sapa Maudy dan temannya kepada Rama, Pak Ali dan tim.


"Pagi" jawab Rama singkat sambil berlalu.


Kalau saja tidak ada temanmu itu, sudah aku bawa kamu ketempat sepi biar kita bisa bicara lagi.


Selang beberapa saat, Rama memutar kepala melihat ke belakang. Pak Ali dan tim yang berjalan di belakangnya melihat aneh pada Rama.


Rama tak fokus lagi berjalan kedepan karena kepalanya yang menghadap ke belakang. Pak Ali yang tahu siapa yang Rama ingin lihat pun sedikit menggeser posisi agar Rama bisa leluasa memperhatikan sosok yang berjalan membelakanginya itu.


Setelah punggung Maudy tak lagi terlihat, Rama kembali berjalan dengan tegap dan penuh wibawa. Pak Ali hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah aneh Rama.


Setelah sidak yang ia lakukan selesai, Rama meminta Pak Ali untuk memesankannya makanan. Karena direktur muda itu sedang ingin beristirahat sejenak di ruangan khususnya.

__ADS_1


Saat makanan datang diantar kurir di pintu khusus penerimaan paket, kebetulan juga disana ada Maudy yang juga sedang menunggu paket makanannya. Awalnya ia pikir itu adalah kurir yang mengantar makanannya namun ternyata bukan. Justru itu adalah pesanan Pak Ali.


Satpam yang berdiri disana pun tidak mungkin pergi untuk mengantarkan makanan Pak Ali karena biasanya pak direktur alias Rama juga pesen makan online. Takutnya kalau si satpam pergi mengantar paket makanan untuk Pak Ali, nanti kurir yang mengantar paket makanan untuk Rama tidak ada yang menyambut.


Akhirnya Maudy pun inisiatif membantu memecahkan masalah. Maudy mengantarkan makanan ke ruangan Pak Ali dan makanan Maudy nanti biar di titip dulu ke pak satpam. Setelah dari ruangan Pak Ali nanti Maudy akan kembali mengambil makanannya.


Tok...tok...tok


Maudy mengetuk pintu ruangan asisten direktur. Ditunggu beberapa saat namun tak ada sahutan dari dalam. Setelah memberanikan diri untuk membuka, ternyata di ruangan itu tidak ada siapa-siapa.


"Duh, ini Pak Ali kemana ya?" gumam Maudy pelan.


Maudy pun inisiatif lagi untuk mencari sekretaris Rama, yang bernama Bu Leni. Karena ruangan Bu Leni tidak jauh dari ruangan Pak Ali, kemungkinan dia tahu dimana keberadaan Pak Ali, pikirnya.


Setelah bertemu Bu Leni, Maudy mendapat informasi tentang keberadaan Pak Ali. Namun, informasi itu membuat Maudy jadi merasa gelisah dan bimbang juga. Antara mau melanjutkan antar makanan ini ke empunya atau kembali turun ke bawah dan meminta sang satpam saja yang memberikannya.


Tapi lagi-lagi Maudy berpikir, kalau kembali ke bawah nanti Pak Ali makin lama nunggu makanannya. Sedangkan di aplikasi pasti laporannya udah masuk kalo makanan udah nyampe.


Tok...tok...tok


"Masuk" titah suara dari dalam.


Maudy masuk, saat tatapannya bertemu dengan mata pria itu, Maudy langsung membungkuk sedikit. "Pak, saya kesini mau mengantarkan makanan yang bapak pesan" ucap Maudy dengan hati-hati. Sudah lama ia bekerja dirumah sakit ini, tapi belum pernah dirinya masuk kedalam ruangan direktur yang ternyata sangatlah mewah.


"Ah iya, bawa kesini. Kok bisa kamu yang antar?" tanya Pak Ali sambil membuka kaca matanya. Pria itu duduk di sofa tamu, yang tadinya sambil membaca buku.


"Soalnya tadi saya pikir ini makanan saya pak, ternyata bukan". Tiba-tiba malah jawaban itu yang keluar dari mulut Maudy.


Ah sudahlah, bohong dikit gapapa. Toh ga ngerugiin siapa-siapa.


Mendengar Pak Ali berbicara dengan seseorang, Rama pun keluar dari ruangan istirahatnya. Melihat ada Maudy, ia buru-buru merapikan sedikit penampilannya.

__ADS_1


"Maudy? Ada apa?" tanya Rama. Jelas sekali pertanyaan ini mengandung unsur perhatian dan serak-serak manjanya, karena suara Rama yang lembut dan berbeda saat dirinya berbicara dengan orang lain ataupun dengan wanita lain. Pak Ali pun tahu itu.


"Gak ada apa-apa Pak, saya cuma antar makanan aja" jawab Maudy dengan ramah. Selalu begitu kalau ada orang lain diantara mereka. Berbeda jika situasinya hanya ada mereka berdua.


"Saya permisi Pak". Maudy terkesan buru-buru ingin pergi dari ruangan itu. Sedangkan Rama hanya diam mematung dan memperhatikan sampai wanita itu menghilang.


Pak Ali tidak mau ikut campur, urusan pribadi Rama biarlah menjadi urusan Rama. Ia hanya asisten pribadi seorang direktur, hanya mengurusi yang berkaitan dengan posisi Rama sebagai direktur saja.


Sore harinya, Rama hendak pulang. Namun belum sampai ke parkiran khususnya, Rama melihat sebuah mobil pajero yang tiba-tiba di masuki oleh Maudy. Dari posisi Rama saat ini, ia bisa melihat siapa yang berada di kursi kemudi, yakni seorang lelaki. Walau tidak mengenal siapa orangnya namun hati Rama sudah cukup sakit.


Apalagi melihat laki-laki itu menyambut kedatangan Maudy, lalu mengusap puncak kepalanya. Maudy senang diperlakukan seperti itu.


Aku cemburu.


Lalu dengan langkah gontai, Rama menuju kemobilnya. Diusapnya dada yang sakit sebelum mulai menyalakan mobil.


...-...


Dikeesokan harinya, Rama melihat lagi Maudy turun dari mobil Pajero yang sama dengan yang dilihatnya kemarin sore. Diusapnya lagi dada yang sakit. Senyum Maudy sampai tak hilang dari wajahnya sampai pria Pajero itu meninggalkan halaman rumah sakit.


Kamu bahagia? Kamu senang diantar jemput olehnya?


Rama kebetulan memang baru 2 kali melihat Maudy dengan pria Pajero itu. Padahal sebenarnya Maudy sudah lama diantar jemput oleh pria itu setiap hari.


Entah Rama sedang beruntung karena baru lihat di saat sebenarnya sudah terbilang puluhan kali Maudy di antar jemput oleh lelaki itu, atau Rama memang sedang sial karena kedapatan melihat kebersamaan Maudy dengan lelaki itu.


...-...


...-...


...-...

__ADS_1


Jum'at berkah, yang komen "Amiin" semoga dapet banyak pahala, hidup bergelimpangan harta, matinya masuk surga🙏


__ADS_2