
Dinda pun membatalkan niatnya untuk menemui Ariel. Ia cukup sadar bagaimana sikapnya selama ini terhadap Ariel.
Ia yang merasa bukan perempuan yang baik, selalu manja, egois, selalu merasa benar, dan rentetan sikap buruk lainnya. "Ariel layak mendapatkan seseorang yang lebih baik. Ya Allah, aku ikhlas" ucap Dinda sambil mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu.
Dinda terdiam, menatap sekelilingnya. Ia ingat sekali bagaimana dulu pernah di bantu Ariel nulis tugas di sini.
Dinda merasa ia membenci semua memori tentang Ariel. Bahkan sofa yang kini ia duduki tetap dimana dulu Ariel duduk waktu nulis tugas Dinda.
Tak tahan dengan segala kecamuk dalam dirinya. Dinda pun bergegas pergi meninggalkan rumah menuju tempat dimana mobilnya berada.
Ia ingin pergi. Sekedar untuk menenangkan pikiran.
Meski ke mana arah tujuannya pun Dinda sendiri masih tidak tahu. Tapi ia yakin, kalau menyibukkan diri pasti bisa buat ia lupa sama Ariel.
Dinda tidak sadar, bahwa lupanya itu hanya sekejap. Nanti juga pulang ke rumah ingat lagi.
Dini hari tadi, tepatnya pukul 03:00 Dinda sudah mengabari rekan kerjanya, antara lain Sigit, Sari, dan Vinike kalau hari ini Dinda tak masuk dengan alasan acara keluarga. Mereka pun yang baru membalas 20 menit yang lalu mengatakan bahwa tidak apa-apa untuk hari ini dan semoga Dinda bisa masuk di keesokan harinya.
Dinda melajukan mobilnya ke arah yang berlawanan dengan kantor Ariel. Ia sengaja menghindari tempat-tempat dimana ada kemungkinan papasan dengan Ariel.
Dinda terus melaju sejauh mungkin tanpa tahu kemana tujuan sebenarnya. Ia ingin bersenang-senang tapi semua tempat rekreasi di jam segini masih belum ada yang buka.
Kalaupun sudah buka pasti masih sepi. Alhasil karena tak kunjung menemukan tempat yang enak buat melamun cantik, akhirnya Dinda putar arah menuju kantornya.
Sesaat setelah Dinda memarkirkan mobilnya di parkiran kantor, semua teman-teman kantornya pun pada keheranan. Mereka yang juga baru pada sampai di kantor bukannya buru-buru masuk tapi malah asyik ngerumpi.
Mereka melihat Dinda dengan tatapan menyelidik. Karena selain Dinda yang mengabari akan izin hari ini, juga wajah pucat Dinda yang membuat mereka jadi cemas.
"Lho, acara keluarga udah bubar sepagi ini, Din?" tanya Sigit yang kepo akut.
"Ga jadi, sepi banget" jawab Dinda. Padahal yang Dinda maksud di sini adalah tempat wisata.
"Keluarga lo anaknya pada tunggal semua. Makanya mau rame bikin yang banyak" sahut Sigit sambil merapikan kerah bajunya.
"Buruan masuk. Apa mau ganti profesi jadi OB? Biar gue bantu bilangin sama pak Aidil" ucap Dinda dengan tatapan sengit.
Mereka pun akhirnya berjalan cepat dan mengekor di belakang Dinda.
"Jangan dong, Din. Gue mau ngumpulin modal nikah ni" ujar Vinike yang sudah tunangan 2 tahun tapi tak kunjung resepsi.
"Lo ga mau ganti calon suami gitu? Mau aja di gantungin 2 taon" cecar Dinda yang membuat Vinike jadi salah tingkah.
__ADS_1
"Gue mah ga bisa berbuat apa-apa, Din. Kalo dianya sendiri selalu bilang modal belum cukup". Jawaban Vinike ini bikin Dinda teringat Ariel.
Karena dulu juga Ariel pernah menjanjikan pernikahan tapi berujung kepahitan. Memang sih, mereka tidak sampai bertunangan, tapi Dinda cemas sendiri.
Ia takut Vinike mengalami hal yang serupa dengannya. Namun di sisi lain, Dinda juga sadar bahwa tidak semua laki-laki brengseknya kayak Ariel.
Justru sebagai teman yang baik, ia haruslah menguatkan hati Vinike agar terus bersabar dan mendo'akan supaya si Jerry segera menghalalkannya. "Gue salut sama lo, Vin. Semoga modalnya segera kekumpul ya biar gue bisa kasih referensi makanan enak buat cateringan lo hahaha" canda Dinda yang di angguki oleh Vinike.
"Satu lagi, jangan ngerasa karena lo udah tunangan sama dia terus lo mau aja di apa-apain sama Jerry ya Vin. Lo tetep harus jaga kehormatan. Apalagi kalian itu sering banget ketemu. Gue paham banget isi otak laki-laki. Ga jauh-jauh dari lubang buaya" kata Sigit memperingatkan Vinike.
"Iya, Git. Gue juga tahu kalo itu mah. Makanya akhir-akhir ini gue jaga jarak sama Jerry. Untungnya dia juga paham sama apa yang gue khawatirin" ujar Vinike yang senang karena pagi ini tiba-tiba ada sesi deep-talk dadakan.
Setelah ngobrol ngalor-ngidul sambil jalan ke ruang kerja. Kini, mereka sudah duduk rapi di kursinya masing-masing.
Mereka mulai membuka beberapa berkas yang belum di periksa. Sedangkan Dinda justru membuka ponselnya.
Ternyata Ayu sudah beberapa kali mengiriminya pesan. Dan Dinda baru sempat buka ponsel.
Ayu
Din, gimana tadi? Lo jadi ketemu Ariel?
Din, gue penasaran. Ariel ngomong apa aja sama lo?
Diiiiiiiinnnnnn.
Dinda
Mengetik...
Ayu
Iih, serius dikit napa😬
Dinda
Gue ga jadi ketemu Ariel. Gue mau ikhlasin dia aja.
Ayu
Gue setuju. Biarin ajalah. Toh masih banyak cowo lain yang belom di coba.
__ADS_1
Dinda
Ariel aja belom gue coba, gimana cowo lain.
Ayu
Sue. Serah lu dah. Sekarang lo dimana?
Dinda
Di kantor, keliling cari pelampiasan juga sia-sia. Ga ada tempat yang seru.
Ayu
Wooow, produktif sekalee anak muda satu ini. Meski patah hati tetap masuk kerja.
Dinda
Ya iyalah, biar ga keliatan merananya😂
Begitulah percakapan Dinda dan Ayu di Whatsapp. Dan sesekali Dinda melihat kontak Ariel apakah ia sedang online atau tidak.
Ternyata Ariel sedang offline dan keterangan "terakhir dilihat"nya pun ia non-aktifkan. Sehingga Dinda jadi tidak bisa melihat kapan terakhir kali Ariel online.
Meski Dinda cukup sadar diri, bahwa online-nya Ariel bukan untuk Dinda lagi. Justru kalau Dinda tahu Ariel sedang online malah itu yang membuat Dinda ketar-ketir karena sudah jelas pasti Ariel sedang berhubungan dengan calon tunangannya.
Aneh sekali, dia Offline di cari-cari. Dia Online panas sendiri. Dasar Dinda...
Dinda pun memusatkan perhatiannya pada hal lain. Seperti vas bunga di meja Sari atau sapu tangan yang menggantung di meja Pak Agus yang menjadi Kepala Bagian mereka.
Sambil sesekali terlihat sibuk dengan pekerjaannya, Dinda juga membuka beberapa sosial medianya. Ia ingin kembai menjadi pengguna super aktif di sosial media.
Siapa tahu nemu jodoh, pikir Dinda.
Karena kini usianya memang sudah pantas untuk menyandang status sebagai istri orang.
Meski Dinda memiliki wajah yang terkesan lebih muda daripada usianya sendiri. Namun, tetap saja ia berkeinginan buru-buru nikah sebab kebanyakan temannya sudah menjadi ibu.
Tak lupa pula, Dinda membuka akun Instagram milik Ariel. Namun ternyata Ariel seperti sudah mengantisipasinya terlebih dahulu.
Karena usaha Dinda terbukti gagal sebab Ariel susah mengganti kata sandi akunnya. Hal ini membuat Dinda hanya mampu gigit jari sambil mengetuk-ngetukkan kukunya di meja kerja.
__ADS_1