(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
21. Bocah Tua Nakal


__ADS_3

Semoga banyak like mendarat di bab ini, dan salah satunya dari kamu, iya kamu😊😷


...*...


...**...


...***...


Dari bioskop Dinda dan Ariel cukup jalan 2 menit saja untuk sampai ke time zone yang ada di mall tersebut. Saat mereka baru saja memasuki wilayah tempat bermain tersebut mata mereka langsung jelalatan lihat kiri lihat kanan untuk melihat permainan apa yang pertama kali mau di mainkan.


Dinda segera menuju kasir untuk isi saldo, sedangkan Ariel langsung ambil posisi di arena permainan basket mumpung lagi ada 1 yang kosong.


Dinda berjalan menuju Ariel sambil cemberut.


"Sayang, main basketnya nanti aja kalo saldonya udah hampir habis. Lagian juga tiketnya mentok-mentok paling banyak cuma dapet 4" sewot Dinda karena Ariel tidak ada bosannya bermain basket. Tiap malam juga main basket. Bedanya, itu di lapangan kalo ini di arena bermain.


"Yang itu masih ada yang mainin sayang" sahut Ariel sambil menunjuk pake dagu ke arah permainan favorit Dinda. Yaitu permainan monster drop, karena paling gampang buat ngumpulin banyak tiket.


"Ya udah, kuy mulai" jawab Dinda lalu menggesek kartunya pada tempat yang sudah di sediakan.


Mereka bermain dengan sangat asyik sambil tertawa-tawa karena Ariel yang jago main basket namun di permainan ini justru lebih jago Dinda karena peraturannya Dinda ngelempar dari jarak dekat, sedangkan Ariel harus munduran biar agak jauh. Sekalian bisa pamer kan kalo masuk ring.


Kalo ga masuk, ya gini nih. Senyum pepsodent aja. Sambil acting sok cool.


Apalagi banyak anak kecil juga yang mengerumuni mereka karena mereka sangat antusias liat 2 orang dewasa yang heboh banget mainnya. Sebagian orang tua mereka pasti ngiranya Ariel sama Dinda korban masa kecil kurang bahagia.


"Abang, sini-sini waktu aku masih ada. Mainin aja" kata anak kecil yang gantengnya kaya papanya meminta Ariel bergeser sedikit ke tempat basketnya karena dia habis gesek kartu tapi malah ga di mainin karena asyik liatin Ariel sama Dinda.


Mendengar itu, Ariel sama sekali tidak bergeser dari tempatnya semula. Ia tetap berdiri di belakang Dinda sesuai tempat ring basketnya.


Namun, Ariel justru nge-shoot bola basketnya dari sana ke arah serong kanan tertuju pada ring tempat si adek itu.


Dan.... Yaaa, masuk dong. Semua bocah yang mengelilingi mereka bersorak-sorai. Sungguh senang hati Ariel, ga jadi malu, pikirnya.


Setelah keringatan di tempat basket, Ariel menuju ke tempat kursi pijat yang tersedia di arena bermain tersebut. Dinda mengekori saja. Lalu menggesekkan kartunya di kursi pijat buat Ariel kemudian berbalik menuju permainan favoritnya yang tak sabar ingin segera ia mainkan.


"Lelah, bunda ?" ucapnya mengejek ke arah Dinda padahal yang duduk di kursi pijat cuma dia sedangkan Dinda sudah balik badan menuju monster drop.

__ADS_1


Alhasil Ariel di cuekin.


Hiks,,, miris deh.


Dinda sibuk main, Ariel duduk nyantai di kursi pijat. Meski ga kaya pijat-pijat pada umumnya, tapi ya mendinglah yaa, toh Ariel senyum-senyum nih sekarang duduk di situ. Pasti karena lelahnya mulai hilang.


Wah, canggih ni. Boleh di beli kursinya.


Ariel mulai beranjak dari kursi pijatnya, karena waktunya memang sudah habis. Lagipula yang pegang kartunya si Dinda kan.


"Banyak nih tangkapan" goda Ariel yang melihat di lantai samping kaki Dinda sudah bersusun-susun tiket yang di kumpulkan.


"Masnya tolong jangan ganggu ya, lagi serius ini" sahut Dinda tanpa menoleh.


"Cuma pencet-pencet doang gini sok gak mau di ganggu, kamu merem juga bisa" balas Ariel sengit karena Dinda sangat enggan sepertinya menoleh ke arahnya.


"Tuh coba kamu liat, angkanya kan muter-muter, ya aku harus pasin dong kapan mau jatuhin bolanya. Gimana sih" omel Dinda sambil nunjuk angka pada lubang yang tersedia sesuai dengan jumlah tiket yang akan di peroleh.


"Sayang, aku nyoba sekali ya. Kayanya seru juga" ucap Ariel yang ikut tertarik maininnya.


"Oke, kita ganti-gantian aja" jawab Dinda sambil gesek kartu sebelum Ariel mulai main.


"Yeeee" heboh keduanya.


"Hebat kan aku" tunjuk Ariel pada dirinya sendiri.


"Iya, tumben banget ya hahaha" ejek Dinda yang memang sering bikin Ariel jengkel.


"Gesek lagi sayang, giliran kamu" seru Ariel karena sudah menikmati permainan.


"Kamu jangan sombong dulu ya sayang" ucap Dinda sebelum mencet tombol jatuhin bola.


"Ga perlu sombong, biar fakta yang berbicara" sahut Ariel yang kini jadi rival Dinda dalam permainan monster drop.


Tuk...Tuk...Tuk (begitu bunyi pantulan bolanya)


Daannnn...

__ADS_1


"32, lumayanlah" ucap Dinda sambil liat ke arah tiket yang keluar.


"Eh eh, yaaa.... tiketnya abis, baru keluar 6 sayang" sambung Dinda dengan muka sedihnya. Ariel yang berdiri di sampingnya pun malah ketawa ngakak aja.


Karena sudah bete akhirnya mereka berniat untuk pulang saja toh sudah 2 jam mereka berada di sana. Badan juga sudah lengket-lengket karena tadi sempat keringetan. Untungnya mereka sama-sama masih wangi.


Saat melewati berbagai stan-stan permainan, Ariel ngeliat ada beberapa tiket yang posisinya sudah keluar tapi masih nyangkut di mesin karena tidak di cabut sama si pemilik.


"Yee, dapet. Ayo keliling lagi, mana tau masih banyak yang kaya gini" ucap Ariel senang dan malah ngajakin Dinda buat ngecek tempat lain.


"Hahaha, ada-ada aja. Ga ada lagi pasti" jawab Dinda tapi matanya langsung nyari-nyari juga.


"Liat sayang, anak kecil baju merah itu. Busyet, banyak banget punya dia. Ayo ayo deketin, terus ambil diem-diem" tutur Ariel yang kadang memang ga punya otak tapi salutnya Dinda betah banget punya pacar setengah gila.


"Jangan, mamanya liatin dari kursi pijat kayanya" sahut Dinda yang malah serius menanggapi ide Ariel.


"Hiii, kalo aku cuma becanda ya. Ga tau deh kalo kamu. Dasar nakal" jawab Ariel yang menyentil lembut kening Dinda.


"Yeee, kamu tuh yang nakal. Dasar bocah nakal" balas Dinda ngejek balik.


"Mana ada bocah, udah gede gini" elak Ariel yang tak terima di sebut bocah.


"Kalo gitu kamu bocah tua nakal" ejek Dinda lagi.


"Emang kamu tahu apanya yang gede" sahut Ariel sambil menaik-turunkan alisnya sambil senyum-senyum menggoda. Yang membuat Dinda tadinya ga mikir aneh-aneh jadi aneh-aneh kan. Hish.


"Udah ih ga usah di bahas, ayo pulang" sela Dinda mengalihkan pembicaraan.


"Jawab dulu baru pulang" goda Ariel lagi.


"Dosanya gede kalo di lanjutin" balas Dinda.


"Wah ngeri nih, ayo pulang" sahut Ariel sambil genggam tangan Dinda menuntunnya ke parkiran.


...*...


...**...

__ADS_1


...***...


Bantu support novel ini ya guys, cukup tekan like dan komen jika kalian berkenan. Karena aku gak sabar mau baca komen dari kalian🙄


__ADS_2