
Selamat membaca, jangan lupa tap jempolnya yaa🙆
...*...
...**...
...***...
Tangan dingin milik Rama kini tengah berjabat dengan sang mertua tepat di hadapan penghulu dan para saksi. Dengan lantang dan cukup satu tarikan nafas, Rama mampu mengucap ijab kabul tanpa terbata-bata. Semua yang menyaksikan turut merasakan suasana haru biru itu.
Apalagi saat melihat Feza di boyong menuju meja akad dengan di dampingi oleh Sherly dan Puput. Semakin membuat banyak orang meneteskan air mata karena turut merasakan bahagia dari kedua pasangan itu.
Feza pun duduk di samping Rama lalu menandatangani berkas perkawinan dan mereka pun kini telah resmi menjadi pasangan suami istri. Rama tersenyum pada Feza yang terlihat gugup menatapnya. Lalu doa pun dimulai dengan meminta pada sang khalik agar kelak pernikahan ini di berikan berkah dan juga keturunan yang sholeh sholehah.
Usai akad, Rama dan Feza di antarkan oleh Mama Rita menuju kamar pengantin yang telah di dekorasi dengan sangat apik oleh tangan-tangan terampil dari pihak WO. Memang kamar ini tidak diketahui Feza sebelumnya.
Sehingga saat Feza masuk, ia sangat takjub bahkan tak sadar telah menganga mengamati sekeliling ruangan yang sangat besar itu yang juga didominasi oleh kaca.
"Bagus kan Za kamarnya?" tanya Mama Rita yang ingin menyadarkan Feza dari kekagumannya.
"Bagus Ma, aku suka. Tapi ..." ucapan Feza tergantung. Sebab ia sendiri tak percaya dengan keberadaan toilet di kamar itu yang dindingnya juga full kaca transparan. Sehingga siapapun yang masuk kedalam sana akan kelihatan dari luar.
"Kenapa?" tanya Mama.
"Kamar mandinya terlalu vulgar Ma" ucap Feza.
"Hahaha, oh itu. Ya harus gitu dong sayang, biar mama cepet dapet cucu dari kalian" ujar Mama menggoda pengantin baru itu.
"Oh iya, ini ada kado. Kata WOnya ini pakaian buat kamu, memang sudah termasuk paket hias kamar pengantin". Setelah menyerahkan kado itu, mama pun pamit untuk menyapa para tamu dibawah dan juga untuk memberi waktu bagi pengantin baru itu untuk istirahat. Sebab nanti malam akan dilanjutkan dengan acara resepsi.
"Za, kamu mandi duluan aja. Aku ke balkon dulu" ucap Rama karena dirinya ingin mengeringkan keringat terlebih dahulu. Entah mengapa dirinya sangat berkeringat hari ini, padahal seluruh ruangan di hotel ini full AC dan sangatlah sejuk.
__ADS_1
Belum sempat Feza menjawab, suaminya itu sudah pergi menuju balkon yang memang memiliki daya tarik tersendiri di kamar ini.
Feza pun bergegas menuju kamar mandi. Ia harus memanfaatkan waktu selagi Rama berada di balkon. Sebab kamar mandi ini memiliki kaca transparan, dimana Rama dari luar bisa melihat dirinya di kamar mandi. Sedangkan Feza juga bisa melihat ke luar kamar mandi.
"Ternyata semakin modern juga semakin vulgar" ucap Feza sambil mengusahakan membuka resleting kebayanya.
Setelah bersusah payah hampir 5 menitan demi melepas kebaya itu, akhirnya Feza bisa merenggangkan tangannya yang sempat ia tarik kebelakang dengan maksimal. Feza pun mandi menggunakan shower. Walau tersedia bathub disana, namun Feza ingin mandi cepat. Oleh karena itu, ia tak menggunakannya.
Seusai mandi, alangkah kagetnya Feza melihat Rama yang sudah berada di tempat tidur tengah memperhatikannya. "Sial, sejak kapan Rama disitu. Dari tadi gue pantau dia masih di balkon" Feza pun menutup mulutnya yang komat-kamit sendiri karena baru ingat bahwa Rama masih bisa melihatnya dengan tubuh polos di dalam toilet ini.
"Astaga, mau ditaro dimana ini muka" rutuk Feza dalam hati.
Feza pun berlagak santai, seolah tadi itu ia hanya kaget sedikit. Lalu dia mulai mengeringkan tubuhnya menggunakan handuk yang memang sudah tersedia dengan berbagai ukuran di toilet itu. Tinggal Feza mau pilih yang mana.
Dan saat tubuhnya sudah cukup kering, Feza menggapai bathrobe untuk ia gunakan sebelum keluar dari kamar mandi.
Satu langkah Feza sudah berhasil keluar dari kamar mandi, tapi keberanian Feza masih belum muncul untuk bertatapan dengan Rama. Tanpa menyapa Rama, ia langsung berlalu menuju lemari pakaian dan saat pintu lemari itu terbuka, Feza pun tak bisa lagi untuk menghindari Rama.
"Aku gak tau, coba aja tanya mama kamu. Nanti biar aku aja yang turun buat ngambilnya" jawab Rama dengan raut wajah memerah karena kurang nyaman dengan hasrat yang sedang ia tahan saat ini.
Selaku dokter yang memang pernah mempelajari anatomi tubuh sampai ke hormon-hormon manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Tentu saja Feza tahu ekspresi yang Rama tunjukkan ini karena apa. Tapi Feza tetap dengan pendiriannya. Untuk berlagak santai dan pura-pura tidak tahu.
Feza pun menghubungi mamanya untuk menanyakan dimana koper yang sudah ia siapkan untuk di bawa ke kamar pengantin. Dan jawaban sang mama membuatnya tidak mengerti.
"Mama kasih ke temen kamu tadi, terus gak di anter ke sana? Lah mama gak tau kalo gitu" kata sang mama. Karena jawaban dari pertanyaannya tak ia dapatkan dari sang mama, lalu Feza pun menutup panggilannya.
"Huft, mama kasih koper aku ke temen aku. Aku tanya temen aku yang mana? Katanya dia juga gak tau, yang jelas cewek, katanya. Tapi ngakunya temen aku. Terus dititiplah itu koper ke si cewek itu buat dianter ke sini. Eh malah gak ada" jawab Feza yang kini tengah kesal dan sudah duduk di tempat tidur bersisian dengan Rama.
"Ya udah, pakek yang ada aja dulu". Ucapan Rama seolah bukan jawaban bagi Feza. Sebab di dalam lemari itu kosong, tidak ada isinya.
"Yang ada tuh gak ada Ma, bener-bener gak ada yang bisa di pakek" kesal Feza karena kini dirinya sudah mulai kedinginan. Apalagi tadi ia mandi keramas, lengkaplah dari ujung rambut sampai ujung kaki dinginnya.
__ADS_1
"Nih" Rama mendekatkan kotak yang tadi Mama Rita serahkan padanya.
"Apa?" tanya Feza namun tangannya sudah lebih dulu membuka kotak itu.
Setelah kotak itu terbuka, makin terkejut lagi Feza. Sedangkan Rama tampak berbinar wajahnya melihat apa yang ada di kotak itu.
"Gak mau, biarin aja aku pakek bathrobe ini" jawab Feza.
"Jangan Za, nanti kamu masuk angin. Liat tuh bathrobenya lembab, jangan sampe resepsi kita jadi batal gara-gara kamu sakit perut dan mencret-mencret" bujuk Rama karena sebenarnya dari tadi jiwa kelelakiannya sudah meronta-ronta ingin beraksi.
"Ya udah, tapi kamu hadap sana. Jangan liat-liat kesini. Soalnya aku mau ganti pakek itu" jawab Feza dengan terpaksa menuruti saran Rama.
Rama pun menurutinya. Memutar tubuhnya menghadap kekanan lalu di belakangnya Feza tengah berganti pakaian dengan lingerie yang berwarna merah terang dan bermotif jaring-jaring. Lalu tak sampai disitu, belahan dadanya juga sangat rendah membuat gundukan milik Feza sangat terekspos dengan jelas apalagi puncak tertinggi namun juga terkecil itu tepat berada di jaring-jaring yang membuat celah untuk si kecil itu mencuat keluar.
Bagaimana Rama bisa tahu sampai sedetail itu? Ya tentu saja, karena saat ini Rama memang membelakangi Feza namun menghadap kaca yang tengah menampilkan kegiatan Feza di balik punggungnya.
Feza benar-benar tidak khawatir saat dirinya harus memakai lingerie itu di dekat Rama, karena ia yakin Rama tak akan mengintipnya bahkan tubuh Rama tak bergerak seinci pun.
Setelah selesai memakai lingerie, Feza dengan cepat masuk ke dalam selimut.
"Ma, udah" titahnya.
Rama pun berbalik dan sudah tak kuasa lagi menahan hasratnya. "Aku mandi ya". Setelah berkata demikian Rama langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Tak peduli apakah Feza membalas perbuatannya dengan menonton dirinya dikamar mandi. Yang jelas Rama tanpa babibu, langsung menuntaskan hasratnya dengan lima jari.
...*...
...**...
...***...
__ADS_1
Kira-kira Rama ngapain ya guys ya? Aku bener-bener gak tau nih😒