(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
37. Wisata Kuliner (2)


__ADS_3

Dinda yang duduk tepat di samping mama dan di belakang Ariel langsung cekikikan mendengar cerita mereka bertiga. Mama yang menjadi "host" sekaligus penambah-nambah cerita malah senang sekali mengolok-olok papa dan Ariel.


Seolah-olah mereka papa dan Ariel memang pasangan homo yang lagi mesum di hotel tersebut. Lagipula papa ada-ada saja.


Sudah di fasilitasi hotel mewah sama perusahaannya sendiri malah mau ngekorin Ariel yang belum sama sekali pesan hotel. Alhasil kapok 'kan sekarang.


Itulah manusia, sukanya coba-coba. Padahal kalo lurus aja jalan pikirannya pasti ga bakal sial.


Ariel yang mulai risih karena bagian belakang kursinya di pukul-pukul Dinda yang ngakak tertawa langsung melirik ke belakang. Ia sengaja mempertajam tatapannya biar Dinda tak lagi menertawainya.


Dia pikir Dinda akan takut dengan sorot matanya, tapi kenyataan justru sebaliknya. Malah Ariel yang menyesal kemudian.


"Apa ? Ini mas-mas yang ketangkap Satpol PP itu ya ?" ceplos Dinda yang kian senang menggoda Ariel. Terlebih laki-laki di depannya itu langsung menunduk malu.


Untung saja ada mama papa di mobil ini, kalo tidak pasti Dinda sudah di gelitikin Ariel karena telah berhasil membuatnya terpojok. Dan selama perjalanan itu, papa dan Ariel hanya bisa terdiam dan mendengarkan saja Dinda dan mama yang tertawa ngakak di belakang.


Papa fokus menyetir dan Ariel duduk di sampingnya, mereka susah payah memasang ekspresi serius dan tidak menggubris para wanita rese' di belakang. Tadinya sebelum berangkat, Ariel yang sempat menawarkan diri buat nyetir.


Tapi kata papa ga usah, yang muda duduk diam aja, toh papa tua juga masih sehat. Ga perlu di perlakukan istimewa-istimewa baget.


Mereka berdua itu memang sudah klop sekali. Apalagi perihal bola.


Dinda sama mama sudah bukan prioritas lagi kalau sudah bahas bola. Lain cerita kalo mama sama Dinda yang nyuekin mereka karena bahas drama korea, pasti mereka langsung ngerecokin dan nimbrung dengan pembahasan padahal nonton juga nggak.


Dalam hati Dinda, ia benar-benar merasa bersalah terhadap Ariel. Ia sempat berpikir, 1 minggu tak berteguran dengan Ariel setelah putus waktu itu ia sempat berpikir kalau Ariel sibuk senang-senang dengan para wanitanya dan sama sekali tak memikirkan Dinda.

__ADS_1


Dan ternyata faktanya, justru Ariel ternyata sedang bekerja keras mengumpulkan dana untuk bisa membangun perusahaannya sendiri dan ia ingin hidup mandiri tanpa mengharap bantuan orang tuanya.


Ntar aja deh minta maafnya, ucap Dinda dalam hati.


Setelah setengah jam perjalanan, mereka sampai di taman tempat biasa muda-mudi di kota itu nongkrong. Terlebih di malam minggu akan jauh lebih ramai, karena selain tempatnya yang luas dan indah di malam hari, para pedagang makanannya pun jauh lebih banyak dan bervariasi.


Papa dan mama yang memang menyukai ketoprak langsung menuju gerobak yang menyediakan menu ketoprak yang tertulis besar pada spanduk yang terpasang di gerobaknya. Sedangkan Dinda dan Ariel menuju ke tempat penjualan nasi uduk, mereka berdua memang sedang kepengin makan nasi uduk malam ini.


Dan nasi uduk di taman ini memang terkenal dengan sambalnya yang pas di lidah dan nasi yang pas-pasan. Kalo Dinda makan di sini, nasinya pas seporsi.


Berbeda dengan Ariel, ia akan memesan 2 porsi karena memang nasinya lebih sedikit dari nasi uduk biasanya. Tapi yang membuat jatuh cinta itu sambalnya, super enak dan pedasnya pas.


Dinda menikmati makanannya dengan khusyuk begitu pula dengan Ariel. Sesekali mereka saling tatap karena sama-sama kelaparan dan lumayan lama juga mereka tidak makan di taman ini.


"Dek, aku ga pernah ngapa-ngapain kamu lho. Itu jelas bukan anak aku" balas Dinda yang sudah sangat paham dengan kekonyolan Ariel.


"Mas, aku ga mungkin berbuat kaya gitu sama orang lain. Ini anak kamu mas" tutur Ariel setengah tertawa.


"Dasar gila" omel Dinda kemudian mencubit pinggang Ariel.


Ariel pun menghindar sedikit tapi tetap saja cubitan itu mengenai pinggangnya. Ariel ini badannya proporsional sekali, meski abs-nya membuat banyak mata iri melihatnya, tapi tetap punya sedikit bagian yang katanya sengaja di sisakan biar bisa Dinda cubit-cubit.


Setelah bercanda ria dan membayar makanannya, Ariel mengajak Dinda untuk duduk di tempat yang agak sepi, biar bisa romantisan di tengah keberadaan papa mama yang entah di mana sekarang. Yang jelas jam 10 tepat janjian di dekat mobil.


Saat mereka sudah terduduk di sebuah bangku taman yang di terangi oleh lampu yang temaram, Dinda menggenggam tangan Ariel.

__ADS_1


"Ehm, aku minta maaf ya sama kamu" kata Dinda yang tiba-tiba deg-degan.


"Minta maaf buat apa sayang ?" ucap Ariel dengan membalas genggaman tangan Dinda.


"Aku sempat su'udzon sama kamu. Aku pikir, setelah kita putus kemaren kamu sibuk senang-senang sama selingkuhan kamu. Kamu happy-happy di luaran sana. Yang galau cuma aku aja" tutur Dinda berkata jujur dan menatap dalam ke mata Ariel.


"Nggaklah, kamu salah. Aku senangnya kalo ada kamu. Ga ada kamu ya aku galau, aku sibuk ngumpulin duit, biar suatu saat hidup kita setelah menikah ga perlu minta apa-apa sama orang tua. Kita sama-sama anak tunggal pasti orang ngiranya kita di manjain. Dan aku ga mau hal itu terjadi. Aku mau bahagiain kamu pake uang aku sendiri.


Aku ngerti kenapa kamu mikirnya gitu, pasti gara-gara aku ga nyariin kamu kaya biasanya ya ?"


"Iya" ucap Dinda.


"Itu sengaja aku lakuin biar kamu kapok, jangan main blok kontak orang seenaknya. Lain kali kalo kita berantem, kamu jangan blok aku lagi ya. Aku jadi bingung mau hubungin kamu gimana"


"Kita kan tetanggaan" sahut Dinda.


"Ya memang. Tapi aku ga punya nyali buat nemuin kamu apalagi kondisinya kita lagi ga baik-baik aja. Aku takut kamu ngamuk-ngamuk terus tante sama om pasti bakal wawancarain aku ntar"


"..."


"Aku cuma berani ke rumah kamu kalo kondisi hubungan kita baik-baik aja, karena rasanya ga ada beban gitu. Kecuali kalo papa mama kamu ga ada di rumah baru aku berani" sambung Ariel lagi.


"Waktu itu kenapa ga susulin aku ? Kan mama papa lagi ga ada di rumah" tanya Dinda lagi.


"Aku tahu kamu orangnya kaya gimana. Kamu tuh ga bisa di ajakin ngomong baik-baik saat itu juga. Yang ada nanti kamu tampar aku lagi. Aku sayang kamu. Dan wanita yang aku sayangi ini tipenya, kalo ada masalah, kasih jarak. Kasih ruang dan waktu dulu untuk dia menyendiri. Nanti setelah dia benar-benar sudah tenang, baru bisa di ajak ngomong baik-baik" pungkas Ariel lalu mencium kening Dinda.

__ADS_1


__ADS_2