(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
68. Mengenalnya


__ADS_3

Dinda dan Nanda selalu menghabiskan waktu 1 minggu sekali dan di hari yang acak, untuk sekedar nongkrong di taman atau di rumah Nanda. Tentunya adik kesayangan Nanda juga ikut.


Sebab Nanda tak mau jika adiknya yang sedang libur itu justru ia tinggalkan di rumah sendirian, padahal kan harusnya hari libur menjadi momen paling tepat untuk kita menghabiskan waktu dengan orang yang kita sayang, oleh karena itu Dinda dan Nanda sering mengajak Sherly untuk ikut bergabung bersama mereka. Kecuali jika Sherly sedang ada kegiatan lain.


Berbeda dengan minggu ini, di hari Sabtu jam 3 sore Dinda dan Nanda sudah duduk di sebuah bangku taman yang menghadap ke danau. Mereka asik memperhatikan beberapa orang yang datang dengan membawa anak mereka.


"Din, nanti sahabat aku mau datang juga, katanya bosan di rumah. Jadi aku suruh aja dia kesini. Boleh, kan?" tanya Nanda hati-hati. Kenapa sampai Nanda segitunya ya? Takut Dinda marah kah? Kan mereka ga punya hubungan apa-apa.


"Boleh Bang, jadi kapan dia ke sininya?" tanya Dinda dengan santai.


"Dia bilang udah di jalan. Paling 5 menit lagi sampe" jawab Nanda.


Mereka pun menunggu kedatangan sahabat Nanda sebelum memutuskan untuk duduk di tenda pedagang. Sebab mau menyesuaikan selera dengan sahabat Nanda.


Ternyata benar, 5 menit kemudian datanglah seorang perempuan yang bisa Dinda tebak merupakan seorang polisi wanita. Ia datang lalu memeluk Nanda layaknya sahabat lama yang sudah lama tak bertemu.


Dinda yang merupakan orang asing di antara mereka hanya bisa menatap 2 orang itu yang saling berbasa-basi menanyakan kabar dan lain-lain. Parahnya, mereka benar-benar seperti tak melihat keberadaan Dinda di dekat mereka.


Hal itu membuat Dinda muak dan ingin angkat kaki dari sana. Tapi semua itu gagal, karena Nanda yang tersadar bahwa sedari tadi ada Dinda yang menatap jengah terhadap interaksinya bersama sang sahabat.


"Din, mau kemana?" tanya Nanda akhirnya.


"Kalian ngobrol aja, aku mau beli minum. Mau nitip?" tanya Dinda dengan menatap bergantian ke arah Nanda dan Lita. Ya, nama gadis itu adalah Lita.


"Kita beli sama-sama aja yuk" ujar Nanda menengahi 2 orang yang masing-masing belum ia perkenalkan.


Akhirnya mereka berjalan dengan beriringan, Nanda paling depan kemudian Lita dan paling belakang Dinda. Kehadiran Lita membuat Dinda sedikit kurang nyaman. Apakah ini cemburu? Tapi masa iya? Mereka kan tidak memiliki hubungan spesial apapun dan Lita hanya sahabat Nanda tidak lebih.


Setelah sampai di sebuah lapak penjual bakmi yang wanginya sudah kecium dari jauh, Nanda menanyakan pendapat para wanita itu.


"Mau makan bakmi?" tanyanya dengan memutar badan.

__ADS_1


"Boleh deh" ucap Lita.


"Mau" ucap Dinda.


Dinda dan Lita berbicara berbarengan. Membuat mereka saling tatap lalu saling tersenyum tipis.


"Oh iya, kalian belom kenalan, kan? Sorry lupa" ujar Nanda di tengah-tengah mereka.


"Ta, ini Dinda... Dia temen gue. Din, ini Lita sahabat aku. Kita dulunya satu kantor, terus kepisah dan sekarang udah satu kantor lagi" ucap Nanda dengan senyum mengembang.


"Oh, hai" ucap Dinda lalu berjabat tangan dengan Lita. Menurut Dinda Lita orang yang ramah, hanya saja mungkin akrab dengannya rada susah. Karena dari segi sikap mereka berdua memang jauh berbeda.


Kalau Dinda, harus orang lain dulu yang mengakrabkan dirinya baru nanti lambat laun ia akan membuka hati untuk berteman dengan orang tersebut. Dan Lita memang orangnya ramah, hanya saja ia tak menunjukkan sisi ingin berteman akrab dengan Dinda, dan hal itu sudah sedari awal Dinda ketahui saat Lita baru datang.


Mereka pun akhirnya makan bakmi bertiga. Dinda sangat senang nyatanya Nanda memilih duduk di sampingnya dan berhadapan dengan Lita.


Setidaknya hal itu membuat Dinda cukup lega meski tetap saja ia hanya menjadi pendengar setia saat dua orang yang baru saja kembali bertemu itu menceritakan pengalaman masing-masing saat mereka terpisah.


Sesekali, Nanda melirik Dinda di sampingnya. Mungkin ia merasa tidak enakan memposisikan Dinda di situasi seperti sekarang. Namun Dinda memberikannya senyum termanisnya seolah mengisyaratkan bahwa Dinda tak apa-apa.


Setelah selesai makan, mereka kembali berbincang sejenak lalu...


"Kamu mau aku antar pulang sekarang?" tanya Nanda kepada Dinda yang sedari tadi lebih banyak diam. Nanda tahu, pasti Dinda tak nyaman dengan kehadiran Lita yang sama sekali tak memberikan kesempatan Nanda untuk berbicara dengan Dinda.


"Mau, tapi Lita gimana?" tanya Dinda yang masih peduli dengan Lita.


"Kamu gimana?" tanya Nanda pada Lita.


"Yah Nan, aku kan kesini tadi bareng temen. Kalo aku ikut kamu aja boleh?" tanya Lita yang membuat Dinda meringis dalam hatinya.


Huh, dasar cewe genit. Dia kayanya sengaja banget mau ngejauhin gue dari Nanda. Awas lu ya, belum tau dia Dinda yang sebenarnya.

__ADS_1


"Boleh kalo gitu. Ayo ke mobil gue" kata Nanda berjalan sambil gandeng tangan Dinda. Ups, ga jadi panas tuh hati Dinda.


Sesampainya tepat di samping mobil Nanda, Lita berjalan lebih dulu sebelum Nanda membukakan pintu penumpang di kursi depan untuk Dinda.


Melihat hal itu, Dinda benar-benar di buat semakin muak dengan tingkahnya. Tapi Dinda tak berani berbuat apa-apa, karena ia masih ingin menjaga sikap di hadapan Nanda.


"Aku duduk depan ya, kamu di belakang gak papa kan?" tanya Lita pada Dinda.


"Iya ga papa" jawab Dinda pada Lita.


"Udah, aku beneran ga papa kok" sambungnya dengan menatap dalam pada manik mata Nanda. Ada isyarat minta di bela sebenarnya, tapi Nanda tak peka.


Kemudian Nanda membuka pintu penumpang belakang untuk Dinda. Setelah itu mereka melaju menuju kediaman Dinda.


Selama perjalanan, Nanda sering melirik Dinda lewat spion tengah meski sedang berbicara dengan Lita. Di posisi seperti ini, Dinda berasa jadi selingkuhan Nanda hehehe.


Dan Dinda pun sangat menghargai usaha Nanda untuk menghiburnya, Dinda pun sering mengangkat kedua alisnya dan tersenyum saat pandangan mereka bertemu di spion tengah.


Seketika rasa kesal Dinda terhadap Lita mulai berkurang, toh Nanda tak sepenuhnya melupakan kehadirannya hanya karena ada Lita. Hal itu membuat kepercayaan diri Dinda makin tinggi untuk siap bersaing dengan Lita demi mendapatkan hati Nanda.


Setelah sampai di rumah Dinda, Nanda pun turun dan mengantarkan Dinda sampai depan pintu utama. Sedangkan Lita tetap di mobil dan bahkan tidak membuka kacanya sama sekali. Dasar sombong.


"Maaf ya aku udah cuekin kamu karena ada Lita" ucap Nanda dengan raut wajah menyesal.


"Aku ga papa. Lagian kamu juga ga salah, kenapa minta maaf" jawab Dinda.


Yang salah justru wanita itu.


"Makasih ya, Lita emang gitu orangnya. Kalo gitu, aku pamit dulu kasian Lita udah nungguin. Salam ya buat Om Tante" ucapnya sambil mengusap kepala Dinda sebagai bentuk perhatiannya terakhir kali sebelum pergi meninggalkan Dinda.


Dinda pun berdiri saja di depan menatap kepergian Nanda dan wanita itu sampai menghilang dari pandangannya. Lalu pandangannya teralihkan ke pada rumah Ariel, tanpa ia sadari, hati kecilnya sudah membanding-bandingkan Nanda dengan Ariel. Tentu saja Nanda lebih unggul.

__ADS_1


●●●


Guys, komen dong. Sejauh ini ceritanya gimana? menarik kah atau membosankan? Aku pengen tau dong gimana ya caranya biar novel ini banyak yang baca, jujur otor hampir menyerah buat nulis gais.


__ADS_2