
"Bissmillah..." gumam Dinda pagi itu saat menuruni tangga hendak sarapan sebelum berangkat kerja. Ia memohon dengan sangat, agar pagi ini tidak iring-iringan mobil lagi dengan Ariel.
Bagaimana bisa cepat move on kalo tiap pagi ketemu terus sama orangnya? Ga ketemu aja masih susah, apalagi ketemu.
Setelah sarapan, Dinda menyempatkan sebentar untuk menimbang berat badannya. Dinda memang sudah lama memiliki timbangan itu, lebih tepatnya karena di belikan Ariel.
"44 kilo... turunnya drastis banget. Padahal seminggu yang lalu masih 50. Ternyata patah hati adalah obat diet paling ampuh" ucap Dinda sambil memasang kembali sepatunya.
Kini Dinda sudah tepat berdiri depan pintu utama rumahnya, tapi posisi Dinda masih di dalam rumah. Ia sengaja ingin mengulur waktu sebentar, biarlah Ariel berangkat lebih dulu.
5 Menit berlalu, Dinda sudah yakin sekali bahwa Ariel sudah berangkat lebih dulu. Karena selama ia memantau dari jendela rumahnya, Dinda sama sekali tak melihat mobil Ariel keluar.
Dengan langkah tegap, Dinda pun membuka pintu dan melangkah menuju garasi mobilnya. Dan tepat saat Dinda hendak keluar pagar, mobil Ariel juga sama.
Dinda pun menghentikan mobilnya sebentar, memberi jarak aman dengan mobil Ariel.
"1... 2... 3.... 4... 5... 6... 7... 8... 9... Go". Setelah menghitung jedanya, Dinda pun akhirnya melajukan mobilnya dengan santai menuju kantor.
Di kantor Dinda
"Hello... hello... hello..." sapa Dinda dengan lirik lagu saat baru masuk ke ruang kerjanya. Dan yang terlihat hanya Vinike dan Sigit saja yang sudah datang.
"Baru datang lu?" tanya Sigit.
"Menurut lu? Apa pernah gue nginap di sini?" jawab Dinda dengan ketus.
"Kali aja. Lu kan rada-rada, Din". Kali ini Vinike yang berbicara.
"Enak aja. Btw, si Sari mana ya? Flashdisk gue di bawa kabur dia tuh" ucap Dinda sambil nyeduh kopi yang di letakkan Sigit di mejanya. Sigit emang paling top dah!
__ADS_1
Setelah kedatangan Sari yang agak terlambat, Dinda pun akhirnya bisa meneruskan kerjaannya yang belum selesai di Flashdisk miliknya yang Sari bawa. Dinda bekerja dengan sangat fokus sampai akhirnya pekerjaan mereka terhenti ketika sudah memasuki jam istirahat.
Sigit yang siap-siap hendak Sholat Jum'at di masjid dekat kantor, sempat bertanya...
"Mau makan siang di mana? Tungguin gue ya. Gue sholat bentar" ucap Sigit.
"Iihhh ngga... Ngga mau" ucap Dinda, Sari, dan Vinike berbarengan.
"Lu sholatnya lama, ntar kantin keburu rame. Susah cari tempat duduk" timpal Dinda.
"Busyettt. Perkara tempat duduk doang lu sampe tega ama gua" ungkap Sigit.
"Ga mau tau, pokonya tungguin. Bye" pungkas Sigit kemudian beranjak meninggalkan ruang kerja dengan menenteng sejadahnya.
"Kaya ga punya temen aja. Maunya nempel gue mulu" gerutu Dinda.
1 jam kemudian akhirnya Sigit datang dengan tampilan papa muda yang terlihat banyak duitnya. Mungkin ini efek dahsyatnya air wudhu kali yaa, hahaha...
Sigit bisa begitu aduhai di pandang kalo balik sholat Jum'at bawa tentengan. Seperti kali ini, terlihat jelas tulisan di kotak makanan yang terpampang nyata di balik kresek putih transparan di tangan kanan Sigit.
"Yeeee, Bapak pulang" teriak 3 cewek kelaparan di depan pintu ruang kerja mereka.
"Makanya, patuh kalo Bapak bilang tunggu ya tunggu" ucap Sigit dengan sombongnya.
Sigit pun masuk ke dalam ruang kerjanya dan mulai membagi-bagikan makanan yang tadi sempat ia beli saat baru pulang sholat Jum'at. Sigit memang sering seperti ini, mentraktir Dinda dan yang lain, tapi bukan yang tiap jum'at juga. Melainkan kadang 2 minggu sekali, atau sebulan sekali.
Dan 3 cewek-cewek itu memang sangat menikmati di traktir Sigit. Malah kadang mereka mengingatkan Sigit kalau dalam 1 bulan ini Sigit belum ada traktir mereka.
"Bismillahirrohmanirrohiim..." ucap mereka bersamaan saat mereka hendak makan.
__ADS_1
Sore harinya
Setelah seharian bekerja, jam pun sudah menunjukkan waktunya pulang. Dinda mematikan komputernya dengan senyum cemerlang.
Deadlinenya untuk 2 hari ke depan sudah ia selesaikan. Kerja hari ini juga ga ngeluarin uang.
Dinda pun meluruskan kedua tangannya tinggi-tinggi ke atas kepala, kemudian memutar pinggangnya ke kiri dan kanan. Lelah memang, tapi ia merasa semua sudah jauh lebih baik.
Dunia Dinda terasa lebih indah hari ini. Apa karena Jum'at Barokah kali yaa...
Dan hari ini, Dinda sedang malas keluyuran. Ia akan langsung pulang saja ke rumah, karena sudah cukuplah baginya beberapa hari ini pulang malam.
Dinda sampai di rumah saat Adzan maghrib sedang berkumandang. Dinda pun segera turun dari mobilnya dan menuju ke kamarnya untuk bisa segera bersih-bersih dan sholat maghrib.
●●●
Setelah selesai menjalankan ibadahnya, Dinda pun turun ke bawah untuk melihat makanan apa yang di masak oleh Bi Hanum. Ternyata Bi Hanum masak ayam bakar.
Soalnya kata Bi Hanum, ia rindu dengan ayam bakar nasi padang. Deg... Nasi padang? Dinda pun sepakat dengan Bi Hanum.
Dinda juga suka makan nasi padang. Terakhir kali Dinda makan nasi padang... Ya waktu sama Ariel dulu.
Dinda jadi kangen, bukan hanya kangen dengan rasa nasi padang beserta lauknya. Tapi, kangen dengan momen ketika makan nasi padang sama Ariel.
Andai saja momen itu bisa di ulang. Aku bakal bilang ke kamu, Riel. Kalo aku bahagiaaaaa banget makan nasi padang bareng kamu. Aku bahagiaaaa banget bisa jadi pacar kamu. Sayangnya aku juga lupa, untuk bilang ke kamu. Jangan tinggalin aku ya :'(
Rasanya ada banyak momen yang pengen aku ulang bareng kamu, Riel. Tapi aku tahu. Aku cukup sadar diri. Sekarang aku bukan siapa-siapa kamu lagi. Do'ain aku ya, biar bisa cepat pulih dari keterpurukan ini. Kira-kira nanti bakal ada lagi gak ya, Riel cowo yang mau nemenin aku main di time zone kaya kamu. Aku takut ga ada, Riel. Mereka-mereka di luar sana itu pada dewasa semua. Aku susah nemu yang "seiring sejalan" sama aku. Kamu juga, kenapa ninggalin aku gitu aja? Alasannya apa, Riel. Kamu sendiri waktu itu bilang aku kekanak-kanakan. Terus cara kamu kaya gini ke aku bisa di sebut dewasa, gitu?
Eh, kok aku ga ngeluarin air mata lagi ya? Biasanya ingat Ariel dikit langsung ngalir, ucap Dinda bahagia dalam hatinya. Karena Dinda mulai sadar, bahwa sekarang ia sudah mulai tegar mengahadapi kenyataan.
__ADS_1
Makasih ya Allah, Alhamdulillah... Aku sudah lebih baik hari ini. Setelah ini, kenalin aku langsung sama yang tepat aja ya... Hambamu yang satu ini udah jera dan menyerah ya Allah.
Ampuni aku yang lemah ini.