(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
40. Beneran


__ADS_3

"Kakak... kakak... aku disini".


Terdengar pekikan anak kecil, Dinda dan Ariel sempat celingukan mencari di mana pemilik sumber suara itu. Mungkin karena ukuran tubuhnya di bawah pinggang Dinda maka mereka tak mampu melihat keberadaannya. Terlebih ketutupan oleh orang dewasa lainnya, mungkin.


Dinda dan Ariel hanya melongos saja. Karena di tempat terbuka seperti ini mana mungkin panggilan itu di tujukan ke mereka. Karena mereka tidak memiliki ponakan ataupun adik. Kecuali...


"Hai, kamu? Bocah tengil waktu itu kan?" ucap Ariel yang tiba-tiba menghentikan langkahnya saat melihat anak kecil itu yang sengaja berlari ke arahnya dan hampir tertabrak Ariel.


"Abang salah, yang tengil bukan aku. Tapi abang" tukasnya dengan ekspresi marah. Namun setelah melihat ke arah Dinda ia tersenyum manis.


"Hallo kakak cantik" sapanyaoada Dinda.


"Hallo adik tampan" balas Dinda sambil mengusel-usel pipinya yang gembul.


"Kok kemaren kakak gak kesini lagi?" tanya bocah itu pada Dinda dan menaikkan ke dua tangannya tinggi. Kode minta di gendong.


Hap, bocah itu masuk ke dalam gendongan Ariel. Tepat sebelum tangan Dinda menyentuh bocah itu.


"Kakak berdua ini sibuk, jadi ga bisa ke sini tiap hari kaya kamu". Ariel yang menjawab.


"Orang tua kamu mana? Mainnya jangan jauh-jauh nanti orang tua kamu khawatir lho" pungkas Dinda sambil memegangi jemari anak laki-laki itu yang menggantung di belakang pundak Ariel.


"Aku kesini sama Papa, aku udah izin mau kejar kakak baik. Papa pasti gak khawatir" ucap Anak itu lagi.


Sambil berjalan ke arah permainan bola basket, mereka bertiga bercakap-cakap membahas tentang permainan apa saja yang di senangi bocah itu di sana. Hampir semua permainan ternyata adalah favoritnya.


"Oh iya, kita kan belom kenalan. Namu kamu siapa, sayang?" tanya Dinda dengan menciumi tangan anak laki-laki itu yang khas sekali. Namun Dinda terlihat sangat menyukai baunya.


"Nama aku Farhan kak, kalo nama abang sama kakak siapa ?" kata anak laki-laki yang bernama farhan itu. Ia balik bertanya sambil merangkul erat Ariel namun menatap teduh ke arah Dinda.


"Kamu gemesin banget siii". Cubit pelan Dinda di pipi Farhan. "Nama kakak Dinda, kalo nama abang ganteng yang gendong kamu ini abang Ariel" tutur Dinda sambil merangkul pundak Ariel sehingga mereka terlihat seperti keluarga bahagia.

__ADS_1


"Kita mau main apa sayang?" tanya Ariel yang terlihat seperti papa muda yang tampan dan keren.


"Farhan mau main apa?. Dinda balik melempar pertanyaan Ariel ke Farhan.


"Basket aja bang, aku suka basket" ucap Farhan dengan girang. Untung saja Ariel menggendongnya dengan sangat hati-hati. Kalau tidak, bisa jatuh si Farhan.


"Oh ya? Bagus itu, kamu bisa di lirik cewek-cewek nanti kalo gedenya suka main basket. Biar Abang yang latih kamu jadi profesional" ucap Ariel memimpin jalan mereka ke arah permainan basket berada.


"Iya, di latih jadi playboy profesional kaya kamu sekarang" umpat Dinda pelan di belakang punggung Ariel. "Jangan mau, Farhan. Masih banyak pelatih yang lebih baik di luar sana" ucap Dinda lantang.


"Yee, aku jago banget ya mainnya. Kenapa harus sama yang lain" sahut Ariel.


"Farhan mau di gendongin terus nih? Ga bisa main dong abangnya" ucap Dinda mengalihkan pembicaraan saat mereka sudah tepat di depan ring basket yang lagi kosong alias lagi ga ada yang mainin.


"Aku mau turun, mau tempat papa. Mau ambil kartu aku dulu" ucap Farhan minta turun. Lalu berlari ke arah di mana papanya berada.


Belum sempat Ariel menawarkan diri untuk menemaninya pergi ke papanya, si Farhan malah lebih dulu berlari pergi menjauh dari Ariel. Ya sudahlah.


"Ini sayang" sahut Ariel yang mengeluarkan dompetnya dan memberikan kartu kreditnya pada Dinda.


"Okeee" ucap Dinda saat menerima kartu kredit tersebut dan berlalu pergi.


Setelah mereka bertiga kembali berkumpul menjadi "keluarga bahagia", maka di mulailah permainan basket ala-ala Farhan VS Ariel. Mereka sepakat, jika Ariel yang kalah maka harus temenin Farhan mandi bola. Tapi jika Farhan yang kalah, Farhan harus bayarin semua permainan yang Ariel dan Dinda mainkan.


Kesepakatan itu sengaja di buat agar Farhan bahagia. Untuk yang menemani Farhan mandi bola, itu Ariel serius. Tapi untuk kesepakatan yang satunya lagi, Ariel hanya bercanda. Toh nanti Ariel juga akan sengaja ngalah demi Farhan.


Karena lucu sekali melihat pipi Farhan kala ia tersenyum. Di tambah lagi jejak-jejak ketampanan Farhan sudah terlihat sejak dini. Wajar sih, karena papanya Farhan ini sangat tampan meski usianya sudah tak lagi muda.


Dinda dan Ariel sangat gemas melihatnya. Terlebih Farhan ini tampaknya selalu rapi. Dan itu terlihat dari sejak pertama kali mereka bertemu. Bau keringat Farhan pun tidak asyem, dan Dinda suka.


Dinda berdiri tidak jauh dari posisi Ariel dan Farhan. Ia bersender di salah satu permainan putar-putar yang sedang tidak di pergunakan.

__ADS_1


Dinda mengamati 2 laki-laki itu dengan jarak hanya 2 meter saja dari posisi Ariel dan Farhan.


Dinda merasa bahagia sekali hari itu, ia sampai menghayal jika suatu saat beginilah keadaannya jika kelak ia dan Ariel menikah dan memiliki anak.


Ariel tampak sabar dan telaten sekali mengajari Farhan cara nge-shoot bola basket itu agar jatuh tepat ke dalam ring.


Tanpa sadar, ternyata mereka sudah bermain cukup lama disana. Dan Dinda masih saja termenung di posisinya.


"Ehem". Senggol Ariel dengan bahunya ke bahu Dinda.


Ternyata Ariel sudah berada di sampingnya dengan bahu yang saling bersentuhan.


"Kamu melamun? Banyak beban ya?" tanya Ariel dengan tatapan curiga.


"Kalo ada masalah tuh cerita sama aku, buat apa kita pacaran kalo aku ga ada gunanya buat kamu" sambung Ariel lagi.


"Mulai deh jadi psikolog dadakan. Iya, tadi aku melamun, memang. Tapi bukan karena banyak beban, aku ngayal kamu lagi jadi hot daddy" omel Dinda di telinga Ariel.


"Ciee, pasti kamu yang jadi hot mommynya, iya kan?" terka Ariel yang membuat Dinda merona malu.


"Aku nggak hot, aku berhijab soalnya hahaha". Dinda meledek Ariel karena tebakannya salah.


Terlebih otak Ariel akan mendadak jenius jika membahas sesuatu yang hot-hot seperti ini. Maka Dinda harus pandai menguasai situasi agar tidak menjurus ke yang lebih fatal.


"Yaah, ga bisa komen lagi deh kalo gini" ucap Ariel lesu.


"Mana si Farhan?" tanya Dinda yang tak sadar apa-apa sejak tadi.


"Udah di ambil papanya. Di ajak pulang soalnya udah kelamaan dia main di sini". Ariel menyeka keringat dengan lengan kemejanya.


"Untung aja tadi tuh bocah di ambil papanya, kalo ngga, aku bisa kehilangan harga diri nih gegara harus nemenin dia mandi bola di situ" curhat Ariel sambil matanya menatap ke arah permainan mandi bola yang di dalamnya di penuhi anak balita dan tidak ada satupun orang dewasanya.

__ADS_1


"Yaah, padahal mau aku videoin kalo kamu lagi mandi bola" pungkas Dinda tertawa meledek Ariel.


__ADS_2