(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Mustahil Tuk Pergi


__ADS_3

Sehabis pulang dari acara perayaan ulang tahun Sherly, Dinda mengumpulkan niatnya untuk sedikit memberi jarak dengan Nanda. Ia merasa sejauh ini masih tak tahu apa-apa perihal hubungan Lita dan Nanda yang katanya hanya sebatas sahabat. Namun, Dinda merasa tak seperti itu. Terlalu mencurigai pasangan memang tidak baik, namun Dinda juga perlu usaha sendiri untuk bisa membangun kembali rasa percayanya pada Nanda setelah kejadian didiamkan saat ada Lita. Dan satu lagi, pengalaman pahit yang pernah Dinda lalui yang membuat Dinda harus segera mengambil sikap sebelum ia berakhir sia-sia dan jadi manusia bodoh yang tak tahu apa-apa.


Setidaknya kalau nanti ketahuan bahwa memang Nanda dan Lita ada hubungan di belakangnya, hati Dinda sudah siap. Daripada Dinda tak menyelidiki apa-apa namun tahu-tahu di tinggal nikah, sakitnya akan luar biasa.


●●●


Hari ini, Dinda akan memulai niatnya untuk menghindari Nanda. Beberapa panggilan telepon Nanda yang setiap harinya mengucapkan selamat pagi buat Dinda tidak ia gubris. Dinda memilih untuk sholat subuh, lalu bersantai di balkon sebentar baru kemudian mandi dan berangkat kerja.


●●●


Sampai 3 hari berlalu, Nanda baru menyadari bahwa sikap Dinda yang berubah akhir-akhir ini. Biasanya tiap di telpon subuh-subuh Dinda pasti angkat karena memang Dinda sudah bangun di jam biasanya Nanda menelepon. Tapi, 3 hari ini Dinda justru susah di hubungi. Di kirimi pesan juga tak di balas.


Pov Nanda


Setelah mengunjungi Tempat Kejadian Perkara (TKP) atas kasus pembunuhan yang saat ini sedang aku selidiki, aku mulai kepikiran dengan pacarku yang 3 hari ini benar-benar tak mempedulikanku. Aku tak tahu apa salahku, namun yang jelas, aku tahu dia akan berubah seperti ini kalau aku punya salah. Tapi apa? Ku telpon dia, tak di angkatnya. Ku kirim pesan tak dibalasnya. Inginku menemuinya tapi takut mengganggu waktu kerjanya. Akhirnya kutunggu sampai jam istirahat tiba biar aku jemput dia untuk meminta kejelasan mengapa dia berubah.


Jam setengah 12 aku melajukan mobilku menuju ke kantor tempat Dinda bekerja. Aku melihat dari arah seberang kantor, 10 menit aku menunggu tapi dia belum juga keluar padahal ini sudah jam 12 lewat 20. Teman-teman dekatnya yang sudah kuhafal terlihat keluar bersama, tapi tak ada Dinda di antara mereka. Tak biasanya. Lagi-lagi aku heran, karena selama lebih dari setengah tahun kami bersama aku sudah sangat hafal kebiasaan Dinda kalau keluar makan siang selalu bareng teman-temannya.


Akupun menelepon Dinda, 2 kali panggilan itu di abaikan. Akhirnya aku memutuskan untuk masuk saja kedalam.


"Permisi, kenal Dinda gak mas? Saya ada perlu dengan beliau" ucapku dengan tegas kepada seorang laki-laki yang berpapasan denganku di pintu masuk sambil menunjukkan lencanaku seolah urusanku ini bukan urusan pribadi biasa.


"Masuk aja pak, dari sini lurus terus ada pintu kaca di sebelah kiri. Bapak masuk aja, didalam situ juga pintunya kaca semua jadi bisa lihat sendiri ada Dindanya atau ngga" jelas si laki-laki tersebut.

__ADS_1


"Makasih ya mas" ucapku lalu berjalan sesuai dengan instruksi laki-laki tadi.


Benar saja, di dalam ruangan ini ternyata ada banyak ruangan lagi yang pintunya serba kaca. Tempat pertama yang aku lewati, kulihat kosong. Lalu tempat di sebelahnya juga kosong. Sambil berjalan aku mengamati sekelilingku sambil celingak-celinguk ke dalam ruangan apapun yang aku lewati. Hingga aku mendengar suara mesin fotokopi yang sedang beroperasi. Aku pun mempercepat langkah menuju ke sumber suara. Aku berharap akan menemui Dinda, kekasihku.


Dan sampailah aku berdiri di belakang Dinda yang sedang mengotak-atik mesin fotokopi. Aku pun menutupi matanya dari belakang. Tak kusangka, ia begitu hafal dengan jari-jariku. Ia meraba tanganku dan berkata "Yank, jangan aneh-aneh deh. Ini di kantor" ucapnya yang membuatku langsung melepaskan tanganku yang menutupi matanya.


"Kamu kenapa sih, Yank? Di telepon ga diangkat, chat juga gak dibalas" tanya aku yang gemas bahkan hampir nangis karena aku sangat merindukan Dinda yang cuek akhir-akhir ini. Aku juga tak mengerti mengapa aku sedih sekali saat bertemunya.


"Cengeng banget sih kamu" cubit Dinda pada pinggangku namun setelah itu aku di peluknya. Makin terharu rasanya, aku pun meneteskan air mata. Ga banyak, dikit aja, malu sama profesi.


Ia masih sebaik ini meski aku sudah berkali-kali mengecewakannya. Termasuk membuatnya menjauh 3 hari ini, aku tahu pasti ada sebabnya. Tak lain dan tak bukan pasti karena ulahku.


"Yank, jawab" rengekku karena pertanyaanku tadi tak kunjung ia jawab.


"Kok bisa kamu mikir gitu?" tanyaku sambil melihat ke mesin fotokopi di belakangnya yang sudah selesai beroperasi.


"Ya bisalah. Kamu peduli aja nggak sama aku waktu Lita datang ke acaranya Sherly. Di cuekin tuh ga enak, kan? Ya itu yang aku rasain saat udah ada Lita" Dinda berkata dengan lembut bahkan ia sampai merapikan kerah bajuku. Saat marah saja, ia tetap menujukkan sikap pedulinya. Memang jahat aku ini, rutukku pada diriku sendiri.


"Sumpah demi apapun Yank, aku ga tahu kalo aku sampe bersikap segitunya sama kamu. Aku sih jujur aja kalo aku ngerasa biasa aja waktu itu. Aku ngelihat Lita terus ngobrol bareng dia tapi aku tetap sadar kok kalo kamu ada di samping aku. Dan aku ga bermaksud buat cuekin kamu, cuman pada saat itu mungkin memang aku terlalu sibuk ngobrol sama Lita. Maaf yaa" aku menjelaskan semua menurut sudut pandangku. Aku tak ingin kesalah pahaman bisa mengambil alih hubunganku.


"Memang aku di samping kamu, bahkan selalu. Tapi tatapan kamu ke Lita" timpalnya. Membuatku berfikir memang bagaimana caraku menatap Lita. Bukannya sama saja seperti menatap semua orang.


"Ahhh susah jelasinnya. Kamu juga ga bakal ngerti. Feelnya itu lho Yank" gerutu Dinda yang kesulitan menjelaskan padaku. "Tuh kan pasti gak ngerti" sambungnya lagi dengan raut putus asa.

__ADS_1


Aku pun tersenyum melihatnya frustasi karena tak mampu menemukan kata-kata yang tepat untuk mendeskripsikan yang ia maksud. Namun, aku mencoba paham dan tak ingin menambah beban pikirannya. Aku mengajaknya untuk makan siang diluar biar ngobrolnya bisa dilanjut.


"Gak ah, gak laper" tolaknya.


"Emang udah makan apa aja tadi pagi?" tanyaku dengan tetap memainkan cincin di jarinya. 3 bulanan ini aku menemukan hobby baru, memilin-milin cincin yang sedang di pakainya. Tak tahu awal mulanya kenapa, yang jelas aku suka sekali.


"Ga makan apa-apa" jawabnya lalu berbalik badan mengurusi kertas tadi yang ia fotokopi.


"Nanti kamu sakit Yank. Udahlah, ayo makan. Aku laper" bujukku biar dia mau kuajak makan siang.


"Mau, tapi aku maunya sate mamang yang waktu dulu kita beli pas mau nginap di rumah sakit buat jagain Lita" pintanya yang membuatku berpikir apa mamang itu sudah jualan siang-siang begini?


"Kamu ngidam ya?" tanyaku bercanda.


"Iya, oom yang waktu itu ga mau tanggung jawab Yank" rengeknya sambil menggelayut manja di lenganku. Namun tak mengurungkan niatku untuk menyentil keningnya. Ctak.


"Aduh ssakit" eluhnya.


"Makanya kalo ngomong tuh di ayak dulu" sahutku sambil menuntunnya kembali menggelayut manja di lenganku. Karena aku suka, seperti ada yang kenyal-kenyal menempel di... Astaghfirullah, sadar-sadar. Tapi Dinda sudah keburu menggelayut di leganku. Ya sudahlah, toh kami sepasang kekasih. Bahkan banyak orang yang sudah melakukan hal yang jauh lebih parah dari kami saat ini. Yang terpenting jaga iman saja. Orang lain boleh aneh-aneh, tapi aku jangan.


Pov Nanda End


●●●

__ADS_1


Hello, masih kuatkan puasanya ? Sabar, buka masih lama hehe


__ADS_2