(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
32. Lega


__ADS_3

Saat mereka telah sampai di restoran, Dinda dan Ayu segera turun dan menuju ke salah satu meja yang letaknya sangat strategis menurut mereka. Karena letaknya berada di dekat dinding kaca yang memiliki pemandangan di luarnya yang sangat indah.


Terlebih kalo di malam hari. Tempat itu akan di penuhi lampu-lampu cantik yang kian menambah kesan mewah di sana.


"Mau pesen apa lu ?" tanya Ayu saat mereka baru saja menjatuhkan tubuhnya pada kursi yang saling berseberangan.


"Kalo bisa sih semuanya, mumpung bininya CEO yang bayarin" kekeh Dinda sambil membaca menu yang baru saja di antarkan seorang pelayan ke padanya.


"Gapapa, asalkan kalo gue bangkrut lo bersedia nampung gua" tukas Ayu yang membuat sang pelayan tersenyum mendengar celotehan mereka.


Setelah memesan makanan mereka, Dinda kembali membuka percakapan mengulang tentang hubungannya dengan Ariel, seolah yang di mobil tadi belom resmi. Karena memang niatnya mau curhat di tempat bagus.


"Yu, kalo si Ariel tiba-tiba nongol depan gua terus dia mohon-mohon lagi. Gue harus bereaksi kaya gimana ?" tanya Dinda yang sedang mengetikkan sesuatu lalu seketika meletakkan ponselnya ke meja. Mungkin baru saja mengabari suaminya.


"Kalo beneran dia mohon-mohon lagi sama lo, ya udah. Hadapin aja, santai. Tetep jadi diri lo sendiri. Senyaman-nyamannya lo aja. Terus perhatiin tiap kalimatnya. Hati lo pasti bisa deteksi itu, apakah kalimatnya keluar dari hatinya atau sekedar rangkaian kata biar lo luluh lagi" tutur Ayu yang dalam hatinya mendoakan semoga Dinda dan Ariel sama-sama dewasa menyikapi hubungan mereka dan kalo memang berjodoh semoga bisa saling setia sampai pelaminan. Karena ia pun ikut prihatin melihat Dinda yang kini terlihat tetap cantik, memang.


Hanya saja terlihat lebih kurus dari saat pertemuan di acara akad nikah Ayu. Yakni 1 minggu yang lalu.


"Gue bener-bener makan hati rasanya, di selingkuhin bukan sekali dua kali. Tapi udah tiga kali. Kalo kaya gini terus bisa mati berdiri gua" beber Dinda yang kembali emosi jiwa karena ingat kesalahan Ariel padanya.


"Intinya, lo nanya begitu karena berharap Ariel balik lagi ke lo apa gimana ?" tanya Ayu memancing Dinda agar lebih terbuka padanya.


"Ngga tahu, tapi dia selalu begitu. Di hubungan kami yang hampir 2 tahun ini, gue udah paham banget sama dia. Habis ketahuan selingkuh, pasti akan ada jeda 1 minggu sampai 2 minggu sebelum dia kembali hubungin gue dan ..." ucap Dinda yang kemudian melemah di ujung kalimatnya.


"Dan lo luluh lagi" pungkas Ayu menyambung kalimat Dinda.

__ADS_1


"Udahlah, biarin aja. Suatu saat kalo memang jodoh lo bukan dia, itu berarti dia bukan yang terbaik buat lo. Biarin aja dia begitu, kalo memang dia beneran sadar, pasti bakal berubah sendiri tanpa harus lo yang maksa dia untuk berhenti selingkuh. Karena yang bisa merubah kebiasaan buruk itu ya diri dia sendiri" tukas Ayu berusaha memberi saran sebaik mungkin.


Akhirnya pesanan mereka datang, seketika mereka berdua menghentikan sesi curhatnya dan ingin segera menyantap 2 jenis sushi, 2 jenis mie udon sesuai pesanan mereka masing-masing dan 2 gelas teh ocha (bukan Teh Ocha "Rossa" ya gais) yang memang minuman khas Jepang dan selalu tersedia di restoran Jepang manapun.


"Gue suka banget nih sama ebi tempura di sini" celetuk Dinda sambil mengangkat udang tepung yang menjadi topping mie udon miliknya itu ke depan wajahnya. Memperlihatkannya kepada Ayu.


"Cerah muka lo abis makan ebi tempura, kenapa ga pesen ebinya aja" ujar Ayu yang melihat Dinda sekilas kemudian kembali melanjutkan makannya dengan sedikit menunduk.


"Yee, bisa kolesterol gue kalo makannya cuma gorengan" sahut Dinda.


"Gue mau tanya, lo ga tertarik sama Zapata ?" ucap Ayu tiba-tiba. Untung saja tidak membuat Dinda batuk atau keselek seperti adegan klise di sinetron negara Vanuatu.


"Kenapa lu tiba-tiba nanya begitu ?" tanya Dinda lugas.


"Gue baru ketemu sekali, ga mungkin langsung naksir. Memang sih cakep, tapi pekerjaannya pejabat, gue ga tertarik" sambung Dinda lagi.


"Tuh kan, dia pasti cowo pintar tapi ga asik. Makanya cakep tapi jones. Emang begitu biasanya kalo jadi orang kelewat pinter. Lawan jenis mau mendekat keburu minder. Apalagi embel-embel di belakang namanya udah sepanjang jalan kenangan aja gue liat" beber Dinda yang yakin 100 persen bahwa yang ia sebutkan pasti benar.


"Sotoy. Buruan makannya di abisin. Gue udah kosong nih" ucap Ayu memiringkan sedikit mangkoknya biar Dinda lihat.


"Gue juga udah ni" pungkas Dinda.


"Ehem, jangan pura-pura ga liat ya bund" sambung Dinda lagi seperti memberi kode.


Seketika Ayu langsung menyentuh sushi di hadapan mereka.

__ADS_1


"Hehe, gue bukan ga liat tapi lupa" ujar Ayu cengengesan.


"we we we we we we" ejek Dinda pada Ayu dengan ekspresi menyebalkan.


"Noh buruan makan juga" ujar Ayu menggesar sepiring sushi lain kedepan Dinda.


"Jeda dulu bos, Ariel aja butuh jeda seminggu masa gua main nyosor aja. Gue kan cewek, maunya di kejar bukan mengejar" sahut Dinda sambil kekenyangan.


"Serah lu dah" jawab Ayu singkat.


Setelah berada 1 jam di sana, akhirnya semua makanan itu lenyap tak bersisa. Mereka pun berniat untuk keliling jalan-jalan dulu sebelum kembali mengantarkan Ayu pulang ke rumah barunya yang hanya ia tempati bersama Aidil, suaminya.


"Kita kemana nih ?, belok kiri belok kanan ?" tanya Dinda saat mereka sudah berada tepat di pinggir jalan. Jika mereka belok kiri, mereka hanya tinggal mengikuti jalur. Tapi, kalo ke arah kanan artinya mereka tetap belok kiri dulu, nanti bisa putar balik.


"Ah elu, gitu aja pusing. Jadi cewek tuh jangan sikit-sikit bimbang. Meski kanan adalah yang terbaik, tapi ribet. Udahlah, belok kiri aja" tukas Ayu panjang lebar.


"Ah elu, gitu aja pake pidato. Bilang aja singkat, padat, dan jelas. Kiri, bang!" ujar Dinda yang ujungnya bikin Ayu tertawa karena memperagakan seperti seorang penumpang yang mau turun dari angkot.


Mereka pun berceloteh ria sambil dengar lagu yang terputar di dalam mobil. Siang itu mereka banyak tersenyum karena perut kenyang dan hati lega.


Setelah 30 menit berkeliling tanpa tujuan akhirnya Dinda putar balik ke arah perumahan yang di tempati Ayu.


Sesaat sebelum Ayu turun dari mobilnya, Ayu berkata "Ngga perlu takut dia pergi, takutlah kalo dia bersamamu tapi hatinya buat orang lain. Suatu saat kamu bakal mengerti kenapa kamu harus bersyukur telah dilepaskan oleh seseorang yang pernah kamu perjuangkan sepenuh hati".


"Gue terharu" ucap Dinda polos.

__ADS_1


"Sumbernya dari IG" ujar Ayu sambil terkekeh.


"Sue lu, gue kira kata-kata lu" ujar Dinda.


__ADS_2