(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Semat dan Gunting


__ADS_3

Selamat pagi, siang, sore, malam.... Jangan lupa kasih likenya ya biar lelah ini ada hikmahnya hehešŸ˜ššŸ‘šŸ‘


...*...


...**...


...***...


"Ah yank... Ah yank.... Aaahh"


"Kamu kenapa sih? Daritadi ah-ah-ah-ah aja. Gimana tawaran kebun bunga Yono, diterima apa nggak? Kamu harus cepet kasih jawaban, biar orangtua Yono bisa cepat ambil tindakan kalo semisalnya kamu tolak.


Mereka disini cuma seminggu lho yank, kasian adiknya si Tono ditinggal lama" ujar Nanda.


"Itu dia, aku pusing sekarang. Mau diterima tapi sebenarnya luas kebun bunga dia malah gak sebanding sama uang 15 juta aku, kan jadi gak enak. Mau nolak tapi aku emang pengen berkebun. Jadi, gimana tuh yank?" tutur Dinda meminta pendapat suaminya.


"Kalo memang kamu mau, kita tawar lagi aja. Kita tambah lagi duit kita ke mereka. Biar sama-sama enak" saran Nanda pada istrinya.


"Aku setuju. Yeee akhirnya aku mau punya kebun bunga. Emh ada satu lagi, aku pengen jadiin itu kafe biar jadi kerjaan sampingan aku. Selain kerja di perusahaan papa, aku juga mantau kafe. Boleh?" kata Dinda histeris dengan segala angan-angannya.


"Hm" Nanda bergumam sambil menggeleng.


"Kenapa?" tanya Dinda lesu.


"Kamu lagi hamil, jangan capek-capek" titah Nanda.


"Oke-oke" jawab Dinda lemah lalu meninggalkan Nanda di meja makan seorang diri.


"Hmmm, ngambek lagi" ujar Nanda sambil mengusap wajahnya.


*


Dikeesokan harinya Nanda dan Dinda menemui kedua orangtua Yono di hotel. Kedua orangtua Yono sangat hangat pada Dinda.


Beberapa kali ibu Yono mengusap perutnya dan selalu memberikan wejangan pada Dinda dan Nanda tentang hal-hal yang pamali untuk dilakukan oleh ibu hamil. Dinda dan Nanda patuh mendengarkan sambil sesekali melempar senyum.


"Bu, kita mau terima kebun bunga Yono tapi gak gratis ya bu" kata Nanda.


"Maksudnya apa?" tanya bapak.

__ADS_1


"Kita bayar pak. Kan kemaren uang istri saya yang di ambil Yono cuma 15 juta, sedangkan harga kebun Yono itu nilai jualnya di atas 15 juta pak. Kami berdua gak enak kalau main terima-terima aja. Nah dari ibu sama bapak, mau nentuin harga berapa biar kita bayar" ujar Nanda.


Ibu tersenyum pada bapak. Lalu ibu memegang kedua tangan Dinda. "Jangan dibayar, ambil saja. Yono ngasihnya ikhlas. Ibu sama bapak juga ndak keberatan. Yono cuma berharap kebun bunganya jatuh ke tangan yang tepat" ujar Ibu.


Dinda yang sangat sensitif itupun langsung memeluk ibu dan menangis sesenggukan di punggungnya. "Ibu, makasih. Bilang sama Yono juga makasih ya bu. Selama Yono disini biar saya sama suami yang jaga, ibu sama bapak jangan khawatir" ujar Dinda setelah melerai pelukannya.


"Iya, ibu sama bapak senang kalau kalian mau menerima kebun bunganya" ujar ibu.


"Pak, bu, kalo gitu kita pamit dulu ya. Kita mau kerumah sakit lagi nih, mau cek kandungan. Terus saya juga mesti balik ke kantor" ucap Nanda saat dirasa mereka sudah cukup lama berbincang.


"Iya iya, kalian hati-hati di jalan. Semoga bayinya sehat, ibunya sehat" ucap ibu seraya mengusap kepala Dinda saat tangannya di cium oleh Dinda.


"Pak, pamit dulu ya"


"Iya, hati-hati" jawab Bapak Yono setelah mereka bersalaman.


*


Setelah resmi balik nama kebun bunga menjadi milik Dinda, kini mereka tengah kembali sesenggukan karena harus melepas kepergian bapak dan ibu Yono. Nanda dan Dinda memang bersikeras ingin mengantarkan bapak dan Ibu Yono ke stasiun kereta di keberangkatan paling awal.


Nanda dan Dinda juga sudah membeli beberapa oleh-oleh sebagai kenang-kenangan yang bisa di bawa oleh kedua orangtua Yono ke kampung. "Hati-hati di jalan ya bu, ini ada beberapa cemilan bisa di makan di kereta nanti" ujar Dinda sambil memberikan roti, air mineral, dan oleh-oleh yang sudah ia beli.


"Bapak mau ke toilet bu, tapi karena Nanda takut bapak nyasar makanya Nanda temenin" kata Dinda.


"Oalah, merepotkan sekali si bapak ini" gumam ibu tersenyum.


"Oh iya Din, ibu hampir lupa. Ada yang mau ibu kasih ke kamu". Ibu lalu merogoh ke dalam tasnya seperti mencari-cari sesuatu. Tak lama kemudian wajahnya berbinar saat barang yang dicari sudah ketemu.


"Apa itu bu?" tanya Dinda.


"Ini jarum semat, sama gunting. Kamu wajib pakek ya, biar aman gak di ganggu makhluk halus. Kemanapun kamu pergi, jangan sampe ditinggal. Terus gunting ini, cukup diletakin di deket tempat tidur kamu. Sini, sematnya ibu pakein, mau dimana?"


"Disini aja bu" Dinda menunjuk ujung blousenya agar dipasangi semat oleh ibu.


"Nah iya" Ibu pun langsung memasangkannya.


"Ingat kata ibu ya, jangan kelupaan" ucap ibu saat selesai menyematkan jarum semat pada pakaian Dinda.


Tak berapa lama, Nanda dan bapak juga sudah kembali bergabung bersama kedua perempuan itu. "Bu, ini minyak angin biar gak mual lagi diperjalanan" Bapak memberikan minyak angin yang sempat ia beli sehabis dari toilet.

__ADS_1


Ibu pun menerimanya dan langsung menyimpan ke dalam tasnya. Lalu terdengar pengumuman bahwa kereta yang akan bapak dan ibu naiki akan segera datang.


"Keretanya udah mau datang" ucap ibu sambil berkaca-kaca. Tidak hanya ibu, tapi juga Dinda, Nanda, dan bapak juga bersedih dengan perpisahan ini.


"Ibu, sematnya bakal aku pake terus. Ibu jangan khawatir yaa, Yono juga pasti bakal kami jaga seperti adik kami sendiri. Bapak sama ibu hati-hati dijalan, sehat-sehat disana. Hubungi kami kalo mau kesini lagi" ujar Dinda lalu memeluk ibu Yono.


"Pak Nanda, makasih atas semua kebaikannya" ujar bapak yang tidak mampu mengungkapkan kata-kata lagi.


"Pak, panggil saya Nanda saja. Berapa kali saya bilang, Yono sudah jadi adik saya itu artinya bapak bisa anggap saya anak bapak sendiri" ujar Nanda lalu memeluk erat bapak Yono.


"Bapak titip Yono, kabari bapak kalau ada apa-apa dengan anak itu. Bapak dan ibu tidak bisa lama-lama disini, adiknya Yono bisa ngamuk disana"


"Iya pak, kami pasti akan hubungi bapak" jawab Nanda.


"Pak, ayo kedalam. Nanti ketinggalan kereta" ujar ibu yang masih berpegangan tangan dengan Dinda.


Dinda dan Nanda bergantian menciumi punggung tangan kedua orang itu, mereka melepas kepergian bapak dan ibu dengan rasa haru yang menyelimuti keduanya. Walau perkenalan ini begitu singkat, tapi ketulusan di hati orangtua itu begitu mengena di hati Dinda dan Nanda.


Dinda dan Nanda masih berdiri meratapi punggung pasangan paruh baya itu sampai benar-benar menghilang. Keduanya saling berpegangan tangan, begitu erat.


"People come and go" gumam Nanda.


"Nggak, ibu sama bapak pasti abadi. Tidak di dunia, tapi dihati" jawab Dinda. Tangan kirinya boleh saja bergenggaman dengan tangan Nanda, tapi tangan kanannya terus memegang dan memilin-milin jarum semat yang terpasang di ujung blousenya.


Tidak hanya jarum semat, ibu juga sampai memberikan gunting stainless ukuran kecil yang bisa dilipat untuk Dinda, untuk perlindungannya. Walau Dinda adalah generasi muda yang tidak mempercayai hal-hal gaib ataupun mitos, namun ia sangat menghargai pemberian dari ibu.


Sepanjang perjalanan menuju pulang, tangan Dinda terus saja memain-mainkan jarum semat di bajunya. Itu benda yang akan selalu melekat ditubuhnya kemanapun ia pergi.


...*...


...**...


...***...


Siapa disini yang 2022 hamilnya masih nyimpen gunting ama semat buat jaga-jaga? Hayoo ngaku.


Jujurly, aku belum nikah tapi kalo kakak aku dulu juga gitu gengs, plus naro buah kundur di deket tempat tidur.


Btw, aku punya cerita agak creepy sih waktu kakak aku hamil, mau tau gak? Komen dibawahhhh⤵⤵⤵ Biar aku ceritain

__ADS_1


__ADS_2