(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
80. Hari Bersamanya (2)


__ADS_3

Dinda dan Nanda berkeliling mall sambil mencari-cari sesuatu yang tepat dan di sukai Sherly. Nanda dengan sabarnya mengekori Dinda yang senantiasa keluar masuk counter pakaian tanpa lelah sedikitpun.


"Yang, ngapain balik lagi? Tadi kan kita udah kesini?" tanya Nanda sambil mengingat-ingat kalau yang ia bilang itu benar dan memperhatikan brand pakaian yang terpajang di atas pintu masuknya.


"Iya, kayanya disini pakaiannya sesuai sama stylenya Sherly" jawab Dinda santai.


"Aku duduk dulu ya, kamu pilih aja sendiri. Berasa mau pingsan aku" ujar Nanda yang kelelahan. Baginya, ngegym 2 jam ga menguras tenaga sama sekali. Berbeda jauh dengan menemani perempuan belanja. Karena olahraga ada teknik pernafasan dan lain-lain. Tapi keluar masuk toko bolak-balik memang hanya perempuan yang menguasai tekniknya. Untuk yang satu ini, Nanda mengaku kalah.


Dinda memilih sebuah dress panjang berwarna nude nan elegan namun tetap simple dan juga pas buat anak remaja seperti Sherly. Sebelum membawa dress itu ke kasir, Dinda meminta pendapat Nanda terlebih dahulu. Setelah mendapat persetujuan Nanda mereka berdua langsung menuju kasir untuk membayarnya. Dinda mengeluarkan kartu debitnya, namun buru-buru di cegah oleh Nanda. Ia tak mengizinkan Dinda untuk membayar barang sepeserpun.


"Buat kamu ga sekalian aja?" tanya Nanda karena Dinda tidak membeli satu pakaian pun untuk dirinya. Jadi, selama Nanda menunggu Dinda 20 menit buat milih-milih ternyata cuma nyari buat Sherly doang.


"Ngga ah, soalnya baju di rumah juga masih banyak yang ga kepakek" kata Dinda yang memang memiliki baju seabrek namun yang di pakek itu-itu saja.


"Habis ini kita kemana lagi sayang?" tanya Nanda dengan penuh perhatian.


"Gimana kalo kita makan es krim, udah lama aku ga makan es krim. Ya sayang ya?" ajak Dinda memohon biar Nanda menuruti keinginannya.


"Iya, kemana aja kamu mau aku ikut" pungkas Nanda dengan mengulum senyum.


Mereka pun menuju ke area food court karena di sana ada yang menjual es krim yang Dinda maksud. Nanda seharian ini memang ia khususkan untuk menyenangkan hati pacarnya, karena mungkin dalam 1 bulan kedepan ia akan sangat sibuk di tambah lagi dengan kasus yang saat ini sedang ia tangani termasuk kasus besar. Dan pasti lama untuk pencarian pelaku utamanya. Maka dari itu, ia sangat berharap agar Dinda nantinya tetap setia mendampinginya meski jarang bertemu walau jarak antar rumah mereka terbilang cukup dekat namun jam kerja mereka saja yang jauh berbeda.


Sehabis dari tempat es krim, Dinda mengajak Nanda untuk ke bioskop. Rencananya mereka akan menonton film Horor sesuai dengan hobi Dinda. Tapi karena film horornya yang tayang hari ini kosong, alias tidak ada sama sekali. Hanya ada film Thriller, Action, dan Romance. Akhirnya mereka memilih untuk menonton film Thriller saja biar sensasinya tetap menegangkan seperti nonton film horor.

__ADS_1


Sepanjang menonton film, Nanda terus-terusan menggenggam erat jemari Dinda. Seolah tak ingin pisah darinya dan ingin selalu bersama Dinda.


Dinda pun tak kalah erat menggenggam tangan Nanda. Sampai pada adegan bunuh-bunuhan di film yang mereka tonton, Nanda berkata...


"Ngapain nonton beginian kalo niatnya mau pegang-pegangan" goda Nanda yang kemudian tangannya langsung di lepas oleh Dinda.


"Kamu mending diem deh, sensasi tegangnya ilang denger kamu ngomong" titah Dinda dengan raut wajah yang sedang serius menonton film.


"Ck... Apa kita pindah studio aja, nonton film romantis" ajak Nanda yang menoel-noel pinggang Dinda sampai Dinda menahan tawanya karena geli.


"Keluar aja yuk, salah server nih kita" ajaknya lagi.


"Ga mau. Aku ga suka nonton film cinta-cintaan. Ga ada greget-gregetnya" ujar Dinda menolak ajakan Nanda.


"Oh iya, hahaha. Aduh, resiko punya pacar pak pulisi begini nih" ejek Dinda menyemangati Nanda biar bisa enjoy the movie.


1 jam 50 menit sudah mereka lewati dengan ngobrol ngalor-ngidul tanpa memperdulikan film yang tengah berputar di hadapan mereka, karena Dinda lebih tertarik dengan kasus-kasus pembunuhan yang Nanda ceritakan. Bahkan lebih seru daripada film.


Setelah film selesai, mereka pun segera keluar dengan berpegangan tangan. Nanda menanyakan Dinda apakah mereka jadi main ke timezone atau tidak, tentu saja jadi. Karena Dinda yang masih kecanduan bermain di sana meski usianya makin tua.


"Sayang, kamu pernah main kesini ga?" tanya Dinda berlagak menjadi senior di tempat ini.


"Pernah, tapi udah lama. Waktu masih kecil" jawab Nanda sambil mencoba-coba pencet tombol di mainan yang mereka lewati.

__ADS_1


"Sekarang kita flashback lagi ke waktu kamu masih kecil. Kamu dulu suka mainin yang mana?" tanya Dinda penuh semangat.


"Apa ya? Emmm... Basket sama balapan itu tuh" tunjuk Nanda ke permainan balapan motor yang sedang di mainin sama anak kecil.


"Nanti aja kita kesitu. Kita main basket aja dulu" ajak Dinda lalu menarik Nanda menuju arena permainan basket.


"Kita ga beli koin dulu?" tanya Nanda polos.


"Tahun kapan itu pakek koin hahaha. Sekarang main gesek sayang. Nih pakek kartu ini nih" ucap Dinda memperlihatkan kartu yang sedari tadi ia pegang. Untung saja saldonya masih ada.


"Wah udah canggih ya sekarang. Aku terakhir main masih pakek koin". Nanda menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Ga papa sayang, sama aku kamu ga perlu malu-malu" timpal Dinda membuat Nanda semakin geram karena pacarnya yang ceplas-ceplos itu.


Mereka pun main sampai lupa waktu karena Dinda benar-benar mengembalikan memori lama Nanda sewaktu ia dulu sering main ke timezone saat orang tuanya masih ada. Setelah orang tua Nanda meninggal, ia tinggal bersama sang nenek tepatnya di rumah yang saat ini ia tempati bersama Sherly. Namun 2 tahun setelah kepergian orang tuanya, nenek Nanda pun menyusul pergi menghadap sang Ilahi. Sejak saat itulah kehidupan Nanda betul-betul mandiri. Ia belajar masak dari televisi dan masuk Akademi Kepolisian dengan menggunakan sisa-sisa uang peninggalan orang tuanya untuk biaya selama pendidikan. Serta menjadikan Sherly adik yang pintar berkat ketelatenannya menjadi wali yang baik.


Dinda dan Nanda keluar dari mall tepat saat maghrib. Mereka pun sholat di Masjid terdekat karena lebih nyaman ketimbang mushalla mall itu yang ukurannya kecil dan terletak jauh di belakang.


Setelah dari masjid, mereka langsung pulang kerumah Nanda dan Dinda pun langsung pamit karena ia tak mungkin berlama-lama di rumah Nanda terlebih lagi, Sherly sedang tidak ada rumah dan ARTnya sudah pulang sejak tadi sore. Takut terjadi sesuatu yang di inginkan, eh yang tidak di inginkan (bagi orang lain). Bagi Nanda dan Dinda, mungkin sesuatu yang di inginkan, hehe. Peace✌ ah.


●●●


Makasih ya gengs udah mau baca karya aku. Jujur aja, aku ga jago nulis.

__ADS_1


Tolong komen di bawah, biar aku tahu siapa aja yang udah baca novel aku


__ADS_2