(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Gagal Janjian


__ADS_3

Dinda dan Nanda berpisah di parkiran. Nanda yang kembali kerumah sedangkan Dinda kembali bekerja.


Ada rasa lega di hati Dinda karena tahu bahwa Nanda malam ini tidak akan menginap di rumah sakit lagi untuk menemani Lita. Sudah selesai pertengkaran antara mereka yang disebabkan oleh Lita. Bukan sepenuhnya salah Lita juga, tapi berhubungan langsung sama Lita. Ah gitu dah pokonya.


Di tempat berbeda, Nanda sedang meluruskan pinggangnya di atas tempat tidur kesayangannya. Setelah berpisah dengan Dinda di parkiran tadi, sampai saat ini terhitung sudah 5 panggilan dari Lita yang ia abaikan. Nanda sengaja tak mengangkatnya karena ia benar-benar ingin rehat sejenak tanpa harus mengurusi Lita lagi Lita lagi. Bisa berbaring nyaman di kamarnya saja sudah membuatnya bahagia. Ia akan kembali ke rumah sakit lagi saat Dinda sudah pulang kerja dan menemaninya untuk menjemput semua pakaiannya yang masih tertinggal di rumah sakit.


Dan Nanda pun tertidur.


-


Di rumah sakit


Lita di larikan ke ruang operasi karena pengentalan darah di kepala yang menyebabkan sakit kepala yang tak kunjung sembuh. Hal ini baru di ketahui saat Dokter berkunjung untuk memeriksa Lita yang ternyata sudah dalam kondisi tak sadarkan diri.


Sebelum ia tak sadarkan diri, pada saat itulah Lita menghubungi Nanda. Karena ia kesepian dan suntuk di ruangan itu sendirian tanpa melakukan kegiatan yang berarti. Setidaknya dengan adanya Nanda, ia bisa ngobrol dan bercanda tentang hal apapun. Yang penting ga hampa seperti saat ia sendirian.


Lita berada di ruang operasi kurang lebih satu setengah jam. Keadaannya baik-baik saja hanya perlu beberapa kali tindakan observasi dari Dokter yang menanganinya.


-


Rumah Nanda

__ADS_1


Sekitar pukul 11 siang Nanda terbangun. Seperti biasa setiap kali ia bangun dari tidurnya ia ke kamar mandi untuk mencuci muka. Lalu duduk dan menonton TV. Ia masih tak mengetahui apa-apa terkait keadaan Lita saat ini. Dengan santai ia menonton siaran berita yang biasa ia sering tonton. Pada saat muncul iklan, barulah ia mencari-cari ponselnya yang masih berada di kamarnya.


Nanda pun melakukan panggilan ke nomor Lita. Sampai 3 kali percobaan ternyata panggilan itu tetap tak kunjung di jawab. Nanda merasa ada sesuatu yang terjadi dengan Lita. Sesegera mungkin ia memakai jaketnya lalu pergi menuju rumah sakit.


Benar saja, saat sampai di rumah sakit Nanda bertemu dengan Naura, rekan Nanda dan Lita. Ia sendirian duduk di depan ruang rawat Lita. Nanda pun basa-basi seperti biasanya dan sama sekali masih belum tahu keadaan Lita yang sebenarnya. Sampai Naura sendiri yang mengatakan padanya.


"Kita belom di izinin masuk" ucap Naura yang menghentikan langkah Nanda yang hendak menggapai pintu.


"Ha? Emang kenapa? Gue biasanya masuk ruangan ini ga pake izin-izin segala" tanya Nanda yang mulai khawatir karena ia teringat akan panggilan tak terjawab dari Lita tadi pagi.


"Lita habis di operasi. Kita boleh masuk ke ruangannya, tapi nanti kalo Litanya udah sadar dari efek biusnya. Sekarang suster masih di dalam, buat ngecek kondisinya" ungkap Naura dengan detail persis seperti yang di ucapkan dokter kepadanya sebelum dokter itu meninggalkan ruang rawat Lita.


Nanda yang tak mengira kondisi Lita akan seburuk ini setelah ia tinggalkan pun meneteskan air mata. Ia merasa bersalah karena meninggalkan Lita sendirian dan mengabaikan panggilan Lita yang mungkin saja ia menelepon untuk meminta pertolongan Nanda. Nanda sangat menyesali perbuatannya. Beruntung Naura datang ke rumah sakit untuk menandatangani berkas terkait tindakan operasi Lita. Sehingga Lita bisa tertolong dengan cepat.


"Nanti malam giliran gue yang jaga Lita, lo tenang aja ya". Naura menepuk pundak Nanda yang kini sudah mulai tenang.


"Ngga, biar gue aja. Maaf ya udah ngerepotin lo".


"Iya, gapapa Nan. Tapi gue bakal tetap disini sampe Lita sadar. Gue kangen ga punya teman adu mulut semenjak dia di rumah sakit" hibur Naura biar Nanda lebih santai berbicara dengannya.


"Iya, dia pasti sadar" jawab Nanda seadanya. Begitulah kalau bicara dengan Nanda di kondisi tidak formal. Nanda kaku dan tak banyak respon. Berbeda kalau ia berbicara sesama laki-laki, semua hal pasti ikut di bahas meski tidak penting sekalipun.

__ADS_1


-


Jam kerja Dinda sudah habis. Ia menelpon Nanda untuk janjian bertemu dimana. Karena tadi Nanda tak mengatakan akan seperti apa cara mereka berangkat ke rumah sakit. Sepanjang dari ruang kerja sampai rumah Nanda, telepon Dinda itu tak kunjung di jawab. Dinda curiga, Nanda ke rumah sakit tanpa mengabarinya dan membiarkan panggilan Dinda begitu saja. Dengan debar jantung yang tak karuan, Dinda melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Ia tak habis pikir kalau Nanda orang yang sama seperti Ariel. Yang dengan mudahnya menyia-nyiakan maaf Dinda lalu kembali mengulangi kesalahan yang sama.


Kilas balik tentang hubungannya dengan Ariel terlitas di kepala Dinda. Merasa kejadian yang dulu pernah Ariel lakukan kembai ia alami. Namun buru-buru ia tepiskan kenangan buruk itu. Ia berusaha membela Nanda dalam hatinya, bahwa Nanda tak akan berlaku sekejam itu padanya.


Sampailah Dinda di rumah sakit. Saat kakinya baru saja keluar dari pintu mobil, hatinya seketika merasa sakit. Namun, tanpa peduli dengan yang hatinya rasa. Dinda tetap melangkah dengan mantap untuk menemui Nanda di sana.


Sedangkan di ruangan Lita, Nanda kini sedang memegang tangan Lita dan meminta maaf karena sempat meninggalkannya sendirian di sana. Dan saat ia kembali justru Lita sudah selesai operasi. Ia kecewa pada dirinya sendiri karena mengabaikan panggilan Lita yang jelas berkali-kali masuk ke ponselnya dan itu pastilah sangat penting.


"Lo kenapa sih? Geli tahu gak, gak pernah banget gue lihat lo mewek begini. Udah ih" Lita mengusap air mata Nanda. Ia menghibur Nanda biar tak sedih lagi. Berulang kali Lita menertawakan Nanda namun Nanda tetap melanjutkan tangisannya.


Dinda sampai. Ia berdiri di depan pintu yang sudah terbuka sedikit. sambil mendengarkan apa yang sedang di bicarakan Nanda dan Lita.


Posisi Nanda duduk di kursi samping tempat tidur Lita dan membelakangi Dinda. Dan bagian wajah Lita terhalangi oleh tirai yang memang khas ruangan rumah sakit. Sehingga Lita pun tak dapat melihat keberadaan Dinda saat ini.


Dan adegan Lita yang menghapus air mata Nanda jelas terlihat oleh Dinda. Dinda bahkan ikut sedih mendengar penuturan Nanda yang meninggalkan Lita sendirian di rumah sakit. Dan itu ialah saat Nanda yang memilih untuk mendatangi Dinda ke kantor.


"Jadi kamu nyesal nemuin aku?". Dinda tersenyum dalam tangis yang tertahan. Ia bahkan sempat tersandung saat menaiki 2 anak tangga yang ada di lorong rumah sakit itu, hingga kuku jempol kakinya membiru, namun ia tak sadar. Karena saat ini hatinya jauh lebih sakit.


Ia memilih untuk pulang ke rumah dan menenangkan pikiran. Ia tahu malam ini pasti Nanda akan menyibukkan diri dengan menjaga Lita, ia tak akan mengingat Dinda. Bahkan janji mereka sore ini saja Nanda lupa. Ya, semua hal tentang Dinda memang mudah untuk di lupa.

__ADS_1


●●●


Gimana? Sampai part ini ceritanya bagus gak? kalo masih ada yang kurang, komen di bawah ya guys...


__ADS_2