
Terimakasih sudah setia membaca sampai bab ini, tolong tinggalkan komen yaa👍
...*...
...**...
...***...
Feza hendak turun lagi setelah mengganggui Rama baca koran. Saat di ambang pintu kamarnya, Feza berpapasan dengan Arse.
"Arse mau turun?" sapa Feza.
Arse menatap Feza lekat, tidak membalas sapaan Feza lalu kembali masuk ke kamarnya tanpa menutup pintu. Feza berdiri memperhatikan adik iparnya itu. Lalu ia berjalan dan berdiri tepat di ambang pintu kamar Arse.
"Se, kakak boleh masuk?" tanya Feza dengan ramah. Tetap tidak ada jawaban. Arse terlihat berbaring di tempat tidurnya dengan posisi membelakangi Feza.
"Baiklah, berarti boleh" Feza pun masuk dengan santainya dan mengamati sekeliling kamar anak laki-laki tersebut.
Benar kata Puput, lukisan Arse bagus-bagus. Tapi kenapa beberapa lukisan terlihat seperti menggambarkan rasa sedih, putus asa, dan kehampaan?
Feza merogoh ponsel dari saku celana jeansnya. Ia memotret beberapa lukisan milik Arse untuk dikirim pada Pak Prima agar bisa di analisa. Tak lupa, ia juga akan memberikan semua informasi terkait penyebab Arse menjadi seperti sekarang pada Pak Prima.
"Se, lukisan kamu bagus-bagus ya. Pernah ada niatan buat dijual gak? Kalo dijual, kak Feza pengen beli". Lagi-lagi usaha Feza untuk bisa mengajak anak kecil itu bicara selalu di acuhkan. Akhirnya Feza keluar kamar dan tak lupa menutup pintu.
Diluar kamar Arse, Feza langsung bergerak cepat mengirim tangkapan kamera ponselnya pada Pak Prima. Feza tidak bermaksud buruk, ia hanya berharap Arse mau kembali bicara. Setidaknya dengan keahlian Pak Prima, Feza bisa mencari tahu penyebab pasti mengapa Arse jadi pendiam begini. Tidak mungkin hanya gara-gara papa jatuh sakit, toh yang terpenting papa masih hidup.
Setelah mengirim informasi dan semua foto itu, Feza masuk lagi ke kamarnya. Terlihat Rama tengah tertidur memeluk guling.
Pasti kecapean gara-gara semalam. Salah sendiri ngajakin begadang, tepar kan lu.
Feza mendekat, ikut berbaring di samping Rama. Lalu ia melepaskan dekapan Rama pada guling.
"Iiih apa sih Za, ganggu aja". Eh Ramanya kebangun.
"Gak boleh peluk-peluk guling, aku cemburu. Peluk aku aja" ucap Feza seraya meleparkan guling Rama ke lantai.
"Ya udah sini" Rama merentangkan kedua tangan di udara untuk menyambut tubuh Feza masuk dalam dekapannya.
__ADS_1
Feza pun menjatuhkan diri seenaknya ke tubuh Rama. "Bisa pelan-pelan dikit gak, sakit dada aku" protes Rama lalu kembali memejamkan mata.
Feza menciumi aroma maskulin dari tubuh suaminya. Terbayang masa-masa dulu mereka tidak pernah berpelukan seintim ini, bahkan Feza tidak menyangka jika jodohnya adalah Rama. Feza tiba-tiba teringat Maudy, teringat nasib wanita itu. Bagaimana hancurnya perasaan Maudy saat tahu Rama menikahi dirinya. Pasti Maudy mengira Feza yang telah menggoda ataupun merebutnya.
Saat tengah memikirkan Maudy, tiba-tiba ponsel Feza di balik pan*tatnya bergetar. Dengan segera Feza merogoh ponselnya.
Pak Prima
Bener kata kamu Za, lukisannya penuh misteri tapi condong ke perasaan sedih, luka yang sangat dalam. Tapi kedua foto yang paling bawah gak jelas gambarnya, kehabisan cat ya?
Feza
Gak tau pak, nanti deh aku cek persediaan catnya hehe
Tapi pak, cara ampuh buat dia bisa ngomong lagi gimana ya?
Feza pun menunggu balasan dari Pak Prima sambil menatap langit-langit kamar Rama. Lama-lama ia bosan dan bergerak kesana-kemari.
"Za, bisa diem gak? Kamu ganggu tidur aku" ucap Rama masih dengan terpejam dan suara yang berat.
Tengah asik menina-bobokan suaminya, ponsel Feza bergetar. Ia sudah tahu pasti Pak Prima yang membalas.
Pak Prima
Mungkin dia kehilangan figur seorang ayah dan sosok teman Za. Kamu deketin aja terus sampe dia merasa nyaman sama kamu pasti nanti bakal bicara. Tapi jangan terlalu memaksa, karena anak seumuran itu pasti akan menjaga jarak sekali kalo merasa gak nyaman.
Feza
Makasih ya Pak sarannya, nanti aku coba
Setelah membalas pesan Pak Prima, Feza berpikir untuk mendekatkan Rama dengan Arse saja. Karena papa laki-laki, Rama juga laki-laki. Pasti Arse akan mau jika di bujuk Rama.
Sore harinya dirumah mama kedatangan tamu. Ternyata itu adalah Om Romi, sahabat papa yang datang menjenguk. Feza, Puput, dan Rama ikut menyalaminya. Tapi Arse? Bocah itu menunjukkan raut tidak suka. Seperti menahan kesal dan tidak mau menyalami Om Romi.
"Se, kenapa sih? Om Romi kan beliin kamu kanvas terus. Kok kamunya malah gak mau salim?" tanya mama.
"Udah Ta, gak papa namanya juga anak kecil. Maaf ya Arse, kali ini om lupa bawain kamu kanvas. Tapi besok pasti om bawain lagi" ujar Om Romi.
__ADS_1
Arse berlari menuju kamarnya. Bocah itu nampak tak bisa di kontrol di depan Om Romi. Feza merasa ada yang tidak beres. Tapi ia hanya berbicara dalam hatinya saja.
Sekepulangan Om Romi, Feza mengajak Rama keluar. "Kemana? Malas ah pasti mau cari skincare" Rama mendengus kesal karena dirinya pernah tertipu oleh Feza yang katanya mau minta ditemani belanja bulanan ternyata asik cari skincare. Dan itu membuat kaki Rama letih karena di ajak berkeliling mall.
Feza tertawa lepas. Bukan karena dirinya membenarkan ucapan Rama, tapi merasa lucu dengan ekspresi kesal Rama yang main tuduh dan salah pula.
"Nggak, sumpah aku gak bohong" tampik Feza dengan wajah serius setelah tawanya reda.
"Awas ya, kalo kamu tipu-tipu aku" ancam Rama tapi tetap patuh untuk mau menemani Feza keluar.
Mereka pun pergi ketempat penjualan alat lukis. Rama mengernyit, ini pertama kalinya ia dan Feza datang ke tempat ini. Tapi untuk apa?
"Za, kita ngapain disini?" tanya Rama.
"Cari skincare" sahut Feza singkat.
"Za, serius?" tanya Rama lagi.
"Suam, Arse punya hobi ngelukis. Tadi sebelum aku nemenin kamu tidur, aku sempat masuk ke kamarnya. Terus aku liat lukisannya gak jelas, mungkin catnya habis. Makanya aku ajak kamu gantian temenin aku kesini. Nanti kamu yang kasih ke Arse ya?" pinta Feza penuh harap agar Rama menyetujui permintaannya.
"Ntar dulu, suam tadi apa?" tanya Rama sebelum dirinya setuju memenuhi permintaan Feza.
"Suami" jawab Feza tersenyum genit.
Rama terkekeh pelan. Jujur saja, laki-laki itu suka dengan wanita yang agresif seperti ini. Karena sangat bertolak belakang dengan sifatnya sendiri yang kalem dan terkesan kaku pada lawan jenis.
"Oke, aku nanti yang akan kasih ke Arse" jawab Rama dengan mengangguk.
Feza tersenyum lebar. Lalu ia pun menanyakan pada penjual terkait merk cat yang paling bagus dan setelah itu mereka juga membeli beberapa kanvas dengan kualitas terbaik untuk Arse.
...*...
...**...
...***...
Yok di pencet tombol like👍nya biar novel ini naik pangkat😂
__ADS_1