(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Terendap Laraku


__ADS_3

Siang harinya, Dinda yang baru saja tersadar dari pingsannya sedikit terkejut karena dress rumahan yang ia pakai sebelumnya kini sudah berganti dengan gamis. Dinda pucat, ia memeriksa seluruh bagian sensitif di tubuhnya. Takut kalau Rama sudah berbuat tak senonoh padanya.


"Oh syukurlah, gak ada tanda-tanda gue habis di pakek. Tapi, ini siapa yang gantiin?" Dinda menatap gamis santai yang saat ini terpasang di tubuhnya. Menerka-nerka apakah ia sempat tak sadar menggantinya sendiri.


Dinda yang kini sudah tak terlalu pusing lagi, ia pun berjalan menelusuri seluruh bagian apartemen Rama, kecuali sebuah kamar yang tertutup. Ia tentu tak mungkin memeriksa ruangan itu, tentu saja karena menghormati si pemilik apartemen ini.


Dinda pun menyegarkan pikirannya dengan duduk di balkon yang berdampingan dengan ruang tengah. Angin yang menampar wajahnya seakan ikut menerbangkan seluruh kepiluan yang mendiami hatinya. Kesedihan karena keguguran juga tak lagi ia ungkit dalam kepalanya, ia hanya perlu mempersiapkan diri untuk mengatakan yang sebenarnya pada Nanda, yang ia yakini pasti Nanda akan sangat bersedih.


Rama menghampiri Dinda yang asyik termenung di balkon. "Makan gak? Gue udah buatin bubur" ujarnya.


"Ma, telpon suami gue yah. Gue pengen di jemput dia" kata Dinda yang melenceng dari pertanyaan.


"Iya-iya, berapa nomernya?" tanya Rama.


"0811...4747...****. Sini gue aja yang ngomong, biar dia gak salah paham sama lo" Dinda mengambil alih ponsel yang ada di tangan Rama dan langsung menekan tombol memanggil.


Tak perlu menunggu lama, panggilan itu segera dijawab oleh Nanda. "Halo, selamat siang" sapa Nanda diseberang sana.


"Sayang, aku kangen. Aku juga baik-baik aja, jemput aku yaa" Dengan lancarnya Dinda merengek manja minta dijemput oleh suaminya. Rama yang masih setia berdiri disampingnya hanya menatap tak percaya, betapa bocahnya wanita ini merengek pada suaminya.


Suaminya apa gak jijik ya? Batin Rama dengan bibir mengejek.


"Ma, ini alamat apartemennya dimana? Suami gue mau jemput" Dinda menatap kesal saat melihat bibir Rama yang mengejeknya.


Rama buru-buru menetralkan ekpresi wajahnya karena sudah ditatap mengintimidasi oleh Dinda. "Apartemen Semaphore tower 13 lantai 10" ucap Rama dengan menyebutkan lengkap selantai-lantainya.


"Oke" Dinda pun berbalik membuang muka setelah mendapat info tentang letak keberadaan dirinya saat ini dan langsung mengulang ucapan Rama kepada suaminya. Dinda pun akhirnya menyudahi percakapan dengan suaminya dan mengembalikan lagi ponsel itu pada Rama.

__ADS_1


"Makasih ya, mana makanan buat gue?" tanya Dinda.


"Dasar tamu ngerepotin. Makan di buatin, semua gue yang urusin, pulsa gue dihabisin. Bener-bener gak ada akhlak" cerocos Rama yang tetap mengambilkan semangkuk bubur yang telah ia siapkan untuk Dinda.


Dinda pun dengan lahap menyantap buburnya, tidak seperti orang sakit yang serba gak selera atau makan dengan malas-malasan, Dinda justru mampu dengan cepat menghabiskan santapannya. "Gila, gue berasa kaya gak makan seminggu" ucapnya yang juga menyadari betapa kelaparan dirinya.


"Iya, kalo beneran sampe seminggu lo disini bisa bangkrut gue" celetuk Rama yang duduk menghadap Dinda.


"Lo jangan merusak suasana hati gue dong. Kan gue lagi bahagia mau ketemu laki" ujar Dinda dengan senyum mengembang.


"Lo pernah nanya gak, laki lo nyesal apa nggak gitu nikah sama lo?" ucap Rama dengan nada bercanda.


Dinda pun melemparinya dengan tisu yang baru saja ia pakai. "Enak aja. Suami gue baik ya, gak mungkin nyesal nikah sama gue" Dinda dengan percaya diri penuh mengatakan demikian. Namun sesaat kemudian, ia menitikkan air mata. Teringat bahwa dirinya sudah lalai karena tak bisa menjaga buah hati di dalam rahimnya. Mungkin, ucapan Rama saat ini ada benarnya. Nanda menyesal menikahinya yang tak becus menjaga dirinya sendiri termasuk anak dalam kandungannya.


Rama yang tadinya hanya berniat mau bercanda akhirnya jadi serba salah. Kini melihat Dinda menghapus air matanya membuat Rama buru-buru meminta maaf. "Dinda, sorry sorry... Gue salah ngomong. Lo tuh bener, suami lo malah kayanya bahagia banget punya istri kaya lo. Manja, agak sedikit cengeng, dan cantik pula" bujuk Rama dengan setulus hati.


"Kalo gue mau bilang lo mandiri, istri hebat, istri yang bijaksana malah keliatan banget boongnya. Kan gue gak kenal lo, yang gue tahu ya itu tadi, manja- eh salah, gue halusin dikit deh biar enak di denger, kurang mandiri hahaha" Rama tertawa terbahak-terbahak karena berhasil membuat Dinda makin emosi bahkan sampai mengangkat sebuah toples kue ke arah Rama.


"Niat mau ngehibur lo, malah gue yang terhibur hahaha" ledek Rama masih menertawakan Dinda.


"Serah lo deh. Tapi Ma, gue mau bilang sesuatu sama lo. Tentang Feza" Kini ekpresi Dinda mendadak serius. Rama terdiam ingin mendengar apa yang mau Dinda katakan.


"Lo gak pernah ngerasa kalo Feza sedang memendam atau menyembunyikan sesuatu dari lo, gitu?" tanya Dinda.


"Dia memang gak terbuka sama gue, kadang gue malah tau sendiri. Ya contohnya tentang dia naksir laki lo. Gue gak tahu, tapi akhirnya jadi tahu. Kenapa memang?" tanya Rama akhirnya.


"Waktu lo belum datang ke apartemen saat Feza mau nyuntik gue. Dia sempat bilang kalo waktu dia dibuang bokapnya ke pelosok, disana dia dilecehin orang" Dinda menceritakan yang sempat ia dengar dari mulut Feza sendiri.

__ADS_1


Rama membeku, ia tak menyangka bahwa Feza mengalami hal buruk itu. Padahal dirinya setiap minggu menjenguk Feza disana, tapi ia tak menangkap kode apa-apa yang menandakan bahwa Feza sedang menyembunyikan sesuatu termasuk rasa ketakutannya.


"Serius dia ngomong gitu?" tanya Rama memastikan.


"Iya, gue yakin dia pasti jujur. Karena dia ngomongin itu sambil nahan tangis. Dan lo lihat sekarang, dia menghilang entah kemana"


"Nanti gue akan cari dia setelah lo di jemput suami lo" ucap Rama dengan frustasi. Tentu saja ia mencemaskan Feza, teman sejawat dan juga sahabat karibnya.


"Lo gak ada rasa ya sama Feza. Jujur aja, gue tuh masih gak percaya kalo cewek cowok sahabatan terus gak ada rasa, kayanya gak mungkin gitu" Dinda sengaja gantian ingin membuat Rama tenang. Walau mungkin usahanya ini tampak sia-sia memang. Karena masih membahas Feza.


"Gue sahabatan sama dia saat gue memang kondisinya udah punya pacar. Tadi pacar gue kesini, mau gue kenalin ke lo tapi lo-nya gak sadar-sadar. Dan notabene-nya gue memang kelewat setia kayanya, jadi gak ada tuh rasa-rasa ingin mendekati Feza" ujar Rama dengan santai karena memang sudah terbiasa berbicara terbuka pada Dinda.


"Ooh, tapi hati-hati lho. Gue dulu juga kelewat setia, tapi endingnya malah disakitin" kata Dinda memperingatkan.


"Katanya disakitin, tapi mau aja dinikahin" tampik Rama yang tak tahu siapa yang Dinda maksud.


"Ih, maksud gue dulu. Si mantan gue"


"Aa, gitu yah? Kok gue jadi takut" Rama mendadak terpengaruh dengan ucapan Dinda. Masalahnya, dirinya dan Maudy memang jarang bertemu dan apakah mungkin sang kekasih bermain hati di belakangnya?


●●●


Guis, komen dong...


Komen kalian tuh bikin othor jadi semangat! Jangan lupa like dan vote juga, karena itu salah satu bentuk support kalian buat aku.


Terimakasih:)

__ADS_1


__ADS_2