(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Pamit ala Rama


__ADS_3

Pov Rama


Setelah pulang dari kediaman Zapata, aku diantar Rama kembali kerumah sakit. Ada yang aku khawatirkan dengan isi kepala Nanda. Sebab akhir-akhir ini ia jadi lebih sering lupa.


Lupa letak rumah sakitku dimana? Lupa kalau habis dari rumah papaku kami ke apartemen dengan mengendarai mobil masing-masing dan lalu kerumah Zapata dengan hanya menggunakan mobil Nanda. Dan setelah dari sana aku diantarkan ke rumah sakit. Terus mobilku? Alamat, harus naik taksi pulang nanti ckckck.


Dirumah sakit, aku meminta dokter yang merawat papaku untuk berhenti datang kerumah. Dengan alasan aku dan mama sepakat akan merawat papa dengan cara kami sendiri. Tentu saja itu bohong. Karena sebetulnya Pak Ali-lah orang yang aku tunjuk serta aku percayai untuk merawat-jalan papa dirumah. Dan Pak Ali juga kuminta untuk membuat laporan terkait kondisi papa saat aku tak ada dirumah. Harapanku, semoga saja sinyal telk*msel di Desa M****u sudah lebih baik.


Bagaimana dengan sahabat sekaligus istriku? Ah, dia pasti akan sedih mendengar kata pamit dari mulutku. Selama menikah, belum pernah sekalipun aku meninggalkannya. Dia pasti akan sedih, tapi aku pasti bisa membujuknya dan meyakinkannya bahwa aku pasti akan cepat pulang.


Sekitar jam 5 sore, aku menghubungi Feza untuk mengabarinya kalau aku akan segera pulang. Feza memberitahu bahwa kondisi apartemen sedikit berantakan, ia cemas jika apartemen kami sudah tidak aman. Aku tahu kondisi yang ia maksud.


Huft, baru di berantakin sedikit saja dia sudah cemas dan berpikir yang macam-macam. Sebegitu takutnya. Ah, bagaimana nanti kalau ia tahu bahwa aku akan pamit meninggalkannya?


Setelah kuberitahu bahwa itu adalah ulahku dan Nanda yang datang ke apartemen, barulah Feza tenang. Dan terjawab sudah pertanyaannya mengapa ada mobilku di parkiran.


Selesai menghubunginya, aku pun mendatangi sopir taksi yang sudah menunggu dibawah. Sampai ke apartemen, suasana hening. Mana istri cantikku? Kulihat di dapur tidak ada. Aku pun masuk ke kamar dan ternyata ia sedang bermain ponsel di atas kasur.


"Kamu gak masak?" tanyaku. Karena biasanya sepulang dari klinik istriku masak makan malam kami.


"Itu tadi mama suruh aku bawa pulang ayam kecap sama udang asam manis. Dia katanya takut aku gak bisa urus kamu, nanti malah jadi makin kurus nikah sama aku" ujar Feza menceritakan ulah mamanya.


"Ah, jadi makin sayang sama mama mertua. Perlu di beliin emas batangan nih sebagai gantinya" ucapku senang.


"Lebay" ledek Feza.


"Sini, aku bantu lepasin" Feza meletakkan ponselnya lalu duduk ditempat tidur untuk membantu melepas kemeja yang kupakai dan memerintahkanku untuk segera mendekat.


"Ah, cemburu gara-gara mama mau dibeliin emas batangan 'kan?" cebikku pura-pura menolak bantuannya.


"Ish apaan sih. Itukan terserah kamu, lha duitnya duit kamu" ucap Feza sambil menurunkan tangannya yang sudah terulur.


"Ngambek" goda ku.


Eh gak direspon, malah kembali memainkan ponselnya. Huft, padahal aku lagi kepengen bercanda.


Malam harinya aku dan Feza makan malam bersama. Dan disaat itu juga, aku menyampaikan niat kepergianku bersama Nanda dan Zapata, dan satu orang lagi, aduh... aku belum mengenalnya.


"Za, aku besok mau pergi ke Desa M****u bareng sama Nanda juga. Aku gak tahu bakal pulang kapan. Kamu janji ya, jaga diri baik-baik disini. Walau aku gak ada, kamu harus tetap pulang tepat waktu" ucapku dengan hati yang tegar walau aku tahu pasti Feza akan sedih dengan kepergianku ini. Ditambah lagi suasana kami di apartemen sangat hening, hanya ada suara sendok dan garpu yang beradu. Pasti Feza akan semakin merasa kesepian jika tanpa aku disini.

__ADS_1


"Ya udah gakpapa. Nanti aku bantu siapin semua keperluan kamu. Mau berangkat jam berapa besok?" tanya Feza setelah mengusap sisa makanan dimulutnya dengan sehelai tisu.


Hah? Aku melongo. Lho, kok tidak seperti yang aku bayangkan. Bukannya harusnya Feza akan sedih dan merengek tidak mau ditinggal sendirian? Kok malah biasa saja. Ini suaminya beneran mau pergi lho? Ih, kok jadi sebel sendiri akunya.


"Ditanya kok malam diam?" tanya Feza lagi.


"Jam 7 besok, tapi ngumpul tempat Zapata dulu. Aku nebeng kamu ya, soalnya kan bakal pergi pakek mobil dia dan rumahnya juga masih deketan sama rumah mama kamu" ucapku dengan menutupi kekecewaanku.


Sehabis makan malam kami duduk di sofa sambil menonton TV. Di apartemen yang cuma sepetak gini mau ngapain lagi ya kan? Duduk di teras gak mungkin, kan gak punya halaman. Tapi sebagai gantinya, ada balkon buat liat pemandangan dari atas sini.


Sambil menonton TV, Feza bertanya bagaimana bisa aku membuat Arse jadi mau kembali bicara. Ya aku ceritakanlah semuanya.


Flashback On


Saat aku menemukan pistol air yang tergeletak di depan pintu kamar Arse, aku melihat sekilas ke pintu kamarnya yang ternyata tidak tertutup rapat. Aku pun berniat untuk ngecek kedalam, memastikan keadaan Arse. Seperti kakak-kakak pada umumnya lah.


Tapi ternyata, justru ada hal yang mengejutkan yang aku lihat. Kenapa kusebut mengejutkan? Karena aku melihat, Arse sedang mainin burung. Bukan burung yang bisa terbang, tapi... Ups, sampai disini saja kuceritakan pada Feza. Karena dia pasti ngertilah.


Termasuk kalian juga pada ngerti kan? Hmmm😏


Karena sama-sama kepergok, aku kaget dan Arse juga gak kalah kaget. Akhirnya aku berbicara padanya perihal bagaimana jadi laki-laki yang baik dan tentang mainin burung jangan sering-sering.


Lumayan cepet ya anak jaman sekarang pubernya. Aku saja dulu kelas 3 SMP baru mengenal film es*ek-es*ek hehe...


Flashback Off


Feza memukulkan bantal sofa padaku. Ia geli saat kuberitahu rahasiaku pertama kali nonton film begi*tuan. "Hehe, jangan geli gitulah. Kamu aja sering maininnya" godaku.


"Males banget kalo udah bahas begi*tuan sama kamu" Feza berdiri hendak meninggalkanku di sofa sendirian.


"Mau kekamar ya? Ituuut" ucapku seperti anak kecil lalu berjalan mengekorinya.


Sampai di kamar, kupikir aku akan dimanja-manja karena akan pergi ke desa. Uh, ternyata lagi-lagi aku salah. Bukannya dimanja malah seperti sengaja mau diusir.


Feza menurunkan koper yang menjadi kado ulang tahunku dari Maudy. Ia mulai menyiapkan segala keperluanku. Sedangkan aku, terbaring lemah tak berdaya karena semua ekspektasiku tidak ada yang sesuai kenyataan. Kutinju guling berkali-kali. Feza masih sibuk menggulung beberapa kaos dan baju kemeja agar muat banyak di dalam koper.


"****** ******** berapa? 3 cukup?" tanya Feza.


"Mana cukup, emangnya cuci-pakek cuci-pakek gak nunggu kering? Ditambah lagi kalo ujan gimana? ucapku masih dengan berbaring di kasur.

__ADS_1


Kesssssaaaaallll


"6 ya?" tanyanya lagi meminta pendapatku.


"Serah deh" jawabku ketus lalu mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu tidur. Emang enak?


"Kamu niat pergi gak sih? Malah lampunya dimatiin segala lagi. Udah baik aku mau bantuin kamu packing" cecar Feza karena ulahku. Lalu ia pun menyalakan kembali lampu kamar kami.


"Gak usah pura-pura tidur segala" omelnya sambil menarik selimut ditubuhku.


"Aku mau istirahat, besok mau berangkat" ucapku kesal.


"Ya ayo, kita packing sekarang. Nanti kalo aku sendiri malah ada yang kelupaan" titah Feza.


Akupun bangkit dari tempat tidur. Kulihat di dalam koper sudah tersusun baju-baju dan celana dalamku. Tapi tidak ada satu pun celana yang kujumpai.


"Kamu suruh aku disana koloran doang? Mana celananya?" tanyaku.


"Makanya kamu tuh ikut packing. Nih dari seabrek-abrek celana kamu, mau bawa yang mana aja?"


Akhirnya aku membantu Feza menyiapkan segala kebutuhanku. Dan akhirnya, selesai👍. Kami pun bersiap untuk segera beristirahat. Tapi Feza harus mencuci muka dan menggunakan serentetan tutorial untuk kesehatan kulitnya terlebih dahulu. Lagi-lagi kesabaranku diuji karena harus menunggunya.


"Za, kebutuhan lahir kan udah disiapin. Tapi kebutuhan batin belum" ucapku menawar barangkali dikasih sama Feza.


"Jadi, bete-bete gak jelas tuh gara-gara ini?" tanya Feza saat berjalan menuju tempat tidur.


Kami pun sudah sama-sama berbaring di kasur sekarang. Aku bersiap akan melancarkan aksi. Tanpa kusangka, malam ini Feza betul-betul membuatku terbang melayang kelangit ketujuh. Dia sampai merem*as pant*atku berkali-kali.


Suka kamu kan sama pan*tat aku? Seksi aku kan? Ucapku bangga dalam hati. Akan aku puaskan istriku malam ini. Karena besok-besok kami akan LDR, Lelah Dikekang Rindu.


Pov Rama end


***


Monggo di komen guys, krisis moneter nih😭


Boom like juga gapapa kalo berkenan mah


Dan terimakasih untuk yang sudah memberikan Otor vote, kalian baik banget gilaaaa💕

__ADS_1


__ADS_2