(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Berangkat


__ADS_3

Jangan lupa cap jempolnya yaa👍


***


Pagi harinya, Rama beneran diantar Feza menuju rumah Zapata. Sampai disana, ternyata sudah ada mobil Nanda yang juga diantar oleh Dinda.


"Nah itu Dinda, nganterin suaminya juga ternyata" ucap Rama.


"Mas, kamu disana jaga mata jaga hati ya. Awas lho deket-deketin si Ratih lagi" ucap Feza sesaat sebelum ia meraih tangan Rama lalu menciumnya.


Rama memeluk istrinya, "Emang selama kamu kenal aku, aku pernah mendua? Mana bisa aku berbagi hati sedangkan hati aku sudah kamu kuasai. Apalagi sama yang semalam, rasanya gak akan pernah aku lupa" ungkap Rama. Lalu pelukan pun terurai.


Feza tak kuasa menahan tangannya sehingga terdengar bunyi plak di lengan Rama. "Yang mesum-mesum aja" ucapnya jengah.


Rama memegang tangan Feza lalu mengecupnya dan kemudian beralih ke bibi*r lembut milik istrinya. Hanya sebentar, lalu Rama melepas kecupannya dan ia segera turun.


"Aku harus pergi sekarang. Kalo ditunda-tunda bisa nyewa kamarnya Zapata nanti" candanya saat sudah turun dari mobil. Feza hanya menatap kepergian suaminya yang masuk kedalam rumah.


Lalu Feza beralih tempat duduk menuju kursi kemudi tanpa turun dari mobil. Dan ia melihat Dinda menuju ke arahnya.


Dinda berdiri di luar mobil yang kacanya sudah Feza turunkan.


"Za, lo sendirian juga kan ditinggal Rama. Lo pindah rumah gue aja. Emang sih sekarang masih ada orangtua Yono dirumah, tapi gue males tidur sendirian" ucap Dinda serius.


"Masuk masuk, gak tega gue liat bumil berdiri doang" ucap Feza lalu membukakan pintu mobilnya dari dalam.


Dinda pun akhirnya duduk di samping Feza.


"Gimana Za?" tanyanya lagi.


"Oke oke, kapan gue boleh ngungsi kesana?" tanya Feza.


"Hari ini juga udah boleh. Nanti bisa gue kenalin juga lo sama bapak ibunya Yono" kata Dinda senang.


"Sip, nanti sore habis dari klinik gue langsung kesana" kata Feza ikut senang. Karena setelah menikah dirinya memang belum pernah nongkrong tanpa suami. Uh, sekaranglah saatnya terbebas sedikit dari hak dan kewajiban sebagai istri. Tidak untuk melakukan hal yang aneh-aneh juga, tapi bisa punya kesempatan untuk main sama temen-temen. Contohnya ini, bisa nginap dirumah Dinda. Kalo ada Rama, pasti gak akan kejadian.

__ADS_1


Dinda dan Feza masih disana karena memang diminta untuk menunggu. Mereka memilih duduk di dalam mobil karena di dalam rumah, ketiga pria itu sedang berbicara serius dan para istri tidak mau mengganggu rapat mereka.


Tiba-tiba saja Rama dan Nanda keluar. Rama menuju mobil Feza sedangkan Nanda kehilangan mencari-cari istrinya dimobil mereka. Rama pun memanggil Nanda karena istrinya ada bersama Feza.


Ternyata Rama dan Nanda mau memberikan sebuah kartu perdana khusus untuk istri mereka. Kartu tersebut dapat digunakan dengan bebas dan sudah di lengkapi dengan sistem keamanan yang tinggi karena teman Zapata yang merupakan jurnalis sudah mensiasatinya agar tidak bisa dilacak siapapun termasuk pemerintah. Ilegal memang, tapi inilah satu-satunya jalan agar tetap bisa saling berinteraksi. Dan bisa dipakai ditempat terpencil sekalipun.


***


Mobil yang di kendarai Feza dan Dinda sudah menghilang di halaman rumah Zapata. Ketiga pria itu kini kembali rapat dan disusul dengan kedatangan rekan Zapata yang bernama Bintang. Bintang datang membawa 2 drone, 5 ponsel, 8 kamera, dan ada juga 7 mobil mainan yang kemungkinan akan mereka pakai untuk ngecek ruangan.


Setelah selesai berkenalan dan mengatur strategi, Zapata pun mulai mengeluarkan mobil anti pelurunya. Mereka akan berangkat dengan menggunakan 2 mobil. Zapata bersama Rama, sedangkan dimobil satunya ada Bintang dan juga Nanda.


***


Pov Dinda


Setelah mengantarkan Nanda menuju kediaman Zapata, aku berniat untuk menjenguk kebun bunga. Sudah 1 bulan ini aku tidak kesana, berharap semoga semuanya aman di bawah pantauan orang kepercayaanku.


Sampai disana, ternyata kondisi kebun bunga sudah semakin bagus. Kafe yang sempat dilarang Nanda kini sudah terbuka disana, syukurlah Nanda berubah pikiran saat mengetahui kondisi kehamilanku diketahui baik-baik saja meski aku terlalu aktif.


"Eh kak, tumben kesini?" tanya Rizal. Memang sejak adanya kasus Yono, Aku jadi sering bertemu Rizal dan kawan-kawan yang akhirnya akrab memanggilku dengan sebutan kakak.


"Iya Zal. Mau ngecek pengeluaran" jawabku.


"Kamu sama siapa kesini?" sambungku bertanya.


"Sendirian, tapi janjian mau ketemu temen" sambut Rizal sambil menunjuk ke arah temannya.


Tampak seorang perempuan berpakaian kasual sedang duduk disalah satu gazebo disekitar kebun bunga dan tengah tersenyum ke arah kami. Akupun membalas senyumannya.


"Temen apa temen?" godaku.


"Suer kak, bukan siapa-siapa. Cuman pernah satu sekolah aja pas SMA" ungkap Rizal.


Sepengetahuanku, Rizal memang terkenal sebagai jomblo syari'ah. Tidak pernah mau mengenal perempuan dan hanya seperlunya saja kalo berbincang dengan perempuan. Padahal wajah Rizal diatas rata-rata. Aku bahkan tahu, sejak Nanda menikah denganku cewek-cewek dikantor beralih mengejar Rizal dan Awan yang masih lajang.

__ADS_1


"Kak, gabung ya. Males aku kak kalo cuma berdua-dua doang" pintanya memelas padaku.


"Sama cewe aja takut" gemasku lalu berjalan mendahului Rizal.


Kami sampai di gazebo.


"Hai, temennya Rizal ya? Kenalin... Dinda, istrinya rekan kerja Rizal. Bisa dianggap kakaknya Rizal juga sih" ucapku memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangan.


Perempuan itu membalas uluran tanganku. Senyumannya manis dan aku bisa menangkap sinyal getar-getar cinta dari perempuan ini untuk Rizal. Maklumlah, sama-sama perempuan aku bisa mengerti.


"Aku Dita kak. Temen SMA Rizal dulu"


Aku dan Rizal duduk berhadapan dengan perempuan itu. Heran, kenapa Rizal malah duduk disampingku. Dita jadi menatap aneh kearahnya.


Rizal sama sekali tidak membuka percakapan apapun sampai aku harus turun tangan akhirnya karena tidak enak dengan teman Rizal.


"Kalian ketemuan tapi diam-diaman tuh buat apa sih?" tanyaku heran.


"Anu... Ya... Cuma mau menjalin silaturahmi aja kak" ucap Dita.


Rizal cuma tersenyum kepadaku mengiyakan ucapan Dita. "Kamu gak nanya kabar Dita?" tanyaku padanya.


"Kamu apa kabar Dit?" tanyanya setelah kuperintah.


"Baik. Ternyata kamu masih gak berubah ya, tetep aja irit ngomong" sahut Dita dengan senyum ramah.


Senyumannya sudah semanis itu tapi Rizal sama sekali tidak bergeming. Tetap diam dan bicara seperlunya.


Karena bosan, aku pun pamit dan beranjak dari gazebo karena teringat akan niatku datang kesini. Sampai ke kafe, aku menanyai Pak Ruslan selaku menejer kafe tentang perkembangan kafe. Aku pun berbincang dengan Pak Ruslan di dalam kafe dekat jendela. Dari jendela bisa kulihat Dita sudah menuju motornya dan Rizal yang menghantarkannya ke parkiran.


La ila haillallah, gue cabut mereka juga ikut cabut dong. Si Rizal bener-bener deh. Ngobrol dulu kek apa kek, ucapku dalam hati sambil mengelus dada. Aku saja bisa melihat hal itu dengan jengah, apalagi Dita.


***


Makasih banyak yang udah kasih like dan votenya, keren banget sama dukungan kalian. Jadi pengen sungkem🙆

__ADS_1


__ADS_2